Like An Athena – Chapter 3

req-jhr-like-an-athena-by-laykim

Like an Athena

3rd Chapter

.

Jae Joong Shim –– Hyo Rim Jung –– Shim Chang Min

Full of Romance, Adult Story

JHR Presents!

Beautiful Poster by : LayKim @ Indo Fanfictions Art

.

WARNING!!! This story is contains adultry and full romance!!!

DON’T BE A PLAGIARISM. NOT INTERESTING? PRESS BACK BUTTON!

.

.

.

“Akhir minggu depan kita ke Jepang!”

Hyo Rim terperangah. “Ke Jepang? Untuk apa kesana?”

“Kau fikir apa lagi? Menemui orang tuaku! Kita akan segera menikah kan?”

“Kau serius dengan kata-katamu itu? Aku tidak mungkin menikah denganmu dan kau juga kan? Sudahlah jangan bercanda. Apapun yang terjadi aku tidak akan melakukanya. Pekerjaanku sangat banyak dan menumpuk. Aku tidak bisa meninggalkanya begitu saja!”

Hyo Rim menggenggam tas yang di pangkunya sejak tadi lalu berusaha membuka pintu mobil. Masih di kunci dan tidak bisa di buka secara manual. Hyo Rim mengerang dalam hati lalu memandang Jae Joong kesal. “Buka! Aku sangat terburu-buru!”

“Katakan kalau kau akan pergi bersamaku dulu!”

“Kau mengancam? Kau tidak akan bisa melakukan hal ini kepadaku. Apapun yang kau lakukan aku tidak mungkin ikut!”

“Lalu apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu mau pergi?”

“Kau tidak perlu melakukan apapun, karena apapun caramu tidak akan berhasil untuk membujukku!”

Jae Joong memukul setir dengan kesal lalu memandang Hyo Rim dengan tatapan aneh. “Benarkah, kalau begitu aku akan mengusahakan satu cara!”

Hyo Rim harus shock saat tas yang ada dalam pangkuanya di lemparkan Jae Joong ke bawah kakinya. Laki-laki itu benar-benar bertindak lagi, tanganya meraba Hyo Rim dari mata kaki hingga kelutut dan mengangkat kedua kaki itu tinggi-tinggi.

Dalam sekejap Hyo Rim sudah benar-benar terjepit karena Jae Joong duduk di bangku yang sama denganya. Pinggul Hyo Rim menggantung dan tidak menyentuh apa-apa, tapi kedua pahanya sudah berada di pangkuan Jae Joong dengan sukses.

“Hentikan! Jangan sampai aku berteriak!” Suara Hyo Rim terdengar sangat intens.

“Silahkan. Tidak akan ada seorangpun yang mendengarkanmu, sayang. Ini parkiran bawah tanah, dan sepi. Hanya ada kamera cctv dan mobil yang sangat banyak ini menutupi kita dengan baik, lebih baik hematlah tenagamu karena tidak akan ada satu suarapun yang keluar dari mobilku yang kedap suara ini, mobilku menggunakan kaca film khusus!” Mata Hyo Rim terbelalak.

Kedap suara?

Seharusnya dia sudah tau itu karena selama di perjalanan tadi Hyo Rim juga tidak mendengarkan suara apa-apa dari dalam. Hyo Rim berusaha membuka kaca mobil, tapi reaksi yang di dapat sama persis dengan pintunya, terkunci dan tidak dapat di buka. Jae Joong memandangi Hyo Rim dengan pandangan senang.

“Lihat, kenapa kau memakai rok sepanjang ini? Seharusnya lebih pendek lagi!” Tangan Jae Joong menarik ujung rok yang di kenakan Hyo Rim naik sehingga memperlihatkan kulit pahanya yang bersih. Hyo Rim berusaha berontak tapi tangan kirinya terjepit oleh tubuh Jae Joong sedangkan tangan kananya berada di genggaman Jae Joong yang sangat kuat.

“Kenapa kau memakai kacamata hari ini?” Gumam Jae Joong dengan sangat mesra. “Karena kau tidak bisa tidur teringat kejadian semalam?” “Ini sama sekali tidak lucu. Kau akan ku tuntut bila terjadi apa-apa denganku!”

Jae Joong tersenyum, ia semakin menikmati permainan ini. Sebelah tanganya yang bebas membuka kancing kemeja Hyo Rim satu persatu sehingga Jae Joong bisa melihat apa yang ingin dia lihat. Nafas Hyo Rim semakin tidak teratur dan dadanya naik turun dalam ritme yang kacau.

“Mana camisole mu? Kau punya banyak kan? Tapi tidak masalah, Kau ebih menggairahkan dengan bra ini!”

“Kau tida bisa berhenti? Kau akan menyesalinya aku bersumpah kau akan menyesali setiap perbuatanmu padaku!”

“Kalau begitu katakan, kau akan ikut aku ke Jepang!”

Hyo Rim tidak akan berlaku lebih bodoh lagi. Ia hanya pernah ke Jepang sekali seumur hidupnya dan saat itu ia masih berusia enam belas tahun. Semua tentang Jepang sudah menghilang dari ingatanya. Ikut ke Jepang berarti menyerahkan diri kepada Jae Joong dan membiarkan Jae Joong melakukan hal yang lebih gila dari semua yang pernah di lakukannya. Dia tidak akan melakukanya.

“Jangan pernah berharap!”

“Itu berarti kau berharap aku melakukan hal yang lebih liar lagi!”

Jae Joong memulai aksinya. Hyo Rim harus merasakan bagaimana telapak tangan Jae Joong membelai pahanya dan menciumi lehernya sehingga meninggalkan bekas yang basah dan lembab. Ia berusaha berontak sehingga ikatan rambutnya terlepas, ia juga berusaha menggeliat tapi Jae Joong lebih kuat.

Hyo Rim meringis saat laki-laki itu menyelipkan jarinya di antara kedua pahanya dan terus naik menekan daerah paling sensitif dari tubuhnya dengan sangat perlahan. Ia menggeliat semakin keras. Jae Joong berhenti.

Ia memindahkan tanganya ke dagu Hyo Rim dan mencondongkan wajah gadis itu agar berada dalam posisi yang pas denganya. Bibir mereka sudah begitu dekat.

 “Then, katakan kalau kau akan ikut!” Jae Joong berbisik. “Ini tawaran terakhir.”

Hyo Rim terlena selama dua tarikan nafas Jae Joong yang menerpa wajahnya. Tapi dirinya segera tersadar dan mengerjapkan matanya sekali. “Baiklah, baiklah aku akan ikut. Jangan lakukan ini lagi!”

Sejenak Jae Joong kecewa karena Hyo Rim menyerah dengan begitu cepat, tapi kemudian ia tersenyum penuh kemenangan lalu menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Jae Joong sama sekali tidak ingin berpindah, ia membiarkan Hyo Rim duduk di pangkuanya lebih lama lagi, memandangi Hyo Rim yang menurunkan roknya kembali ke posisi semula dan mengancing kemejanya dengan agak gemetaran. Hyo Rim sempat terdiam saat Jae Joong membantunya memasang kancing kemejanya dan mengembalikan tas miliknya kepangkuanya.

Saat Hyo Rim menyadari kalau rambutnya sudah mulai berantakan lagi, ia berusaha menemukan ikat rambutnya yang lain di dalam tas lalu mengikat rambutnya rapi. Sedangkan Jae Joong memanjangkan tubuhnya untuk menekan tombol di depan bangku stir yang kosong dan menghasilkan bunyi klik yang nyaring. Ia sudah membuka kunci mobilnya.

“Aku tidak suka dengan permainan seperti ini!” desis Hyo Rim sambil memperbaiki duduknya sehingga ia lebih nyaman duduk di pangkuan Jae Joong, ia tau Jae Joong sama sekali tidak bermaksud untuk pindah ke bangkunya semula.

“Benarkah?” Jae Joong kembali menyunggingkan senyumnya lalu membuka kancing kemeja Hyo Rim lagi, hanya satu tapi cukup untuk memperlihatkan belahan dadanya. “Kau tidak perlu menyembunyikan kecantikanmu. Aku lebih suka wanita yang seperti ini!”

“Aku tidak suka berpenampilan seperti ini!” Hyo Rim berkeras dengan mengancing kemejanya kembali lalu membuka pintu mobil. Jae Joong berusaha menahanya dan pintu mobil tertutup lagi. “Aku belum selesai!”

“Apa lagi?”

Jae Joong merogoh saku jasnya lalu memberikan ponselnya kepada Hyo Rim. “Kau pakai ponselku. Ponselmu aku yang pakai!”

 “Jadi ponselku ada padamu? Aku kira tertinggal di mobil Chang Min!”

Hyo Rim bernafas lega, tapi segera menganalisa kembali kata-kata Jae Joong barusan. “Tunggu dulu. Kalau kau memegang ponselku, bagaimana jika ada telpon penting?”

“Memangnya siapa yang menelpon? Aku akan memberitahukanya kepadamu, tenanglah! Lagipula bisa di bilang kita tinggal serumah sekarang. Jadi jangan kemana-mana. Begitu jam pulang kerja tiba, kau sudah harus ada dirumah! Aku melakukan ini agar kau tidak ingkar janji, akan ku kembalikan saat kita tiba di Tokyo!”

Hyo Rim mendengus kesal, ia tidak bisa melawan. “Sekarang aku boleh turun?”

Jae Joong mengangguk, tapi sebelumnya ia merangkul penggang Hyo Rim erat lalu memandangnya dengan manja.

”Selamat bekerja, Sayang!”

Untitled

Jika akhir minggu ini Hyo Rim memang harus menemui calon mertua semu-nya di Tokyo, maka yang harus di lakukanya adalah bekerja lebih keras lagi agar semua pekerjaanya selesai sebelum waktu itu.

Menikah dengan Kim Jae Joong? Bahkan terlintas di otaknya pun tidak pernah.

Hyo Rim hampir gila dengan semua ini sehingga beberapa perkerjaan membuatnya berteriak histeris. Belum lagi masalah bertukar ponsel, Bagaimana bila Ibunya menelpon? Seharusnya Hyo Rim tidak perlu khawatir dengan hal itu karena Ibunya pasti senang dengan ide calon menantu impianya. Tapi Hyo Rim merasa sangat terganggu karena ponsel Jae Joong selalu berdering dan selalu telpon dari perempuan.

Hyo Rim hampir muntah membaca pesan-pesan romantis dan vulgar yang masuk ke ponsel itu setiap hari. Yang jelas Hyo Rim selalu melakukan hal yang sama untuk wanita-wanita itu; mencaci maki mereka dan memintanya menjauhi Jae Joong karena laki-laki itu sudah bertunangan dengannya.

Cukup sering Jae Joong menemuinya atau menelponya karena beberapa orang dari sekian banyak perempuan itu mendatanginya ke kantor bahkan ke flat untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Meskipun Jae Joong akan marah-marah pada Hyo Rim, tapi dia selalu mengatakan

“Ya, aku sudah bertunangan setidaknya untuk sementara ini!” kepada semua perempuan yang bertanya.

Beberapa perempuan kemudian pergi menjauh, tapi tidak sedikit juga yang bertahan untuk tetap berada di sisi Jae Joong dengan alasan tunangan bukanlah pernikahan, Jae Joong masih memiliki kemungkinan untuk membatalkan pertunanganya.

Hyo Rim mengerang, seandainya hal itu terjadi ia akan sangat bersyukur karena akan terhindar dari laki-laki itu selamanya. Setelah dua hari, telpon-telpon itu berhenti. Hyo Rim merasa bisa lebih tenang dan bisa mengerjakan tugasnya secara maksimal dan ia optimis semuanya akan beres sore ini juga, setelah semuanya selesai. Hyo Rim akan menemui  Bosnya untuk minta izin beberapa hari. Ia harap ia tidak akan menghabiskan seminggu penuh di Tokyo.

“Kau tidak lapar?” Chang Min yang sejak tadi duduk di hadapanya sambil memainkan game ponsel. Belakangan ini laki-laki ini selalu berkunjung ke ruangan Hyo Rim bila dia sedang tidak ada pekerjaan.

“Jam makan siang sudah lama lewat!”

“Aku akan makan setelah semuanya selesai!”

“Ada yang perlu dibantu?”

Hyo Rim menggeleng. “Tidak perlu. Sedikit lagi selesai!”

“Kenapa kau kerjakan semua pekerjaan itu sekarang? Seharusnya kau bisa lebih santai kalau melihat tanggal deadline kasus!”

“Aku harus bertemu dengan calon mertuaku di Tokyo!”

Chang Min berhenti memainkan ponselnya dan termenung sesaat. Jae Joong sudah cukup lama tidak menghubunginya semenjak minggu lalu saat ia mengatakan kalau Ibunya meminta Jae Joong membawa calon istrinya pulang. Dan semenjak itu Jae Joong sepertinya sibuk menyelesaikan semua pekerjaanya untuk rencana yang sama.

Calon mertua? Jadi ini… serius? Baru saja ia ingin menanyakanya langsung,

Chang Min sudah tidak sanggup bersuara. Terlebih saat mendengar dering yang di kenalnya dan Hyo Rim mengeluarkan sumber bunyi itu dari dalam tasnya, ponsel Jae Joong. Ia terperangah, mereka berdua bahkan sampai bertukar ponsel?

“Ada apa?” Hyo Rim agak membentak. Hari ini ia sedang tidak ingin mendengar suara Jae Joong.

“Aku jemput sekarang!”

Hanya itu. Jae Joong segera menutup telponnya. Dengan kesal Hyo Rim meletakkan ponsel itu kembali keatas meja. Lalu kembali mengerjakan pekerjaanya. Dalam waktu singkat semua pekerjaanya sudah selesai dan ia menghela nafas lega sambil bersandar di kursinya.

Kedua alisnya bertaut saat memandang Chang Min yang masih menatapnya bingung.

“Ada apa?” Tanya Hyo Rim heran.

“Kau serius mau pergi ke Jepang?”

“Aku terpaksa melakukanya!”

“Terpaksa?”

 “Sepupumu suka bertindak seenaknya, aku sudah berusaha menolak dengan berbagai cara dan dia juga memaksa dengan berbagai cara.”

“Hubungan kalian sekarang seperti apa?” Chang Min menyadari kalau ekspresinya mungkin terlalu serius, ia berusaha memperbaikinya dan berusaha terlihat biasa. “Aku sudah berusaha untuk melupakanya tapi hal ini menggangguku terus. Malam itu saat aku melihatmu di flat Jae Joong, kalian sedang apa? Dia bilang kau mengusir kekasihnya dan dia memberi pelajaran padamu!”

“Kalau dia mengatakan itu sebagai pelajaran, demi Tuhan itu sangat keterlaluan!”

“Dia melakukan apa?”

“Dia…” Hyo Rim segera menutup mulutnya. Apa mungkin ia bisa menceritakan kepada Chang Min kalau malam itu Jae Joong memaksanya melakukan sesuatu? Tidak, Jae Joong tidak bisa di salahkan seratus persen karena Hyo Rim tidak bisa memungkiri kalau ia juga sangat menikmatinya. “Dia menggigit jariku!” Hyo Rim menyentuh tanganya dan dia baru menyadari kalau cincin pertunangan itu masih di kenakanya.

Hyo Rim belum melepaskanya lagi semenjak malam itu.

“Kenapa? Maksudku hukuman yang aneh, Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan? Tidak sedang berbohongkan?” Hyo Rim menggeleng.

Ia memang tidak menceritakan semuanya, tapi malam itu Jae Joong benar-benar menggigit jarinya bahkan rasa nyilu masih terasa sampai sekarang. “Aku tidak berbohong. Dia memang melakukanya karena aku menggunakan cincin pertunangan untuk kepentinganku sendiri.” Hyo Rim memperlihatkan jarinya yang memakai cincin kepada Chang Min. Dan Chang Min menyentuhnya.

Cincin tunangan?

Selama ini, Chang Min mengira kalau itu hanya cincin biasa, Jae Joong juga tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hal ini. Tiba-tiba saja Chang Min merasa kalau ia sudah banyak melewatkan cerita tentang Jae Joong dan Venus-nya. Ia merasa kecewa.

“Dilarang menyentuh milikku, Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku!” Jae Joong merampas tangan Hyo Rim dari Chang Min, lalu memandang Hyo Rim sambil menyunggingkan sebuah senyum menggoda. Ia senang saat melihat Hyo Rim melengos, Jae Joong sudah berhasil meniru kata-kata yang selalu di ucapkanya.

“Kau sudah siap-siap? Kita kerumah Ibumu sekarang aku sudah menyiapkan pakaianmu juga, mungkin kita akan menginap semalam!”

Hyo Rim menarik tanganya dan berkemas-kemas. “Aku harus menemui Bos dulu! Kau tunggu di mobil saja!” Hyo Rim kemudian memeluk Mapnya erat-erat. Lalu tersenyum kepada Chang Min sebagai tanda perpisahan.

Untitled

Langkah demi langkah Hyo Rim menyusuri kota Tokyo nyaris membuat jantungnya melompat keluar, ia belum siap untuk bertemu dengan orang tua Jae Joong. Bagaimana bila keluarganya memaksa Hyo Rim menikah saat ini juga dengan Jae Joong? Bagaimana bila mereka menempatkan dirinya dan Jae Joong di kamar yang sama? Hyo Rim tidak akan sanggup menghindar dari godaan Jae Joong bila itu benar-benar terjadi.

Jet lag yang di rasakanya cukup parah, terlebih saat mengetahui bahwa keluarga Jae Joong tinggal di Fukuoka dan mereka harus mengalami perjalanan yang cukup panjang untuk sampai disana. Berangkat dari London dengan pesawat pagi dan sampai di Fukuoka pada sore hari tidak sesederhana kedengaranya. Bila di bandingkan, mungkin di Lodon sekarang sudah hampir pagi lagi.

Bisa di bayangkan betapa besar keinginan Hyo Rim untuk tidur dan mengistirahatkan diri.

Meskipun Jae Joong di kenal sebagai seorang diplomat kaya raya di London, rumah keluarganya sama sekali berbeda dari yang ada di fikiran Hyo Rim. Rumah ini sama seperti rumah-rumah di sekelilingnya bertingkat dua dan memiliki halaman yang tidak begitu luas.

Begitu masuk ke rumah, Hyo Rim di sambut dengan sangat meriah oleh Ibu Jae Joong yang tampak ramah, sebelum berbicara dengan Hyo Rim Nyonya Kim bertanya kepada Jae Joong apakah Hyo Rim bisa berbahasa Jepang. Tentu saja Hyo Rim bisa.

 Sebelum duduk di ruang tamu, Hyo Rim merasakan kedua tangan hangat nyonya Kim menyentuh pipinya dengan penuh kasih.

“Melihatmu aku jadi ingin segera bertemu dengan Ibumu.” Nyonya Kim berbicara dengan logat khasnya sambil memandang Hyo Rim yang duduk di sebelah Jae Joong dengan sedikit kaku. “Aku ingin berterimakasih padanya karena sudah melahirkanmu sebagai jodoh Uri Jae Joong!”

Hyo Rim tersenyum malu. Dia cukup senang dan lega mengetahui kalau Ibu Jae Joong menyukainya. Tapi Hyo Rim masih harus bertemu dengan Ayah Jae Joong. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi laki-laki itu saat melihat Hyo Rim.

“Ibu, bisakah aku istirahat? Aku benar-benar lelah!” Jae Joong mengeluh manja.

“Astaga, Maafkan Ibu ya! Kalau begitu kau bawakan barang-barang Hyo Rim dulu ke kamar!”

Hyo Rim terbelalak, Kamar? Kamar siapa yang akan di tempatinya? Kamar tamu? Semoga saja bukan kamar Jae Joong karena jika itu terjadi ia pastikan dirinya akan mati bunuh diri besok pagi. “Maaf, bibi. Kalau boleh tau kamar siapa yang akan ku tempati?”

“Kau akan menempati bekas kamar Jae In, Dia kakak perempuan Jae Joong dan sudah menikah sekarang.” Nyonya Kim kemudian memandang Hyo Rim dengan ekspresi yang aneh, tubuhnya berguncang dan salah satu tanganya menutup mulutnya yang terpekik kecil.

Ia sedang teringat pada sesuatu dan sepertinya wanita itu sedang merasa sudah melakukan kesalahan. “Astaga, Apa sebaiknya kau sekamar dengan Jae Joong? Kenapa aku tidak ingat kalau kalian sudah bertunangan, Aku sudah melakukan kesalahan besar!”

Hyo Rim shock, Ia sangat menyesal karena sudah bertanya dan sekarang ia harus melihat wajah Jae Joong yang kelihatanya sangat senang. “Tidak, Bibi. Jangan begitu.”Hyo Rim berusaha bersuara dengan lebih sopan. “Jika aku tidur di kamar yang sama dengan Jae Joong, itu bisa membuatku merasa tidak enak!”

“Tidak, tentu saja kau tidak perlu merasa begitu, aku bisa faham kalau kau ingin terus bersama Jae Joong, tidak apa-apa. Sebentar lagi kalian akan menikah kan?”

“Jangan Bibi, aku mohon. Ibuku pasti akan sangat kecewa kalau mengetahui hal ini!” Ucapan Hyo Rim terdengar lebih memelas.

Ibunya pasti akan merasakan yang sebaliknya. Hyo Rim masih bisa mengingat kalau Ibunya hampir bersorak dan melompat-lompat saat Jae Joong meminta izin kepadanya untuk membawa Hyo Rim bertemu dengan orang tuanya di Jepang.

Nyonya Kim mengelus dada lega. “Maaf, sebenarnya aku malah merasa lega kau mengatakan hal seperti itu! Aku juga khawatir bila kau dan Jae Joong menginap di kamar yang sama, tapi mengingat cara barat dimana kalian berdua tinggal aku merasa bersalah kalau memaksakan kehendaku kepada kalian. Jika kau menginginkan hal baik itu mana mungkin tidak ku kabulkan!”

Kali ini Hyo Rim yang menghembuskan nafas lega. Ia memandang wajah Jae Joong yang kehilangan senyumnya. Tanpa bicara apa-apa lagi laki-laki itu membawa koper Hyo Rim masuk semakin dalam ke rumah.

Hyo Rim mengikutinya setelah mengatakan permisi kepada Nyonya Kim. Kamar yang akan di tempatinya berada di lantai dua, bukan kamar yang luas, tapi bisa di pastikan memiliki kualitas yang lebih baik bila di bandingkan dengan kamar flatnya. Jae Joong meletakkan tasnya di atas ranjang dan kembali turun tanpa mengatakan apa-apa.

Sepeninggalan Jae Joong, Hyo Rim membuka koper kecilnya untuk ganti baju. Tapi mengingat ia hanya membawa pakaian dalam jumlah yang sedikit Hyo Rim membatalkan niatnya. Sebuah tas plastik berisi perlengkapan mandi di keluarkanya dari dalam koper. Hyo Rim ingin mandi sebelum akhirnya beristirahat. Karena di kamar itu tidak ada kamar mandi pribadi, ia berinisiatif untuk turun ke bawah dan mencari kamar mandi.

Langkah demi langkah kakinya menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu membuatnya mendengarkan bunyi berdebum. Hyo Rim kemudian berjalan ke dapur dan memperhatikan keadaan rumah itu lebih seksana, pertama, ia menemui ruang tengah dengan televisi .

Lalu sebuah pintu yang diduganya sebagai sebuah kamar, dan terakhir adalah ruang makan dengan kitchen set yang bersih dan luas. Nyonya Kim ada disana dan tampak sangat Sibuk dengan masakanya. Hyo Rim mendekatinya dengan agak gugup.

“Bibi, kamar mandi ada di sebelah mana?”

Nyonya Kim berbalik memandangnya dengan senyum lalu menunjuk pintu yang berada di sebelah kulkas. “Disana ada satu, tapi meja yang dibawahnya terdapat penghangat, biasa di gunakan pada musim dingin. Jae Joong sedang di dalam. Di atas juga ada, ruangan yang di sebrang kamarmu!”

Hyo Rim berusaha mengingat-ingat, ia sepertinya agak kurang perhatian karena sama sekali tidak bisa mengingat ada pintu di sebrang kamarnya. Hyo Rim berusaha tersenyum lalu membungkukkan badan sambil mengucapkan terimakasih dengan fasih. Mungkin ia akan kembali naik kelantai dua, tapi ia tidak bisa membiarkan nyonya Kim sibuk sendirian.

Wanita itu pasti sedang menyiapkan makan malam dalam jumlah yang lebih banyak dari biasa karena kedatanganya, atau mungkin masakan yang di masaknya kali ini bukan masakan yang biasa. Nyonya Kim bisa saja menyiapkan masakan yang spesial untuk menyambut kedatangan Hyo Rim kerumahnya. Hyo Rim meletakkan tas plastiknya di atas meja makan dan menyampirkan handuknya di kursi. Ia kembali lagi mendekati nyonya Kim yang kelihatan semakin sibuk.

“Bibi masak apa? Ada yang bisa ku bantu?”

“Ah, tidak usah. Kau istirahat saja, wajahmu sangat pucat. Pasti sangat lelah!” nyonya Kim berusaha menolak dengan sopan. Tapi Hyo Rim tidak bisa menyerah begitu saja. “Biarkan aku membantu apa saja! Mengiris tomat, daun bawang, mecuci piring juga tidak masalah. Bibi kelihatan sangat kerepotan mengerjakanya sendiri!”

“Tapi kau adalah tamu! Mana mungkin aku membiarkan tamu memasak!”

“Astaga, Bibi. Bukankah aku calon menantumu? Biarkan aku membantu, aku berjanji tidak akan mengacaukan masakanmu!”

Sejenak hening, Nyonya Kim lalu memandang Hyo Rim dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti. Hyo Rim menggigit bibirnya, mungkin dia sudah melakukan hal yang salah, sudah mengatakan sesuatu yang tidak tepat.

“Aku senang kau mengatakan itu!” Nyonya Kim akhirnya bersuara. Kata-katanya membuat Hyo Rim mengerti makna dari pandanganya tadi. “Aku harap kau dan anakku bisa segera menikah. Semula aku khawatir karena anak itu bilang kalau dia tidak mungkin menikah. Beberapa waktu lalu dia bilang akan menikah dengan orang yang tidak aku sukai. Sepertinya dia salah, Kau gadis baik dan aku sangat menyukaimu!”

Benarkah? Ternyata Nyonya Kim mengkhawatirkan itu. Wanita itu khawatir kalau Jae Joong menikah dengan wanita yang tidak cocok dengan keluarganya. “Terimakasih Bibi!” Hyo Rim mengatakanya dengan ikhlas, dan kali ini ia cukup terharu.

“Kalau begitu panggil aku Ibu. Bukankah kau calon menantuku?” Hyo Rim tersenyum dan nyonya Kim tampak lebih berbinar-binar dari sebelumnya. Ia membiarkan Hyo Rim memotong daun bawang secara diagonal dan gadis itu terlihat sangat senang.

Hyo Rim teringat rumahnya, teringat Ibu. Memanggil Nyonya Kim dengan sebutan Ibu membuatnya merasa bersalah karena dia tidak menginginkan Jae Joong sebagai suaminya. Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Hyo Rim dan Nyonya Kim menoleh.

Jae Joong sudah kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Hyo Rim merasa sangat iri. Dia juga ingin mandi.

“Sudah, kalau begitu tidak usah membantuku lagi! Kau seharusnya istirahatkan. Sekarang Mandilah dan kembali kekamarmu!”

“Tapi bu, aku tidak lelah sama sekali!”

“Kalau begitu kau pergi saja bersama Jae Joong.” Nyonya Kim kemudian memandang Jae Joong yang terpaku saat namanya di sebut-sebut. “Ajak calon istrimu jalan-jalan ke pantai. Kalian disini hanya sebentar. Ibu tidak ingin ia menghabiskan waktunya di dapur!”

“Ibu, aku tidak apa-apa!” Hyo Rim masih membujuk.

Jae Joong menggelengkan kepalanya geram lalu mendekati Hyo Rim dan menarik lenganya menjauh dari dapur sampai mereka mendekati tangga. “Sekarang kau mandi di lantai atas. Ganti pakaianmu dan dalam waktu tiga puluh menit kau sudah harus selesai lalu menyusulku ke depan!”

“Tapi aku ingin…”

“Sayang, Percayalah. Ibuku tidak suka di ganggu siapapun saat memasak. Kakaku saja tidak pernah melakukanya. Suatu keajaiban saat dia membiarkanmu memegang pisaunya. Jadi jangan kecewa dengan ini. Cepatlah naik ke atas!”

Hyo Rim menghentakkan kakinya lalu naik ke lantai atas dengan terburu-buru. Ia melupakan handuk dan tas plastik yang tertinggal di atas meja makan. Baru saja Hyo Rim ingin mengambilnya, Jae Joong sudah berada di hadapanya dan memberikan kedua barang yang tertinggal tadi.

Laki-laki itu kemudian kembali menuruni tangga dan masuk kekamarnya yang berada di sebelah kanan tangga, tepat di bawah kamar mandi. Seandainya boleh memilih, Hyo Rim ingin tidur saja. Tapi tidak sopan bila ia melakukanya, kesanya pasti sangat tidak baik meskipun alasanya masuk akal. Hyo Rim masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai.

Untitled

Hampir tiga puluh menit. Hyo Rim pada akhirnya mengganti pakaianya juga dengan sebuah mini dress kaos berwarna safir. Meskipun pakaianya menutupi lengan sampai kesiku, tapi leher berpotongan rendah membuatnya memilih untuk membungkusnya lagi dengan Jaket Visa hitam kesukaanya.

Melihat pantai di sore musim gugur mungkin bisa jadi pengalaman yang menyenangkan karena Hyo Rim sama sekali tidak pernah punya waktu untuk mengunjungi pantai, paling tidak selama dua tahun terakhir semenjak dirinya memegang kendali terhadap beberapa kasus sebagai pengacara yang sebenarnya.

Dengan wajah yang lebih segar, Hyo Rim segera turun ke lantai bawah dan menyempatkan diri untuk berpamitan kepada nyonya Kim. Wanita tua itu kemudian mematikan kompornya untuk menemani Hyo Rim keluar rumah. Hyo Rim hanya membawa satu sepatu dan mau tidak mau ia harus memakai high heel tujuh sentimeternya sebelum keluar dari pintu.

Nyonya Kim terus memujinya, Hyo Rim adalah calon menantu tercantik di dunia, bidadari untuk putranya, ungkapan yang membuat wajah Hyo Rim merona. Tapi rona wajahnya tidak bertahan lama karena ia terkejut melihat seekor kuda yang putih bersih bersama Jae Joong dan seorang teman lagi. Kenapa bisa ada kuda?

Penampilanya sama sekali tidak seperti penampilan seseorang yang akan berkuda dan Hyo Rim tidak bisa naik kuda.

“Kenapa kau lama sekali?” Jae Joong langsung memasang ekspresi kesal saat melihat wajah Hyo Rim yang dari tadi di tunggu-tunggunya dengan setia. Ia menyadari keterkejutan gadis itu dan berlagak tidak tahu.

Dengan nada yang lebih lembut Jae Joong memperkenalkan laki-laki yang sedang bersamanya dan darimana ia mendapatkan kuda. “Ini kuda Pamanku, Bukan Ayah Chang Min, karena pamanku ada banyak! Kuda ini sangat tangguh. Dan ini adalah pengasuhnya, Haru!”

Hyo Rim menyapa Haru hanya dengan senyumnya saja. Lalu ia kembali memandang Jae Joong dengan bingung. Mungkin Haru hanya kebetulan ada disini. Tidak mungkin mereka akan berkuda kan? satu kuda untuk berdua? Sudah di pastikan itu akan terjadi jika kuda itu datang atas kehendak Jae Joong.

“Ayo, sayang! Kita kepantai sambil berkuda!”

“Tidak bisakah berjalan kaki saja?”

“Ayolah, pantai dan rumahku cukup jauh! Kau tidak mungkin menginjak pasir dengan sepatumu itu kan? Aku tidak akan suka menunggumu berjalan sambil menarik hak sepatu yang terbenam di pasir setiap kali melangkah, Aku juga tidak akan membiarkanmu bertelanjang Kaki karena musim dingin segera tiba.” Jae Joong Naik ke punggung kuda dengan sigap lalu mengulurkan tanganya kepada Hyo Rim yang masih tepaku di depan pintu. “Ayo, Kita harus segera pulang sebelum makan malam.”

“Pergilah, sayang! Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa karena Haru juga akan pergi bersama kalian. Jae Joong juga cukup pandai berkuda, sejak kecil ia terus berlatih sebelum sekolah di Osaka!” Nyonya Kim berusaha untuk membujuk Hyo Rim yang masih ragu.

Pelan-pelan, Hyo Rim mendekati Jae Joong, Memberikan tanganya dan membiarkan Jae Joong menggenggamnya erat. Tidak begitu sulit untuk naik ke atas kuda dengan bantuan dua orang laki-laki, tapi Hyo Rim harus menerima kalau dirinya sekarang berada di bagian depan dan duduk menyamping ke kiri meskipun pada Awalnya ia berharap bisa duduk di belakang Jae Joong saja. Dalam beberapa waktu kemudian kuda sudah melangkahkan kakinya dalam tempo yang tidak begitu cepat.

Haru masih dengan setia berjalan membimbing kudanya dengan Optimis menjauhi rumah. Pantai sudah terlihat dan tidak sejauh yang di perkirakanya, Kata-kata Jae Joong tadi mengesankan seolah-olah pantai tidak mungkin bisa di tempuh hanya dengan berjalan kaki.

Pembohong.

“Aku kira pantai masih beberapa kilo lagi!” Hyo Rim menyindir.

“Memangnya kenapa? Aku kelelahan dan sekarang harus menemanimu jalan-jalan. Kau sangat keterlaluan kalau masih memaksa untuk jalan kaki.”

“Jadi kau keberatan untuk melayaniku? Bukankah aku tamu kehormatan? Aku ada disini juga karenamu, Kau sudah memaksa…”

“Sudahlah!” Mata Jae Joong membesar menunjukkan kekhawatiranya atas kelanjutan dari perkataan Hyo Rim.

Haru bisa mendengarnya dan anak itu cukup dekat dengan Ibunya. Semuanya bisa kacau karena Haru akan menceritakan apa yang dia lihat hari ini.

“Kau suka dengan caraku itu? haruskah aku mengulanginya?” Hyo Rim terkejut bukan hanya karena kata-kata Jae Joong barusan,

Tapi juga karena Jae Joong sudah menarik pengikat rambutnya sehingga rambut Hyo Rim terurai di tiup angin. Hyo Rim berusaha menggapai tangan Jae Joong berharap bisa mengambil kembali miliknya, tapi benda itu sudah tidak ada lagi. “Ikat rambutku, Kau kemanakan?”

“Sudah ku kirim ke black hole. Kau tidak akan bertemu denganya lagi!”

“Kau ini kenapa? Aku tidak membawa cadanganya sama sekali!”

“Untuk apa? Kau tidak perlu menyiksa rambutmu setiap hari!” Jae Joong kemudian terkekeh, dia sangat menikmati, selalu menikmati saat-saat dimana Hyo Rim kewalahan menghadapinya. “Kau punya pakaian yang cukup menarik, sayang! Tapi kau menyiksanya sama seperti menyiksa rambutmu. Menutupi Tilo dengan Visa adalah tindakan kejam. Sekarang tanggalkan Visamu!”

“Cukup! Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak suka dengan permainan seperti ini!”

“Aku suka, Aku menyukai apapun yang tidak kau suka. Sekarang tanggalkan atau aku yang akan melakukanya! Kau tau betul apa yang akan ku lakukan bila itu sampai terjadi!”

Hyo Rim merasakan Nafasnya yang tidak teratur. Memangnya apa yang akan Jae Joong lakukan? Sangat banyak orang di jalan dan Jae Joong tidak akan mungkin melakukan sesuatu kepadanya di hadapan banyak orang.

Dia tidak akan pernah membuka jaketnya apapun yang terjadi. Tapi tindakan keras kepalanya berbuah tidak menyenangkan laki-laki itu, Jae Joong Kim benar-benar menggerakkan tanganya dengan cepat merangkul pinggang Hyo Rim dan perlahan naik mendekati dadanya seiring dengan tangan Jae Joong lain yang membuka resleting Jaket dengan perlahan.

Ia bahkan tidak kesulitan melakukanya meskipun harus melakukanya dengan perlawanan Hyo Rim di atas kuda yang masih berjalan seolah-olah tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di atas punggungnya. Haru juga melakukan hal yang sama, meskipun melirik sesekali, ia tetap bertindak pura-pura tidak tau dengan apa yang di lakukan Jae Joong Kim.

Tentu saja semua orang mengira Jae Joong sedang bersama dengan tunanganya, Jae Joong punya hak penuh atas dirinya. Hyo Rim tidak berhenti mengutuk, tanganya mulai memukulmukul Jae Joong saat resleting Jaketnya habis terbuka dan merasakan remasan keras pada payudaranya. Tubuhnya melemah dan Jaketnya sudah berpindah ketangan Jae Joong seluruhnya.

“Aku sudah bilang padamu, sayang! Lebih baik kau melakukanya sendiri seperti saranku tadi!” Jae Joong kelihatan sangat senang, terlebih saat melihat Hyo Rim menyilangkan kedua lengan di depan dadanya.

Hyo Rim mungkin berfikir untuk melompat dari kuda sekarang, Tapi itu adalah tindakan bodoh karena dengan sepatu tujuh sentimeternya itu, dapat di pastikan kakinya akan terkilir dan keluarga Jae Joong akan memaksanya tinggal lebih lama.

Hyo Rim pasti juga sudah memikirkan hal itu, ia lebih memilih membuang wajahnya kearah lain yang jauh dari pandangan Jae Joong. Hyo Rim tidak mengatakan apa-apa beberapa waktu, tidak kutukan, tidak caci maki, tidak juga ancaman. Hyo Rim hanya membisu dan baru berbicara setelah beberapa menit berlalu.

“Bisakah kita pulang?” Ia masih tidak ingin memandang Jae Joong, matanya terus tertuju pada hamparan laut yang luas yang sejak tadi terus di telusuri oleh kuda yang mereka naiki. Harapan untuk menikmati Pantai pada musim gugur benar-benar sudah lenyap.

Hyo Rim sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya kali ini. Jae Joong dapat merasakan gelombang yang tidak biasa dari Hyo Rim. Getaran suaranya membuat Jae Joong merasa agak tidak enak. Ia tidak akan menjawab pertanyaan Hyo Rim barusan dan lebih memilih untuk meminta Haru berhenti dan pulang setelah memberikan jaket visa milik Hyo Rim.

Haru hanya mengangguk dan segera pergi begitu tali kekang yang ada di tanganya berganti dengan jaket Hyo Rim. Kali ini Hyo Rim memandangnya dengan pandangan galak yang biasa di tampilkannya, Jae Joong merasa lega, mendengar Hyo Rim megutuknya lebih baik daripada melihat gadis itu diam tak bersuara.

“Kenapa kau malah menyuruh Haru untuk pulang? Aku yang ingin pulang!” Suara Hyo Rim kembali bertenaga.

“Sekarang beristirahatlah!” Kata Jae Joong dengan suara pelan. Ia menyadari kalau Hyo Rim memandangnya heran. Wajah gadis itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang menderanya.

Hyo Rim bahkan kesulitan menahan agar matanya tetap terbuka. “Aku tau kau tidak akan bisa beristirahat dirumah, Sekarang beristirahatlah karena kau bisa saja pingsan kalau harus menahanya sampai makan malam.”

Hyo Rim tidak mungkin pingsan hanya karena kurang tidur. Pekerjaanya sudah terlalu sering membuatnya melalaikan waktu tidur. Tapi lelah karena tidak melakukan apa-apa sama sekali tidak sama dengan lelah karena mengerjakan tugas yang menumpuk.

Jae Joong masih cukup kagum karena gadis itu terus bertahan dengan egonya hingga akhirnya ia merebahkan kepalanya untuk bersandar di dada Jae Joong. Hyo Rim tertidur sambil merangkul bahunya sendiri. Ia pasti kedinginan, lalu apa yang Jae Joong lakukan? Kenapa tiba-tiba saja ia terpesona pada Hyo Rim, setiap hembusan Nafas Hyo Rim benar-benar membuatnya terlena dalam gelombang gairah yang aneh.

Bibir lembut itu seakan menyedotnya untuk terus mendekat sampai akhirnya Jae Joong hanya bisa mematung menyadari apa yang akan ia lakukan. Wajah Hyo Rim mengingatkanya kembali pada kekecewaan yang di tunjukkan gadis itu beberapa saat yang lalu. Jae Joong tidak akan melakukanya, ia menjauhkan kembali bibirnya yang sudah sangat dekat dengan pelarung dahaga yang sangat di inginkanya.

Hyo Rim yang kedinginan tidak membutuhkan ciuman, Jae Joong melajukkan kudanya agar kembali berjalan dengan sangat perlahan dengan sekali hentakan. Ia menyerahkan semua kendali pada tangan kanan dan membiarkan tangan kirinya merangkul gadis itu agar lebih rapat kepadanya.

.

.

.

TBC

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s