To Forget – Begin

to-forget

JHR Presents!

Beautiful Poster by : Sifixo @ Indo Fanfictions Art

.

.

.

“Hyo, tolong bantu aku!” Suara yang lembut itu memaksa Hyo Rim menoleh ke arahnya.

Seorang laki-laki dengan pakaian kasualnya tampak sibuk melayani beberapa orang disebelah gaun biru buatanya. Dia selalu memanggil Hyo Rim dengan panggilan Hyo sejak pertama kali bertemu, dan dalam waktu singkat Hyo Rim lebih di kenal dengan panggilan itu di bandingkan dengan nama aslinya yang ada di kartu tanda penduduk.

Pria itu adalah Bos Hyo Rim. Win Dong Si. Atau lebih di kenal sebagai Win, seorang desainer asal China yang karyanya cukup di kenal di negara ini sebagai pemilik Chinamons Gallery dimana Hyo Rim bekerja.

Pria yang selalu berbicara dengan suara lembut dan sangat bersahabat itu kelihatan sangat  kelelahan, karena Win juga tidak kalah sibuk dengan karyawanya yang lain.  Yoan bilang kalau Win sudah tinggal di Korea selama hampir lima tahun dan dalam lima tahun ini namanya benar-benar mendapatkan sambutan yang bagus dalam dunia mode.

“Ya? Apa yang bisa ku bantu?” Tanya Hyo Rim setelah dia dan Win berada dalam jarak yang cukup dekat.

“Kau bisa bantu aku angkat ini ke mobil? Hari ini kita akan pulang lebih cepat.”

“Baiklah!”

“O, ya! Jangan lupa panggilkan Jae kesini. Aku sangat butuh tenaganya!”

Hyo Rim berhenti bergerak. Jae? Setiap kali nama Jae di sebut, Jantungnya tiba-tiba saja berpacu lebih cepat dari biasanya. Jae adalah karyawan Win juga.

Seorang Foto Grafer yang mengurusi foto-foto Prewedding bila itu di butuhkan. Tapi kenyataanya, hasil jepretan Jae memang selalu menarik minat banyak pasangan sehingga Jae akan sangat sibuk bila musim pernikahan tiba.

“Kenapa?” Suara Win mengagetkan Hyo Rim. Laki-laki China dengan wajah tampan itu mengangkat sebelah alisnya yang tebal dan tajam seperti pedang. “Kau masih gugup kalau bertemu denganya?”

“Kau menggodaku?”

Win tersenyum. “Sudah sewajarnya anak seusiamu menyukai laki-laki, lalu kenapa harus takut?”

Hyo Rim menggeleng. “Aku tidak takut. Nanti aku panggilkan.” Katanya sambil berbalik dan memegang dadanya berharap bisa menenangkan jantungnya.

Dimana Jae? Mata Hyo Rim berkeliling aula mencari dimana laki-laki itu berada, Dia disana. Jae berbicara dengan beberapa orang yang tidak Hyo Rim kenal.

“Hyo, “Panggil Win.” Kau tidak usah melakukan itu. Biar aku menelponnya saja!”

***

Hyo Rim termangu di depan gerbang hotel. Ternyata di luar sedang hujan dan sekarang ia sendirian. Win sudah bolak-balik beberapa kali mengangkut barang-barangnya bersama Jae ke galeri. Sedangkan dirinya harus kebingungan untuk pulang dalam keadaan hujan seperti ini.

Malam hari begini seharusnya dia sudah berada di kamarnya dan berbincang-bincang dengan Sae Kyung seperti saat-saat sebelum Bridal Fair di mulai. Tapi bagaimana dia bisa pulang jika hujan kelihatanya sama sekali tidak memberikan cela untuk sekedar mencari taksi.

“Kau masih disini?”

Hyo Rim tiba-tiba tercekat. Suara yang sangat di kenalnya bertanya dalam jarak yang sangat dekat denganya. Suara Jae. Hyo Rim menoleh ke samping dan melihat Jae yang sedang memandangnya sambil merapatkan jaketnya.

Sedang apa Jae disini? Bukankah tadi dia sudah kembali ke galeri bersama Win?

“Jawab pertanyaanku!” Suara Jae terdengar lebih jelas di antara derai hujan yang mengguyur kota ini.

“Ya, Aku harus menunggu hujan reda untuk pulang!” Jawabnya. “Kau sendiri bukannya sudah pulang bersama Win?”

Jae menggeleng. “Win memintaku mengawasimu sampai dia kembali lagi dan menjemput kita.”

Hyo Rim mengangguk mengerti. Kemudian hanya tertinggal bunyi hujan saja. Baik dirinya maupun Jae sama sekali tidak bicara satu sama lain. Jae membuatnya membeku dan tidak tau harus berkata apa.

Hyo Rim dan Jae memang sangat jarang bertegur sapa. Dia hanya akan mendengar suara Jae saat laki-laki itu memarahinya karena mengganggu pekerjaanya. Padahal di galeri hanya ada dua orang laki-laki, tapi dia hanya bisa merasakan keberadaan Jae dengan lebih jelas karena dimatanya hanya ada Jae dan Jae.

Meskipun Hyo Rim dan Win sering bersama, Hyo Rim tetap tidak bisa memalingkan kepalanya dari Jae. Hyo Rim menggosok-gosokkan kedua telapak tanganya. Hujan yang sangat lebat di malam hari bisa membuatnya masuk angin dan diserang flu.

“Kau kedinginan?”

Suara Jae memecahkan lamunan Hyo Rim dan dirinya hanya bisa menggeleng lalu menjawab kalau ini sudah biasa terjadi. Kehujanan memang bukan sekali dua kali terjadi pada dirinya, untuk hidup di dalam negara dengan cuaca yang tidak menentu, Hyo Rim harus siap pulang dalam keadaan basah sewaktu-waktu.

Sedia payung sebelum hujan bukan kebiasaan yang menyenangkan bagi Hyo Rim, dia sama sekali tidak suka membawa barang-barang yang memberatkan geraknya. Bekerja pada Win yang sibuk dan cukup cerewet membuatnya harus merasa cukup hanya dengan membawa dompet di saku jaketnya.

“Mau mendengarkan ini?” Jae menyodorkan sebuah I-pod berwarna Silver kepada Hyo Rim.

I-pod itu sudah menyala dan salah satu dari sepasang Handsetnya berada di telinga Jae. Jae melepas handset itu dan memberikanya kepada Hyo Rim. “Ini punya Win. Aku sebenarnya tidak suka mendengarkan musik-musik seperti ini, hanya akan membuatku mengantuk. Tapi Win bilang mendengarkanya bisa membuatmu merasa hangat. Kau coba saja. Mungkin cocok untuk mu!”

“Terima kasih!” Hyo Rim lalu mengambil alih I-pod dan Handsetnya.

Bunyi derai hujan yang keras dan lantang seketika berganti dengan alunan piano yang mendayu serasi. Hyo Rim menatap judul track di layar I-pod,

Dieu tristesse – Chopin.

Sebuah alunan musik Instrumental yang hangat dan romantis, sangat manis. Perasaanya semakin melayang terlebih saat beberapa kali Hyo Rim dan Jae beradu pandang. Sebenarnya apa yang ada dalam fikiran Jae sekarang? Apakah Jae juga menyukainya?

Jangan percaya diri, Jung Hyo Rim!. Bisik hati Hyo Rim.

Ia memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya keras. Selama ini Jae selalu bersikap baik padanya. Tapi bukan berarti Jae juga menyukainya. Hyo Rim tidak mau kecewa.

***

“Bukankah kau bilang, mau jadi desainer sepertiku? Jadi ku bawakan formulirnya!” Win menyodorkan secarik kertas kepada Hyo Rim, sebuah formulir kampus swasta terkemuka yang baru membuka pendaftaran.

Hyo Rim memang pernah mengatakan tentang ketertarikanya pada dunia yang sudah memberikanya uang yang cukup untuknya seperti sekarang. Terlebih setelah beberapa kali Win mengajarinya mendesain pakaian dan memuji Hyo Rim sebagai anak yang berbakat. Hyo Rim juga terkenang dengan alasan kedatanganya kekota ini adalah untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi.

Tapi uang untuk itu sama sekali belum terkumpul.

“Lalu dengan apa aku membayarnya?” Tanya Hyo Rim sambil memandang Win yang duduk dengan tenang di sofa ruang kerjanya.

“Aku sudah membayarnya, kau tinggal isi formulir itu, dan berusahalah untuk lulus, selanjutnya nanti saja kita fikirkan!”

Hyo Rim memandangi formulir itu sekali lagi. Ia sangat ingin kuliah. Hyo Rim ingin merubah dirinya dari seorang yang sederhana menjadi seorang gadis berbakat yang di akui banyak orang selain Win. Tapi walau bagaimanapun, berhutang tetap bukanlah sesuatu yang di sukainya.

Win selalu berbaik hati meskipun mereka berdua sering kali berdebat, Tapi kebaikan yang kali ini sangat sulit untuk ia terima. Bagaimana kalau dirinya lulus saringan?

“Hyo, coba saja dulu.”

Hyo Rim menggigit bibirnya sambil memperhatikan kertas itu sekali lagi. Apa salahnya dicoba? Bila keberuntungan itu berpihak kepadanya nanti Hyo Rim bisa memutuskan akan mengambilnya atau tidak. Tapi seandainya dia lulus, pasti sangat sayang kalau tidak di manfaatkan.

Di zaman sekarang ini, untuk masuk kuliah sudah semakin sulit, standar pendidikan semakin tinggi.

“Kalau begitu bagaimana kalau ku beri pekerjaan?” Tanya Win.

“Pekerjaan?”

“Kau cukup membantuku menyelesaikan sepasang baju pengantin yang deadline akhir minggu ini. Jadi aku tidak perlu merepotkan Yoan yang juga sedang sibuk di cafénya dan Kau akan ku beri 20% dari keuntungan. Bagaimana? Kau tidak perlu takut berhutang padaku!”

***

Sepatu kets hampir ini sudah menemaninya selama hampir tiga tahun. Hyo Rim kini berjalan sambil memandangi langkah-langkahnya yang di bungkus sepatu berwarna putih itu. Selama sekolah, sepatu itu selalu menemaninya malakukan segala aktivitas dan begitu juga setelah Hyo Rim lulus dan bekerja kepada Win.

Membantu mengurusi gaun pernikahan memang bukan pekerjaan yang selama ini selalu di bebankan kepadanya. Pekerjaan seperti itu hanya untuk Yoan dan Sae Kyung sebelum akhirnya Sae Kyung pindah dan bekerja di tempat lain. Dan kali ini Hyo Rim medapatkan kesempatanya,

Setelah ini Hyo Rim tidak harus menemani pelanggan Fitting dan tidak lagi harus membuatkan minum. Meskipun nantinya Win hanya akan menyuruhnya memasang renda atau manik-manik, semuanya cukup untuk membuatnya senang dan ia akan berusaha sebaik mungkin.

Sekarang yang harus di lakukanya adalah mengisi formulir dan mengembalikanya kepada Win.

Hyo Rim sebenarnya masih ragu, kuliah akan membuatnya jarang melihat wajah Jae. Jae hanya ada pada pagi hari, hingga siang sebelum jam makan siang tiba. Semakin meninggi hari Jae akan menghilang dan baru akan datang bila dia benar-benar sibuk dan itu belum tentu terjadi sebulan sekali.

Di Galeri, yang paling santai bekerja adalah Jae. Lalu bagaimana bila Hyo Rim merindukanya nanti? Hyo Rim menghembuskan nafasnya keras-keras. Tapi secara tidak sengaja matanya menangkap Jae yang keluar dari dalam mobil di temani seorang wanita dan kelihatanya mereka sangat dekat. Keduanya berjalan mendekati Hyo Rim.

Tidak, keduanya berjalan mendekati pintu masuk galeri dimana Hyo Rim berdiri.

“Kau mau pergi?” suara Jae menyapanya.

Akhirnya Hyo Rim mendengarkan suaranya juga meskipun tadi malam keduanya sempat ngobrol di depan Hotel setelah Bridal Fair berakhir. Tapi hati Hyo Rim tidak bisa lega terlebih saat melihat wanita yang bersama Jae juga tersenyum kepadaanya.

Suara Hyo Rim tidak mampu keluar, ia hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jae barusan.

“Kalau begitu aku pergi dulu! Take Care ya!” Kata wanita itu lembut kepada Jae.

Hyo Rim hanya bisa mengigit bibirnya untuk membendung perasaan cemburu saat wanita itu dan Jae berpelukan mesra di depanya. Jantungnya hampir melompat keluar jika saja Hyo Rim tidak memegangi dadanya. Sebisa mungkin Hyo Rim membalas senyum wanita itu sebelum akhirnya ia kembali ke pinggir jalan dan pergi menjauh dengan mobilnya.

“Kau mau kemana?” Jae berbicara lagi padanya.

“Umm…membeli kopi dan Waffle untuk Win.” Jawab Hyo Rim. “Ngomong-ngomong wanita itu siapa?”

“Dia? Nanti akan ku ceritakan. Mau ku temani?”

“Dia saudara perempuanmu atau sepupu?” Jae tertawa kecil, ia kelihatan sangat bahagia.

“Apa kami berdua kelihatanya mirip? Kata orang kalau mirip itu jodoh. Iya kan?”

“Dia pacarmu?”

“Ehm..” Jae mendehem keras. “Kenapa kau penasaran sekali terhadapnya? Kau tidak sedang  cemburu kan?”

Apa? Hyo Rim terperangah mendengar ucapan Jae. Ucapan yang sangat mengena, dan hari ini kedengaranya Jae sedikit lebih cerewet daripada biasanya. Apa karena Jae sedang bahagia? Ya, kelihatanya Jae yang di lihat Hyo Rim hari ini adalah orang yang berbeda.

“Kau cemburu?”

Hyo Rim menggeleng kuat. “Tidak, bagaimana mungkin aku…aku cuma… Maaf kalau terlalu ikut campur dengan urusanmu!”

“Hyo!” Jae menarik lenganya saat Hyo Rim hendak melarikan diri. Sekarang Hyo Rim hanya bisa terdiam sambil memandang Jae yang juga memandangnya. “Aku tau kau tidak mungkin cemburu. Lagi pula kau tidak boleh cemburu padaku. Aku tidak mungkin menyukaimu lebih dari seorang teman!”

Dia tersenyum. Jae bahkan sudah menolak sebelum Hyo Rim menyatakan cintanya. Apa yang harus di lakukanya? Ia sangat ingin menangis dan menjauh. Tapi bila itu dilakukanya sekarang di hadapan Jae, ia hanya akan semakin mempermalukan dirinya.

“Hyo! Syukurlah kau belum pergi. Ada telpon dari Sae Kyung!” Win tiba-tiba menyapaya. Hyo Rim menghela nafas. Ia merasa telah di selamatkan.

***

“Benarkah? Kejam sekali, kenapa dia tidak bisa menghargai perasaanmu sedikit saja. Kenapa langsung to the point begitu!” Sae Kyung menggerutu. Ia sangat bingung setiap kali melihat wajah sedih Hyo Rim yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri. “Sudalah Hyo, menjauh saja! Aku tiba-tiba saja tidak menyukainya!”

Hyo Rim menyeka air matanya. Mungkin selama ini dirinya memang sudah sangat mengganggu bagi Jae sehingga Jae bisa berkata seperti tadi. Dirinya dan wanita itu memang berbeda. Hyo Rim hanya seorang gadis biasa dengan penampilan standar seperti orang kebanyakan. Kaos oblong dan celana Jeans sudah menjadi citra tersendiri baginya.

Dan wanita itu? Cantik. Seperti model.

“Kalau begitu kau pulang saja dulu!” Win yang dari tadi hanya menyimak tiba-tiba ikut bicara. “Istirahatlah. Kau jangan khawatir, Kami pasti bisa membantumu melupakan perasaanmu kepadanya.”

“Lalu apa aku harus menghindarinya? Bukanya malah akan semakin kelihatan?”

“Kau tidak perlu menghindarinya aku yang akan kalian benar-benar saling menjauh. Makanya kubilang, Kau kuliah saja. Setidaknya itu bisa membuatmu punya kesibukan yang jauh dari Jae”

Hyo Rim dapat merasakan tepukan telapak tangan Win di bahunya. Ia merasa beruntung masih punya Win dan Sae Kyung untuk menemaninya di saat-saat seperti ini. Ingatanya tanpa bisa di cegah  kembali kepada kejadian di depan tadi, saat Jae menarik lenganya dengan pandangan yang tidak bisa di mengerti.

“Aku tidak mungkin menyukaimu lebih dari seorang teman!”

Kata-kata yang sangat menyakitkan untuk Hyo Rim, kata-kata terkejam yang pernah Hyo Rim dengar seumur hidupnya.

Hyo Rim memang bukan orang yang bisa dengan mudah menyembunyikan perasaanya. Win selalu bilang kalau wajahnya seperti cermin dari hatinya, dia akan mudah kelihatan bila sedang menyimpan sesuatu. Wajahnya dengan mudah memperlihatkan perasaan sedih, kecewa, senang, terkejut, dan juga perasaan takut.

“Bagaimana Hyo? Kau ikut aku?” Tanya Sae Kyung. Gadis itu berdiri dari sofa tempatnya duduk. Jam istirahatnya sebentar lagi habis.

“Kau harus kembali ke kantormu kan? Biar Hyo bersamaku saja disini setelah Jae pulang dia akan ku antar pulang!” Kata Win.

Sae Kyung memandang Hyo Rim lekat-lekat kemudian sebisa mungkin memberikan senyum sebelum akhirnya ia pergi. Sekarang yang tersisa hanya Hyo Rim yang tertunduk lelah dengan Win yang masih memandanginya.

“Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa bertemu denganya?” Hyo Rim berbisik.

“Kau harus belajar menyembunyikan perasaanmu. Hal yang seperti ini bisa sangat merugikan. Kalau begitu kau libur saja sampai selesai tes. Aku akan bilang kepada mereka kalau kau belajar dengan giat untuk masuk universitas. Bagaimana?”

“Lalu bagaimana dengan gaun yang di deadline akhir minggu ini?”

“Aku bisa mengerjakanya sendiri! Kau hanya perlu memikirkan bagaimana caranya kau bisa lulus tes dan kembali menata perasaanmu. Sudah ku bilang kan? Kau tidak perlu menjauh dari Jae, aku yang akan melakukanya!”

Hyo Rim menatap Win semakin dalam. Laki-laki ini benar-benar sudah bersikap sangat baik dan tanpa cela. Wajahnya yang terkesan ‘cantik’ itu selalu bisa menenangkan hati siapa saja yang ada di dekatnya. Begitu juga dengan hati Hyo Rim saat ini.

Jae sepertinya memang tidak bisa menerima Hyo Rim sejak awal, seharusnya Hyo Rim sadar. Win juga sudah mengatakan hal itu kepadanya berkali-kali. Tapi kenapa dirinya masih tidak mau dengar?

“Wanita itu sebenarnya punya hubungan apa denganya?”

“Kau masih mau memikirkan hal seperti itu?” Win kemudian mendecakkan lidahnya. Keningnya terlihat semakin berkerut. “Hye Jung, namanya Choi Hye Jung. Jae dan dia dulunya memang punya hubungan, tapi belakangan mereka berteman baik. Tapi perlu kau tahu kalau Jae masih menyimpan nama Hye Jung baik-baik di dalam hati, bukankah sudah ku ingatkan dulu kalau jangan terlalu berharap?”

.

.

.

Wah new story coming guyssssss!!!!!
“Wah kok beda cast nya?” “Cast nya siapa tuh?” “JHR berpaling dari SIWON? Omaygat!”
.
NOOO, BIG NO! Selamanya JHR akan selalu di samping sang Suami, Siwon. Jadi siapa kedua cast diatas?
.
“Adek-adeknya suju?” “Oooo, grup baru SM itu…”
.
Bener banget! Mereka adalah Jaehyun dan WinWin from NCT. Mumpung lagi fresh dan kebetulan sunbaenim tersayang dari Jaehyun itu adalah Siwon. Sekarang saya sudah menemukan sesuatu yang sangat mirip dengan Siwon /hanya pendapat yaaaa no bash/ yaitu uri Jaehyun or Jae or Woojae.
.
“Terus kok WinWinnya?” “WinWin dari china ituu?”
.
yang saya suka dari WinWin itu saat pertama kali dia dikenalkan sebagai anggota ke-15 dari SR15B (nama sebelum NCT). Disitu saya langsung jatuh cinta dan flashback ke uri Hangeng /hanya mengingat no bash/.
.
AND FOR YOU GUYS, cerita sebelah kenapa telat? maafkan aku sibuk sekaliT.T. Semoga cerita-cerita baru bisa membuat kalian respect dan memfeedbak my story in this website. OKAY^^^^^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s