Like An Athena – Chapter 2

req-jhr-like-an-athena-by-laykim

Like an Athena

2nd Chapter

.

Jae Joong Shim –– Hyo Rim Jung –– Shim Chang Min

Full of Romance, Adult Story

JHR Presents!

Beautiful Poster by : LayKim @ Indo Fanfictions Art

.

WARNING!!! This story is contains adultry and full romance!!!

DON’T BE A PLAGIARISM. NOT INTERESTING? PRESS BACK BUTTON!

.

.

.

“Kau mau bersikap kurang ajar padaku?”

“Lalu kenapa tidak teriak? Kau menyukainya kan? Katakan saja!” pandangan mata Jae Joong semakin terlihat bergairah. Terlebih saat melihat leher Hyo Rim yang bergerak karena menelan ludah, pandanganya kemudian turun ke camisole yang sudah terbuka sebagian dan memamerkan payudara Hyo Rim lebih banyak lagi. “Kau sangat pandai menuntut kan? Kalau di tempat tidur, sekuat apa tuntutanmu?”

Jae Joong menarik tangan Hyo Rim yang menghalangi pandanganya dan menekanya kuat keatas ranjang. Ia kemudian menarik tali camisole yang ketiga dan keempat dengan giginya. Menggairahkan sekali dan sekarang dirinya sangat terangsang.

“Kalian berdua sedang apa?”

Tuan Shim menatap Jae Joong dan Hyo Rim bergantian dengan sangat heran. Tidak ada seorangpun yang menjawab hingga Hyo Rim berbalik dengan pakaianya yang sudah kembali utuh lalu mengambil selimut yang berserakan di lantai.

“Aku mengantarkan selimut, Paman!” Meskipun Hyo Rim berusaha untuk tampak biasa tapi dari suaranya barusan Tuan Shim bisa merasakan kegugupanya yang luar biasa. “Tapi selimutnya terjatuh, aku akan menggantinya. Permisi!”

Tuan Shim tersenyum kecil dan membiarkan Hyo Rim keluar dari kamar itu. Ia memandang Jae Joong lagi dan menutup pintu. “Kau mau melakukan apa? Bagaimana kalau aku tidak datang tadi?”

“Aku hanya bermain-main sedikit. Tenanglah Paman, aku tidak akan melakukan apa-apa!”

“Tidak melakukan apa-apa? Kau nyaris menelanjanginya!”

“Tapi Paman, dia menyukainya! Dia tidak berteriak kan?”

Tuan Shim memukul kepala Jae Joong keras sehingga laki-laki  itu mengaduh. “Dia wanita terhormat. Mana mungkin dia akan berteriak begitu saja di rumahnya sendiri. Ibunya bisa kena serangan jantung kalau mengetahui kelakuanmu ini!”

“Aku… Ah sudahlah, aku mengerti!”

Untitled

Jae Joong sangat berharap bisa melihat Hyo Rim lagi. Tapi pagi ini  Hyo Rim sama sekali tidak muncul hingga saat kepulanganya tiba. Gadis itu ternyata sudah kembali ke London pagi-pagi sekali karena harus segera bekerja.

Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai di flat milik Chang Min, Jae Joong nyaris tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain kejadian kemarin, melihat Hyo Rim Gershon di atas ranjang membuatnya sangat bergairah.

Gadis yang galak ternyata bisa membuatnya merasa sangat berapi-api seperti ini? Dia sama sekali tak menyangka, tubuh Hyo Rim sangat wangi dan rambutnya selembut sutra. Ukuran payudara dan pinggul yang sempurna semakin memperkaya khayalannya.

Kedua hal terakhir sudah sangat lama Jae Joong ketahui, tapi kemarin adalah saat yang paling tidak pernah di sangka-sangka dalam hidupnya karena dapat melihat payudara Hyo Rim secara langsung. Seandainya Tuan Shim tidak datang…

Jae Joong mengerang.

“Kau kenapa?” Chang Min menyadarkanya. Sepupunya itu sedang asyik membaca buku sambil duduk di sebelahnya. Hari ini anak itu tidak bekerja, Chang Min tidak akan pernah datang ke kantor saat ia di minta mengurusi masalah kliennya, dan berkali-kali Jae Joong selalu menjadi alasanya untuk bolos kerja. “Sejak tiba disini kau terus melamun, sekarang malah mengeluarkan suara-suara aneh! Jangan bilang kau di tampar lagi oleh Hyo Rim!”

“Tidak. Aku tidak mendapatkan hadiah khusus itu seperti biasa.” Jae Joong tersenyum getir. Seandainya dia dan Hyo Rim bertemu lagi, gadis itu pasti akan melakukanya. Hal itu bisa di pastikan. “Kenapa kau tidak bilang kalau wanita itu adalah Jung Hyo Rim?”

“Memangnya kenapa? Kau tidak menyukainya? Dia menolakmu?”

“Kata Ibunya, pengacara gila itu tidak pernah menolak perjodohan. Pihak laki-laki yang selalu menolak. Tapi setelah ia memerintahkan aku untuk menolak perjodohan itu, aku mengerti sebabnya. Dia pasti  mengancam semua laki-laki yang sudah menjalani perjodohan denganya seperti yang di lakukanya padaku!”

“Benarkah kalau dia juga melakukan itu kepadamu? Luar biasa sekali dia!”

“Dia sangat menarik, saat perjodohan, Jung Hyo Rim benar-benar berdandan dengan cantik, ia memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas, memakai camisole bertali dan tidak menggunakan bra. Seksi sekali!”

Chang Min yang tadi tersenyum tiba-tiba kehilangan binarnya. Ia masih berfikiran seperti itu? Kenapa Hyo Rim berdandan tidak biasa untuk laki-laki sinting ini?

“Saat kuliah beberapa orang temanya memanggil Hyo Rim dengan sebutan Athena karena tubuhnya dan juga kecantikannya yang luar biasa itu.”

“Iya! Dia seperti Athena, cantik namun….” Jae Joong mengguman .

 Bagaimana bila Hyo Rim tidak mengenakan pakaianya? Bagaimana bila ia mengenakan camisolenya tadi setiap hari? Jae Joong ingat kalau Hyo Rim memang selalu melakukan itu. Di balik jas dan blazernya. Gadis itu selalu menggunakan camisole tapi tidak terlalu menonjol karena penampilan maskulinya lebih dominan.

“Kau akan menikah denganya?”

“Kau fikir aku gila?” Jae Joong mengerang lagi. “Aku tidak akan  menikah denganya karena ia terlalu cerdas dan galak untuk menjadi istriku! Hyo Rim bisa mematikan petualangan cintaku! Tapi aku akan bermain-main sebentar. Aku akan membuatnya tergila-gila padaku sebagai balasan tamparan demi tamparan yang selalu dilayangkanya. Sebagai akibat karena sudah berani-beraninya membangkitkan gairahku!”

Chang Min mendengus, ia pasti akan merasa semakin bersalah kepada Hyo Rim kalau itu benar-benar terjadi. Ia akan menemui Hyo Rim di kantor besok, Chang Min harus membicarakan sesuatu. “Utamakan pernikahanmu!” Chang Min bersuara lagi.

That’s so easy, Bro. Aku bisa memilih wanita mana saja yang kusukai, tapi seperti yang ku bilang kalau aku ingin bersenang-senang dulu!”

Untitled

Bertemu dengan Jae Joong setiap hari adalah beban yang penuh dengan penderitaan. Pagi hari, Hyo Rim harus berusaha sebisa mungkin untuk bangun lebih pagi dan berangkat kerja lebih awal asalkan tidak bertemu dengan laki-laki itu.

Pada malam hari saat Ilana ada di rumah, Hyo Rim tidak bisa menolak untuk melihat Jae Joong dan Ilana mengobrol dan dirinya hanya bisa diam agar Jae Joong sadar bahwa Hyo Rim tidak suka dengan kehadiranya.

Belum lagi sikap-sikap tidak menyenangkan yang harus di terimanya. Jae Joong selalu menggodanya meskipun dengan sesuatu yang kecil. Menggenggam tangan misalnya, dan laki-laki itu selalu melakukanya setiap kali dia datang kerumah dengan membawa berkaleng-kaleng minuman dan tidak akan pulang sampai semuanya habis.

Selama itu, Hyo Rim harus merelakan tanganya untuk terus berada dalam genggaman Jae Joong. Menolak adalah kata-kata yang paling kuat yang pernah terfikirkan tapi tidak pernah sanggup untuk Hyo Rim lakukan. Tapi selama semuanya itu tidak mengganggunya tidak akan pernah jadi masalah, Jae Joong pun tidak datang setiap hari kerumahnya dan terkadang seminggu penuh Jae Joong tidak akan Hyo Rim lihat sepulang kerja.

Mengenai Jae Joong dan banyak wanita-wanitanya, tidak pernah membuat Hyo Rim pusing seperti hari ini. Jae Joong berusaha menutupi telinganya dengan bantal karena laki-laki itu mengeluarkan suara-suara aneh yang membuatnya tidak nyaman.

Dia sedang bercinta, tentu saja begitu. Hyo Rim mengambil i-pod di laci meja tulis dan berusaha mengalihkan pendengaranya ke beberapa jenis musik yang mungkin bisa membantu. Tidak berhasil, karena Ja Joong tidak bisa berkonsentrasi bila ada keributan.

Mengerjakan pekerjaanya sambil mendengarkan musik sepertinya bukan ide bagus.

Ilana membuka pintu kamar Hyo Rim dan mematikan I-pod yang membuat pekerjaan Hyo Rim malah semakin kacau. Bunyi musik berhenti dan desahan-demi desahan kembali mengganggu.

I can’t sleep, Jung!” Ilana berbisik. “Mereka keras sekali, membuatku iri!”

Mata Hyo Rim membesar mendengar pernyataan Ilana barusan.

“Iri?”

“Sikapmu seperti seseorang yang tidak pernah melakukanya saja!” Ilana berbisik polos.

Mendengar itu Hyo Rim mengerang. Bukan masalah itu yang mengganggu, ia sama sekali tidak iri! pekerjaan yang sedang di kerjakanya kali ini benar-benar sudah deadline dan ia bahkan belum mengerjakanya lebih dari enam puluh persennya. Hyo Rim bahkan tidak yakin akan selesai dalam tiga hari kedepan.

Sekarang apa yang terjadi? Pekerjaanya di ganggu oleh suara-suara berisik tunanganya yang bercinta dengan wanita lain pada tengah malam seperti ini?

“Aku akan memberinya pelajaran!” Ia kemudian mengaduk-aduk meja tulisnya dan menemukan cincin bermata ruby, cincin tunanganya.

Setelah mengenakanya, Hyo Rim beranjak pergi ke flat sebelah. Ilana terperangah tak menyangka saat melihat Hyo Rim menggedor-gedor pintu flat Jae Joong dengan brutal, kelakuanya ini bisa membangunkan semua tetangga.

Untungnya tidak perlu waktu yang lama bagi Ilana untuk merasa tidak enak karena Jae Joong segera keluar hanya dengan menggunakan celana pendeknya. Laki-laki itu memandang mereka gusar.

“Untuk apa mengganggu malam-malam begini?”

Hyo Rim tidak menjawab, ia langsung masuk kedalam flat Jae Joong tanpa permisi. Ilana hanya bisa angkat bahu saat Jae Joong memandangnya penuh tanya dan secepat mungkin menyusul Hyo Rim masuk ke kamar pribadi Jae Joong.

Hyo Rim sedang menarik rambut seorang wanita yang hampir bugil di atas tempat tidur. Mulutnya dengan kejam mencaci maki, pemandangan yang langka. Hyo Rim sudah lama sekali tidak mengeluarkan kata-kata sadisnya. Wanita itu mencoba berontak tapi tidak begitu kuat, hasrat sudah membuatnya melemah.

“Jangan pernah kau mencoba datang lagi atau mendekati tunanganku!” Hyo Rim berteriak. Ia memperlihatkan cincin di tanganya yang mirip dengan cincin yang di kenakan Jae Joong. “Sekarang cepat  kenakan pakaianmu atau kau! Ku usir dalam keadaan setengah telanjang seperti sekarang!”

Wanita itu memandang Jae Joong gugup, tapi melihat Jae Joong tidak melakukan apa-apa dan kelihatanya ia kecewa. Secepat mungkin ia berusaha mengenakan pakaianya dan segera berlari keluar flat sambil menangis.

Malam ini dia sudah di permalukan, mustahil bila dia tidak merasa kecewa kepada Kim Jae Joong yang bahkan tidak membelanya. Hyo Rim  tersenyum menang lalu mengangkat wajahnya di hadapan Jae Joong. “Aku sudah bilang kan? Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku. Seharusnya kau menyesal karena menerima perjodohan itu!”

Jae Joong memandangnya penuh dendam. Wanita ini sudah mengganggu privasinya dengan cara yang luar biasa, mungkin di luar pintu flatnya ada beberapa orang yang berkerumun untuk melihat keributan yang sudah di timbulkan Hyo Rim.

“Kenapa tiba-tiba kau merasa terganggu?”

“Karena suara kalian mengganggu pekerjaanku!” Hyo Rim membentak. “Aku harap untuk tiga hari kedepan kau tidak mengganggu pekerjaanku dengan ini. Kalau hasratmu tidak bisa di tahan, kenapa tidak kau bawa saja wanita-wanita itu ke hotel?”

Ia beranjak pergi kembali ke flatnya dan menyeruak kerumunan orang. Jae Joong mendesah kesal. Hari ini Hyo Rim sudah mempermalukanya dan dia tidak akan tinggal diam. Ia mengambil kimononya dan mengganjal pintu flat sebelum Hyo Rim menutupnya.

“Aku bersumpah kau tidak akan pernah bisa bekerja dengan tenang tanpa memikirkan aku!” desis Jae Joong

Hyo Rim terdiam beberapa detik, lalu berusaha menutup pintu flatnya dengan kasar. Sesegera mungkin ia kembali kekamarnya dan tidur lebih cepat dari rencana. Ia harap besok bisa mengerjakan semuanya dengan lebih baik.

Sayangnya keributan itu tidak bisa membuat Hyo Rim tidur begitu saja sehingga ia harus bangun kesiangan dan memakan hamburger sebagai sarapan sambil berlarian mengejar taksi.

Untitled

“Kau lembur lagi malam ini? May I make a cup of coffee, Jung?” Ilana  meyapanya saat Hyo Rim baru saja memasuki pintu kamarnya.

Hyo Rim sudah berusaha mengerjakan semua pekerjaan yang tersisa  di kantor hingga ia harus pulang malam hari ini. Setidaknya, pekerjaan hanya tersisa sedikit dan dirinya bisa tidur tepat jam sembilan malam ini.

Hyo Rim membuka Blazer abu-abu dan roknya, lalu segera duduk di atas kursi meja tulis. “Boleh, kalau tidak merepotkan!”

Ilana beranjak kedapur dan kembali beberapa menit kemudian dengan secangkir kopi. Ia kelihatanya akan menemani Hyo Rim seperti biasa sambil membaca novel. Tidak kurang dari setengah jam kemudian suara gaduh di ruangan sebelah terdengar lagi. Hyo Rim dan Ilana saling pandang, lalu menyeringai

“Telpon saja! Minta dia mengecilkan suaranya!”

Hyo Rim mengambil tas Gucci-nya dan merogohnya beberapa saat.  Tapi ia sama sekali tidak menemukan ponselnya. Ia berusaha mengingat-ingat dimana benda itu di letakkannya. Tapi Hyo Rim tidak bisa mengingat apa-apa. “Dimana ya?”

“Apa?”

“Ponselku! Coba kau telpon, semoga saja deringnya bisa  membantuku untuk menemukanya!” Ilana merogoh sakunya dan memainkan ponselnya dengan segera.  Ia mencoba menelpon ponsel Hyo Rim tapi tidak ada bunyi.

Hyo Rim menggeleng, “Tidak ada bunyinya kan? Tapi ponselmu masih aktif memangnya kau tinggalkan dimana?”  Hyo Rim kembali berusaha mengingat-ingat.

Suara-suara di flat sebelah semakin Intents dan membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Ia mengerang, Hyo Rim tidak tahan lagi dan Jae Joong harus siap bila kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi. Ia kembali merogoh laci mejanya dan berusaha menemukan cincin pertunanganya. Setelah memakainya Hyo Rim melangkah keluar kamar.

“Kau mau kemana?” tanya Ilana keras.

“Kemana lagi?”

“Dengan pakaian seperti itu?”

Hyo Rim memandang tubuhnya dengan cepat. Ia hanya  menggunakan camisole sutra berwarna oranye dengan renda tebal yang meliputi bagian dadanya. Celana pendek skin-fit dengan warna senada menyelaraskan penampilanya. Meskipun ia terlihat cantik, Hyo Rim tidak akan mengenakan pakaian seperti ini bahkan untuk keluar kamar seperti yang sekarang di lakukanya tanpa sadar.

What’s jerk! Jae Joong membuatnya kesal. Secepat mungkin ia meraih kimono sutra marun yang tergantung di belakang pintu lalu mengenakanya.

“Ilana, kau mau ikut?”

Ilana menggeleng. “Aku akan mencari ponselmu saja!”

Okay,” Hyo Rim melangkah dan langkahnya terhenti lagi saat  Ilana memanggil namanya.

“Yah Jung Hyo Rim! Cobalah untuk tidak membuat keributan kali ini. Jangan sampai tetangga-tetangga kita terganggu dan mengusir kita keluar malam ini juga!”

Mendengar itu setidaknya Hyo Rim masih bisa tersenyum. Ia berjalan cepat dan mengetuk pintu flat Jae Joong lebih sopan. Tapi kesopanan membuatnya menunggu lebih dari semenit hingga akhirnya Jae Joong membuka pintu dan menatap Hyo Rim dengan malas.

“Aku baru saja memulainya. Tidak bisakah kau menunggu sampai aku selesai?” Ujar Jae Joong geram.

“Kau menggangguku! Jadi ini caramu membuatku mengerjakan pekerjaan yang menumpuk dengan mengingatmu? Tuan, ini tidak akan berpengaruh apa-apa.”

“Lalu kenapa kau kemari?”

“Karena kau menggangguku dengan cara yang sama, aku pastikan  akan menyelesaikanya dengan cara yang sama juga!” Hyo Rim baru saja memutuskan untuk masuk kedalam kamar, tapi wanita baru yang berbeda lagi keluar dan menghampiri mereka.

Pakaianya masih lengkap hanya terlihat sedikit lebih kusut saja. “Ada apa ini?” tanyanya sopan. “Apa kami mengganggu?”

“Nona, bisakah kau meninggalkan tempat ini?” Kali ini Hyo Rim  lebih tenang. Lawan bicaranya sekarang kelihatanya bukan wanita murahan yang biasa Jae Joong bawa ke flat seperti sebelumnya.

“Karena pria ini adalah tunanganku!”

“Benarkah?” wanita itu kelihatan cukup terkejut, ia memandang Jae Joong heran. “Really?”

Jae Joong mengangguk lemah. “Tapi bukan berarti aku terlaranguntuk melakukan ini kan?”

Wanita itu memegangi kepalanya. “Tapi tunanganmu kelihatanya tidak berfikir begitu! Aku tidak bisa meneruskan ini kalau harus menyakiti hati perempuan lain!”

Hyo Rim berdesis sinis. Dia takut menyakiti perempuan lain? Tentu saja, Jae Joong sudah menipunya karena wanita itu kelihatanya tidak tau bahwa laki-laki yang hampir saja tidur denganya sudah bertunangan.

Meskipun tampaknya sangat kecewa, wanita itu tetap berjalan anggun menuju kamar dan kembali dengan high heels dan mantelnya. Sebelum pergi ia meminta maaf setulus hati kepada Hyo Rim dan mengatakan kalau ia tidak bermaksud untu merebut tunanganya.

Mendapat reaksi seperti itu Hyo Rim merasa tidak enak, sebisa mungkin Hyo Rim berusaha untuk tersenyum dengan hormat dan memandangi wanita itu hingga bayanganya menghilang.

“Kali ini apa?” Jae Joong menatapnya geram.

“Kau lihat sekarang jam berapa? Jam delapan malam dan kau melakukan hal seperti itu pada jam-jam seperti ini dengan suara keras? Apa kau tidak malu di dengar tetangga yang lain?”

“Kau merasa terganggu?”

“Tentu saja. Karena aku tidak suka berbagi hal yang sudah menjadi  milikku. Kau akan menderita dengan keputusanmu untuk bertunangan denganku! Berhentilah berpura-pura, katakan kepada pamanmu kalau pertunangan kita tidak bisa di lanjutkan lagi dan pergi dari hidupku!”

Jae Joong menarik tangan Hyo Rim dengan kasar lalu memandang cincin bermata merah yang bersarang dengan indah di jari manisnya.

“Bagaimana bunyi perjanjian kita? Selama kau memakai cincin ini akunadalah milikmu, tapi kau selalu menggunakan cinicin ini pada saat kau ingin menggangguku!”

Jae Joong kemudian mendekatkan tangan Hyo Rim kemulutnya lalu menggigit cincin itu sehingga jari manis Hyo Rim benar-benar terjepit, gadis itu berteriak kesakitan.

“Kau melupakan satu hal, Girl! Selama kau mengenakan cincin ini, kau juga milikku!”

Hyo Rim terpaku, ia hanya bisa memandangi Jae Joong yang menutup pintu flat dengan kakinya sehingga menimbulkan bunyi debuman yang keras. Laki-laki itu tersenyum untuk pertama kalinya hari ini di hadapan Hyo Rim dan seperti biasa senyuman itu membuatnya kehilangan akal tapi tidak cukup membuatnya bodoh dan tidak melawan saat Jae Joong melepaskan kimononya dengan paksa.

Jae Joong tidak berhasil, setiap kali ia melangkah maju Hyo Rim akan mundur dan menjaga jarak.  Setidaknya sampai punggung Hyo Rim menyentuh dinding di sebelah pintu kamar pribadi Jae Joong yang agak terbuka. Ia menelan ludah lalu berusaha memegangi leher kimononya saat wajah Jae Joong semakin mendekat.

Why? Kau ingin melakukanya di dalam kamar? Kurasa tidak perlu karena ruangan ini cukup luas untuk kita jelajahi!”

Hyo Rim benar-benar terkesiap saat lengan Jae Joong merangkul punggungnya, kedua tanganya yang tadi berada di leher sekarang sudah jatuh tertelungkup di dada Jae Joong. Hyo Rim berusaha untuk protes tapi kata-katanya berhasil di rampas oleh Jae Joong saat laki-laki itu menemukan bibirnya dan segera melumatnya dengan liar.

Hyo Rim ingin berteriak tapi Jae Joong cukup pandai mengambil kesempatan dengan menjejalkan lidahnya memenuhi rongga mulut Hyo Rim. Gadis itu bersumpah ia sedang berusaha melawan, tapi tubuhnya sangat lemah dan semua sentuhan Jae Joong pada akhirnya membuatnya menyerah.

Ia merelakan saat kimononya di tanggalkan dari tubuhnya dan membalas cumbuan Jae Joong sebisanya. Sebelah lengan Jae Joong menekan punggungnya agar Hyo Rim tidak mundur dan bisa lebih rapat lagi menempel padanya. Bukan hanya itu, tanganya yang satu lagi mengangkat pinggul gadis itu agar sejajar dengan bagian tubuhnya yang mengeras di pangkal paha.

Kaki Hyo Rim bahkan tidak lagi menginjak lantai, Jae Joong cukup kuat untuk membuatnya menggeliat merasakan sensasi sensual yang sangat tidak bisa dielakkan. Tapi semua perilaku Jae Joong berhenti saat mendengar pintu di ketuk kencang, ia melepaskan rangkulanya dari Hyo Rim dan membiarkan gadis itu mengenakan kimono sutranya kembali.

Setelah itu, Jae Joong bergegas membuka pintu dan menatap Chang Min dengan kesal. Sepupunya datang di waktu yang sangat tidak tepat.

Chang Min menyadari pandangan tidak suka Jae Joong kepadanya, melihat penampilannya, Chang Min tau kalau sepupunya itu sedang melakukan sesuatu dengan seorang perempuan. Tapi Chang Min tidak perduli, ia tetap melangkah masuk dan tekejut saat melihat Hyo Rim dalam keadaan yang sangat kusut.

Sekali lagi ia memandang Jae Joong, tapi kali ini dengan tatapan tak percaya. Chang Min berusaha untuk tidak melihat Hyo Rim, tapi tidak bisa. Walau bagaimanapun ia bisa melihat Hyo Rim yang mendekati Jae Joong dengan pandangan yang sangat kejam lalu berujar kasar.

Keep your sh*t mouth, Kim! Jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi!”

Jae Joong tersenyum sinis. “Jangan pernah berharap, Girl! Aku  bisa saja melakukanya lagi bila kau terus menggangguku!”

“Benarkah? Aku bersumpah akan membuatmu tidak bisa meniduri perempuan manapun bila kau melakukan hal yang nakal lagi kepadaku!”

Hyo Rim melangkahkan kakinya dengan kesal tanpa memandang Chang Min lagi. Ia malu karena sudah membiarkan Jae Joong melakukanya. Apa yang terjadi padanya sehingga ia menghentikan perlawananya? Apakah dia sudah gila karena menikmati semua perlakuan Jae Joong tadi? Hyo Rim membanting pintu kamarnya kesal dan menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang.

Sedangkan Jae Joong, dia sendiri sulit menerima kalau ia sudah memperlakukan Hyo Rim dengan cara seperti itu. Ini pertama kalinya Jae Joong memaksa seorang perempuan karena semua wanita mendekatinya tanpa paksaan, mencumbunya tanpa paksaan dan…

Jae Joong tidak bisa melanjutkan fikiranya lagi, ia sudah cukup terkejut dengan perasaan yang timbul karena permainan itu. Semua hal yang di maksudkan untuk sekedar mempermainkan Hyo Rim benar-benar sudah berubah menjadi gairah yang seharusnya tersalurkan dengan serius seandainya Chang Min tidak datang malam ini.

Jae Joong memandang Chang Min yang sejak tadi hanya diam membisu. “Kau kenapa?  Jangan berfikir yang tidak-tidak! Aku hanya membalasnya karena Hyo Rim sudah dua kali mengusir kekasihku dalam seminggu!”

“Kau membalasnya dengan apa? Kau tidak memukulnya kan?”

“Aku mana mungkin memukul wanita! Kau kesini untuk apa?”

Jae Joong menyerahkan sebuah undangan padanya. “Undangan  pernikahan dari Yoon Ha, di kirimkan kerumah. Ibumu juga menelponku dan memintamu untuk segera menghubunginya. Lalu aku juga ingin mengembalikan ini!” Chang Min mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya. “Ponsel milik Hyo Rim. Tertinggal di mobilku dan melihatnya tadi sepertinya aku tidak akan berani mengganggunya malam ini! Aku harap kau bisa memberikan kepadanya besok pagi!”

“Di mobilmu?” Dahi Jae Joong berkerut, sepertinya salah satu perkataan Chang Min sangat menarik perhatianya. Bukan tentang pernikahan Sachi Fujisawa sahabatnya, bukan juga tentang telpon dari Ibunya melainkan cerita tentang ponsel Hyo Rim yang tertinggal di mobilnya.

“Kau sering mengantar jemput Athena-ku? Kau ini sedang berkhianat ya? Berani-beraninya kau mengganggu tunanganku!”

“Mengganggu apanya? Aku cuma berusaha berbaik hati memberinya tumpangan karena dia selalu datang pagi dan pagi hari sangat sulit untuk menemukan taksi di daerah ini. Aku mengantarnya pulang juga karena alasan kesopanan, mana mungkin aku membiarkan seorang gadis pulang sendirian sedangkan langit sudah gelap!” Chang Min berusaha mengelak.

Alasanya tentu saja lebih dari itu, tapi mendengarkan Jae Joong memanggil Hyo Rim dengan sebutan Athena-ku membuatnya berusaha untuk menutupi perasaanya yang sebenarnya.

“Besok jangan kau lakukan lagi! Aku yang akan melakukanya!” Jae Joong berkata datar

Untitled

Apa yang sedang Hyo Rim lakukan? Dia bahkan belum  keluar dari flatnya sedangkan matahari sudah semakin meninggi. Padahal Jae Joong sudah dengan susah payah mengusahakan dirinya agar bisa bagun pagi demi mengantar Hyo Rim ke kantor.

Demi Tuhan, Jae Joong sama sekali tidak mengerti apa yang sudah terjadi padanya saat ini sehingga bertindak bodoh dan mau menunggu seorang perempuan dalam waktu yang sangat lama. Ia terus menggerutu mengutuki dirinya sendiri dan juga mengutuki wanita itu, tapi kaki-kakinya masih terpaku di depan gedung flat seolah-olah sudah di lem dengan sangat kuat.

Hyo Rim akhirnya keluar dan melewatinya begitu saja dengan penampilan yang agak berbeda. Kemeja berlengan panjang dan sebuah rok ketat selutut membuatnya terlihat lebih manis dari biasanya. Selebihnya masih sama, sepatu hak tinggi sembilan sentimeter  berwarna hitam dan rambut yang di ikat rapi kebelakang adalah gayanya yang biasa.

Jae Joong memukul kepalanya dan berusaha membangunkan dirinya dari lamunan. Secepat kilat ia mengejar Hyo Rim dan berhasil menangkap lenganya, wanita itu menatapnya dengan kaku di balik lensa kacamatanya, Ini pertama kalinya Jae Joong melihat  Hyo Rim menggunakan kacamata.

“Lepaskan tanganmu, Sir!” Suaranya terdengar sangat menantang, ketidak sukaan Hyo Rim terhadapnya mungkin bertambah setelah kejadian tadi malam.

“Aku akan pergi bertemu Chang Min. Kalian sekantor kan? Ayo aku antar!” Jae Joong berusaha berkata dengan lebih lembut.

Tapi sikap memberontak Hyo Rim membuat itu tidak bisa bertahan lama. Hyo Rim tidak ingin di sentuh dan dia sudah berkali-kali memerintahkan Jae Joong untuk melepaskan tanganya dengan nada yang kasar. Jae Joong menggenggam lengan Hyo Rim semakin keras sehingga wanita itu meringis dan berhenti memberontak.

“Apa yang kau takutkan? Semalam kita sudah bermesraan kan?”

“Kau pikir aku menyukainya? Kenapa kau melakukan hal itu?”

“Karena wanita yang seharusnya bersamaku sudah pergi karena  kata-katamu!” Jae Joong menyadari kalau nada suara mereka pasti sangat keras sehingga beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan keduanya. Tapi sepertinya berinteraksi dengan Hyo Rim benar-benar harus membuatnya rela mempermalukan diri sendiri.

“Aku hanya menjadikanmu sebagai penggantinya. Seandainya Chang Min tidak datang semalam bisa saja kita sudah…”

“Jangan berharap banyak!” Hyo Rim memotong kata-katanya. Sepertinya wanita itu sudah berhasil untuk mengumpulkan tenaganya kembali dan melepaskan lenganya dari genggaman Jae Joong dengan satu hentakan. “Sebaiknya kau tetap memakai celanamu saat bersamaku!”

Kata-kata itu terdengar seperti ancaman, Meskipun tidak berpengaruh apa-apa bagi Jae Joong tapi tetap saja ia terperangah. Hyo Rim bahkan tidak malu-malu saat bertemu denganya setelah kejadian tadi malam. Tidak heran, hal seperti itu mungkin sudah biasa di lakukanya karena seks bukan sesuatu yag tabu untuk London.

Hampir semua perempuan di kota ini sudah kehilangan keperawananya.

Jae Joong segera berjalan menuju mobilnya yang ada di pinggir jalan dan mengikuti Hyo Rim. Wanita itu berjalan dengan sangat cepat dan cukup jauh dari tempat mereka berdebat tadi. Dengan hak setinggi itu, dia bisa berjalan secepat itu? Wanita memang makhluk ajaib.

Hyo Rim berhenti di sebuah rumah makan dan keluar beberapa saat kemudian sambil memakan hamburger dan melanjutkan perjalanan tangkasnya. Saat melihat sebuah taksi melewatinya, wanita itu berlarian mengejar taksi sambil terus memakan hamburgernya hingga habis.

Jae Joong menggeleng. Ia melakukan hal ini setiap pagi? Ia tidak mau berfikir lagi, karena hal itu malah akan semakin membuatnya mengagumi Hyo Rim.

Jae Joong melajukan mobilnya secepat mungkin, ia harus segera sampai di kantor pengacara itu sebelum Hyo Rim sampai karena Jae Joong harus membicarakan sesuatu dengan wanita itu.

Semalam ia sudah menelpon Ibunya begitu Chang Min pulang, sepertinya kabar tentang perjodohan itu sudah di sampaikan oleh pamanya kepad Ayah dan Ibu Jae Joong. Dari suaranya, Ibunya terdengar sangat senangmendengar kabar bahagia itu.

Jae Joong menghela nafas. Kabar bahagia? Mengingat bagaimana Hyo Rim tega menarik rambut wanitanya beberapa hari lalu dan juga mengusir wanita bangsawan tadi malam, bisa di pastikan kalau Hyo Rim adalah wanita yang sangat dominan.

Menikah dengan Hyo Rim berarti menyerahkan dirinya untuk di perbudak. Bukankah dia tidak benar-benar berniat untuk menikah dengan Hyo Rim? Dia hanya ingin bermain-main, iya kan?

“Kau disini?” Chang Min menyapanya saat mobil Jae Joong berhasil di parkir dengan mulus di depan kantor pengacara Tatou.

Ia keluar dari mobilnya dan membalas sapaan Chang Min dengan senyum lalu berjalan bersisian menuju gedung berlantai tiga itu. Sudah sangat lama Jae Joong tidak berkunjung kekantor ini, masih belum berubah sama sekali. Chang Min mengantarkannya keruangan kerja Hyo Rim untuk melihat-lihat.

Tanpa Hyo Rim di dalamnya Jae Joong sama sekali tidak tertarik, ia memutuskan untuk menyapa kepala kantor terlebih dahulu dan kembali keruangan Chang Min setelah beberapa waktu berlalu. Kesibukan Chang Min yang tak terbatas itu mengingatkanya kepada Hyo Rim yang selalu membawa map kemana-mana. Dengan santai Jae Joong duduk di hadapan Chang Min dan bersandar dengan nyaman.

Where’s my Athena? Kenapa dia tidak datang juga kekantor?” Kata My Athena yang selalu di ucapkan Jae Joong membuat kepala  Chang Min terangkat sebentar lalu kembali berkonsentrasi pada mapmapnya.

”Hari ini ada sidang, dia pasti masih di pengadilan!”

“Jam berapa dia kembali kekantor?”

“Sebentar lagi, sebelum makan siang. Dia ada janji makan siang dengan klien di Birmingham!”

“Kelihatanya kau sangat tau tentangnya!”

Lagi-lagi kepala Chang Min terangkat. “Kau tidak sedang cemburu kan? Dia mengatakannya saat aku mengantarnya pulang. Kau ada perlu denganya? Kau tidak datang kemari untuk menjengukku kan?”

“Aku mau mengajaknya ke Jepang!”

Ucapan Jae Joong kali ini tidak hanya membuat Chang Min mengangkat kepalanya, laki-laki itu juga berhasil membuat Chang Min meninggalkan semua pekerjaanya dan berkonsentrasi  untuk memandang wajah Jae Joong. “What happens?”

“Ibuku memerintahkan agar aku membawa tunanganku kerumah! Kau belum tau? Paman Shim tidak memberi tahu?”

Chang Min menggeleng. “Apa yang akan kau lakukan? Bukanya kau sedang tidak serius? Kau bilang tidak mungkin menikah denganya kan? Kalau membawanya menemui orang tua, itu berarti serius.”

“Aku juga sudah memikirkanya. Tapi walau bagaimanapun aku tetap harus membawa wanita terbaik kehadapan orang tuaku, kan? Meskipun galak Hyo Rim bisa berkelakuan sangat sopan saat berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Selain itu, Ibunya juga orang timur dan dia pasti pernah di ajarkan dengan cara kita. Setidaknya dia lebih baik dari pada wanita barat pada umumnya untuk di bawa menemui orang tua yang kolot!”

Chang Min tertawa sopan. Ia merasa kalau penjelasan Jae Joong sangat masuk akal. Walau bagaimanapun Hyo Rim selalu berusaha menyesuaikan diri dengan siapa dan bagaimana dia berinteraksi dengan orang tersebut. Tidak jarang Hyo Rim membungkukkan badanya sambil bersalaman pada hari-hari biasa. Hyo Rim memang lebih baik di bandingkan wanita asing yang selama ini selalu bersama Jae Joong.

Hyo Rim mengingatkan Chang Min kepada Baek In Ha, ia menggeleng.

Hyo Rim bahkan lebih baik daripada sekretaris Jae Joong itu.

Pintu ruangan Chang Min di ketuk beberapa kali kemudian di buka, Hyo Rim Gershon menyembulkan kepalanya dan terkejut saat melihat Jae Joong ada disana. “Maaf aku mengganggu!” Ia kemudian menutup pintu kembali.

Sesaat Jae Joong dan Chang Min saling pandang, lalu Jae Joong mengejar Hyo Rim Gershon keruanganya. Wanita itu tampak sangat sibuk mengemasi beberapa berkas kedalam laci besi yang nyaris menyamai tinggi badanya.

Dia tidak menyadari keberadaan Jae Joong, atau mungkin pura-pura tidak tau. Jae Joong sudah berkali-kali mengatakan kalau ia ingin berbicara dengan Hyo Rim tapi berkali-kali juga Jae Joong harus menahan geram karena Hyo Rim pura-pura tidak mendengarkan apa-apa dan terus begitu sampai wanita itu benar-benar selesai di ruanganya.

Perbuatan Hyo Rim ini sama sekali tidak bisa di toleransi, dan Jae Joong tidak akan bersedia menerimanya begitu saja. Ia mengusahakan langkah demi langkahnya mengungguli langkah Hyo Rim dan memanggul tubuh Hyo Rim di iringi tatapan banyak orang.

“Turunkan Aku! !” Teriakan Hyo Rim dan segala perlawananya semakin membuat Jae Joong senang. “Turunkan aku sekarang!”

Jae Joong tidak menjawab apa-apa. Ia membuka pintu mobilnya dan menurunkan Hyo Rim di bangku setir. Jae Joong tidak akan mengambil resiko seperti membiarkan Hyo Rim melarikan diri, karena itu, memaksanya masuk dari bangku setir adalah cara paling aman.

Hyo Rim akan segera bergeser saat Jae Joong hampir mendudukinya. Setelah Jae Joong berada dalam mobil, dengan tangkas ia mengunci mobil secara otomatis. Hyo Rim tidak akan bisa melarikan diri dan Jae Joong tertawa penuh kemenangan.

“Jangan salahkan aku. Kau yang memilih ini!” Jae Joong menyalakan mobilnya. “Sekarang aku harus mengantarkanmu kemana? ada janji dengan klien kan?”

Hyo Rim berhenti mencaci maki. Dengan pandangan herannya ia menatap wajah Jae Joong lama sampai akhirnya laki-laki itu balas memandang. Hyo Rim segera menundukkan wajahnya. “Kau mau bicara apa?”

“Katakan aku harus mengantarmu kemana? Kita bisa bicara selama perjalanan ke Birmingham. Kau akan ke Birmingham kan? Wilayah Birmingham cukup luas. Kalian akan makan siang kan?”

“Kau tidak bermaksud ikut makan siang kan?” Suara Hyo Rim kembali angkuh. “Jangan banyak berharap. Aku tidak akan mengizinkanya!”

“Sepertinya kau yang berharap!” Jae Joong tersenyum. Tapi melihat Hyo Rim segera buka mulut dan ingin melawan Jae Joong segera menyeringai. “Sudahlah, kau tidak suka terlambatkan? Kemana aku harus mengantar?” Hyo Rim menghela nafas. Sebenarnya dia juga malas untuk berdebat, tapi dia tidak akan pernah menyerah kepada Jae Joong.

“Baiklah kalau kau tidak mau mengatakanya!” Jae Joong mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Chang Min, dan Chang Min tidak pernah menolak untuk memberi tau apa yag di ketahuinya. Setelah mendapatkan informasi yang di butuhkan Jae Joong melajukan mobilnya tanpa bicara apa-apa lagi.

Hyo Rim juga tau kalau Jae Joong pasti bertanya kepada Chang Min. Hanya Chang Min yang sudah di beritahunya tentang jadwal hari ini, entah mengapa ia tidak merasa kecewa akan hal itu. Jauh di dalam dirinya, ia sangat menikmati duduk di sebelah Jae Joong meskipun dalam diam.

Jae Joong ingin membicarakan apa denganya? Hyo Rim harus berani mengeluarkan suaranya sekarang karena dalam beberapa menit lagi ia akan segera sampai di tempat tujuan. Jae Joong  melajukan mobilnya semakin cepat membuat Hyo Rim sedikit kecewa, sepertinya Jae Joong tidak suka berlama-lama bersamanya.

Astaga! Sejak kapan aku begini? Desis Hyo Rim pelan.

“Ada apa?” Jae Joong bertanya penasaran. Sepertinya ia mendengar Hyo Rim mengatakan sesuatu.

“Kau ingin mengatakan apa?” Dengan tegas Hyo Rim mencoba menyembunyikan perasaannya.

Jae Joong tidak menjawab. Hyo Rim semakin resah karena mereka sudah sampai, semula ia mengira Jae Joong akan menurunkanya di gerbang supermarket besar itu tapi ternyata Jae Joong masuk keparkiran bawah tanah dan memarkirkan mobilnya di tempat yang aman. Hyo Rim tidak akan berdiam diri ia mengulangi pertanyaanya sekali lagi sebelum ia benar-benar pergi.

“Apa yang ingin kau katakan? Kau memaksaku seperti tadi karena ingin mengatakan sesuatu kan?”

“Akhir minggu depan kita ke Jepang!”

Hyo Rim terperangah. “Ke Jepang? Untuk apa kesana?”

“Kau fikir apa lagi? Menemui orang tuaku! Kita akan segera menikah kan?”

“Kau serius dengan kata-katamu itu? Aku tidak mungkin menikah denganmu dan kau juga kan? Sudahlah jangan bercanda. Apapun yang terjadi aku tidak akan melakukanya. Pekerjaanku sangat banyak dan menumpuk. Aku tidak bisa meninggalkanya begitu saja!”

Hyo Rim menggenggam tas yang di pangkunya sejak tadi lalu berusaha membuka pintu mobil. Masih di kunci dan tidak bisa di buka secara manual. Hyo Rim mengerang dalam hati lalu memandang Jae Joong kesal. “Buka! Aku sangat terburu-buru!”

“Katakan kalau kau akan pergi bersamaku dulu!”

“Kau mengancam? Kau tidak akan bisa melakukan hal ini kepadaku. Apapun yang kau lakukan aku tidak mungkin ikut!”

“Lalu apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu mau pergi?”

“Kau tidak perlu melakukan apapun, karena apapun caramu tidak akan berhasil untuk membujukku!”

Jae Joong memukul setir dengan kesal lalu memandang Hyo Rim dengan tatapan aneh. “Benarkah, kalau begitu aku akan mengusahakan satu cara!”

Hyo Rim harus shock saat tas yang ada dalam pangkuanya di lemparkan Jae Joong ke bawah kakinya. Laki-laki itu benar-benar bertindak lagi, tanganya meraba Hyo Rim dari mata kaki hingga kelutut dan mengangkat kedua kaki itu tinggi-tinggi.

Dalam sekejap Hyo Rim sudah benar-benar terjepit karena Jae Joong duduk di bangku yang sama denganya. Pinggul Hyo Rim menggantung dan tidak menyentuh apa-apa, tapi kedua pahanya sudah berada di pangkuan Jae Joong dengan sukses.

“Hentikan! Jangan sampai aku berteriak!” Suara Hyo Rim terdengar sangat intens.

“Silahkan. Tidak akan ada seorangpun yang mendengarkanmu, sayang. Ini parkiran bawah tanah, dan sepi. Hanya ada kamera cctv dan mobil yang sangat banyak ini menutupi kita dengan baik, lebih baik hematlah tenagamu karena tidak akan ada satu suarapun yang keluar dari mobilku yang kedap suara ini, mobilku menggunakan kaca film khusus!” Mata Hyo Rim terbelalak.

Kedap suara?

.

.

.

TBC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s