Like An Athena – Chapter 1

req-jhr-like-an-athena-by-laykim

Like an Athena

1st Chapter

.

Jae Joong Kim –– Hyo Rim Jung –– Shim Chang Min

Full of Romance, Adult Story

JHR Presents!

Beautiful Poster by : Laykim @ Indo Fanfictions Art

.

WARNING!!! This story is contains adultry and full romance!!!

DON’T BE A PLAGIARISM. NOT INTERESTING? PRESS BACK BUTTON!

.

.

.

Harusnya makan malam kali ini berlangsung sangat romantis. Jae Joong sudah mengatur semuanya dengan maksimal dan malam ini seharusnya ia melamar seorang gadis berkebangsaan sama yang merupakan rekan kerjanya di kedutaan besar Korea di London.

Meskipun bukan seorang wanita yang  Jae Joong cintai, tapi In Ha adalah wanita yang sempurna dan membuatnya sangat bergairah. In Ha juga wanita yang sangat ideal untuk menjadi istri  Jae Joong karena wanita itu bukan tipe yang pencemburu. Ia mengetahui kebiasaan buruk  Jae Joong dan selalu  memahaminya, berasal dari keluarga baik-baik dan pasti akan di sukai keluarganya.

Tapi sekarang semuanya tinggal rencana karena saat ini  Jae Joong hanya bisa merasakan nyeri di pipi kananya karena Hyo Rim menamparnya tepat di depan In Ha. Ini sudah yang kedua kali dalam kurun waktu setahun terkhir dan kali ini sangat mengesankan, mereka bahkan di potret beberapa orang wartawan.

“Diplomat brengsek!” Cacinya. “Kapan kau akan berhenti melakukan hal ini kepada perempuan? Kau sudah menyengsarakan banyak wanita!”

 Jae Joong mengerang. Lagi? Baru sekitar dua bulan yang lalu ia terbebas dari skandal dengan seorang perempuan yang merupakan putri seorang pengusaha besar dan juga artis kenamaan di London. Pada saat itu ia merasa akan segera berangkat ke surga setelah terbebas dari seorang Hyo Rim Jung.

Wanita ini, tidak bisa di pungkiri, sangat menarik.

Meskipun gayanya sedikit maskulin dan keras, Hyo Rim memiliki tubuh yang sangat menarik bagi laki-laki manapun yang memperhatikannya, apalagi yang hidung belang seperti  Jae Joong. Jae Joong seringkali berfikir yang tidak-tidak setiap kali bertemu dengan pengacara muda itu. Tapi kekejaman kata-katanya membuat  Jae Joong melupakan semua minatnya.

“Kali ini siapa? Aku akan menyelesaikanya!” Bentak  Jae Joong. “Kau tidak perlu melakukan hal seganas ini. Bukankah kau seorang pengacara?”

Hyo Rim menggigit bibirnya geram. Sebagai seorang pengacara, akan lebih baik bila menyerang seseorang dengan kata-kata saja di pengadilan nanti. Tapi untuk  Jae Joong Kim, semuanya adalah pengecualian. Walau bagaimanapun Hyo Rim yakin kalau dirinya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyerang.

Jika tidak sekarang, pada akhirnya Hyo Rim hanya akan gigit jari karena kasus yang berkaitan dengan Diplomat muda itu tidak akan pernah sampai ke pengadilan begitu saja. Semuanya akan selesai dengan damai dan wanita-wanita bodoh itu selalu bersedia memaafkanya entah dengan cara apa.

Jae Joong selalu medapatkan apa yang dirinya mau.

“Kau akan terima suratnya di apartemenmu!” Kata Hyo Rim akhirnya dan pergi meninggalkan  Jae Joong dengan membawa kekesalannya.

 Jae Joong masih mengelus pipinya beberapa kali sambil memandangi Hyo Rim dengan perasaan kesal. Tenaganya sangat luar biasa untuk seorang perempuan. Kalau saja Hyo Rim dan dirinya tidak bertemu dengan cara seperti ini,  Jae Joong yakin dirinya akan sangat menyukai gadis itu. Sebagai pengacara fresh graduate yang di kenal kejam, seharusnya juga semakin menambah sisi menarik dari Hyo Rim jika saja Hyo Rim tidak bermasalah denganya.

Are you okay?” In Ha menyapanya.

Jae Joong mengusahakan senyumnya yang terbaik. Meskipun In Ha adalah orang yang paling mengerti dengan keberadaanya dan segala tingkah lakunya, ia tidak ingin In Ha merasa kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Persahabatanya dengan wanita ini di mulai sejak ia di tugaskan di London lima tahun silam.

Sebagai lulusan terbaik dengan cumlaude di Kyunghee memberikan jalan bagi  Jae Joong untuk melanjutkan magister dimana saja yang pada akhirnya mengantarkanya pada jalan ini; menjadi diplomat muda yang tampan dan di cintai banyak wanita.

Ini bukan salahnya kan? Tapi mungkin hanya In Ha (dan Hyo Rim tentunya) yang terlihat tidak begitu tertarik pada keunggulanya. Tidak, In Ha yang seperti itu, kadang-kadang ada kalanya In Ha tidak begitu tertarik meskipun ia dan  Jae Joong sering bersenang-senang sedangkan Hyo Rim sepertinya lebih dari sekedar tidak tertarik, wanita itu sangat memusuhinya.

I’m fine, tenanglah, ini hal yang biasa!” Jawab  Jae Joong sambil memandang beberapa orang security restoran mengusir wartawan yang terus berusaha memotretnya dari jendela kaca.

Jae Joong mendesah, besok pagi namanya akan menjadi topik pembicaraan hangat di surat kabar pagi dan mungkin dirinya tidak akan bisa keluar dari apartement untuk beberapa hari. Ia harus menghubungi Chang Min. Pengacaranya itu harus segera menyelesaikan semua kekacauan ini dengan anggun seperti biasanya.

“Oh, Ya! Apa yang ingin kau bicarakan tadi?” In Ha bertanya lagi.

Nope. I want celebrate your birthday.”

 Jae Joong berdehem berusaha menyembunyikan kekikukanya. Ini bukan saat yang tepat untuk menyampaikan lamaranya karena In Ha pasti tidak menginginkan lamaran yang seburuk ini. “Happy birthday to you, Dear!”

In Ha Tersenyum. “Kau memang laki-laki yang romantis. Sayang semuanya terjadi seperti ini tapi kau cukup membuatku gembira. Aku juga punya kabar baik untuk dirimu!”

Really? What is?

I’m going to be happy-bride!

Bride?”

“Hmm. Aku akan menikah.”

Senyum  Jae Joong tiba-tiba memudar. In Ha akan menikah dan meninggalkanya?

Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia bersyukur Hyo Rim datang tadi, setidaknya Hyo Rim menghindarkanya dari sesuatu yang lebih memalukan daripada berdebat dengan pengacara kejam itu. In Ha akan menikah dan  Jae Joong baru mengetahuinya?

Diam-diam ia melirik ke jari manis In Ha dan disana memang sudah melingkar sebuah cincin perak yang indah. In Ha akan menikah dengan siapa? Dia tidak perlu tahu dan tidak ingin tahu.

“Kenapa dengan wajahmu itu?” Tanya In Ha

“Kau akan meninggalkanku? Kita tidak bisa bersama lagi? Bersenang-senang bersama, menghabiskan malam bersama!”

“Kenapa semuanya harus berakhir? Aku menikah untuk menyenangkan kedua orang tuaku tapi aku tidak akan bisa meninggalkan kesenanganku sendiri. Kita masih bisa memiliki affair yang menyenangkan, kan?”

 Jae Joong lagi-lagi berusaha tersenyum. Itu artinya In Ha masih tertarik kepadanya meskipun hanya untuk bersenang-senang. Baiklah, In Ha yang meminta dan  Jae Joong akan melakukanya. Dia akan membuat In Ha senang hingga  Jae Joong merasa bosan dan menemukan perempuan baru.

Lagipula apa yang sedang di khawatirkanya? Semua wanita menginginkanya kan? Tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pesona  Jae Joong Kim dengan ketampanan dan hartanya yang melimpah. Dengan kebahagiaan seperti ini  Jae Joong merasa ingin terus hidup selamanya dan tidak pernah menikah.

Ia tidak pernah menyukai satu wanita dalam satu waktu, jadi tidak menikah adalah pilihan yang baik.

Tuhanpun sepertinya tidak mengizinkan  Jae Joong untuk menikah karena satu-satunya perempuan yang di anggap pantas menjadi istrinya sudah di ikat oleh orang lain. Bukan masalah, hal seperti ini tidak akan jadi masalah selagi dunia masih terus memproduksi makhluk bernama perempuan.

Untitled

Pagi yang membuat  Jae Joong merasa lesu. Ia tidak akan kekantor hari ini dan Chang Min pasti sudah mengurusnya. Kepalanya agak pusing karena banyak hal yang mengganggunya. Dimulai dari Hyo Rim dan kliennya, In Ha yang sudah menolaknya bahkan sebelum  Jae Joong menyatakan lamaranya, sampai berita yang mungkin sudah merebak luas di kalangan masyarakat.

Pilihanya untuk tidak segera pulang sepertinya adalah pilihan yang sangat tepat.  Jae Joong beruntung Chang Min adalah pengacara yang baik juga sahabat dan sepupu yang baik selama dirinya berada di London karena Chang Min tidak pernah membiarkan  Jae Joong kewalahan dalam hal apapun.

Chang Min membuka pintu kamarnya dan menatap  Jae Joong yang masih duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya. Sesekali ia menggeleng dan tersenyum melihat Jae Joong yang sudah sangat sering seperti ini. Mengesankan jika ia masih terkejut saat sepupunya itu pulang semalam.

“Kau sudah baikan?” Tanya Chang Min lalu kembali duduk ke meja makan.

Dengan malas  Jae Joong keluar kamar yang di tumpanginya dan duduk di dekat Chang Min lalu meminum air putih yang ada di hadapanya dengan brutal. Itu gelas Chang Min, tapi Chang Min tidak protes, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya penuh kemakluman.

“Kau mabuk semalam! Sudah ingat?”

 Jae Joong menyeringai. “Tentu saja! Aku di tolak semalam sebelum aku menyampaikan lamaran. Sudah sewajarnya aku mabuk.”

“Kapan kau akan berhenti membuat skandal? Kau bahkan lebih terkenal di bandingkan artis internasional. Pejabat seharusnya menjadi panutan!”

“Sudahlah, aku sedang tidak butuh ceramah. Semuanya sudah kau urus? Bagaimana?”

“Kali ini kelihatanya sulit. Pihak kantor bisa saja mengeluarkanmu jika skandal ini tidak selesai dengan mudah!”

“Tapi kau bisa menyelesaikanya kan? Wanita itu minta apa?”

“Tentu saja yang itu sama sekali tidak sulit, semuanya sudah selesai. Tapi kabar seperti ini bisa menjadi pembicaraan selama berbulan-bulan. Beberapa waktu lalu kau di maafkkan karena itu yang pertama tercium oleh media dan mungkin kau tidak salah sepenuhnya. Tapi kali ini berbeda, keledai bodoh saja tidak akan masuk kelubang yang sama untuk kedua kalinya. Sekarang cobalah untuk menyelesaikanya, atau dalam beberapa bulan kedepan kau akan di kembalikan ke Korea dan usahamu untuk menjabat posisi yang lebih tinggi di Seoul akan sia-sia.”

“Oh, tentu saja! Ini karena Hyo Rim Jung. Gadis gila itu baru dua kali menangani kasus-kasusku tapi selalu melibatkan media! Sebelum dia menjadi pengacara semua masalahku bisa selesai tanpa skandal kan?”

 Jae Joong berdecak. “Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Menikahlah!”

“Apa? Bukankah sudah ku katakan kalau aku sudah di tolak! Aku harus menikah dengan siapa?”

“Menikah dengan siapa saja, dan skandal akan lenyap. Kau ingat Russel Graig kan? Skandal bahwa dirinya memperkosa artis itu hilang begitu saja saat masyarakat luas tahu kalau ia sudah menikah, semua orang bahkan melupakan kasusnya begitu saja dan dirinya bisa hidup dengan tenang sampai sekarang! Lagi pula sampai kapan kau akan menolak perjodohan yang di adakan Ayahku?”

Jae Joong termenung. Walau bagaimanapun dia tetap tidak akan menikah dengan orang yang sembarangan. Tapi siapa calon yang tepat? Dia tidak mungkin ikut perjodohan begitu saja. Skandal kali ini benarbenar membuatnya jadi serba sulit. “Kau punya ide? Wanita mana yang harus ku nikahi?”

Chang Min tersenyum dengan sangat misterius. “Tenang saja, semuanya sudah ku atur. Demi kebaikanmu, berusahalah untuk kali ini. Berjanjilah, apapun yang terjadi kau tidak akan menyerah begitu saja!”

“Huh?”

“Aku menyerahkan calon istriku kepadamu.”  Kali ini  Jae Joong tidak berkomentar. Keningnya berkerut tajam.

Sejak kapan Chang Min punya calon istri? Dan lagi-lagi ia tidak mengetahui apa-apa, kelihatanya  Jae Joong sangat banyak ketinggalan beberapa waktu belakangan ini. Chang Min memiliki kekasih,  Jae Joong mengetahuinya dengan baik tapi dia dan wanita itu baru bertemu beberapa minggu sejak jatuh cinta pada pandangan pertama mereka terjadi.

Shana Lee, wanita Asia dan masih sangat muda, meskipun Shana cukup cantik dan menarik  Jae Joong tidak mungkin menikahi mahasiswi tahun kedua.

“Aku di jodohkan!” Ujar Chang Min berusaha menjawab keheranan Jae Joong. “Dengan putri salah seorang kerabat Ayah. Tapi dengan berbagai cara aku sudah berhasil membujuk Ayah untuk menggantikan diriku denganmu.”

“Katakan padaku, seperti apa dia? Apakah dia cantik? Tubuhnya bagaimana?”

“Sudahlah, kau pasti akan menyukainya, percayalah!” Jawab Chang Min.

 Jae Joong menelan ludahnya. Seperti apa wanita itu? Chang Min bilang Jae Joong pasti akan menyukainya dan seharusnya ia percaya kalau Chang Min sangat hapal dengan seleranya. Chang Min tidak mungkin membohonginya.

Hyo Rim memandangi surat kabar dengan senyum pahit. Bagaimana mungkin sebanyak itu wartawan yang meliput berita tentang Diplomat Playboy itu, tidak ada satupun yang memuat beritanya kecuali siaran langsung saat ia menampar laki-laki itu di restoran.

Ia ingin sekali melihat berita itu, tapi sayangnya Ilana yang merupakan teman se-flat nya tidak sempat merekam tayangannya karena sibuk terperangah heran saat menonton televisi. Lagi-lagi Jae Joong melakukan hal yang sama, ia menarik semua berita tentang skandalnya.

Tapi percuma karena meskipun hanya segelintir orang, yang menyaksikan siaran langsung itu, semuanya akan segera menyebar lewat angin seperti sebelumnya.  Jae Joong beruntung memiliki Chang Min sebagai pengacaranya, laki-laki itu bertindak sangat cepat dan sangat menguntungkan kliennya.

Sebenarnya Hyo Rim, merasa sangat terkesan dengan laki-laki itu dan dirinya merasa sangat tertarik. Perpaduan Korea dan sedikit keturunan Jepang tapi besar di Eropa membuat wajah Chang Min berseri-seri dan sangat sulit untuk di lupakan terlebih saat dirinya tahu kalau Chang Min dan dirinya sudah di jodohkan.

Pemikiran kolot yang menguntungkan, Hyo Rim seperti mendapatkan durian runtuh karena dirinya akan di nikahi oleh senior yang sangat di kaguminya sewaktu kuliah.

“Kau sudah berjanji pada Ibu untuk menikah dengan laki-laki itu kan?” Jae Hyun menyapanya.

Adik laki-lakinya itu adalah satu-satunya saudara yang menemani Ibunya di rumah sedangkan Hyo Rim hanya datang sesekali karena Districk Lake terlalu jauh dari jangkauan kerjanya. Pedesaan yang indah ini sudah menjadi tempat dimana Hyo Rim tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya keluarga Jung karena semua saudaranya adalah laki-laki. Satu orang kakak dan satu orang adik. Dan sekarang, atau lebih tepatnya beberapa saat lagi akan menjadi tempatnya bertemu dengan calon suaminya yang sudah begitu lama di kaguminya.

“Berjanjilah, kali ini kau akan menikah! Ibu sudah sakit-sakitan dan sangat ingin melihatmu memakai gaun pengantin. Kau selalu memanipulasi semua perjodohan yang di adakan sehingga semua laki-laki itu menolakmu. Meskipun Ibu tidak tahu tapi aku tahu kalau kau selalu pura-pura menerima dan mengusahakan agar semua laki-laki yang di jodohkan denganmu menolak, sesuai dengan keinginanmu. Ibu akan sangat kecewa kalau dia tahu.”

“Kau tenang saja. Kali ini aku tidak akan mengecewakannya!”

Bunyi mesin mobil menderu dan berhenti di depan rumahnya yang bergaya khas pedesaan. Jantung Hyo Rim tiba-tiba berdetak kencang. Dia mungkin memang akan menikah di usia muda dan semoga akan bahagia. Demi Ibunya, Hyo Rim akan berhenti bersikap egois dan menjadi anak penurut kali ini.

Ini adalah perjodohan pertama yang di jalaninya semenjak Ayahnya meninggal dunia beberapa bulan lalu. Hyo Rim sangat tahu kalau Ibunya menaruh harapan yang sangat besar terhadap perjodohan kali ini, dan Hyo Rim akan menerimanya. Dia bukanlah gadis yang pandai bergaul untuk menemukan kekasih seprti teman-temanya yang lain.

Selama di flat ia bahkan terlalu sering menghabiskan malam sendirian karena Ilana selalu pergi bersama pacarnya. Sejak dilahirkan Hyo Rim memang bukan seorang yang pandai untuk bersenang-senang. Ia lebih di kenal karena kekakuanya dan ketajaman bahasanya.

“Kau tidak ingin mengintip dulu?” goda Jae Hyun.

Hyo Rim menggeleng. Ia berlari cepat menuju kamar untuk memberikan penampilan terbaik dan itu pasti akan memakan banyak waktu. Lebih baik ia sedikit menahan diri untuk melihat calon suaminya.Ia sudah tahu seperti apa wajahnya, yang ingin di ketahuinya apakah Chang Min akan menerimanya dengan baik atau tidak.

Untitled

Sebuah rumah sederhana di pedesaan Districk Lake, bagi Jae Joong pemandangan kali ini cukup menarik. Meskipun wanita di pedesaan Eropa tidak semanis wanita-wanita desa di Asia, tapi rata-rata mereka semua masih memiliki keindahan fisik yang luar biasa. Memikirkan kalau dirinya akan menikah dengan seorang gadis desa, Jae Joong menjadi sangat berbinar-binar dan juga sangat antusias.

Tapi sejak kapan dirinya memiliki perasaan yang seperti ini? Bukankah dia tidak ingin menikah jika bukan karena di desak oleh keluarganya?

Jae Joong tidak akan merencanakan lamaranya untuk In Ha Baek tempo hari jika menuruti kata hatinya. Sekarang desakanya juga bertambah dan sepertinya pilihan untuk segera menikah tidak bisa di elakkan lagi. Tapi walau bagaimanapun mustahil bagi Jae Joong untuk berhenti, dia tidak akan berhenti menjalankan hobinya.  Seorang istri dari desa seharusnya tidak akan bisa banyak membantah tentang hal ini.

“Paman, bagaimana orangnya?” Jae Joong berbisik kepada Pamannya sambil membawa tas yang berisi pakaian mereka. “Dia cantik tidak?”

Off course!”

“Tapi tidak terlalu gemuk kan? Tidak terlalu kurus juga kan?”

Pamanya berdehem. “Berhentilah, apa yang sedang kau fikirkan sekarang? Just come in!

Jae Joong mengulum senyum penasaranya. Seorang wanita tua berwajah oriental bersama anak laki-lakinya yang kelihatanya tidak asing menyambut mereka dengan bahagia.

Nyonya Jung adalah seorang wanita keturunan Korea dan putranya, Jae Joong meskipun berwajah sangat Eropa memiliki rambut dan bola mata yang berwarna gelap seperti Ibunya. Anak itu terlihat seperti seorang laki-laki yang berkulit putih bersih, melihat wajahnya mengingatkan Jae Joong pada seseorang. Tapi entahlah, dia sama sekali tidak ingin mengingatingat, yang jelas siapa yang akan menjadi tunanganya lebih menarik perhatian di bandingkan apapun sekarang.

Jarak yang jauh membuat Jae Joong dan pamanya harus menginap disini paling tidak untuk semalam. Nyonya Jung sudah menyiapkan sebuah kamar sederhana yang hangat untuk menentang angin musim gugur yang berhembus di luar.

Setelah mengemasi barang-barangnya, Jae Joong dan pamanya turun memenuhi undangan makan siang. Hanya ada tiga orang anggota keluarga, tapi rumah ini memiliki banyak kamar. Ketiganya sekarang sedang berkumpul di ruang makan dan seorang gadis yang sedang membantu Ibunya dengan ceria itu membuat Jae Joong terperangah.

Hyo Rim Jung? Jae Joong mematung tak menyangka, Hyo Rim untuk pertama kalinya terlihat lebih menarik. Ia menggunakan sebuah jeans ketat dan kamisol tanpa lengan dengan bahan yang kelihatanya tebal berwarna violet. Dua pakaian yang membalut tubuhnya secara serasi, berbeda dengan sikap maskulin yang di tampilkanya selama ini.

“Kalian sudah datang? Silahkan duduk!”

Jae Joong tersenyum kepada Nyonya Jung, ia dan Pamannya kemudian duduk di meja makan dengan sangat bersahaja dan Hyo Rim duduk di hadapanya. Tidak sekalipun Jae Joong memalingkan pandanganya dari Hyo Rim dan dirinya dapat melihat kalau Hyo Rim mengalami keterkejutan yang sama. Wajahnya yang ceria tadi tiba-tiba saja berubah menjadi wajah kaku seperti yang sering Jae Joong lihat.

Seandainya bukan dirinya yang duduk disini, seandainya Chang Min yang datang, Jae Joong yakin kalau gadis itu akan terus berusaha untuk terlihat manis sepanjang hari. Sepanjang waktu-waktu di meja makan Jae Joong tidak bisa menghindar untuk memperhatikan tubuh Hyo Rim, kamisol itu benar-benar membuatnya tampak menggairahkan.

34DD, Jae Joong menebak ukuran branya, Menakjubkan. Penglihatanya sama sekali tidak salah saat melihat Hyo Rim untuk pertama kalinya meskipun pada saat itu Jae Joong tidak bisa memperhatikan gadis itu berlama-lama. Jae Joong tiba-tiba menyentuh pipinya. Semua tamparan Hyo Rim masih bisa di rasakan dengan sangat jelas.

“Yun Ho dimana? Ia tidak ikut makan?” Paman Kim bertanya kepada siapa-saja yang bersedia menjawabnya.

Perhatian Jae Joong sempat beralih sementara. “Putraku satu itu tidak bisa datang, ia tidak bisa meninggalkan kedainya karena sekarang sedang sangat ramai.” Jawab Nyonya Jung.

Paman Kim menyenggol Jae Joong yang masih memandangi Hyo Rim tanpa henti sambil terus melahap makananya. “Look at my boy! Nyonya, sepertinya dia terus memperhatikan putrimu! Dia pasti sedang sangat tertarik.”

“Benarkah?” Nyonya Jung terlihat sangat antusias. “Kalau begitu syukurlah. Hyo Rim selalu di tolak setiap kali melakukan perjodohan. Entah apa yang terjadi dengan semua laki-laki itu!” Jae Joong mendehem setelah menelan makanan yang di kunyahnya.

“Di tolak? Ku rasa aku tau sebabnya, dia terlihat sangat kaku!”

“Oh, tidak. Mungkin karena dia sedang tegang sekarang! Dia berjanji akan menikah melalui perjodohan kali ini bila kau tidak menolaknya. Tidak, dia mengatakan janji yang sama setiap kali perjodohan di adakan. Sayangnya seperti yang ku katakan kalau pada akhirnya semua laki-laki menjauhinya. Kau menyukai putriku?”

“Ibu!” Hyo Rim mendesah.

Melihat itu, Jae Joong menyunggingkan sebuah senyum tipis di sudut bibirnya. Hanya sesaat karena berikutnya Jae Joong berakting kebingungan. “Apakah aku harus memberi jawaban sekarang?”

“Tidak, tentu saja tidak! Kau bisa menjawabnya nanti setelah kau pulang ke London. Kalau kau memutuskan untuk menerima atau menolak, katakan saja pada pamanmu. Kalau kau menerimanya tentu aku akan sangat bersyukur sekali dan semuanya tetap akan aku serahkan kepada kalian berdua.”

Mom, stop it!” Hyo Rim mendesah lagi. Ia mungkin merasa malu dengan ucapan Ibunya. Setelah Nyonya Jung diam gadis itu dan adiknya Jae Hyun saling pandang penuh makna. Mungkin Hyo Rim sudah menginjak kaki adiknya di bawah meja karena pemuda itu ikut menertawainya.

Untitled

“Aku hampir kena serangan jantung saat dia mengatakan kalau kau sangat kaku!” Nyonya Jung mengomentari putrinya yang membantunya di bagian belakang rumah. “Dia sangat tampan dan seorang diplomat, dia sangat cocok denganmu!”

“Bukankah seharusnya  Chang Min Shim yang datang? Kenapa harus dia, Mom?”

“Kau ini bodoh atau apa? Kau masih menginginkan pengacara itu untuk datang? Ayahnya bahkan menganggap kau sangat berharga untuk di pasangkan dengan putranya. Dia menggantinya dengan laki-laki yang lebih baik. You must giving thanks, Dear!”

Hyo Rim mendengus pelan. Lebih baik? Really? Inilah akibatnya bila Ibunya tidak suka nonton TV dan terlibat dengan dunia luar, semua orang di Inggris saat ini sedang berbisik-bisik tentang betapa bajinganya Jae Joong Kim.

Dengan wajah tampan dan karir yang gemilang itu, dia sudah menjadi penggoda yang cukup sukses untuk menghabisi entah berapa orang perempuan di atas ranjangnya setiap malam. Sayang sekali hanya sedikit yang menuntut keadilan dari Jae Joong. Hyo Rim sangat ingin membuka mulut tentang semua ini, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat.

Ia tidak akan membuat Ibunya khawatir karena Jae Joong pasti menolak, atau Hyo Rim akan membuat  Jae Joong menolak perjodohan ini.

He is very handsome. Dan yang paling penting laki-laki itu menyukaimu!”

“Benarkah? Semua laki-laki yang datang juga bersikap seperti itu pada awalnya!”

“Itu karena kau sangat egois. Alasan mereka semua sama saat menolak, kau terlihat sangat kaku dan kata-katamu itu sangat kejam. Berusahalah menjadi wanita yang dia inginkan dan menikahlah!” Nyonya Jung kemudian menyerahkan dua tumpukan selimut kepada Hyo Rim dengan hati-hati. “Kau antarkan ke kamar mereka. Go there!”

Hyo Rim lagi-lagi mendesah. Dengan malas dirinya mengantarkan kedua selimut itu kelantai dua, mungkin ia akan membawa selimut itu kekamarnya dulu untuk mengganti pakaian meskipun itu harus membuatnya bolak-balik.

Jadi wanita seperti apa yang di inginkan Jae Joong Kim? Apa dirinya harus membuka pakaianya di depan laki-laki itu? Ibunya juga akan segera kena serangan Jantung kalau dia mengetahui seperti apa wanita yang di inginkan Jae Joong.

Hyo Rim menggenggam selimut erat. Begitu menaiki tangga genggamanya mengendor saat melihat Jae Joong keluar dari kamar tamu, ia sudah berganti pakaian dan mungkin akan menyusul pamanya kehalaman. Yang bisa Hyo Rim lakukan sekarang hanya pura-pura tidak tahu dan berjalan lurus menuju kamarnya, barulah ia akan kembali lagi untuk mengantarkan selimut.

Gadis itu memaki dirinya sendiri dalam hati karena merasa gugup, kenapa ia gugup seperti sekarang, karena Jae Joong sedang memandanginya dan menghalangi jalanya sebisa mungkin. Hyo Rim menghela nafas lalu memandang Jae Joong kesal.

“Tidak bisa minggir?!” Hyo Rim berkata dengan nada sinis meskipun suaranya tidak selantang yang biasa di lakukanya terhadap Jae Joong.

“Kebetulan sekali. Aku ingin menemuimu!”

“Untuk apa? Kau tidak boleh terlalu berharap! Aku tidak akan menikah denganmu apapun yang terjadi. Jadi lakukan apa yang ku katakan. Tolak perjodohan ini dan menyingkir dari hadapanku sekarang! Aku harus segera kekamarku!”

Jae Joong memandang ke belakang sekilas, pintu yang berada di ujung itu ternyata milik Hyo Rim? Tapi melihat selimut yang Hyo Rim bawa, Jae Joong menduga kalau seharusnya selimut itu di bawa ke kamar tamu. Hyo Rim hanya berusaha menghindar dan tidak ingin melihat wajahnya, Jae Joong bisa merasakanya.

“Selimut itu, harusnya kau bawa ke kamarku kan?”

“Tidak, ini untukku sendiri!” Hyo Rim segera menutup mulutnya. Kenapa ia mengatakan hal seperti itu? Seharusnya ia memberikan selimut itu kepada Jae Joong agar tidak perlu masuk kekamar tamu dan meletakkanya sendiri di tempat tidur laki-laki itu.

“Untukmu sendiri? Kau kekurangan selimut?”

“Tentu saja, musim dingin akan segera tiba dan aku sudah mulai merasa kedinginan. Aku butuh tambahan selimut!”

Lagi-lagi Hyo Rim berbohong. Bukan orang yang pandai berbohong karena kegugupanya sangat terlihat jelas. Hyo Rim menunduk saat melihat Jae Joong tersenyum padanya. Senyuman yang sudah membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Sejak kapan ia menjadi bodoh saat berhadapan dengan orang ini?

“Kalau begitu biarkan aku menghangatkanmu!” Jae Joong beraksi cepat. Karena sesaat kemudian Hyo Rim sudah di tarik kedalam kamar dan merasakan bunyi pintu tertutup di belakangnya.

Gadis itu menggenggam selimut yang di bawanya semakin erat, tidak lama karena selimut itu segera terjatuh kelantai ketika menyadari Jae Joong sudah memandangi setiap inci tubuhnya. Ia bergerak selangkah demi selangkah mendekati Hyo Rim tapi gadis itu tidak bergerak sedikitpun, ia sedang berusaha mempertahankan diri dengan memasang wajah tergalaknya.

Hyo Rim mulai merasa terintimidasi meskipun ia terus berusaha menantang dan memandang wajah Jae Joong dengan pandangan tidak suka. Perlahan-lahan ia mundur dan berusaha menjaga jarak.

What are you doing jerk?!”

Look at yourself, Beib! Ternyata kau sangat cantik. Kau berdandan seperti ini untukku?”

“Kalau aku tahu yang datang adalah kau, aku tidak akan memakai pakaian seperti ini!”

“Jadi, kau berdandan seperti ini demi Chang Min?” Jae Joong tertawa, tawa yang terdengar sangat menyeramkan. “Harusnya kau tidak menggunakan camisole dengan bahu selebar ini.” Ia menyentuh pundak Hyo Rim dengan satu jarinya sehingga Hyo Rim mundur selangkah lagi dan membuatnya jatuh ke tempat tidur.

Gadis itu terpekik kecil saat Jae Joong sudah merangkak di atas tubuhnya dan menyentuh dadanya

But I like this tail, such flirting me,”

You can wearing my camisole, right? I had many camisole just for you!” Jae Joong tertawa lagi. Hyo Rim masih berusaha mengejek dalam situasi segawat ini.

How many do you have, Beib? Eum.. Bagaimana kalau tali ini ku buka?” sebelah tangan Jae Joong terangkat menarik ikatan camisole satu demi satu dan berhenti ketika Hyo Rim menepis tanganya.

“Kau mau bersikap kurang ajar padaku?”

“Lalu kenapa tidak teriak? Kau menyukainya kan? Katakan saja!” pandangan mata Jae Joong semakin terlihat bergairah. Terlebih saat melihat leher Hyo Rim yang bergerak karena menelan ludah, pandanganya kemudian turun ke camisole yang sudah terbuka sebagian dan memamerkan payudara Hyo Rim lebih banyak lagi. “Kau sangat pandai menuntut kan? Kalau di tempat tidur, sekuat apa tuntutanmu?”

Jae Joong menarik tangan Hyo Rim yang menghalangi pandanganya dan menekanya kuat keatas ranjang. Ia kemudian menarik tali camisole yang ketiga dan keempat dengan giginya. Menggairahkan sekali dan sekarang dirinya sangat terangsang.

“Kalian berdua sedang apa?”

.

.

.

TBC

.

.AAAAAAAA I’m comebacccck yeay! dan mau minta maaf sama my husband -loveydoveyalways- Choi Si Won. Aku mengkhianatimu.. HUGH HIKS HUWAAAAAAAAAA. Karena cerita kali ini bener bener bener bukan karakternya Si Won. Sangat mesum! eh maksud nya saangat jerk dan jer*. Jadi aku putuskan untuk beralih sementara ke my second beauriful namja, Kim Jae Joong (yang pertama pasti Jeng Heenim dong). Yang sangat errrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr. Hingga diriku meleleh setiap melihat MV MV dia. Dan… sampai jumpa di part next, eh next chapter^^

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Like An Athena – Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s