Futureistic – Part 8 (END)

IMG-20160509-WA0001

FUTUREISTIC – PART 8 (FINAL PART)

Jung Hyo Rim’s life of love | JHR Present!

Poster Art Proudly Present by : Chieva Chiezchua

.

.

Get this, Forget that.

.

Angin berhembus kencang di haluan kapal pesiar yang mewah. Sudah dua hari Hyo Rim meninggalkan rumah setelah perdebatan sengit dengan ayahnya tempo hari. Ayahnya pada akhirnya tetap mengetahui segalanya meskipun semua masalah itu terus berusaha di sembunyikan darinya. Ibu tirinya menjadi korban amukan ayahnya yang lebih besar lagi karena itu dan saat itu Hyo Rim sama sekali tidak tau harus berbuat apa-apa.

Semua tentang Si Won sedikit banyak membuat ayah merasa lega karena laki-laki itu tidak lepas tangan begitu saja.. Tapi ayahnya sangat marah saat mengetahui kalau mereka sempat berencana menyingkirkan dan menyembunyikan kandungan Hyo Rim.

Meskipun melalui perdebatan yang parah, Hyo Rim merasa lebih lega. Ayah tidak terserang penyakitnya, hanya sedikit shock yang membuatnya demam seharian dan tadi ibunya menelpon kalau ayahnya sudah sembuh.

Hyo Rim memeluk Hoon Jeon semakin erat. Anak itu belakangan ini semakin dekat dengannya. Tadi Hoon Jeon mengeluh kepanasan di dalam kamarnya dan sekarang Hyo Rim harus memastikan kalau Hoon Jeon tidak kedinginan karena tertidur di haluan dengan angin yang cukup kencang. Hyo Rim menggendong Hoon Jeon dan ingin membawanya masuk ke dalam kamar.

Sepanjang koridor menuju kamarnya, Hyo Rim terus berdendang agar Hoon Jeon bisa tenang. Tapi Hoon Jeon menggeliat dan menangis begitu menyadari kalau hawa di sekelilingnya berubah menjadi lebih hangat. Sun Ye dari kejauhan menyongsong dengan gerakan cepat dan segera mengambil alih anaknya lalu berusaha menenangkannya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Hoon Jeon yang sangat kecil.

“Dia hanya rewel saja, seharian ini Hoon-ie susah tidur!” Kata Sun Ye. Ia berusaha menenangkan Hyo Rim yang memperlihatkan wajah penuh rasa bersalah. “Nanti malam aku butuh bantuanmu. Ada pesta besar disini, jadi aku meminta kau menjaga Hoon-ie!”

Hyo Rim mengangguk. “Saya akan menjaganya di kamar.”

“Di kamar? Tidak, tidak. Ayahnya ingin anak ini ikut ke pesta. Dia sangat bangga kepada anak laki-lakinya dan berharap bisa memperkenalkan Hoon Jeon kepada teman-temannya. Jadi ku harap kau bisa ikut kepesta.”

Pesta? Hyo Rim tidak membawa satu pakaian pun yang pantas untuk di bawa ke pesta. Yang ada di dalam kopernya hanya jeans dan jeans. Pantaskah bila ia menggunakan itu di pesta nanti? Hyo Rim sama sekali tidak keberatan untuk melakukannya tapi itu sama seja degan tidak menghormati orang-orang yang mungkin memberikan penampilan terbaiknya nanti malam. Hyo Rim mendesah.

“Boleh saya menggunakan Jeans, Nyonya? Saya hanya punya Jeans…”

“Sudah berapa kali ku bilang, jangan panggil aku nyonya. Eonni. Eon.ni. Ah! Soal itu, kau ikut denganku saja!” Sun Ye menggelengkan kepalanya memberikan kode kepada Hyo Rim untuk mengikutinya.

Hyo Rim tahu kalau Sun Ye sedang membawanya ke kamarnya di sudut lain kapal. Selama ini Sun Ye selalu tidur bersama suaminya dan Hyo Rim bersama Hoon Jeon di kamar yang lokasinya berjarak cukup jauh. Untungnya selama ini Hoon Jeon tidak pernah berteriak-teriak sehingga harus membuat penumpang kapal yang lain kewalahan.

Kamar Sun Ye sama sekali tidak berbeda degan kamar yang di tinggali Hyo Rim selama di kapal ini, semuanya sama persis seperti duplikat. Sun Ye bahkan memindahkan pakaiannya kelemari sebagai tanda kalau dia akan tinggal lama di kapal ini. Ia membuka lemari pakaian lebar-lebar dan mempersembahkan kepada Hyo Rim beberapa pakaian pestanya. Hyo Rim benar-benar terperangah.

Bukan sebuah pakaian yang mewah, tapi cukup untuk membuatnya terkagum-kagum. Sun Ye memilih warna-warna yang tak lazim untuk gaunnya, tidak ada warna hitam seperti yang di harapkan Hyo Rim.

“Kau bisa mengenakan ini” Kata Sun Ye. “Ukuran tubuh kita tidak berbeda jauh, aku hanya sedikit lebih tinggi darimu. Jadi kau pakai yang rok pendek saja. Itu juga untuk memudahkan pekerjaanmu kalau nanti harus mengejar-ngejar Hoon Jeon yang nakal. Kau punya sepatu?”

Hyo Rim mengangguk. “Kalau sepatu, aku punya..”

“Baiklah! Kita lihat, tonight you’ll be the most beautiful b-sitter, Jung Hyo Rim.”

== FUTUREISTIC ==

Sebuah gaun Shippo berintonasi lembut membalut tubuh Hyo Rim. Selera Jong Hoon atas karya istrinya membuat laki-laki itu memuji Hyo Rim semalaman dan mendapat cubitan cemburu dari istrinya. Jika Sun Ye yang menggunakan, mungkin gaun itu akan lebih pendek karena Sun Ye adalah sosok yang tinggi besar bagaikan dewi.

Tapi di tubuh Hyo Rim, gaun itu menutupi sebagian betisnya dengan chiffon yang selalu bergoyang ringan setiap kali dia bergerak. Hyo Rim menggunakan sepatu coklat yang biasa di gunakannya ke coffee shop. Untungnya tidak ber-hak terlalu tinggi sehingga ia masih bisa mengikuti gerak Hoon Jeon yang entah mengapa malam ini tidak mau diam.

Selebihnya Hyo Rim benar-benar polos, ia hanya mengenakan sebuah anting perak untuk menghiasi telinganya karena gaun yang bergantung di lehernya sama sekali tidak memungkinkannya untuk mengenakan kalung meskipun lehernya berpotongan rendah.

Berkali-kali pandangan mata orang-orang tertuju padanya. Hyo Rim adalah satu-satunya yang berbinar-binar karena ia satu satunya wanita yang menggunakan gaun berwarna terang dan sangat lembut. Selebihnya, semua orang mengenakan gaun berwarna sama, hitam, merah, silver dan beberapa orang memakai warna ungu dan hijau.

Sun Ye memilih warna hijau zaitun sehingga membuat kulitnya terlihat sangat cerah. Dan gaun Shippo yang Hyo Rim kenakan juga memiliki efek yang sama. Semuanya karena Sun Ye, ia memilihkan gaun yang akan Hyo Rim kenakan, bahkan sampai menginspeksi seperti apa sepatu yang Hyo Rim kenakan dan menyamakannya dengan warna cat kuku Hyo Rim saat ini. Dia memaksa Hyo Rim berdandan semaksimal mungkin.

Meskipun begitu, adanya Hoon Jeon di pangkuannya membuat tidak seorang laki-lakipun yang berani mengajak Hyo Rim berdansa dan ia patut bersyukur karena itu. Hyo Rim hanya memandangi pasangan paling serasi di dunia, Choi Jong Hoon dan Park Sun Ye yang sedang asik bertengkar di lantai dansa.

Sun Ye sangat superior dan Jong Hoon selalu punya cara untuk membantah. Mereka mungkin bertemu karena pertengkaran sebelum akhirnya jatuh cinta. Itu terlihat dari semua interaksi mereka selama ini.

Dan setiap kali mereka bersikap seperti itu, keduanya berhasil menghibur Hyo Rim dan membuatnya berusaha menahan tawa seperti kali ini. Tiba-tiba Hoon Jeon menggeliat turun dan berlari mendekati ibunya. Dalam sekejap anak itu sudah berada di atas leher ayahnya dan bersenang-senang dengan keluarganya. Hyo Rim menjadi sangat iri, seandainya ia dan Si Won bisa seperti itu…

Astaga kenapa tiba-tiba memikirkan Si Won lagi? Hyo Rim membatin..

Ia tidak seharusnya memikirkan Si Won. Yang harus di lakukannya adalah menolak semua permintaan dansa yang di tujukan kepadanya. Hyo Rim benar-benar merasa risih setiap kali ada tangan-tangan terjulur untuknya. Ia berharap Hoon Jeon segera kembali meskipun sepertinya mulai mustahil. Keluarga itu bahkan sudah meghilang entah kemana.

“Maaf, aku tidak bisa!” Hyo Rim menolak lagi. Ia sempat memandang laki-laki yang membungkukkan badan di depannya sekilas.

“Tapi Nona, permohonan ini tidak bisa di tolak.”

“Aku tidak bisa menari. Aku sedang sakit…” Hyo Rim menghentikan ucapannya. Ia memandang seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya sambil terperangah.

Choi Si Won.

Sekali lagi Hyo Rim memandang laki-laki yang tadi menjulurkan tangannya kepada Hyo Rim. Yuta, orang itu…

“Aku mengutus Yuta untuk memintamu berdansa denganku dan kau menolak? Dengan susah payah aku menyusul kemari, kau fikir mudah mencapai sebuah kapal yang ada di tengah lautan? Dengan yacth?”

Hyo Rim segera menundukkan wajahnya. Walau bagaimanapun dia tidak mungkin berdansa dengan Si Won. “Aku sedang menunggu Hoon Jeon!”

“Dan jadi orang bodoh disini? Mereka sudah kembali ke kamarnya.” Si Won meraih tangan Hyo Rim yang berada di pangkuan gadis itu dan berusaha menariknya. “Ikut aku, kita bicara…”

“Bicara disini saja!” Hyo Rim menggeliat untuk melepaskan tangannya dari genggaman Si Won dan berhasil. Si Won berpindah ke lengannya sehingga Hyo Rim meringis. “Berhentilah bersikap seperti ini. Aku tidak suka di paksa. Kau membuatku takut!”

Si Won tidak perduli. Dia benar-benar menyeret Hyo Rim keluar dari ruangan itu menyusuri koridor menuju tempat yang Hyo Rim kenal. Kamarnya dan Hoon Jeon. Ia harus terkejut saat Si Won memiliki kuncinya dan mendapatkannya dari Yuta. Sesaat kemudian Si Won memerintahkan Yuta menunggu di luar sebelum menutup pintu.

Pada akhirnya mereka berakhir seperti ini, Hyo Rim terpaku saat Si Won menatapnya dengan tatapan yang sangat tidak Hyo Rim sukai.

“Aku tidak menyangka kalau malam ini kau berubah menjadi wanita idaman Jong Hoon Hyung.” Si Won berdesis.

“Ini bukan mauku, Sun Ye memaksaku…”Hyo Rim terdiam sejenak lalu menantang wajah Si Won yang semakin mendekat kepadanya. “Kalian merencanakannya?”

Si Won tersenyum. Meskipun berbeda warna, Hyo Rim harusnya sadar kalau gaun yang di kenakannya sama persis dengan gaun merah yang Hyo Rim kenakan saat mereka menikah. Sengaja? Iya. Si Won merencanakannya semenjak Hyo Rim tidak memperdulikannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku sudah mengurus semuanya.” Jawab Si Won. “Aku bahkan siap membunuh orang-orang yang pernah menatapmu dengan pandangan binatang mereka. Aku membuat para netizen yang menjadikan tubuhmu sebagai objek hobi aneh mereka delapan tahun yang lalu melupakan semuanya. Aku membuat mereka semua menjauh dari dunia ini.”

“Kau sedang mengatakan apa?”

“Aku tidak suka saat istriku di gunakan sebagai bahan untuk memanjakan pandangan laki-laki lain. Sekarang aku sudah menghapusnya dari dunia ini, aku tinggal menghapusnya dari ingatanmu.”

Hyo Rim memijat dahinya sejenak. “Apa yang sudah kau lakukan?”

“Apa kau akan percaya bila aku katakan kalau mereka semua sudah mati? Mereka semua sudah musnah dari pandanganmu dan sekarang biarkan aku membantumu melupakan semuanya!”

“Kau ingin memaksaku lagi?”

“Aku tidak akan memaksa..”

“Kalau begitu aku tidak mau!” Potong Hyo Rim tegas, ia kemudian berusaha mendekati pintu. Tapi Si Won berhasil membuka simpul di lehernya sehingga membuat gaun Hyo Rim nyaris melorot kebawah. Untungnya Hyo Rim berhasil menahannya secara spontan dan berusaha mengikatnya kembali dengan ikatan yang lebih solid.

Hyo Rim masih berusaha tidak memandang wajah Si Won, tubuhnya mulai gemetar karena dirinya tau sekarang dia sedang tidak bisa lari. Ada Yuta di depan pintu yang siap menghalanginya saat ia keluar nanti.

“Sampai kapan kau akan begini?” Desis Si Won.

“Aku tidak bisa melakukannya. Malam itu kau benar-benar membuatku takut dan itu cukup untuk jadi alasan mengapa aku tidak akan melakukannya lagi. Kau tidak lihat tubuhku sudah mulai gemetaran…” Hyo Rim mengulurkan tangannya untuk meyakinkan Si Won betapa takutnya dia membayangkan apa yang akan Si Won lakukan padanya.

“Itu karena saat itu kau berfikir orang brengsek itu yang menyentuhmu. Sekarang berbaringlah. Kita coba sekali lagi dan aku tidak akan memaksa. Bila kau ketakutan aku akan berhenti.”

Hyo Rim menggigit bibirnya. Ia sangat merindukan Si Won, Ternyata. Tapi Hyo Rim ragu kalau dirinya akan baik-baik saja. Ia ingin mencoba, hatinya tengah membujuknya untuk mencoba. Tapi otaknya menolak dan dengan keras Hyo Rim mengatakan tidak.

“Aku tidak bisa!”

Kali ini Si Won mendekat. Ia memandangi Hyo Rim yang masih menolak untuk memandang wajahnya. “Hyo Rim, lihat aku. Kau akan baik-baik saja, ruangan ini sangat terang dan kau bisa melihat wajahku dengan jelas.”

Hyo Rim menghela nafas berat, rasa rindu pada Si Won sudah tidak bisa di toleransi. Perasaan itu bahkan mencampuri rasa takutnya sehingga semuanya menjadi meragukan. Ia akan melakukannya? Hyo Rim tau kalau dirinya sangat merindukannya.

Tapi setiap kali di sentuh laki-laki, yang terbayang hanya Jin Woo hanya pemaksaan dan hanya kesakitan. Tubuhnya merasa nyilu mengenang bagaimana sayatan demi sayatan mendarat di tubuhnya, bagaimana daerah sensitifnya di permainkan dengan berbagai cara, di masuki macam-macam benda.

Sekali lagi Hyo Rim menatap wajah Si Won dan semua bayangan itu tercampur dengan semua kebahagiaan yang sudah Si Won berikan.

Janinnya yang berdetak di monitor.

Si Won yang berlutut di hadapan ibunya.

Topi wol berwarna hijau.

 Jimat merah dan airmata Si Won saat do’anya tidak di kabulkan, sepertinya Hyo Rim mulai terbujuk.

Ia membiarkan Si Won membaringkan tubuhnya di atas ranjang tanpa kata-kata. Membiarkan Si Won merangkak di atas tubuhnya dan harus merasa gelisah saat laki-laki itu menghujani wajahnya dengan ciuman berkali-kali. Kedua tangan Hyo Rim menggenggam seprai sutra berwarna merah dengan erat, dia yakin sebentar lagi dirinya akan segera berteriak, Hyo Rim tidak sanggup menahannya lagi.

“Buka matamu! Lihat aku!” Suara Si Won berbisik.

Hyo Rim membuka matanya dan memandang wajah Si Won dalam jarak yang dekat. Terbersit rona malu saat ia dan Si Won bertatapan. Bahkan delapan tahun lalu, setiap kali dirinya dan Si Won bercinta Hyo Rim tidak pernah memandang wajah Si Won sekalipun.

“Jangan pernah biarkan matamu terpejam lama. Lihat aku, aku yang menyentuhmu. Mengerti?”

Hyo Rim mengangguk pelan. Selang beberapa detik ia mengerang saat ada bagian dari tubuhnya dan tubuh Si Won yang menyatu, dirinya mulai di jalari perasaan takut, Hyo Rim nyaris memejamkan matanya lagi jika Si Won tidak menyebut namanya.

“Pengang tanganku kalau kau merasa takut! Aku ada disini, seandainya kau membayangkan wajah si brengsek itu, aku ada disini untuk menolongmu.” Si Won menjulurkan tangannya dan Hyo Rim menggenggamnya.

Ia mendekap sebelah tangan Si Won dengan kedua tangannya di atas dada. Selang beberapa waktu kemudian Si Won mulai bergerak, membuat nafas Hyo Rim hampir saja berhenti. Hyo Rim harus menahan diri untuk tidak terpejam dan melihat kedalam mata Si Won yang tidak berhenti menatapnya.  Sesekali bayangan Jin Woo muncul, tapi Hyo Rim berhasil menepisnya.

Si Won ada disini bersamanya.

Jin Woo? Laki-laki itu sudah mati.

Perlahan-lahan Hyo Rim mulai mendesah dalam suara yang sangat halus, genggamannya pada tangan Si Won mengendor memberikan kesempatan kepada Si Won untuk menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Dan mereka terus berpacu meskipun gaun Hyo Rim sama sekali tidak di tanggalkan, meskipun Si Won juga masih mengenakan kemejanya lengkap dengan dasi yang masih rapi yang berjuntai menyentuh dada Hyo Rim.

Semakin lama semakin cepat sehingga akhirnya Hyo Rim sampai lebih dulu dan Si Won segera menyusulnya. Ia benar benar terengah-engah dan merasa sangat lega. Si Won masih menatapnya, masih disini bersamanya.

You did it! Aku berhasil membuatmu tidak berteriak kali ini!” Si Won masih berbisik. “Kau membutuhkanku, bukan Min Woo!”

Hyo Rim menelan ludah berusaha menenangkan nafasnya. Ia memejamka matanya lama, beberapa bulir keringat mulai mengalir di sela-sela rambutnya. Ia bisa merasakan kalau Si Won belum ingin berpisah, setiap kali ada sesuatu yang membasahi daerah sensitifnya yang terdalam benar-benar membuat Hyo Rim tidak bisa jika tidak berdesah halus. Ia sudah sangat lama tidak merasakan ini, sudah sangat lama tidak menikmatinya.

“Kau baik-baik saja?”

I’m okay!” Jawab Hyo Rim, ia membuka matanya dan menatap Si Won yang masih memandanginya. “Sampai kapan kau akan bertahan dalam posisi seperti ini?”

Si Won tersenyum malu-malu, tapi dirinya sama sekali tidak bergerak. “Aku hampir kehilanganmu untuk selamanya. Sekarang mana mungkin aku melepasmu begitu saja!”

Hyo Rim tidak menjawab, ia masih berusaha mengatur nafasnya.

“Berapa usiamu sekarang?” Tanya Si Won.

Dahi Hyo Rim berkerut. Untuk apa Si Won menanyakan usianya sekarang? Si Won tau berapa rentang usia mereka dan seharusnya laki-laki itu bisa menghitungnya sendiri. Dengan ragu-ragu Hyo Rim menjawab. “Dua puluh lima…”

Dan ia merasakan kalau Si Won mencumbunya. Sebuat ciuman panjang yang sangat manis. Hyo Rim sangat merindukannya. Kedua lengan Si Won melingkarkan sesuatu yang menghadirkan rasa dingin di lehernya. Hyo Rim menyentuh benda itu dan berusaha melihatnya. Sebuah kalung dengan bandul mutiara putih yang cantik siap menggantung di lehernya. Si Won sudah mengenakannya dengan baik.

“Selamat ulang tahun pernikahan kita yang kesembilan.” Bisik Si Won lirih. “Kau ingat hari ini kan?”

Kali ini Hyo Rim tidak memandang Si Won dengan rona malu, ada sesuatu yang lebih luar biasa lagi tergurat disana. Hyo Rim menjulurkan tangannya melingkari leher Si Won dan memeluknya erat sehingga Si Won benar-benar jatuh di atas tubuhnya, Hyo Rim sedikit mengerang saat merasa bagian tubuh Si Won yang tadi masih berada di dalam dirinya menekan semakin kedalam.

Gadis itu bersyukur ia masih bisa bernafas di sela-sela air matanya yang mendesak. “Aku fikir aku tidak akan merasakan kebahagiaan seperti ini lagi.” Desis Hyo Rim.

Mereka berpelukan lama, karena Si Won juga tidak mengerti harus mengatakan apa. Ia membiarkan Hyo Rim menangis dalam pelukannya, berusaha menopang tubuhnya dengan tangan agar Hyo Rim tidak merasa terbebani dengan tubuhnya. Tiba-tiba bunyi pintu di ketuk. Hyo Rim perlahan-lahan melepaskan rangkulannya dan menyeka air matanya.

Si Won kali ini melepaskan diri dari tubuhnya dan merapikan pakaiannya lalu membuka pintu. Hyo Rim juga berusaha duduk dalam keadaan yang lebih rapi, ia bersyukur masih mengenakan gaunnya saat Hoon Jeon menghambur kedalam pelukannya. Setidaknya Hoon Jeon tidak melihat-hal-hal aneh yang tidak pantas untuk mata anak seusianya.

“Dia merengek ingin tidur bersama si pengurusnya-nya. Aku sudah berusaha membujuknya!” Jong Hoon berdiri di depan pintu bersama istrinya.

Keduanya sudah mengenakan pakaian tidur dan Hoon Jeon juga sudah mengenakan piama berwarna kuning gading dengan gambar tokoh kartun idolanya. Si Won memandangi Hyo Rim sejenak lalu tersenyum kepada Jong Hoon.

“Kalau begitu biarkan Hoon Jeon tidur bersama kami malam ini.”

“Tapi kalian berdua…”

“Kami sudah selesai. “ Si Won memotong ucapan Sun Ye. “Sekarang kembalilah kekamar kalian. Aku juga lelah dan ingin tidur!”

Sun Ye dan Jong Hoon masuk ke kamar itu sebentar dan pergi setelah mencium kening putranya. Beberapa saat kemudian Si Won hanya bisa memandangi Hyo Rim yang sibuk menidurkan Hoon Jeon dengan penuh kasih. Ia mengeluarkan sebuah foto hasil UsG yang di ambilnya dari Hyo Rim tempo hari dan memandanginya lekat-lekat.

Seandainya anak itu lahir, mungkin sudah berlarian bersama Hoon Jeon sekarang, mungkin sudah menggendong Hoon Jeon atau malah menidurkannya seperti yang sedang Hyo Rim lakukan saat ini. Hoon Jeon sudah terlelap dan Hyo Rim sepertinya juga sudah mulai mengantuk. Ia menguap beberapa kali sambil memandangi Si Won yang mendekat kepadanya.

“Wifu, tidurlah.” Ujar Si Won. Ia nyaris membuat Hyo Rim tidak bisa menahan tawanya. Wifu? Sudah sangat lama Hyo Rim tidak memberi respon sebaik ini saat ia mengucapkannya. “Sampai anak kedua kita lahir, Hoon Jeon adalah anak kita. Kau sangat menyayanginya kan? Sun Ye bilang dia sangat dekat denganmu.”

“Maksudmu?”

“Selama di kapal ini dia akan jadi anakmu. Apakah Jong Hoon Hyung sudah mengatakan kalau dia dan istrinya sedang bulan madu yang kedua? Mereka beruntung ada dirimu disini, seharusnya mereka melakukan hal yang lebih kejam lagi dengan meninggalkan Hoon Jeon bersama neneknya di London. Bisa kau bayangkan bagaimana Hoon Jeon menangis memanggil ibunya?”

Hyo Rim mengangguk mengerti. Ia berbisik agar Si Won segera mengganti pakaiannya dan Setelah itu giliran Hyo Rim, karena tidak mungkin dirinya akan mengenakan gaun semalaman. Semua berjalan dengan bahagia. Setelah ini, dirinya hanya perlu, menikmati kebahagiaan yang tertunda yang seharusnya sudah menghampiri hidup mereka sejak lama.

== FUTUREISTIC ==

“Kau memuat nama semua orang di laporanmu, Jong Hoon Hyung dan Sun Ye juga. Tapi kenapa hanya aku yang tidak? Kenapa kau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku?” Si Won mengerang untuk yang kesekian kalinya minggu ini. Ia masih kesal karena tidak ada Nama Si Won Choi dalam laporan Hyo Rim.

Si Won bertindak seolah-olah hal itu adalah hal yang paling menyakitinya di dunia. Bahkan hari ini dia sama sekali tidak berhenti melakukannya meskipun mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat di Shenzhen.

Sadar atau tidak kelakuan kekanak-kanakannya berhasil membuat Hyo Rim tertawa. Bukan hanya Hyo Rim, Ayah dan ibunya bahkan juga Jae Hyun melakukan hal yang sama. Si Won kelihatannya sangat kesal sekali karena merasa tidak di anggap ada.

“Namamu sudah ada di hatiku, tidak cukup?” tanya Hyo Rim.

Si Won menggeleng. “Tidak. Aku ingin semua orang tahu, aku ingin kau menuliskan terimakasih untuk suamiku tercinta Choi Si Won…”

“Kenapa kau tiba-tiba jadi kekanak-kanakan begini? Kau ingin siapa lagi yang tahu? Dengan kelakuanmu belakangan ini, sudah berhasil membuat semua orang tau kalau aku bukan wanita lajang. Bahkan teman-teman di coffee shop juga. Kau tahu, bagaimana mereka mengejekku setiap hari?”

“Marahi saja! Sekarang kau Bosnya. Aku mengambil alih coffee shop itu untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu dua bulan yang lalu. Jadi kau berhak memarahi mereka tentunya.” Gumam Si Won.

Taksi yang membawa mereka berdua berhenti di sebuah tempat yang sangat Hyo Rim kenal. Meskipun dirinya hanya pernah sekali datang kemari, tapi semua ingatannya tentang tempa ini masih sangat jelas.

Sungai itu, masih tersembunyi dari keramaian. Tempat dimana mereka melepas calon bayi mereka dengan ikhlas, tempat dimana Hyo Rim dan Si Won berjanji untuk bersama selamanya. Keduanya keluar dari taksi dan membiarkannya pergi, dalam hitungan menit, Si Won sudah menggenggam tangan istrinya dan duduk di pinggir sungai dengan tenang.  Pohon yang rindang membuat tempat ini menjadi sangat teduh.

“Sekarang lakukanlah!” Bisik Si Won.

Hyo Rim menganguk lalu menghanyutkan bunga-bunga yang di bawanya dengan tenang. Ia lebih banyak diam dan terhenyak mengenang kehilangan yang sudah di lewati dalam kurun waktu yang lama.

Untuk beberapa menit suasana menjadi sangat hening hingga akhirnya Si Won kembali berbisik. “Sudah selesai? Kita kesana saja!” Ujarnya sambil menunjuk ke sebuah pohon rindang yang meneduhi sekelompok rumput-rumput tebal di bawahnya.

Tanpa persetujuan selanjutnya Si Won kembali meraih tangan istrinya sampai keduanya berakhir dengan berbaring di bawah pohon itu denga nyaman. Si Won melepas rasa lelahnya dengan menghela nafas beberapa kali. Perjalalan seharian ini benar-benar sudah berhasil membuat pinggangnya sakit. Ia memandangi Hyo Rim yang berada dalam pelukannya sejenak lalu beralih kepada cahaya yang menelisip dari balik dedaunan.

“Kau merindukan anak kita tidak?” Katanya.

Hyo Rim menyandarkan kepalanya ke lengan Si Won lalu mengangguk. “Setiap hari, setiap jam, setiap detik selama sembilan tahun aku selalu merasakan hal itu.”

“Aku juga sama! Tapi dia akan terlahir kembali, Kan?”

“Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau akau benar-benar tidak akan pernah bisa memberimu anak?”

Si Won mendesah. “Hyo Rim-ssi, berarti benar firasatku kalau sebenarnya anak kita sudah terlahir dalam bentuk Choi Hoon Jeon. Kau tahu, kan? Sun Ye juga sama sepertimu. Hanya saja wanita itu lebih kuat untuk membuat pertahanan terhadap dirinya sendirihdan pasti bisa hidup tanpa Jong Hoon Hyung bila saat itu dia benar-benar membawa rahasia kehamilannya pergi dari kami. Aku merasakannya, saat mengetahui kalau Sun Ye sedang mengandung aku merasa kalau yang berada dalam kandungannya adalah anakku.”

“Seandainya aku lebih kuat, mungkin aku tidak akan kehilangan janinku. Tidak akan kehilanganmu, dan…”

“Berhentilah berbicara seperti itu. Kau memang harus tercipta sebagai sosok yang lemah agar aku bisa selalu melindungimu. Jika kau sama kuatnya seperti Sun Ye, aku yakin kalau sekarang kita tidak akan bersama lagi. Kau akan benar-benar menjauh dan tidak akan kembali demi ayahmu. Kau tau tidak? Saat itu Sun Ye sudah siap meninggalkan semua keluarganya. Jadi aku tidak akan rela kalau kau seperti dia!”

Hyo Rim tertawa halus. Benar, jika Hyo Rim sama seperti Sun Ye, maka Hyo Rim tidak akan pernah kembali ke Korea, tidak akan melarikan diri ke Jepang, Hyo Rim pasti akan lebih memilih untuk pergi ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang akan menduga kalau dirinya berada disana. Dia beruntung menjadi orang yang lemah, beruntung karena masih di beri kesempatan untuk bersama Si Won pada akhirnya dalam damai seperti sekarang.

Hyo Rim mengangguk mengerti. “Kau belum memberi jawaban yang ku inginkan. Jika aku benar-benar tidak bisa memberimu anak bagaimana?”

“Kita jemput saja anak kita yang ada di Jepang. Selagi Hoon Jeon masih bisa di iming-imingi dengan mainan, dia pasti akan ikut dengan kita!”

Hyo Rim memukul dada suaminya dengan kesal. “Aku serius!”

Si Won tertawa senang. Lalu memejamkan matanya perlahan. “Berhentilah berkata sedih seperti itu. Masih banyak cara untuk bahagia di dunia ini. Jika kau mengatakan tidak pernah memberiku anak, itu anggapan bodoh. Kau sudah pernah hampir memberikannya meskipun bocah itu gagal lahir kedunia seperti rencana kita. Itu sudah cukup. Aku masih bisa melakukan hal lain bersamamu untuk bahagia, kan?”

Sejenak Hening. Nafas Si Won mulai teratur karena dirinya  mulai mengantuk. Tapi meskipun ia suda memejamkan matanya, Si Won masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Ia ingin membuka matanya dan melihat apa yang Hyo Rim lakukan saat ini. Apakah Hyo Rim sedang tersenyum, atau sedang menangis…

Akhirnya Si Won membuka matanya saat sebuah kecupan hangat hadir hanya untuknya. Ia memandangi Hyo Rim yang tersenyum untuknya. Hyo Rim mendesis mengucapkan terimakasih dengan bisikan yang sangat halus di telinga Si Won. Si Won menghela nafas dalam berusaha untuk menyembunyikan perasaan haru yang mendesak. Ia sangat bahagia.

“Kenapa kau berterima kasih?” Tanya Si Won gugup. “Untuk semua kebaikanku, ya? Kau tidak perlu melakukan itu. Sudah sifatku…”

“Untuk bersedia menerimaku kembali setelah semua yang terjadi. Aku beruntung karena mencintaimu Choi Si Won!”

“Aku juga.” Suara Si Won terdengar lebih pelan dari yang tadi. “Jarang sekali ada pria yang seberuntung aku. Saat usiaku akan empat puluh tahun, aku masih bisa memandangi wanita seksi berusia dua puluh tahunan yang menjadi istriku sekarang.” Si Won lalu tertawa bangga. Kebahagiaannya bukan hanya karena itu. Tapi lidahnya teramat sulit untuk menjelaskan semuanya.

.

.

.

== END==

Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaay akhirnya selesai jugaa, fiuuuh. Terimakasih yang sudah mengikuti ff ini, insyaallah akan ada ff selanjutnya. Tunggu kisah si wanita cantik -asek-, Jung Hyo Rim, kehidupan percintaannya yang lain /dan dengan pria yang lain juga, sssst/ /digampar Si Won/

Sampai jumpa di ff selanjutnya^^

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s