Futureistic – Part 7

IMG-20160509-WA0001

FUTUREISTIC – PART 7

Jung Hyo Rim’s life of love | JHR Present! 

Poster Art Proudly Present by : Chieva Chiezchua

 .

.

Tell The Secret

.

Tengah malam sudah lewat beberapa menit yang lalu dan jalanan memang benar-benar sepi tanpa tanda-tanda keberadaan manusia kecuali mereka berdua. Hyo Rim dan Min Woo

“Ini jus untukmu, aku bawakan beberapa kaleng!” Min Woo duduk di trotoar depan apartemen sambil menyodorkan beberapa kaleng jus kepada Hyo Rim yang baru saja datang.

Ini malam kedua Hyo Rim bertemu dengan Min Woo setelah beberapa hari yang lalu ia menanti Min Woo setiap malam. Meskipun hanya untuk melihat wajahnya, meskipun hanya untuk mendengar suaranya.

“Kemarin laki-laki itu bilang, dia tidak suka melihat dirimu minum bir. Dan aku memutuskan untuk membawa jus!”

“Terima kasih!” jawab Hyo Rim setelah Min Woo meletakkan beberapa kaleng jus itu di salah satu sisinya, tepat diantara dirinya dan Hyo Rim duduk sekarang dengan di terangi cahaya lampu jalan.

Mereka kemudian melakukan hal yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Duduk sambil menikmat beberapa kaleng minuman tanpa percakapan yang signifikan. Hyo Rim masih gamang, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadikan pertemuan kali ini sebagai pertemuannya yang terakhir kali dengan Min Woo.

Hyo Rim sebenarnya merasa sangat tidak bisa merelakannya. Perasaanya sama sekali tidak menginginkan raganya terpisah dari Min Woo. Hampir dua tahun dia dan Min Woo tidak bertegur sapa dan pertemuan anehnya bersama Min Woo beberapa hari belakangan ini pelan-pelan sudah memberikan harapan baru baginya. Tapi setiap kali dirinya dan Min Woo saling berdekatan, Hyo Rim hanya bisa mengenang kejadian buruk saja.

“Umm, Oppa..” Hyo Rim buka suara.

“Kenapa?”

“Aku harap…ini pertemuan kita yang terakhir kali!”

Min Woo tiba-tiba menatapnya penuh dengan tanya. Untuk beberapa lama waktu hanya di penuhi oleh desauan angin malam yang dingin.

“Kau tahu kan? Aku sebenarnya sangat ingin selalu bersamamu. Tapi bersamamu membuat aku teringat dengan masa lalu dan membuka luka lama. Maksudku, ini bukan salahmu. Jelas bukan karena kau sudah menolongku. Tapi aku hanya tidak mau kalau…”

“Jangan bicara lagi!” Min Woo memotong perkataan Hyo Rim. Tanganya yang besar kemudian membelai kepala Hyo Rim lembut.

“Selama ini aku merasa aku yang paling terluka. Tapi aku tahu kau juga sakit. Perasaan egoisku memutuskan untuk tidak menemuimu lagi. Tapi sekuat hati aku berusaha untuk mencari keberadaanmu dan bisa duduk disini bersamamu adalah perang besar yang terjadi dalam hatiku. Selama ini aku hanya bisa melihat tanpa bisa bicara.”

“Tapi…”

“Tapi tak bisa ku pungkiri, pemikiran buruk itu terus melintas. Kau ingin mengatakan itu?”

“Maafkan aku!”

“Kenapa kau yang minta maaf? Seharusnya aku juga mengatakan hal yang sama malam ini. Aku juga memikirkan kalau seharusnya malam ini akan jadi malam terakhirku untuk bisa melihatmu. Aku akan menyerahkan diri”

Kedua alis Hyo Rim bertaut. “Menyerahkan diri?”

“Jin Woo Hyung… Aku membunuhnya dan sampai sekarang aku masih bisa menyembunyikanya!”

Hyo Rim terkesiap lalu menutup mulutnya. Min Woo membunuh Jin Woo?  Tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal.

Min Woo sangat menyayangi kakak satu-satunya yang ia punya di dunia ini. Ia bahkan tidak menemui Hyo Rim lagi karena Jin Woo. Lalu sekarang Min Woo menghabisi nyawa orang yang dikasihinya dengan sepenuh hati itu? Mereka bahkan masih terlihat akrab berbincang-bincang di bandara saat Hyo Rim menemui Nyonya Park di sana.

“Aku minta maaf atas perlakuan Jin Woo Hyung juga atas perlakuanku kepadamu meskipun aku tahu maaf saja tidak cukup. Semua kejadian ini bahkan sudah banyak mengubah hidupmu. Tapi aku sangat berterima kasih karena kau tidak melaporkan Jin Woo Hyung kepolisi pada waktu itu!” Min Woo kembali menenggak birnya dalam jumlah banyak, kemudian berbicara lagi.

Sejahatnya No Jin Woo, Min Woo Oppa masih memanggilnya ‘Hyung’? Astaga, beritahu aku Tuhan ini semua bohong. Hyo Rim hanya diam dan masih menstimulasi dirinya bahwa Min Woo berbohong.

“Hiduplah baik-baik. Semoga suatu saat nanti kita bertemu di kehidupan yang berbeda!”

“Tapi kenapa harus seperti ini? Aku masih tidak bisa percaya kalau kau membunuh.. membunuh orang itu.”

“Kurasa kau bisa menebak apa sebabnya!” potong Min Woo. “Dia, orang yang selalu berusaha terlihat terhormat telah merusak wanita yang paling aku cintai, memintaku meninggalkanmu dan berencana untuk mengulangi perbuatanya lagi kepadamu!”

Apa? Mencintai..ku? Hyo Rim kembali terperangah.

Min Woo tersenyum getir. “Saat kau dan laki-laki itu bergandengan tangan dan melintasi kami berdua di bandara. Dia menertawaiku habis-habisan. Aku sempat terpengaruh tapi tidak lama. Dengan bekal ingatan itu dia mengajakku untuk membalasmu tentang perasaan sakit hati yang ku dapat karena kau menolakku. Aku tidak bisa menahanya dan kami bertengkar hebat untuk yang kedua kalinya. Aku membunuhnya dengan sengaja, bukan untuk membela diri atau apapun, aku sudah merencanakanya setiap kali dia mengutarakan maksud buruknya padaku!”

Hyo Rim menyentuh kepala Min Woo dengan telapak tanganya. “Aku terkejut kau melakukan hal itu. Kau bisa menyesal nanti!”

“Aku rasa tidak akan pernah. Hal yang paling aku sesalkan adalah saat aku mengatakan kepadamu pada malam naas itu agar kita tidak bertemu lagi. Dan itu menggerogotiku selama dua tahun. Mengikutimu, melihat dari jauh seberapa besar penderitaanmu karena hal itu membuat penyesalanku semakin dalam. Aku sudah gila! Aku menggali rasa sakitku sendiri!” Min Woo tersenyum sinis pada dirinya sendiri yang dianggapnya begitu bodoh dan naïf.

“Sekarang kau masuklah kerumahmu. Aku sudah melanggar perjanjian dengan laki-laki itu untuk menjemputmu secara baik-baik di rumah. Dia pasti sangat marah kalau tau!”

Oppa, kau benar-benar tidak apa-apa?”

Min Woo menggeleng dan tersenyum. “Sekarang tinggalkan aku, agar aku bisa merasakan bagaimana rasanya melihat orang lain pergi meninggalkan kita seperti yang terjadi padamu dulu!”

Hyo Rim yang masih mencerna setiap percakapannya dengan Min Woo, hanya bisa terpaku dan menatap Min Woo lebih lama.

Orang itu sudah mati, aku merasa senang. Tapi, karena apa?

== FUTUREISTIC ==

Si Won sudah menanti cukup lama di sofa ruang tengah sambil beberapa kali memantau keadaan Hyo Rim lewat jendela. Malam ini ia lebih khawatir dari biasanya sehingga membuat dirinya tidak bisa lebih tenang meskipun ia memutuskan untuk tidak mengikuti Hyo Rim lagi. Tapi ada debaran yang berbeda saat menanti Hyo Rim kembali kerumah, karena ia akan melihat Hyo Rim yang berbeda.

Hyo Rim yang sedikit banyak sudah dia ketahui rahasianya. Bunyi pintu terbuka setelah beberapa tuts password di tekan dan mengeluarkan suara halus. Hyo Rim masuk kedalam flat lalu bersandar ke pintu sambil menghela nafas berat. Ia sedang menahan desakan air matanya.

Lampu tiba-tiba menyala membuat Hyo Rim kelihatan sangat terkejut dan memandangi Si Won yang berdiri di hadapanya. Sesegera mungkin ekspresinya berganti dengan keriangan yang di buat-buat. Hyo Rim akan berpura-pura seperti apapun, kali ini tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada Si Won. Karena Si Won sudah tahu beberapa hal penting yang selalu di sembunyikan Hyo Rim dari semua orang di dunia ini.

Si Won sudah bisa membaca kalau di dalam mata hitam milik Hyo Rim bukan hanya berisi kebencian saja, sinar ketakutan yang sempat tersirat selama inipun terlihat semakin jelas. Ia akan melakukan apa saja untuk melindunginya supaya Hyo Rim tidak terluka, ia bersedia melakukan apa saja.

“Kau membuatku terkejut. Aku kira sudah tidur!” Kata Hyo Rim sambil mengelus dadanya, kamuflase yang brilian.

Si Won tersenyum tipis dan menggeleng. Sebelah tanganya terjulur kedepan hendak menyentuh Hyo Rim namun tiba-tiba ia mengurungkan niat dan malah mendorong pintu yang ada di belakang Hyo Rim dengan tak bertenaga.

“Sudah terkunci, tenang saja!” Kata Hyo Rim sambil melepas high heelnya dan duduk di sofa ruang tengah setelah mengambil sebotol air mineral dalam kulkas sebelumnya.

“Kau baik-baik saja?” Si Won berujar sambil duduk di sebelah Hyo Rim dengan agak kikuk. Ada sesuatu dalam suaranya yang tidak bisa Si Won mengerti.

Hyo Rim pasti merasa gelisah, ia memandang Si Won lurus-lurus seakan-akan mencari tahu sesuatu yang membuatnya gelisah. Tapi mata itu hanya akan terus bertanya kepada Hyo Rim tentang apa yang sedang di sembunyikanya di dasar hati yang paling dalam.

“Apa kau fikir aku minum lagi? Aku kan sudah berjanji untuk jadi anak yang baik dan tidak menyentuh minuman keras lagi!”

Hyo Rim berdiri dari duduknya dan berjalan ke dapur. Si Won memandangnya dengan pandangan kosong, gadis itu menoleh dan memandang Si Won penuh tanya, tapi Hyo Rim juga tidak berani bertanya apa-apa. Ia hanya bertanya apakah Si Won mau di buatkan kopi? Dan Si Won hanya mengangguk.

Beberapa saat kemudian Hyo Rim sudah kembali duduk bersisian dengan Si Won dan menyeruput kopi buatanya. Ia memandang Si Won yang tidak menyentuh kopi buatanya sama sekali.

“Kenapa? Kau takut kopi buatanku tidak enak? Aku bersumpah itu adalah kopi ternikmat yang pernah ku buat. Kau lihat? Aku masih menggunakan seragam, jadi keahlianku masih terasa!” Katanya sambil membentangkan kedua tanganya. Tapi Hyo Rim segera mengkerut karena Si Won tidak memberi reaksi apa-apa selain memandangnya. “Kau kenapa?”

Si Won menggendorkan dasi yang dari tadi masih di kenakanya. Ia belum mengganti pakaianya sama sekali. “Kenapa kau tidak menceritakanya?”

“Apa?”

“Tentang Min Woo, kakaknya, juga tentang pederitaanmu karena aku!”

Hyo Rim tidak menjawab, tapi ia merasakan ketegangan gadis itu. Tanganya tiba-tiba bergetar dan Hyo Rim membatalkan keinginanya untuk meminum kopinya sekali lagi. Gadis itu meletakkan cangkir itu kembali keatas meja lalu berusaha menggenggam tanganya yang lain untuk menyembunyikan keteganganya. “Aku mau istirahat dulu!” katanya.

Hyo Rim berdiri dari duduknya, tapi Si Won segera menarik tanganya sehingga Ia duduk kembali di tempat semula. Ia tidak akan mengizinkan Hyo Rim melarikan diri sebelum memberikan ketenangan kepadanya. “Apa yang terjadi malam itu?”

“Apa maksudmu? Malam yang mana? Aku baik-baik saja!” suara Hyo Rim terdengar lebih pelan dari biasanya. Tanganya yang berada dalam genggaman Si Won masih gemetaran. Hyo Rim tidak menariknya dan juga tidak melakukan apa-apa.

“Benarkah?”

“Kau sedang menyelidikiku? Kau tidak akan dapat apa-apa.”

“Mi Chan, sahabatmu, kau tahu kan? Dia sudah memberi tahu, jadi berhentilah berpura-pura!” Si Won berusaha menyerang. Ia melihat Hyo Rim semakin gugup. Tapi gadis ini masih berusaha untuk kelihatan biasa meskipun semuanya sudah tampak dengan jelas. “Kenapa kau tidak lapor polisi?”

“Aku…” Hyo Rim menyiapkan kata-katanya, beberapa saat kemudian kata demi kata keluar dengan suara bergetar dan terdengar sangat lirih. “Aku tidak mungkin melakukanya.”

“Karena tidak ingin melukai Min Woo? Perasaanmu sangat bodoh!”

Hyo Rim menggeleng pelan. “Bukan cuma itu. Ayahku, dia adalah satu-satunya alasan mengapa aku tidak melakukanya. Saat itu terjadi, Ayahku sedang sakit keras, bila kau lapor polisi Ayahku pasti akan segera tau. Aku cuma tidak ingin dia kecewa padaku. Semenjak aku kembali padanya, dia adalah orang yang paling bangga dengan keberadaanku dan aku tidak ingin membuatnya merasa malu. Kalau Ayah tahu ada banyak hal buruk yang terjadi padaku, kalau dia tahu aku sudah pernah mengandung, keguguran, kalau dia tau kalau tubuhku sudah menjadi konsumsi para netter yang sakit jiwa itu…aku tidak bisa berfikir apa yang terjadi padanya. Aku bisa gila karena ini…” Kedua tanganya terkepal erat, ia terlihat semakin tertekan.

“Karena itu kau tidak kembali kerumah Ayahmu setelah kejadian itu?” Si Won menatap Hyo Rim iba. Seharusnya saat itu Hyo Rim mencari seseorang yang bisa menjadi tempatnya mengadu.

“Karena itu juga kau menerima penawaranku di kantor polisi karena takut Ayahmu tahu kau bermasalah? Selama ini kau membiarkan Ayahmu menganggap kalau dirimu dalam keadaan baik-baik saja dan kau juga selalu ketakutan setiap kali ada kemungkinan jika Ayahmu melihat sesuatu yang buruk terjadi padamu!”

Hyo Rim berusaha meng-iyakan komentar Si Won dengan senyum kakunya. Ia menarik tanganya dari genggaman Si Won dan menghapus air matanya. “Setidaknya aku tidak hamil lagi karena itu. Aku lega!”

Si Won terdesak, rasa frustasi mulai menjalarinya karena ia sudah melihat luka besar yang selama ini di sembunyikan Hyo Rim dari semua orang. Akhirnya Hyo Rim mau bercerita meskipun ia terlihat sangat tersiksa. Firasat Si Won benar kalau sudah terjadi sesuatu yang lebih buruk di bandingkan dengan tindak pelecehanseperti yang dikatakan Mi Chan.

“Berapa kali dia melakukannya malam itu?”

Hyo Rim mendengus keras. Ia tidak menyangka kalau Si Won berhasil memancingnya untuk membuka rahasia terbesar dalam hidupnya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, di pipinya terlihat garis samar yang hitam searah dengan aliran air matanya yang membawa eyelinernya serta. Hyo Rim terlihat sangat kacau sekarang tapi ia merasa lebih tenang.

“Setidaknya aku merasa lebih baik karena ada seorang lagi yang tahu hal ini! Tapi aku tidak bisa mengingat berapa kali dia melakukannya. Aku bersyukur dia bukanlah orang yang merenggut keperawananku.  Karena jika itu yang terjadi, aku pasti sudah mencari cara untuk bunuh diri. Jika bukan karena Ayah, mati adalah pilihan paling baik. Aku tidak ingin Ayah bersedih jika aku memilih bunuh diri sebagai akhir hidupku.”

Lagi-lagi Si Won melihat wajah Hyo Rim tertunduk, kisah buruk itu tidak akan hilang begitu saja dari kepalanya. Pasti sulit bagi Hyo Rim untuk melupakanya.

Si Won menggigit bibirnya, melihat Hyo Rim yang mematung di hadapanya membuatnya memberanikan diri untuk menggenggam tangan-tangan Hyo Rim yang dingin dan menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya, lembut. Hyo Rim terkejut dan segera melepaskan tanganya dari genggaman Si Won lalu mendorong tubuhnya menjauh.

“Kau…kau membuatku takut!” Hyo Rim bergumam pelan. Ia menunduk semakin dalam dan tubuhnya bergetar lagi. Hyo Rim takut di sentuh, Si Won bisa merasakanya. Ini sudah berkali-kali terjadi dan dia baru menyadarinya hari ini.

“Aku akan menghapus semuanya. Cukup katakan padaku dimana dia pernah menyentuhmu. Aku akan membuatmu menganggap kalau kejadian itu tidak pernah ada!”

Hyo Rim menggeleng keras. “Aku tidak bisa melakukanya, aku sangat takut!”

Si Won menelan ludah dengan susah payah. “Aku tahu, Kau megharapkan Min Woo yang melakukanya!” Suara Si Won yang pelan dan berat membuat Hyo Rim mengangkat wajah. Ia menatap kedalam mata Si Won yang berwarna gelap, matanya sudah benar-benar di butakan untuk malam ini.

Tapi walau bagaimanapun, Hyo Rim hanya bisa merasakan keberadaan Si Won, meskipun matanya sudah tertutup. “Yang perlu kau lakukan hanya membayangkan kalau aku adah dia!” Hyo Rim menggigit bibirnya setelah tubuhnya di peluk dengan hangat. kedua tanganya terkepal disisi tubuhnya.

Jangan menangis…jangan menangis…jangan….. Hyo Rim tidak bisa menahan air matanya untuk tumpah sekali lagi.

Sebuah rasa yang mega menjalar kesekujur tubuhnya. apa yang dirasakanya? sedihataukah bahagia? Yang ia tau, dirinya berusaha membendung perasaan takut yang hadir setiap kali Si Won menyentuh tubuhnya.

Si Won sudah berhasil membuka semua pakaiannya, dan pada akhirnya Hyo Rim benar-benar berteriak ketakutan karena semua perasaan megah yang dirasakannya diawal tiba-tiba berubah menjadi terror yang membuatnya teringat dengan apa yang sudah Jin Woo lakukan kepadanya, tapi Si Won terus memaksanya dan sama sekali tidak berhenti. Si Won memeluk Hyo Rim yang menggigil saat ia merasa terpuaskan di klimaks yang pertama. Hyo Rim sangat ketakutan, tubunya gemetaran dan berusaha menjauhkan tubuh Si Won dari dirinya. Berkali-kali ia menyebut nama Jin Woo dan mencaci makinya.

“Hyo Rim, buka matamu!” Si Won membentak keras. “Buka matamu. Lihat kalau yang bersamamu adalah aku, bukan Jin Woo!”

Hyo Rim membuka matanya dengan susah payah. Ia benar benar ketakutan dan tidak membiarkan Si Won menyentuhnya sekali lagi saat laki-laki itu hendak memeluknya. “Pergi..lah!” Desisnya. “Tinggalkan aku sendiri!”

== FUTUREISTIC ==

Kembali Hyo Rim membuka mata di pagi hari dengan perasaan galau. Ia memandangi pintu kamarnya berkali-kalibkarena takut jika harus bertemu Si Won pagi ini. Kejadian semalam benar-benar membuatnya merasa bahwa Si Won adalah orang yang paling menakutkan saat ini.

Si Won memaksa, sama seperti yang Jin Woo lakukan dan sekarang baginya.

 Si Won sudah menjadi pengganti seorang No Jin Woo sebagai terror baginya.

Apakah Hyo Rim sanggup melihat wajah Si Won hari ini? Atau dirinya akan sama tertunduknya seperti setiap kali Hyo Rim bertemu dengan Jin Woo? Si Won memilih waktu dan cara yang sama sekali tidak tepat, di saat Hyo Rim mulai merasa nyaman dengannya laki-laki itu merampas rasa nyamannya hingga tidak tersisa sama sekali.

Dering ponsel terdengar nyaring. Hyo Rim tahu kalau poselnya sedang tidak bersamanya di kamar karena semua barang-barangnya tertinggal di ruang tengah setelah kejadian tadi malam. Dan sekarang dirinya harus mendengarkan dering yang berkali-kali itu tanpa berani keluar kamar untuk sekedar mengambil dan menjawabnya.

Hyo Rim perlahan turun dari ranjangnya lalu memandangi dirinya di cermin. Semalam dirinya segera menggunakan pakaian yang baru yang di harapkannya tidak mengundang hasrat Si Won kepadanya karena Si Won selalu menunjukkan ketertarikannya setiap kali ia mengenakan seragam baristanya.

Ia menghela nafas berat, bagaimanapun ia harus mengambil ponsel itu, bagaimana bila ada pesan penting? Atau telpon dari ayahnya? Ayahnya akan khawatir bila ia tidak menjawab telpon lebih dari tiga kali.

Ponsel berbunyi sekali lagi, Hyo Rim tahu itu adalah bunyi pesan masuk. Mungkin penelpon sudah bosan menghubungi Hyo Rim karena tidak kunjung di angkat juga. Hyo Rim menggigit ujung kukunya, bagaimana bila ada Si Won di luar?

Keluarlah Hyo Rim, bagaimana bila Ayahmu yang menelpon. Bisiknya pada diri sendiri.

Bagaimanapun ia harus mengambil ponselnya dan bila Si Won mengganggu, Hyo Rim akan pergi. Dia memang harus pergi karena mustahil setelah kejadian semalam dirinya bisa berinteraksi dengan tenang kepada Si Won.

Perlahan Hyo Rim membuka pintu dan memandang ke sekeliling. Jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa sagat lega karena Si Won pasti sudah tidak ada di rumah. Seharusnya Si Won kerja dan mana mungkin sesiang ini dia berada di rumah.

Lagi-lagi Hyo Rim menghembuskan nafas perlahan. Hari ini dirinya akan pergi dengan aman dan tenang, terserah mengenai apapun yang terjadi padanya nanti, dirinya tidak akan membiarkan Si Won melihatnya lagi. Tas, seragam kerja, bahkan pakaian dalamnya masih berserakan di sekitar sofa ruang tengah. Mengingatkannya pada kejadian semalam, dan Hyo Rim hampir meledak.

Secepat mungkin ia mengambil ponsel di dalam tas dan menyingkir kedapur, dia tidak akan sanggup melihat ruang tengah untuk sementara waktu.

Bel berbunyi. Ada seseorang di depan pintu flat dan lagi-lagi itu membuat Hyo Rim ketakutan. Si Won datang? Dia pulang lebih cepat? Hyo Rim menggeleng kuat. Jika Si Won yang pulang, dia tidak perlu menekan bel karena Si Won pasti tau password rumahnya sendiri.

Dengan gerakan yang sangat pelan Hyo Rim mendekati pintu dan membukanya sedikit. Seorang wanita tersenyum kepadanya sambil menggendong seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun. Wanita yang sangat cantik dan kelihatan sangat ramah. Hyo Rim mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya dengan suara parau.

Wanita itu lagi-lagi tersenyum sebelum berkata-kata. “Selamat siang. Namaku Park Sun Ye dan ini anakku, Choi Hoon Jeon.”

Choi? Hyo Rim membatin. Apa hubungan mereka berdua dengan Si Won? Bocah ini anaknya? Jadi wanita itu adalah istrinya… Hyo Rim menelan ludah. Apa yang harus di lakukannya? Apakah harus berbohong mengatakan kalau mereka salah alamat?

Jika wanita itu memang istrinya pasti tidak sedang salah alamat. Hyo Rim memandang tas jinjing dan sebuah kantong kertas berwarna biru muda yang di bawa Sun Ye, ia segera mengulurkan tangan dan memberikan bantuan sambil mempersilahkan mereka masuk.

“Kau Hyo Rim? Baby sitter ah bukan, maksudku pengganti  untuk mengurus Anakku? Si Won sudah mengatakannya sejak seminggu yang lalu, tapi saat itu aku sedang berada di rumah ibuku. Tidak menyangka kalau kau sudah ada di…” Sun Ye berhenti berkata-kata saat melihat pakaian wanita yang berserakan di ruang tengah.

Hyo Rim terkesiap. Ia segera membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf sedalam-dalamnya karena Sun Ye harus melihat itu. Tapi Sun Ye menepuk punggungnya dan meminta Hyo Rim membawa kantong kertas yang ada padanya di bawa kedapur karena ia akan segera masak makan siang.

Dengan perasaan ragu-ragu Hyo Rim melakukan semua permintaan Sun Ye. Setelah itu dirinya berusaha membereskan semua hal yang tidak sepantasnya di lihat di ruang tengah. Park Sun Ye adalah penyandang Nyonya Choi, tapi dirinya sama sekali tidak marah melihat itu tadi?

Tiba-tiba saja Hyo Rim di lingkupi perasaan sedih, Si Won ternyata bukan miliknya lagi. Ada sebulir air mata menetes begitu saja saat menyadari kalau dirinya bukan lagi Nyonya Choi seperti dulu. Tapi Hyo Rim segera menyeka air matanya dan menyusul Sun Ye yang berada di dapur, dia tidak akan membiarkan kesedihannya semakin berlarut larut.

Wanita itu sudah mulai sibuk dengan sayur-sayuran dan beberapa batang roti. Sedangkan bocah kecil, Hoon Jeon, duduk di atas meja makan sambil memandangi ibunya memotong-motong brokoli untuk di rebus.

“Nyonya Choi?” Hyo Rim mencoba meyakinkan prasangkanya, tapi dirinya sedang berusaha keras untuk menyamarkan intonasi penuh tanya yang keluar dari mulutnya.

“Panggil Eonni saja!” Katanya.

Jadi… benar? Bisiknya. Hyo Rim nyaris terkulai lemas, tapi senyuman Sun Ye lagi-lagi mampu membuatnya bertahan.

“Hyo Rim, kau masih punya waktu berapa lama untuk praktik?”

“Masih dua bulan kedepan,” Hyo Rim mulai bergerak dan berusaha membantu sebisanya. Sun Ye terlihat senang karena gadis itu berusaha membantu kerepotannya.

“Kalau begitu kau akan menjadikan , Hoon-ie sebagai bahan riset?”

“Jika anda tidak keberatan…”

“Tidak masalah, sekarang kau boleh memperhatikanku, ini menu makan siang yang biasa Hoon-ie makan, untuk sarapan Hoon-ie hanya minum susu dan makan sereal, tapi kalau malam makannya sedikit lebih banyak.”

Hyo Rim mengangguk. Dia akan jadi pengurus yang bisa dikatakan calon ibu yang mengurus anak yang sebenarnya dari anak suaminya dengan wanita lain? Menyedihkan sekali.

Dirinya bahkan belum bercerai dengan Si Won, tapi pernikahan mereka sama sekali tidak tercatat dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Seandainya tercatatpun Hyo Rim tidak akan tega untuk melakukan apa-apa terhadap orang-orang yang sekarang sedang bersamanya dan kelihatannya sangat bahagia.

“Hyo Rim-ah, kau tidak ingat padaku?”

Hyo Rim memandangi Sun Ye lebih lekat, jadi ia pernah bertemu dengan Sun Ye sebelumnya? Ia tidak mengingat apa-apa. Hyo Rim hanya mengingat semua kejadian buruk dalam hidupnya dan melupakan semua kejadian indah kecuali yang berkaitan dengan Si Won. “Maaf, Nyonya. Aku tidak punya ingatan yang bagus!”

“Sekedar mengingatkan, kita pernah bertemu di sebuah kedai milik kakakku, Jung Soo, di sebelah café tempatmu bekerja.” Hyo Rim mengangguk lagi.

“Usiamu berapa? Kau dan Si Won punya hubungan apa?” Kali ini Hyo Rim mulai merasa kehilangan ketenangan. Apa yang harus di katakannya? Ia dan Si Won…

“Dia mengatakan kepadaku kalau kalian pernah menikah. Sudah bercerai? Melihat ruang tengah tadi sepertinya sudah terjadi sesuatu semalam.”

“Maafkan saya, Nyonya!” Hyo Rim sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. “Saya tidak bermaksud menggoda suami anda, sama sekali tidak. Anda boleh melakukan apa saja kepada saya…”

“Hei!” Sun Ye memotong ucapan Hyo Rim. ”Kau mengenal suamiku? Sudah pernah bertemu dengannya? Dia sedang mempersiapan banyak hal sekarang dan aku terkejut saat kau mengatakan tidak bermaksud menggodanya. Percayalah aku tidak akan menyalahkanmu karena laki-laki itu memang suka menggoda wanita manapun yang di temuinya.” Sun Ye tertawa, ia benar-benar sudah membuat Hyo Rim merasa keheranan. “Kau menyangka kalau aku adalah istri Si Won? Apa menurutmu Hoon-ie mirip dengannya?”

Hyo Rim menoleh kepada bocah berusia tiga tahun yang terus memandangi ibunya. Choi Hoon Jeon memiliki kemiripan dengan Si Won, tapi sangat sedikit. Lalu kenapa? Sangat banyak anak-anak di luar sana yang tidak memiliki kemiripan dengan orang tuanya.

“Ku ralat.” Vanessa bersuara lagi. “Si Won pamannya, bisa jadi ada kemiripan di antara mereka. Maksudku, Hyo Rim. Aku memang Nyonya Choi, tapi bukan istri seorang Choi Si Won. Aku adalah istri Jong Hoon, Choi Jong Hoon. Jadi kau tidak perlu bersikap seolah-olah sedang melakukan kesalahan seperti itu. Bukan urusanku jika memang sudah terjadi sesuatu pada kalian semalam. Yang ku tahu, aku menemukan pengasuh Hoon-ie selama kami di London!”

Benarkah?. Hyo Rim merasa kalau sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Tapi meskipun begitu bagaimana bisa dia mengasuh Hoon Jeon dan terus bertemu dengan Si Won? Mungkin dia harus mengundurkan diri. “Nyonya, apa aku akan mengurus Tuan muda disini? Karena ku fikir…”

“Sudah ku bilang, panggil aku Eonni. Usiaku mungkin jauh di atasmu dan memanggil Nyonya membuatku semakin merasa tua.” Gerutu Sun Ye.

“Maksudku, Eon.. Eonni, apa aku akan mengurus Hoon Jeon disini? Tapi jika…”

“Memangnya kenapa? Tadi Si Won menelponku dan mengatakan kalau kau sedang sakit, makanya aku kemari. Tapi jika kau sudah sehat aku akan membawamu kerumah ibuku. Kau akan mengurus Hoon-ie selama seminggu di sana dan setelah itu, jika tidak keberatan aku dan suamiku ada urusan bisnis yang menharuskan kami untuk naik kapal. Kapal itu akan langsung menuju Jepang, jadi Hoon-ie tidak mungkin di tinggal. Aku akan sedikit merepotkanmu, kau mau ikut kami ke Jepang? Semua surat-surat akan di urus suamiku dan ku pastikan kalau dirimu akan kembali ke London sebelum masa praktikmu berakhir. Kau tidak keberatan, kan?”

Ponsel Hyo Rim berbunyi lagi. Ada satu pesan masuk. Ia membuka pesannya setelah mengucapkan kata maaf untuk Sun Ye. Pesan dari Si Won.

Kau sangat marah padaku? Kau tidak mengangkat telpon, tidak juga membalas pesanku
Aku sedang dalam perjalanan menuju Italia sekarang
Dan seharusnya tadi pagi aku mengantarkanmu ke rumah kakak iparku.
Dia sudah datang?

(Sender; Si Won xxx)

Hyo Rim memeriksa pesan yang sebelumya dan sebelumnya lagi. Si Won sudah mengirim pesan sejak jam delapan pagi lebih dari lima buah pesan dan hampir semuanya berisi permintaan maaf.

Dia juga mengatakan kalau Dirinya mungkin akan sangat sibuk dan tidak bisa menemui Hyo Rim jika Hyo Rim mengikuti jadwal keluarga Choi di banyak tempat. Hyo Rim menghela nafas. Tidak bertemu Si Won saat ini lebih baik. Ia memandangi pesan Si Won yang pertama pagi ini.

Hyo Rim, kau sudah bangun? Aku takut pulang, takut melihat wajahmu Yang memandangku penuh kebencian Seperti tadi malam.
Aku minta maaf yang 
sebesar-besarnya. Sama sekali bukan maksudku untuk memaksa.
Aku hanya marah karena menyadari ada orang lain yang menyentuh tubuhmu.
Maaf 
karena melampiaskan semuanya kepadamu Malam tadi

(Sender; Si Won xxx)

== FUTUREISTIC ==

Seminggu lebih dan Hyo Rim benar-benar tidak bertemu dengan Si Won sekalipun. Kesibukan karena mengurusi Hoon Jeon sama sekali tidak cukup untuk membuatnya melupakan Si Won. Hyo Rim terus bertanya kepada hatinya, apa dia jatuh cinta lagi kepada Si Won ? Dia mencintai Min Woo kan? Tapi tidak sekalipun Hyo Rim memikirkan Min Woo lagi semenjak malam itu. Hanya Si Won dan tidak ada orang lain.

Sebenarnya selama mengurusi Hoon Jeon, Hyo Rim merasa bahwa hidupnya benar-benar di permudah. Ternyata keluarga Sun Ye juga berkumpul di Xinchester, sehingga memungkinkan Hyo Rim untuk membawa Hoon Jeon kerumah Ayahnya yang juga berada di wilayah yang sama. Sesekali Ayahnya juga bermain dengan Hoon Jeon dan itu membuat Hyo Rim dan ibunya saling pandang saat ayahnya meminta Hyo Rim untuk segera memberinya cucu.

Ibu tirinya masih merahasiakan semuanya dari Ayahnya hingga sekarang dan Hyo Rim sangat berhutang budi pada wanita itu. Dia sama sekali tidak tau harus menjawab bagaimana atas permintaan ayahnya.

Besok dirinya dan keluarga Choi akan naik kapal. Sun Ye memberikan Hyo Rim libur seharian penuh dan kesempatan itu di gunakannya untuk beristirahat di rumah ayahnya. Membersihkan rumah, memasak untuk makan siang dan makan malam sekaligus sudah di lakukannya dengan baik.

Sekarang yang harus di lakukannya dalah packing. Hyo Rim sempat termenung memikirkan berapa banyak barang yang harus di bawa. Berapa lama ia akan berada di Jepang untuk mengurusi Hoon Jeon? Yang pasti Hyo Rim tidak boleh melewatkan Laptop karena dirinya tetap harus membuat laporan.

Hyo Rim memilih beberapa pakaian sederhananya untuk di bawa. Sebuah koper yang berukuran sedang sekarang penuh dan siap di bawa besok pagi. Ia merasa tidak perlu membawa banyak barang karena itu hanya akan merepotkannya nanti. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Hyo Rim mempersilahkan orang itu masuk dan ia melihat ibu tirinya datang sambil membawakan semug susu vanilla hangat untuknya.

Dengan senyum Hyo Rim menyambutnya dan meminumnya beberapa teguk.

“Kau benar-benar akan pergi besok?” wanita itu duduk di sampingnya. “Sekarang sudah memasuki musim gugur, udara di kapal pesiar pasti sangat dingin. Bawalah beberapa jaket.”

“Iya, aku sudah melakukannya!”

“Cepat kembali, Ya? Ibu bisa pusing mendengar ayahmu menyebut-nyebut namamu setiap menit. Dia pasti sangat khawatir. Sejak tadi dia sudah menunjukkan ke khawatirannya, untungnya sekarang dia dan Jae Hyun sedang pergi, jadi tidak ada yang perlu terganggu dengan ke khawatirannya itu.”

Cangkir mug yang hangat membuat Hyo Rim melingkupi kedua telapak tangannya di permukaan luar mug. Ia memandangi putih yang isinya tinggal setengah itu lalu mendesah. “Ibu, aku bertemu dengan Si Won!”

Wanita itu memandang Hyo Rim heran. “Si Won? Kapan?”

“Sudah lama sebenarnya. Hanya saja aku saat itu tidak ingin membahasnya. Seharusnya aku mengatakannya kepadamu.”

“Bagaimana keadaannya? Tidak. Bagaimana keadaanmu setelah bertemu dengannya?”

“Keadaannya sepertinya sangat baik. Keadaanku…” Hyo Rim menggantung ucapannya dan mengangka bahu. Ia merasa risih saat bertemu dengan Si Won untuk pertama kali, lalu Si Won sempat membuatnya merasa nyaman beberapa waktu. Malah pada saat itu Hyo Rim sempat berfikir untuk tinggal bersama Si Won, tapi setelah malam itu dia sangat takut untuk bertemu dengan Si Won.

Hyo Rim bahkan tidak mengangkat telpon Si Won, tidak membalas pesannya, bahkan tidak mau menerima telpon saat Si Won meminta Sun Ye memberikan ponselnya demi berbicara kepada Hyo Rim. Beberapa kali Si Won mengirimkan pesan yang berisi kecaman dan amarah, dan yang terakhir Si Won mengatakan dirinya tidak akan menelpon ataupun mengirim pesan kepada Hyo Rim lagi untuk waktu yang lama.

“Dia tidak berbuat buruk, kan?”

Seandainya aku tahu itu buruk atau tidak. Hyo Rim membatin. Ia menggeleng pelan lalu memaksakan sebuah seyum.

“Kau masih menyimpan hati untuknya! Ibu tahu dan bisa merasakannya. Jika dia memang satu-satunya yang terbaik kau boleh menikah dengannya. Mungkin sekarang sudah saatnya setelah lewat delapan tahun.”

“Dia tidak pernah mengatakan itu. Jadi akupun tidak akan berharap banyak.”

“Seandainya hanya ada Ibu dan Jae Hyun, seandainya ayahmu tidak punya penyakit jantung, semuanya mungkin akan lebih baik. Ibu tidak perlu memisahkan kalian. Ibu sangat bersimpati pada sikapnya yang datang hampir setiap malam meskipun saat itu ibu menolaknya dengan keras. Ibu juga sedih saat melihat dia menangis di rumah sakit waktu mengetahui kalau janinmu sudah tidak bernyawa. Maafkan ibu, Hyo Rim. Semuanya salah ibu!”

“Apa yang kau katakan?” Suara yang lebih berat menyeruak di balik pintu yang terbuka dengan keras.

Hyo Rim dan ibunya memandangi Tuan Jung yang terpaku menatapi putri dan istrinya bergantian. “Coba jelaskan padaku, siapa Si Won? Janinmu tidak bernyawa maksudnya…” Laki-laki itu memperbesar bola matanya. “Jung Hyo Rim, kau pernah mengandung?”

.

.

.

TBC

.

Tinggal satu part lagi, yeeeee sampai jumpa di chapter finalll^^

Iklan

Satu pemikiran pada “Futureistic – Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s