Make Me Confused – Epilog

makemeconfused

Menunggu terlalu lama tidak akan pernah menjadi masalah, sudah hampir setengah tahun terlewati dan Hyo Rim masih akan terus setia menanti Si Won datang menjemputnya. Perceraian Si Won dan Soo Jung kelihatannya bukan perkara yang mudah.

Tapi atas semua itu Hyo Rim memaksakan telinganya untuk tuli, ia tidak mau mendengar apa- apa tentang Si Won dan Soo Jung. Hyo Rim hanya tidak ingin kecewa bila mendengar kerumitan perpisahan mereka. Yang dilakukannya sekarang hanya terus berharap dan berdoa agar semuanya di mudahkan.

Hyo Rim membiarkan semuanya mengalir tapi ia harap alirannya lebih deras dan cepat. Ia tau akan banyak tudingan menuju kepadanya setelah ini.

Jung Hyo Rim, gadis yang selalu memperlihatkan betapa terhormatnya dia selama ini ternyata merebut suami orang. Untuk kebahagiaan terkadang kita perlu menginjak orang lain, satu tahun sudah cukup bagi Hyo Rim yang tidak tau apa-apa menanggung semuanya.

Sekarang saaatnya yang bersalah yang menerima akibatnya dan Hyo Rim akan bertindak egois untuk dirinya sendiri.

Memiliki Si Won seorang diri.

Hanya dirinya dan Choi Si Won dalam kehidupan mereka berdua di masa mendatang apapun bentuknya.

Ia bersyukur Si Won selalu bersamanya sekarang, bersyukur bisa merasakan kembali kasih sayang Si Won, beruntung karena Si Won tidak pernah meninggalkannya lagi.

Hyo Rim beruntung memiliki Si Won dan merasa kasihan kepada Soo Jung karena sudah menyia-nyiakan laki-laki itu, Hyo Rim juga sangat berterima kasih kepadanya karena perlakuan Soo Jung pada akhirnya membawa Choi Si Won kepadanya.

Seperti saat ini, Hyo Rim memandangi Si Won Marloy yang lagi-lagi membawa tas berisi pakaiannya ke flat Hyo Rim. Setengah tahun dan Si Won selalu menghabiskan banyak uang untuk bolak-balik antara Korea dan Bangkok setidaknya tiga kali dalam sebulan. Ini kali yang ke empat di bulan ini, sepertinya Jadwal kunjungannya akan bertambah lagi.

“Kenapa kau tidak pindah saja, tuan Choi!” Hyo Rim berkata sinis sambil bertolak pinggang menghadang Si Won Marloy intuk masuk ke pintu flatnya. “Aku tahu kau punya banyak uang, tapi kenapa sangat suka menghabiskan uang untuk hal yang tidak berguna seperti ini?”

Si Won menatap wajah Hyo Rim sejenak lalu melempar tas yang berisi pakaiannya kedalam flat melewati kepala Hyo Rim. Hal itu sukses membuat Hyo Rim berdelik. Bagaimana bila ta situ menimpa sesuatu yang berharga? Bagaimana bila tadi kepalanya kena?

“Harusnya kau minta izin dulu. Ini flat-ku!” Desis Hyo Rim kesal.

“Diamlah, aku sedang tidak ingin mendengar omelanmu hari ini!” Si Won berbisik mesra. Kedua tangannya merangkul pinggang Hyo Rim lalu mendorongnya masuk dari pintu flat.

Ia mencium bibir Hyo Rim penuh kerinduan, kebahagiaan dan masih banyak lagi.

Hyo Rim sempat membulatkan bola matanya dan mendorong Si Won menjauhi wajahnya, ia membuang wajahnya kearah lain. “Aku harus pergi kerja. Jika tidak, Eonni bisa menahan gajiku bulan depan!

“Aku bisa memberimu uang!”

Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibirnya karena Si Won kembali merangkul Hyo Rim semakin erat, kembali mencumbunya dan menggiring Hyo Rim untuk berbaring di sofa. Pintu flat tertutup dengan sendirinya setelah mereka menjauh dari sana dan terkunci secara otomatis. Hyo Rim berusaha melawan, ia masih ingin bicara.

“Aku tidak akan…mmmh….menerima….uangmu sebelum kita….menikah…emm!” Desah Hyo Rim di sela ciuman Si Won yang sudah menakhlukkannya di pagi hari seperti sekarang ini.

Si Won tidak menjawab dengan sepatah katapun, dan pada akhirnya menjawab setelah ia melepaskan bibir Hyo Rim dari bibirnya. “Baiklah…”

Hanya itu dan Si Won berpindah ke leher, membuka blouse yang Hyo Rim kenakan lalu menjelajahi dada, meremas payudara. Si Won sangat merindukannya.

Bel berbunyi dan semua aksi Si Won terhenti. Ia dan Hyo Rim memandang serempak ke pintu lalu berpandangan dengan penuh tanya. Tiba-tiba Si Won teringat sesuatu, ia meraih blouse Hyo Rim dan menyelimutinya setangkas mungkin.

“Mungkin barang-barangku.” Desis Si Won. “Kau jangan kemana- mana, tunggu disini dan jangan coba-coba memakai pakaianmu kembali. Aku akan membuka pintu dan tidak akan membiarkan mereka masuk!”

Hyo Rim tidak menjawab apa-apa. Keningnya berkerut memperhatikan Si Won dengan heran. Barang-barang? Barang aneh apa lagi?

Si Won suka memesan perabotan rumah dan meletakkannya disini sehingga flat Hyo Rim menjadi penuh. Sekarang apa lagi yang di belinya?

Hyo Rim menyembunyikan tubuhnya di balik sofa, tapi kepalanya menyembul untuk melihat Si Won di pintu. Dua buah koper besar tersusun rapi di dekat pintu sebelum Si Won menutupnya dan kembali kepda Hyo Rim.

“Barang-barang apa itu?”

“Itu buku-bukuku. Bukannya kau bilang aku harusnya pindah kemari? Pakaianku sudah pindah duluan, sekarang tinggal buku-buku dan beberapa surat-surat penting. Aku akan tinggal disini.”

“Di flat-ku? Bagaimana dengan Shomede’Mani? Disini kau mau melakukan apa?”

Si Won mengambil secarik kertas dari saku celananya dan memberikannya kepada Hyo Rim. Dengan perasaan heran Hyo Rim meraihnya dan membaca isi kertas itu perlahan-lahan, menghayatinya dan mengeluarkan sebulir air mata setelahnya.

 Ia kembali memandang Si Won dengan semangat dan dengan kebahagiaan yang luar biasa.

“Ini…”

“Aku dan Soo Jung sudah resmi bercerai” Ujar Si Won singkat. “Hari ini juga aku ingin kita memulai semuanya. Aku ingin kau memberi taukan keluargamu kalau kita akan menikah akhir minggu ini juga. Tidak perlu pernikahan mewah, kan? Maksudku, kau belum pernah menikah sebelumnya. Seharusnya kau mendapatkan sebuah pernikahan yang indah.”

Hyo Rim menggeleng lalu menghapus airmatanya. “Ada dirimu saja di sampingku sudah lebih dari cukup. Lagi pula pernikahan mewah akan mengulur waktu, aku ingin menikah denganmu secepat mungkin.”

“Aku juga sama, kau sudah menghubungi Halmeoni?”

“Aku sudah menelponnya seminggu yang lalu. Dia sedang di Busan bersama keluargaku. Ah, ya! Aku juga punya sesuatu untukmu!”

Hyo Rim mengulurkan tangannya menggapai sebuah amplop yang terjepit pada bukunya yang berada di bawah meja tamu. Sejurus kemudian amplop itu sudah berpindah tangan ke tangan Si Won dan laki-laki itu membukanya. Hyo Rim menunggu ekspresi Si Won selanjutnya, Si Won hanya terperangah.

“Kau…” Hanya itu suara yang keluar dari mulutnya. Si Won menatapnya dengan tatapan tak percaya lalu bergumam lagi. “Kau sedang hamil? Dua minggu. Ini pemeriksaan kapan?”

“Satu bulan yang lalu!”

“Berarti usia kandunganmu hampir dua bulan? Kenapa kau tidak segera memberi tahuku? Satu bulan yang lalu berarti aku sudah kemari setidaknya tiga atau empat kali!”

“Aku takut menambah fikiranmu. Kau tidak senang? Sepertinya kau tidak gembira!”

“Tentu saja aku gembira. Tapi aku juga kesal karena terlambat mengetahuinya. Kau jahat Hyo Rim, seharusnya saat kau merasakannya kau mengatakan padaku, seharusnya kita memeriksakannya bersama- sama ke klinik, seharusnya…”

“Kau terdengar sangat tua kalau menggerutu!” potong Hyo Rim.

Si Won menggigit bibirnya lalu tersenyum. Ia berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil kembali mendekati Hyo Rim untuk menyentuhnya lagi seperti yang selalu di lakukannya setiap kali kemari.

Si Won nyaris putus asa saat Hyo Rim menolak, tapi hanya pura-pura karena Hyo Rim segera tertawa dan mencium keningnya penuh kasih dan sangat lama.

Si Won membuang Blouse yang Hyo Rim pegang menjauh, menciumi payudaranya, menggigit, mengulum, bahkan ia ingin menelannya jika bisa. Tapi sekali lagi gangguan datang. Ponsel Hyo Rim berbunyi dari jeans yang masih di kenakannya.

“Buang saja, nanti ku belikan yang baru!”

=Make Me Confused=

 “Kau sudah makan? Apa kau mau sesuatu?”

“Aku ingin kau, tapi gangguan selalu datang!” Desis Si Won

“Bisa tidak kau hilangkan mesum-mu itu, Tuan Choi?!

“Aku selalu terangsang denganmu.”

“Terserah,” jawab Hyo Rim sambil memutar bola mata. “Tunggu. Aku mau tanya sesuatu.”

“Apa lagi?” Si Won terdengar semakin kesal.

“Soal kecelakaan sehari sebelum kau ada di ranjangku di Seoul, apa itu termasuk kedalam rencanamu dan Halmeoni?”

“Tidak pernah ada kecelakaan!” Jawab Si Won. “Kau di hipnotis seorang hypnotherapis saat setelah adegan kau dengan kertas laporan itu. Wanita itu adalah temanku semasa kuliah dan dia siap membantuku!”

“Hipno…” Hyo Rim tak percaya, wanita yanga da disisinya saat ia terbangun di sebuah bangku taman pada waktu itu, Hyo Rim bahkan tidak mengingat wajahnya dengan jelas. “Hipnotis apa? Apa yang kau lakukan kepadaku?”

“Dia hanya perlu membuatmu merasa lelah agar begitu pulang kerumah seorang Jung Hyo Rim langsung tertidur. Itu kami lakukan agar kami punya banyak waktu untuk merubah kamarmu.”

“Lalu membuatku mengigau agar kau membuka pakaianku setiap malam?”

“Aku tidak perlu hipnotis untuk berbohong seperti itu. Malam pertama itu, Halmeoni yang membuka pakaianmu. Tapi diluar rencana, pada malam kedua aku melakukannya sendiri. Salah sendiri mengapa kau selalu bersikap sok manis dan…” Si Won lagi-lagi tersenyum.

“Sekarang sudah cukup? Sekarang sudah tidak ada yang bisa mengganggu kita lagi, kan? Aku tidak akan membiarkan apapun mengganggu kita kali ini.”

“Ap.. Apa yang kau lakukan?” Tanya Hyo Rim waspada

“Mengunjungi anak kita.”

“Huh?”

“ Hai anakku, Appa datang!”

.

.

.

END

kkkkkkk- pendek banget ya? ya maklum lah, dibuat bertujuan untuk ngurangin rasa gantung gara-gara Si Won sama Soo Jung nya cerai apa enggak, Udah tahu kan? Oke sampai jumpai di ff yang lainnn^^

Iklan

2 pemikiran pada “Make Me Confused – Epilog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s