Make Me Confused – Part 6 END

makemeconfused

4th – Shocking News | 5th – Think and Take

Previous :

.

“Kau ada masalah dengan suamimu?!”

“Kami tidak bertengkar. Aku yang menghindar, aku menyesal menikah dengannya dan meninggalkanmu.”

.

“Kau disini semalaman? Aku menunggumu kembali kepadaku. Apa yang kau lakukan disana? Bercinta? Berkhianat?!”

“Ya. Aku berkhianat semalam. Jadi kembalilah kepada Istrimu, aku tidak seperti dia. Aku tidak bisa menunggumu yang tidak setia!”

.

”Kita sama sekali belum menikah. Aku bukan suamimu.”

.

 .

“Never say goodbye, never forget you, I’ll remember you.“ – Finally

 .

Setiap jam, setiap hari, setiap minggu. Si Won merasa frustasi. Hyo Rim benar benar menghilang. Si Won ingin mati, ingin juga menghilang. Sayangnya kehidupan menuntutnya untuk terus ada, untuk terus mencari Hyo Rim karena Halmeoni meminta bantuannya. Untuk terus bertanya kepada siapa saja yang di temuinya yang sekiranya bisa membantu memberi tau dimana Hyo Rim sekarang, ia bahkan tidak kembali ke Busan. Tidak ke luar negeri.

Nama Hyo Rim Jung juga tidak terdaftar sebagai orang yang meninggalkan Korea untuk ke luar negeri sebagai bukti. Hyo Rim masih disini, di negara yang sama hanya saja entah dimana. Mungkinkah Hyo Rim masih bersamanya, memandanginya di suatu tempat yang Si Won tidak ketahui?

Si Won juga tidak terlalu berani berharap.

“Kau masih belum menemukannya?” Si Hoon berbisik dalam jarak yang sangat dekat dengan Si Won. Karena Soo Jung dia begitu, karena Soo Jung ada di ruangan yang sama meskipun tidak sedang bergabung bersama mereka.

Si Won menggeleng pasrah. “Aku sudah mencarinya kemana-mana. Apalagi yang harus ku lakukan? Aku sudah berbuat kesalahan dengan memanfaatkannya untuk balas dendam pada Jae Joong sialan itu. Dia gadis baik,”

“Apa kau sangat merindukannya?”

“Selain itu, Hyung. Ada yang lebih besar lagi selain perasaan rindu. Aku ingin menyerah, konsentrasi pada rumah tanggaku yang mulai membaik, tapi Hyo Rim meninggalkan keluarganya tanpa informasi, ayah dan ibunya juga sama khawatirnya. Hyo Rim tidak bisa di hubungi dan semuanya salahku!”

Si Hoon menggeleng tak habis pikir. Ia sudah mengatakan kepada Si Won sebelumnya untuk tidak bertindak gegabah, kesalahan Soo Jung dan Jae Joong tidak seharusnya di lampiaskan kepada Hyo Rim. Hyo Rim tidak tau apa-apa selain cintanya pada Jae Joong.

“Kau sudah menidurinya? Apa itu yang membuatmu se-frustasi ini?”

Kali ini Si Won mengangguk samar.

“Sudah ku bilang hati-hati!” Ujar Si Hoon agak lantang.

Ia melirik kepada Soo Jung yang berhenti masak sejenak untuk melihat mereka. Si Hoon berusaha memberikan sebuah senyum dan mengatakan kepada Soo Jung kalau mereka hanya membicarakan masalah bisnis. Apa yang Si Won lakukan?

Si Hoon ikut andil dalam rencana ini, ikut membujuk Halmeoni dan meyakinkan kalau cucunya tidak akan apa-apa. Juga ikut merahasiakan motif Si Won yang sebenarnya untuk mendekati Hyo Rim. Motif yang sebenarnya juga berasal dari Soo Jung, bukan hanya dari Jae Joong.

Semuanya, termasuk rencana malam naas dimana Hyo Rim mendapati dirinya dalam pelukan laki-laki lain tanpa sehelai benangpun juga rencananya. Tapi Si Hoon memastikan kalau malam itu, Hyo Rim tidak di telanjangi oleh laki-laki manapun, Halmeoninya sendiri yang membuka pakaiannya.

“Kau berjanji kepada Halmeoni untuk tidak pernah melakukan itu!”

“Bagaimana bisa aku menahannya? Aku kelaparan, kehausan, aku merindukan hal yang seharusnya kudapatkan dari istriku.” Si Won diam sejenak lalu membasahi bibirnya, sejurus kemudian ia bisa lebih tenang dari sebelumnya. “Aku sudah berusaha untuk tidak melakukan itu, aku hanya bermesraan pada awalnya. Lalu apa yang bisa ku lakukan jika dia yang memintanya? Kalau aku menolak, dia akan curiga dengan pernikahan ini. Lagi pula saat itu aku juga terbawa suasana.”

“Apa Halmeoni mengetahuinya?”

Si Won menggeleng. “Dia tidak pernah tau kalau ada yang tidak normal. Baginya, Hyo Rim hanya marah karena sangat banyak orang yang membohonginya tentang pernikahan itu. Seharusnya ia menikah dengan Jae Joong dan seterusnya.”

Si Hoon tahu ada perasaan dalam setiap kata-kata yang Si Won ucapkan, ada terbersit kekesalan karena harus kembali kepada Soo Jung, ada rasa sedih karena tidak menemukan Hyo Rim , tidak bisa menikmati cintanya, tidak bisa memandang wajahnya dan…

”Sejak kapan kau mencintainya?” Si Hoon berbisik. “Kalian baru bersama selama dua minggu, sangat cepat untukmu jatuh cinta pada wanita lain, kan? Apa yang membuatmu mencintainya?”

Si Won sendiri tidak yakin. Ia tertarik sejak awal dirinya melihat Hyo Rim bersama dengan laki-laki yang paling di bencinya, Jae Joong hampir setengah tahun lalu.

Saat Si Won memendam kekecewaan karena wanita yang menikah dengannya ternyata selalu pergi bersama laki-laki lain. Wanita yang berusaha di cintainya semenjak mereka di jodohkan selalu bersama dengan Jae Joong dan kerap kali tidak pulang.

Si Won selalu berusaha memaklumi Soo Jung, juga semua perselingkuhannya bersama Jae Joong. Tapi saat Si Won memergoki Soo Jung membawa perselingkuhannya kerumah, Si Won tidak bisa memaafkannya lagi.

Jae Joong berbaring di atas tempat tidur, menyentuh tubuh yang seharusnya Si Won sentuh. Dan semua kebencian itu bertambah saat Soo Jung memohon untuk mengizinkan hubungannya dengan Jae Joong hanya untuk beberapa minggu saja. Tentu saja Si Won tidak bisa mengizinkannya.

Tapi Soo Jung tidak juga berhenti.

Dalam beberapa penyelidikan yang Si Won lakukan, ia mendapati kenyataan bahwa Jae Joong dan Soo Jung sudah berhubungan sangat lama. Bertindak seolah-olah cinta mereka adalah cinta sejati yang tidak bisa menyatu karena alasan klasik.

Status ekonomi.

Soo Jung yang berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya tidak bisa mendapatkan cintanya karena laki-laki yang di cintainya ternyata kurang bercukupan. Jae Joong hanya seorang pemuda miskin yang mencoba peruntungannya di Seoul sebagai penjual buku biasa dan perlahan bisa menanjak dan memiliki sebuah toko buku sendiri. Tambahan café yang dia punya.

Sayangnya bagi keluarga Soo Jung hal itu sama sekali belum cukup. Tapi apapun alasannya Soo Jung tidak seharusnya menyakiti Si Won.

Soo Jung yang salah dan sama sekali tidak tau bahwa cintanya kepada Jae Joong juga sudah di khianati. Jae Joong mencintai gadis lain, Hyo Rim lebih di kasihinya melebihi siapapun. Wanita yang ingin di nikahinya, di bawanya untuk menjalin hidup bersama.

Setiap kali Si Won melihat Hyo Rim bersama Jae Joong, Si Won merasa kalau Hyo Rim gadis lemah. Meskipun Jae Joong mencintainya, laki-laki itu masih terus bersama Soo Jung menikmati perselingkuhan mereka dan tidak tau kapan akan berhenti.

Saat itulah Si Won tertarik pada gadis lemah itu, Si Won juga ingin menyakiti Jae Joong. Ingin Jae Joong juga merasakan Apa yang Si Won rasakan; menyadari wanita yang seharusnya menjadi miliknya bersama orang lain dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat itu juga Si Won mencari jalan keluarnya, menggoda Hyo Rim? Menjeratnya dengan sesuatu yang tidak bisa di tolak seperti ancaman?

Untungnya Si Won mendapatkan masukan ide cemerlang dari Si Hoon dan dengan bantuan Si Hoon juga mereka berhasil membujuk Halmeoni dengan membeberkan keburukan Jae Joong bersama wanita lain tanpa memberi taukan kalau wanita yang berselingkuh dengan Jae Joong adalah istrinya.

Dan Si Won perlu menunggu waktu sebulan untuk mendapatkan persetujuan dari Halmeoni, saat wanita tua itu sadar bahwa Hyo Rim tidak bisa di bujuk, juga saat Hyo Rim semakin menunjukkan perlawanan dengan pernikahan mereka yang di percepat beberapa bulan.

Semua rencana sudah di atur dengan sangat masak, membayar Soo Hwa, memutuskan hubungan Hyo Rim dengan orang tuanya untuk sementara waktu dan masih banyak lagi sehingga Hyo Rim terjerat dalam sesuatu yang mau tidak mau harus di setujuinya. Pernikahan.

Sekarang bukan hanya Hyo Rim yang terjebak, Si Won juga terjebak. Terjebak saat melihat tubuh wanita setelah sekian lama ia kehilangan istrinya.

Terjebak dengan perhatian Hyo Rim bersama usahanya untuk menjadi istri yang baik, hal yang tidak pernah Si Won rasakan selama pernikahan bodohnya yang sudah berlangsung lama. Si Won ingin memilih Hyo Rim, akan memilih Hyo Rim dan meninggalkan Soo Jung apapun resikonya.

Tapi begitu ia membulatkan tekadnya Hyo Rim sudah menghilang dan tidak bisa di temukan dimanapun, Si Won sangat menderita. Penderitaan yang lebih bila di bandingkan saat dirinya meliha Soo Jung bersama Jae Joong di atas ranjang.

Si Won juga merasakan kesedihan, melebihi kesedihan saat ia melihat Hyo Rim dengan matanya yang membengkak, melebihi kesedihan saat ia terbangun tanpa Hyo Rim disisinya setiap hari. Juga sebuah rasa bersalah, karena melampiaskan semua kebenciannya terhadap Soo Jung dan Jae Joong kepada Hyo Rim.

=Make Me Confused=

Hyo Rim membeku melihat paspor dan visanya. Ia akan menuju Brazil, atau tinggal dimana saja asalkan tidak satu benua dengan ‘nya’. Sekarang Hyo Rim sudah sangat lelah bersembunyi dan bekerja serabutan bisa saja membuatnya di temukan sewaktu-waktu.

Ia merindukan Ayahnya, ibunya,dan sang adik kembar. Hyo Rim merindukan keluarganya dan ingin kembali, tapi kembali kekeluarganya akan menambah kesedihan. Ia bisa saja bertemu Halmeoni sewaktu-waktu dan bertemu neneknya itu akan membuatnya merasa di bodohi setiap detik.

Hyo Rim tidak ingin menemui siapapun yang terlibat dalam hal ini, Soo Hwa, Jae Joong, apalagi Si Won. Hyo Rim tidak ingin bertemu dengan siapapun yang sudah menipunya dan membuatnya menyia-nyiakan waktu yang seharusnya di gunakan untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Jae Joong.

Tapi disisi lain Hyo Rim merasa lega setelah tau mengapa Halmeoni dan Si Won bekerja sama untuk menjauhkannya dari Jae Joong, ia merasa lebih lega. Walau bagaimanapun Hyo Rim tetap harus berterimakasih tapi tidak saat ini. Saat ini yang ingin di lakukannya hanya pergi-pergi dan pergi.

=Make Me Confused=

.

One Year Later

Anak kecil itu menggapai-gapai memanggil Ayahnya, ia ingin di gendong, ingin di manja. Tapi Choi Si Won sama sekali tidak ingin perduli dan membiarkan bocah itu di sofa ruang tengah tanpa menoleh sama sekali. Ia berjalan lurus kemeja makan mengunjungi sarapan yang menantinya. Suara bocah itu menangis terdengar sangat keras tapi sepertinya Si Won sama sekali tidak terganggu.

Perlahan tapi pasti Si Won menyeruput kopinya dengan nikmat seolah-olah kehangatan yang di timbulkan oleh kopinya membuat Si Won bisa melupakan semuanya. Setelah itu Si Won mulai mengambil roti panggang dan mengolesinya dengan selai kacang almond lalu menggigitnya perlahan-lahan.

Tangisan si kecil sudah begitu dinikmatinya seolah-olah itu adalah alunan musik yang sangat merdu yang membuatnya merasa senang. Beberapa saat kemudian tangis bocah itu berhenti dan tiba-tiba saja bocah itu sudah berada di hadapannya dalam pelukan Soo Jung. Wanita itu memberikan putranya sebotol susu hangat dan bocah itu melupakan penyebab tangisannya yang sangat hebat tadi.

“Aku sedang di kamar mandi, apa salahnya kau menemani Myung Soo sebentar?” Soo Jung terdengar menggerutu sambil terus bermain bersama Myung Soo yang mulai mengeluarkan gelak kecil.

“Aku sudah rapi dan mau berangkat kekantor. Bagaimana kalau Myung Soo buang air ekcil di pakaianku?”

“Kau tidak perlu menggendongnya, aku hanya minta kau menemaninya. Kau ini kan Ayahnya!”

“Aku bukan Ayahnya!” Desis Si Won dingin.

Soo Jung membeku. Seharusnya ia tidak menuntut Si Won menjadi ayah yang baik untuk Myung Soo. Si Won tidak bisa menerima putranya. Sejak Myung Soo di lahirkan Si Won sama sekali tidak pernah menggendong anak itu dan membiarkan Soo Jung mengurusi anaknya seorang diri.

Soo Jung juga harus berhenti bekerja agar bisa mengurusi Myungsoo dengan baik karena ia tidak percaya dengan Baby Sitter. Soo Jung hanya percaya pada dirinya sendiri. Soo Jung tahu Si Won sama sekali tidak ingin memperbaiki rumah tangga mereka meskipun Soo Jung selalu berusaha menjadi istri yang baik untuknya.

Selama setahun, Soo Jung harus menerima segala perlakuan tidak perduli dari Si Won. Si Won juga bertindak seolah-olah Soo Jung adalah penyakit, ia menolak tidur sekamar dengan Soo Jung dan lebih memilih untuk menginap di hotel bersama wanita penghibur manapun yang di temuinya.

Soo Jung bersalah, Si Won ingin membalasnya dan Soo Jung akan menerimanya, lambat laun ia meyakini kalau Si Won akan membaik. Tapi setelah setahun yang Soo Jung rasakan hanya penderitaan meskipun Si Won tidak menyiksanya secara langsung.

Si Won bahkan tidak pernah menyentuhnya meskipun hanya sekedar untuk memukul. Si Won menyelesaikan sarapannya dan menyisakan roti dalam jumlah yang masih banyak seolah-olah apapun yang di makannya di rumah ini adalah sesuatu yang bisa membunuhnya. Soo Jung sudah kewalahan dan tidak sanggup menahannya, tapi apa yang bisa di lakukannya?

“Aku pergi dulu.”

“Bisakah kau mencium Myung Soo sebentar saja?” Soo Jung memelas, ia paling benci memelas dan harus melakukan ini selama setahun berharap Si Won bisa kasihan kepadanya.

Tapi sepertinya tidak.

“Aku tidak bisa!”

“Aku tahu kau marah, benci, tidak suka, kau boleh melampiaskannya kepadaku. Aku akan menerimanya bila kau ingin menyiksaku. Tapi jangan lakukan itu pada Myung Soo. Dia tidak tau apa-apa, dia sangat butuh kasih sayang seorang Ayah.”

“Kalau begitu bawa dia kepada Ayahnya. Kau Aku tebak kau masih bertemu dengannya. Kim Jae Joong mu.”

“Iya, tapi tidak seperti yang kau duga. Aku hanya bertemu Jae Joong jika dia ingin melihat anaknya dan…”

“Kalau begitu bawa dia kepada Ayahnya. Biarkan Myung Soo bersama Ayahnya barulah akau akan memperhitungkan tawaranmu untuk memulai semuaya dari awal. Aku akan melupakan perselingkuhanmu dengan laki-laki itu!”

“Egois!” Soo Jung mulai sesak. Iya, dia dan Jae Joong memang berselingkuh.

Tapi bukankah Si Won juga pernah melakukannya?

Sekarang mengapa hanya dirinya yang di persalahkan?

“Kau juga pernah melakukannya!”

“Hentikan semua ini, beberapa saat lagi kau akan berteriak di depan anakmu.”

“Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan? Selain berpisah dari Myung Soo apa yang harus ku lakukan?”

Si Won berbalik dan berjalan dengan pasti menuju pintu sambil berkata datar. “Sadarilah kalau kau tidak akan pernah baagia bila bersamaku. Kau tidak akan pernah tersenyum seperti aku yang tidak bisa tersenyum!”

=Make Me Confused=

“Aku menggunakan racikan kopi buatanku sendiri. Aku pastikan ini lebih baik bila di bandingkan dengan kopi instan botolan yang sering di gunakan pegawaimu” Hyo Rim menyodorkan segelas Latte Choco Fullcream kehadapan Park Jae Soo, bibinya. Wanita itu mengangguk-angguk sambil berusaha menyembunyikan senyum khasnya.

Dengan sangat hati-hati Haruka menghirup aroma racikan buatan Hyo Rim dalam-dalam lalu mencicipinya sedikit, sangat sedikit. Ia merasakan sesuatu dengan lidahnya sejenak lalu mencicipinya sekali lagi, sama sedikitnya dengan yang pertama.

Lidah Park Jae Soo sangat tajam untuk apapun yang mengandung kopi, ia tidak perlu meminumnya dengan tamak. Perlahan dan menikmatinya dengan penuh penghayatan adalah satu-satunya cara khas yang selalu ia gunakan.

“Lebih baik.” Ujar Jae Soo pelan. “Tapi bagiku ini membawa perubahan besar pada cita rasanya. Luar biasa. Sayangnya tidak akan ada banyak orang yang bisa membedakan kopi instan dengan kopi buatanmu sendiri!”

Hyo Rim mengangguk. “Bisakah kita menggunakan racikan buatanku saja? Meskipun bagi orang-orang tidak begitu membawa perubahan besar, aku pastikan itu tetap akan memberikan perbedaan dengan Coffee Shop lainnya di sepanjang Bangkok!”

“Boleh juga. Tapi kalau kau melakukannya sendirian pasti akan kerepotan. Lagi pula kau tidak sedang bekerja di Café ini, kan? Membantuku adalah satu hal yang sangat aku hargai, tapi bagaimana dengan pekerjaanmu sendiri?”

Jae Soo angkat bahu. Memang baru beberapa bulan dirinya bekerja di salah satu rumah fashion sebagai asisten desainer, tapi pekerjaan itu sangat melelahkan dan semua itu bisa membunuhnya. Hyo Rim sama sekali tidak bisa menikmati pekerjaannya.

 Jika bukan karena pekerjaan itu adalah satu-satunya pekerjaan yang mau menerimanya tanpa ijazah, itu juga karena Hyo Rim berkenalan dengan desainernya di coffee milik Bibi dari Ibunya ini. Ia yakin akan segera meninggalkan pekerjaan itu tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Bagaimana jika kau mengajarkan pegawai-pegawaiku di dapur cara membuat kopi disini? Aku akan memberi resepmu dengan harga yang pantas.”

Hyo Rim tersenyum senang. Ia akan mendapatkan uang meskipun hanya sekedar untuk jajan kesana kemari.

“Tentu saja aku akan melakukannya jika ada uang tambahan sebagai pendidik selain dari uang kompensasi resep itu!”

Kali ini Jae Soo tertawa lepas. “Kau sama seperti adikmu. Selalu meng-uangkan segala hal.”

Hyo Rim menjawab dengan percaya diri, “Kau seharusnya lebih mengenal keponakanmu, Imo.”

“Lupakan. Aku harus membawa adikmu kemari, kau tahu, kan? Adikmu ingin kuliah disini. Bukankah kau sedang menghindari keluargamu?”

“Apa Imo telah memberitahu mereka keberadaanku?”

“Tidak. Aku tidak akan gegabah. Lagipula Samcheon-mu juga belum tahu. Hanya aku yang tau kau berada di Bangkok. Tapi setelah adikmu disini aku tidak yakin bisa merahasiakannya lebih lama. Kembalilah Hyo Rim, walau bagaimanapun keluarga sebaik-baiknya tempat kembali.”

Hyo Rim mendesah, ia harus bagaimana?

Haruskah kembali ke keluarganya?

“Mungkin aku butuh referensi untuk pindah!”

“Kau butuh referensi? Aku hanya bisa memberikan ini!” Jae Soo mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkan majalah bertajuk Shomede’Mani itu kepada Hyo Rim. Majalah berbahasa Korea yang sangat di kenalnya.

Hyo Rim sempat berdiam diri sesaat lalu meraihnya dengan sangat perlahan. “Majalah ini di jual di Bangkok?”

“Kalau di jual disini seharusnya tidak menggunakan bahasa Korea. Majalah itu ku dapat dari salah satu pelangganku, pagi ini kami bertemu di stasiun kereta bawah tanah.”

Hyo Rim mengangguk. Ia membuka lembaran pertama secara perlahan lalu mengamati bagian bawah halaman pertama. Pemimpin Shomede’Mani masih Choi Si Won, tiba-tiba Hyo Rim merindukannya.

“Aku tidak bermaksud terlambat hanya saja urusan disini agak sedikit rumit.” Sebuah suara mengagetkan lamunan Hyo Rim.

Dengan senyum terbaiknya Haruka menjawab bukan masalah. Hyo Rim memutar kepalanya dan menduga kalau yang datang adalah sang Samcheon yang selalu menjemput istrinya, sayangnya bukan.

Orang itu, orang yang baru saja Hyo Rim fikirkan sekarang sudah menatapnya dengan terkesima.

Choi Si Won membuat majalah yang berada di genggaman Hyo Rim terlepas dan jatuh begitu saja kelantai.

“Aku tahu kau mungkin tidak suka dengan maja.. Eh,Si Won-ssi?” Suara sang Imo menyaut. “Kau kenapa? Apa kau sudah mengenal Si Won-ssi?” Tanya Jae Soo yang heran pada perubahan sikap Hyo Rim yang menurutnya.. aneh?

Hyo Rim tersadar untuk yang kesekian kalinya. Lalu tersenyum diiringi sebuah gelengan halus. “Tidak, hanya mirip dengan seseorang. Imo, aku pergi dulu. Aku harus segera kembali bekerja!” Hyo Rim membungkukkan badannya kepada Jae Soo dan melewati Choi Si Won begitu saja.

Kenapa bisa bertemu sekarang?

Mengapa harus di saat seperti ini?

Seharusnya Choi Si Won tidak pernah muncul disaat Hyo Rim bisa menata hidupnya kembali.

“Hyo Rim!”

Hyo Rim mengerjapkan matanya, tiba-tiba Choi Si Won sudah berdiri di hadapannya dan menghadangnya. Hyo Rim nyaris melompat saat Si Won memanggil namanya tapi ingatan buruk segera menjalar dengan cepat menghancurkan kegembiraannya.

“Tidak bisakah kita bicara sebentar?”

Hyo Rim menggeleng sambil tersenyum kecut. “Aku harus kembali bekerja.”

“Aku akan menunggumu disini setelah kau selesai bekerja. Kalau begitu bisa? Kau tidak perlu takut karena aku hanya ingin bicara sebentar saja.”

Hyo Rim menundukkan wajahnya sejenak, berusaha untuk terlihat sedang berfikir. Tapi kemudian Hyo Rim segera mengangkat wajahnya.

“Baiklah!” Lalu ia kembali melewati Choi Si Won untuk kesekian kalinya.

Si Won benar-benar terkesima memandangi punggung Hyo Rim yang perlahan menjauh darinya. Jung Hyo Rim sama sekali tidak berubah. Hyo Rim ada disaat dirinya sudah menyerah, Si Won bisa menemukannya dan ia sangat bahagia.

Ia menemukan Hyo Rim di saat yang tidak terduga, di tempat yang tidak bisa di duga. Jika bukan karena dirinya akan melakukan perjalan ke Bangkok demi majalahnya, Si Won tidak akan menemukannya. Jika bukan karena Shomede’Mani, ia akan kehilangan Hyo Rim selamanya.

=Make Me Confused=

Hyo Rim memegangi kepalanya, ia sudah menyiapkan segala hal yang memungkinkannya untuk pergi. Si Won sudah menemukannya dan dalam waktu dekat semua orang akan datang. Hyo Rim bersyukur karena selama ini ia selalu berusaha untuk bersikap hati-hati dengan membawa semua surat pentingnya kemana-mana. Jadi ia bisa melarikan diri kapanpun di ingininya.

Hyo Rim bahkan tidak datang untuk menemui Si Won di Cofee Shop sore ini. Ia beruntung Sorn ,seorang wanita karier berdarah yang sama –untungnya-, bersama asli Choi Si Yeon yang merupakan bosnya memaksanya untuk ikut ke pesta.

Pekerjaan adalah hal terpenting saat ini’ tiba-tiba saja merasukinya.

Hyo Rim suka bekerja sejak kapan? Sejak membandingkan akan pergi ke coffee Shop lalu duduk bersama Si Won untuk mengenang semua kejadian buruk atau menyibukkan diri dan melupakan semuanya.

Hyo Rim menggenggam lengan Sorn risih karena Hyo Rim tidak terbiasa mengenakan gaun pesta. Ia bahkan menggunakan sepatu balet untuk memudahkan langkahnya agar tidak terlihat semakin kaku. Hyo Rim beruntung punya kaki-kaki yang panjang sehingga sepatu balet tampak brilian bersama gaunnya.

“Boleh aku pulang?” Bisik Hyo Rim di telinga Sorn.

Wanita itu memandangnya kesal. “Pulang? Kita baru sampai!”

Hyo Rim menghela nafas, Sorn tidak mengizinkannya untuk pulang. Tapi Hyo Rim juga tidak pernah di tinggalkan Bailey begitu saja seorang diri. Hari ini Sorn benar-benar memperlakukannya sebagai seorang teman.

Sorn juga mengajaknya menikmati wine yang di ambilnya sendiri untuk Hyo Rim dan berkeliling menemui teman-temannya. Ia juga memperkenalkan Hyo Rim sebagai asistennya dengan penuh kebanggaan, seorang asisten dari Korea ya meskipun pengetahuan Hyo Rim tentang mode tidak secemerlang dugaan semua orang terhadapnya.

Segelas wine habis dan Sorn memberikan Hyo Rim segelas lagi yang baru diisi. Hyo Rim mengeluh, ia ingin pulang. Sangat ingin pulang, ia harus menyiapkan banyak hal untuk melarikan diri dari Si Won.

“Aku belum bisa pulang ya? Kapan aku boleh pulang?” Hyo Rim memberanikan diri bertanya kepada Bailey untuk kesekian kalinya.

“Belum boleh sekarang. Aku akan memperkenalkanmu kepada Adikku. Ah, itu dia!”

Hyo Rim menoleh kearah yang Sorn tunjuk. Ia terperangah lagi, ingin berontak. Lagi-lagi Si Won ada di hadapannya seolah-olah mereka berdua sangat berjodoh. Hyo Rim berusaha menolak ajakan Si Won dan mengatakan itu tidak perlu, ia harus melarikan diri sebelum Si Won melihatnya.

Tapi terlambat, Sorn memegangi tangannya dan Si Won sudah terlanjur melihatnya.

“Kenapa kau terlambat?” Sorn memukul lengan Si Won, orang yang di sebut-sebut sebagai adiknya.

Si Won melirik Hyo Rim sesaat. “Aku ada janji dengan seseorang tadi. Sayangnya dia tidak datang padahal aku sudah menunggunya.”

“Siapa perduli dengan itu. Ah, iya. Ini adalah asistenku Hyo Rim, dia juga dari Korea. Dan Hyo Rim, dia Si Won adikku yang bungsu!”

Hyo Rim menganggukkan wajahnya sopan meskipun begitu, ekspresi galaunya sama sekali tidak bisa di tutupi. “Senang bertemu dengan anda!”

“Aku juga, Nona! Kau sangat cantik dengan gaun itu!”

Hyo Rim benar-benar bingung dengan perasaannya saat ini, sedih, senang, malu bercampur menjadi satu. Ia berharap Si Won tidak memujinya dengan kata-kata seperti itu lagi. Tapi saat Si Won memandangi dirinya dari wajah sampai kekaki, lalu naik lagi dan berhenti di dada, wajah Hyo Rim memerah. Apa yang harus di lakukannya sekarang?

“Aku fikir warna-warna gelap membuat anda tampak cemerlang, Nona!” Si Won melanjutkannya lagi.

Hyo Rim mengangkat wajahnya, ia tidak suka di panggil Nona,

Hyo Rim merasa dikenali sebagai orang asing, orang asing yang dibohong oleh sebuah kata ‘pernikahan’. Ia harus mengatakan itu kepada Si Won.

Tapi disaat Hyo Rim ingin membuka mulut, hujan lebat mengguyur semua tamu secara tiba-tiba. Orang-orang berlarian mencari tempat berlindung. Hyo Rim tidak mengerti apa yang terjadi, yang pasti sekarang dirinya sudah berpisah dengan Sorn.

Tangannya dan tangan Si Won saling menggenggam dan mereka berlarian menuju entah kemana. Hyo Rim merasa kesulitan berlari dengan roknya yang sempit, Si Won sudah banyak melewati tempat-tempat dimana seharusnya mereka bisa berhenti.

Kita mau kemana? Bisik Hyo Rim dalam hati.

Ia tidak berani bertanya kepada Si Won, sama sekali tidak berani. Pada akhirnya ia dan Si Won berhenti di sebuah tempat yang…Hyo Rim bingung. Seperti sebuah gudang yang di penuhi dengan jerami?

Bunyi ringkikan kuda menyadarkan Hyo Rim kalau mereka sedang berada di dalam kandang kuda. Seekor kuda Persia berwarna hitam pekat terikat aman di dekat pintu sambil memandangi hujan dengan suara-suara khasnya.

Jika bukan karena kilat yang menyambar-nyambar Hyo Rim tidak yakin bisa melihat keadaan sekitarnya. Keadaan sebenarnya tidak begitu gelap. Ada sebuah Lampu petromaks mini dengan terang yang seadanya melingkupi mereka.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Si Won, ia tidak perlu berbicara keras, Hyo Rim bisa mendengarnya.

Hyo Rim mengangguk, “Aku beruntung memilih sepatu ini.”

“Ya, tentu. Aku tahu kau cerdas!” bisik Si Won sambil membuka jaketnya yang berwarna putih, sesaat kemudian jaket itu sudah melingkari bahu Hyo Rim sekedar untuk menjaganya agar tidak kedinginan.

Hyo Rim baru menyadari betapa dinginnya suasana kali ini. Gaunnya basah. Jaket Si Won juga basah dan tidak banyak membantu. Hyo Rim menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan mulai gemetaran.

Jaket Si Won yang tersampir di bahunya tiba-tiba saja melorot karena ia terlalu banyak bergerak. Hyo Rim berusaha memperbaikinya dan Si Won membantunya. Jantung Hyo Rim nyaris saja berhenti berdetak saat mereka saling bertatapan tanpa sengaja.

Kesadaran Hyo Rim tiba-tiba melayang, ia bahkan tidak bisa percaya saat Si Won sudah melingkarkan tangan di tubuhnya dan memeluknya erat. Hyo Rim juga tidak bisa pecaya bahwa saat ini Si Won menciumnya penuh gairah. Bibir laki-laki itu bergerak lembut di atas bibirnya, lalu lidahnya membuka mulut Hyo Rim secara paksa.

Kemudian ciuman itu semakin intens, penuh hasrat dan begitu menggoda. Tidak ingin lepas dan tidak mau berhenti sebelum keduanya merasa sesak, Hyo Rim tidak bisa bernafas dan mendorong Si Won kuat-kuat. Ia berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.

“Aku rasa sudah cukup!”

“Diamlah,” gumam Si Won “Aku sedang menghangatkanmu!”

Benarkah? Tapi mengapa begitu erotis? Begitu menggairahkan dan…Hyo Rim berhenti berfikir.

Si Won kembali mendaratkan ciumannya dengan gairah yang lebih dan lebih menggebu di bandingkan dengan sebelumnya.

 Ia menopang wajah Hyo Rim dengan sebelah tangan agar Hyo Rim tidak bisa menolak. Tangan yang sebelah lagi melingkar di pinggangnya agar Hyo Rim tidak bisa pergi. Hyo Rim benar-benar merasa hangat, tapi begitu mereka kembali berpisah rasa dingin itu segera mendaki kembali.

“Jangan pernah lari lagi. Apapun yang terjadi tetaplah bersamaku“ bisik Si Won.

Hyo Rim memeluknya, ia tidak ingin lari, sangat ingin bersama Si Won selamanya. Tapi Hyo Rim putus asa dengan cintanya dan Si Won, karena Si Won milik orang lain. “Bagaimana dengan istrimu? Aku tidak ingin merebut milik orang lain!”

“Bagaimana dengan Jae Joong? Mengapa kau tidak kembali bersamanya.”

“Halmeoni bilang dia berselingkuh dengan seorang wanita yang entah siapa, lalu untuk apa aku kembali padanya?”

“Wanita yang entah siapa itu adalah istriku.”

Hyo Rim melepaskan rangkulannya dan memandang wajah Si Won lebih dalam. Istrinya? Hyo Rim tidak pernah berfikir tentang itu sebelumnya.

“Lalu untuk apa aku kembali kepadanya?” Lanjut Si Won menirukan kata-kata Hyo Rim barusan. Ia meraih tubuh Hyo Rim lagi dan merangkulnya mesra. Perlahan tangannya membelai punggung Hyo Rim yang kedinginan.

“Aku menjebakmu untuk membalas dendam kepada Jae Joong yang meniduri istriku. Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya melihat wanita yang seharusnya bersamanya ada di dalam genggaman orang lain. Tapi aku yang terjebak, Aku terjebak perasaan, terhanyut dalam cinta dan perhatian yang seharusnya kudapatkan dari istriku.”

Si Won menghela nafas berat sebelum melanjutkan perkataannya lagi. “Sebelum aku berangkat ke Seoul, Soo Jung mengatakan padaku kalau sebaiknya kami berpisah. Setahun berumah tangga tanpa cinta bagaikan neraka. Bahkan mungkin lebih kejam. Sebenarnya bukan masalah, rumah tangga kita dulunya juga tanpa cinta, kan? Tapi kita bisa mengatasinya. Masalahnya adalah kebencian dan aku tidak bisa hidup dengan wanita yang ku benci.”

“Bagaimana dengan anak yang ada di kandungannya?”

“Aku percaya dalam waktu dekat anak itu akan bahagia dalam pangkuan ayah kandungnya!”

“Maksudmu Jae Joong?”

Dagu Si Won bergesekan dengan kening Hyo Rim, ia mengangguk. Siapa lagi? Jae Joong adalah ayah kandung Myung Soo. Si Won tidak pernah tidur dengan Soo Jung kecuali pada malam pertama pernikahan mereka.

“Hyo Rim, kau tidak akan pergi lagi, kan? Jadilah istriku selamanya.”

“Baiklah.”

“Aku tidak dengar,”

“Aku sudah mengatakannya tadi,”

“Apa kau berani bersumpah?”

“Kau terlalu menekanku.” Hyo Rim menengadah memandangi wajah Si Won yang menatapnya penuh harap. Seulas senyum bahagia hadir di wajah Hyo Rim. “Baiklah, aku bersumpah.”

Dan Hyo Rim mendapatkan ciuman lagi yang melebihi ciuman-ciuman sebelumnya, ia menahannya untuk beberapa lama sebelum akhirnya menolak untuk melakukannya lebih lama dari yang sebelumnya.

“Ciuman itu..”

“Itu sebagai ucapan terima kasih!”

Hyo Rim memandang Si Won kesal. “Lain kali katakan saja secara langsung. Kau tidak perlu menghabiskan waktu selama itu untuk berterima kasih.”

“Aku mengerti, Choi Si Won.”

.

.

.

FIN

WHOAAAAA. Syukurlaaah endingggggggg

 

 

Iklan

3 pemikiran pada “Make Me Confused – Part 6 END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s