Make Me Confused – Part 5

 

makemeconfused

4th – Shocking News

.

You can’t do it? Okay. I did it for you. Just for you..“ – Think and Take

.

Hyo Rim masih menenggelamkan wajahnya kebantal. Kedua tangannya menutup telinga dan berusaha untuk tidak perduli pada panggilan Si Won di luar sana. Semalam dirinya tidur di kamar ini dan meninggalkan Si Won di kamarnya sendirian.

Si Won selalu bertanya apakah semua itu terjadi karena Joon Myeon atau dirinya, apakah Hyo Rim marah hanya karena dasi, dan Hyo Rim tidak mau mendengar kata-kata Si Won yang lainnya, Ia selalu menolak setiap kali Si Won berusaha memberi penjelasan. Bukan karena Hyo Rim tidak bisa memaafkan Si Won.

Hyo Rim tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Si Won sekarang pasti sedang mempermasalahkan semua barang- barang yang pernah Hyo Rim beli dengan uangnya. Hyo Rim menggantinya, meletakkan sejumlah uang di atas ranjang mereka bersama surat yang memberi tahukan kalau semua itu untuk mengganti apapun yang Hyo Rim habiskan selama ini, begitu terperinci.

Hyo Rim tidak membawa barang apa-apa dari kamarnya, hanya beberapa lembar pakaian lama untuk bekalnya disini. Dirinya sama sekali tidak ingin menggunakan barang- barang yang di beli dengan uang Si Won lagi.

Si Won sangat bertenaga untuk orang yang baru saja pulang kerja. Ia menggedor-gedor pintu kamar tamu yang di tempati Hyo Rim sekarang sambil berteriak-teriak memanggil-manggil Hyo Rim, tidak akan lama.

Selama ini Si Won hanya bisa bertahan beberapa menit. Tapi Hyo Rim sudah tidak tahan mendengar suara Si Won, ia ingin pergi menjauh dari rumah. Hyo Rim berusaha mengambil dompetnya dan menyelipkannya di saku celana jeansnya lalu membuka Pintu. Choi Si Won terdiam saat melihat Hyo Rim berhadapan dengannya.

“Aku mau bicara.”

“Aku mau pergi dulu.” Hyo Rim hanya menjawab dengan itu.

Ia sangat berharap Si Won menarik lengannya dan tidak membiarkannya pergi, tapi Si Won tidak melakukannya. Si Won tidak seperti laki-laki di film-film yang berusaha mengejar cintanya. Ini semua karena Si Won belum benar-benar mencintai Hyo Rim.

Si Won selalu mempersalahkan Jae Joong dan melupakan kesalahannya sendiri. Dia tidak suka melihat Hyo Rim berdekatan dengan Jae Joong sedangkan Si Won sudah beristri. Hyo Rim ingin marah, ingin berteriak, tapi akhirnya yang bisa keluar dari bibirnya hanya isakan. Ia akan kehilangan Si Won, Hyo Rim akan membiarkan Si Won kembali kepada istrinya..

Langkah demi langkah Hyo Rim lalui tanpa tujuan yang jelas. Pada akhirnya Hyo Rim terperangah karena ia berada tepat di depan toko buku baru Jae Joong dan terpaku melihat Jae Joong yang berdiri memandangnya dengan tatapan heran di balik dinding kaca. Hyo Rim mendekat perlahan-lahan, seharusnya ia tidak meninggalkan Jae Joong, seharusnya ia memilih Jae Joong dan tetap setia kepadanya apapun yang terjadi

“Kau ada masalah dengan suamimu?!” Jae Joong berbisik.

Hyo Rim mengangguk, entah mengapa air matanya tumpah begitu saja.

Jae Joong tau kalau Hyo Rim sedang bermasalah dengan Si Won? Jadi firasatnya benar dengan membawanya kepada Jae Joong. Hyo Rim selalu menemui Jae Joong setiap kali ada masalah karena hanya Jae Joong tempat ternyaman untuk berbagi.

“Kalau begitu masuklah. Kita bicarakan didalam.” Hyo Rim mengangguk lagi.

Langkah demi langkahnya berjalan pelan mengikuti Jae Joong menuju lantai dua toko buku-nya. Ada sebuah ruangan disana, seperti sebuah Apartemen yang lengkap dengan ruang tengah, ruang makan, kamar mandi dan kamar tidur. Disini Jae Joong tinggal.

Hyo Rim duduk di sofa ruang tengah setelah Jae Joong menyalakan televisi, acara komedi disana tidak cukup untuk membuat Hyo Rim tertawa dan melupakan masalahnya, ia malah semakin sedih karena merasa aneh. Hyo Rim tau kalau acaranya sangat lucu dan menyenangkan, ia ingin tertawa tapi tidak bisa tertawa.

Jae Joong datang kembali dan duduk di sampingnya lalu memberikan segelas teh hangat kepada Hyo Rim. Hyo Rim berusaha menghadirkan sebuah senyum dan menerimanya. Ia meminum tehnya seteguk dan meletakkannya di atas meja. Jae Joong mengecilkan Volume televisi dengan remote lalu memandang Hyo Rim dengan serius.

“Kalian bertengkar karena apa?”

“Kami tidak bertengkar. Aku yang menghindar, aku menyesal menikah dengannya dan meninggalkanmu.”

“Aku senang mendengarmu mengatakan itu.” Hyo Rim mematung, Jae Joong senang dengan itu? Masih memiliki perasaan itu? Hyo Rim merasa semakin merasa bersalah.

Choi Si Won sudah membuat Hyo Rim yang polos menjadi wanita paling jahat di dunia,

Choi Si Won sudah membuat Hyo Rim berubah, sangat berubah dan anehnya Hyo Rim menikmatinya.

Choi Si Won, laki-laki itu…,

Hyo Rim menunduk, sebulir air mata jatuh di pipinya. Jae Joong menyeka airmata di pipi Hyo Rim dengan lambut lalu mereka bertatapan. Hyo Rim tidak pernah seperti ini bersama Jae Joong. Tidak pernah dalam suasana yang romantis seperti sekarang, tidak pernah sekalipun setelah menjalin hubungan serius selama setahun.

Selang beberapa menit Jae Joong mencium bibirnya. Hyo Rim tidak membalas tapi Jae Joong terus nekat. Pada akhirnya Hyo Rim membalasnya. Bukan salahnya, kan?

Dia sedang membutuhkan itu sekarang. Hyo Rim menikmatinya beberapa lama, tangan Jae Joong mulai meraba tubuhnya dan saat itu Hyo Rim tersentak.

“Jangan, Jae Joong! Jangan…”

“Maaf!” Jae Joong melepaskan pelukannya dan Hyo Rim segera menjauh darinya. “Aku terbawa suasana, maafkan aku.”

Kali ini Hyo Rim menangis. Benar-benar menangis dan hanya terpaku di sudut sofa. Ia tidak mau mendengar apa-apa, hanya ingin melampiaskan semua perasaannya dan berharap tuntas saat itu juga.

Jae Joong sepertinya mengerti dan diam untuk beberapa lama. Hyo Rim pada akhirnya tertidur karena meras lelah. Men angisi sesuatu yang tidak jelas membuat kelelahannya berlipat-lipat.

=Make Me Confused=

Hyo Rim terbangun setelah matahari yang menelisip melalui kisi-kisi jendela menyilaukan matanya. Wajahnya terasa panas karena cahaya alami siang. Ia membuka mata dan segera meraba tubuhnya. Pakaiannya masih lengkap. Ia dan Jae Joong tidak melakukan apa-apa seperti yang di khawatirkannya. Hyo Rim memandang berkeliling, Jae Joong tidak ada disana, bahkan ranjangnya sudah rapi dan bersih seperti tidak pernah tersentuh.

Hyo Rim bangkit dari sofa dan memandangi Jam di dinding. Sudah hampir siang, Jae Joong pasti sudah sibuk di cafenya. Sekarang sudah saatnya Hyo Rim pulang, jika tidak Halmeoni pasti merasa khawatir, Si Won pasti merasa khawatir. Entah mengapa ia memikirkan Si Won lagi, mungkin Hyo Rim akan kembali kepada Si Won, akan kembali membina semuanya.

Langkah demi langkah yang sangat perlahan Hyo Rim tapaki menuruni tangga dan melihat keadaan café yang sudah lumayan ramai. Jae Joong menarik tangannya dan Hyo Rim menolak. Hal itu membuat Jae Joong berhenti bergerak dan memandangnya.

“Sarapan dulu!” Suara Jae Joong tersengar sangat lembut, sama seperti kata maafnya semalam.

Hyo Rim menggeleng. “Aku harus pulang.”

“Kalau begitu ku antar.”

“Jae Joong!” Hyo Rim berkata tegas dalam suara pelan, ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar perkataan mereka.

“Ini akan jadi terakhir kalinya aku menemuimu.”

“Kenapa? Karena tadi malam? Aku sudah minta maaf,kan? Aku tidak pernah melakukannya selama ini dan tadi malam benar-benar di luar kendali. Hyo Rim, aku mencinta…”

“Ya, aku tau kau mencintaiku.!” Hyo Rim memotong.

Tapi ia tidak akan pernah lagi berkata kalau dirinya mencintai Jae Joong, Hyo Rim tidak merasakan cinta kepada Jae Joong lagi, sudah lama. Dan Jae Joong tidak akan menuntut Hyo Rim mengatakan kalau Hyo Rim mencintainya juga.

“Apa yang bisa ku berikan kepadamu? Apa yang seharusnya ku berikan untukmu sudah ku serahkan kepada orang lain.”

“Hyo Rim, kau…”

“Aku mencintai suamiku, Jae Joong. Dan aku sudah memastikan untuk menunggunya kembali dengan setia meskipun dia sedang tidak setia. Seharusnya aku tidak mengatakan kalimat itu, tidak pantas untukku! Aku yang sudah membuatnya menjadi orang yang tidak setia.”

Jae Joong mengangguk mengerti. “Kalau begitu kau boleh datang lagi jika ada masalah.”

“Tidak akan pernah.” Desis Hyo Rim. “Selamat tinggal.”

Dan Hyo Rim berusaha pergi secepat mungkin, kembali kerumahnya dengan segera. Tapi apa yang di dapatnya begitu keluar dari toko buku?

Sebuah tamparan mendarat di wajahnya membuat Hyo Rim terpaku.

Choi Si Won menamparnya di depan orang banyak? Mungkin orang-orang di dari toko buku keluar dan melihat kejadian ini. Mengapa ini harus terjadi di saat Hyo Rim berfikir untuk memperbaiki semuanya?

“Kau! Pantas untuk mendapatkan itu!” Si Won berbisik. “Kau disini semalaman? Aku menunggumu kembali kepadaku. Apa yang kau lakukan disana? Tidur dengannya? Kau masih mengatakan kalau kau adalah seorang istri? Masih merasa berhak untuk marah karena Soo Jung? Kita sama saja Hyo Rim! Sama!”

Hyo Rim meledak lagi. Tangisnya kembali hadir dan dirinya benar- benar kesulitan menenangkan diri. Pada akhirnya Hyo Rim bisa menahan getaran suaranya dan memandang mata Si Won dalam-dalam.

“Aku berkhianat semalam. Jadi kembalilah kepada Istrimu, aku tidak seperti dia. Aku tidak bisa menunggumu yang tidak setia!”

Si Won mengertakkan giginya geram. Hyo Rim pergi menggalkannya.

Hyo Rim mengakuinya. Dia berkhianat semalam, itu katanya. Mata Si Won beralih kepada Jae Joong yang berdiri di depan toko buku dan memandanginya.

Sebuah pukulan penuh emosi melayang, sekali, dua kali, bertubi-tubi dan Jae Joong tidak melawan. Semua orang berusaha melerai dan Si Won masih berupaya untuk menyerang. Pada akhirnya lima orang yang memeganginya bisa membuatnya meras lebih tenang. Tapi Si Won masih menunjukkan emosinya dengan kata-kata.

“Aku tidak suka melihatmu mendekati istriku.” Teriaknya. “Aku tidak membunuhmu waktu itu, tapi aku akan membunuhmu sekarang!”

“Aku tau kau membenciku. Tapi tamparan itu tidak pantas untuk Hyo Rim. Kau tida pernah menampar Soo Jung setiap kali memergokinya bercinta denganku. Lalu kenapa tamparan itu kau berikan kepada Hyo Rim yang tidak melakukan apa-apa?”

Si Won terpaku.

Hyo Rim tidak melakukan apa-apa. Kata-kata itu terus menggema di kepalanya.

=Make Me Confused=

Hyo Rim tidak keluar kamar, tidak berbicara, dan terus menghindar setiap kali Si Won berusaha membuka mulut. Si Won ingin meminta maaf tapi Hyo Rim tidak pernah memberikannya kesempatan. Setiap kali Hyo Rim bersama Halmeoni adalah kesempatannya. Tapi Begitu melihat Si Won, Hyo Rim langsung beranjak pergi kembali ke kamarnya.

Si Won merasa semakin bersalah, terlebih saat melihat perban yang menutupi bekas tamparannya. Hyo Rim menutupinya dari Halmeoni, Hyo Rim sedang berusaha menjaga perasaan wanita itu dan Si Won tidak bisa menghancurkannya begitu saja.

Kali ini Si Won berusaha mendekati Hyo Rim di meja makan, dia sedang makan siang dengan tidak berselera. Jika bukan karena Halmeoni mungkin Hyo Rim tidak akan pernah menyentuh makanan sama sekali.

“Hyo Rim,” Si Won berujar Pelan. Hyo Rim memandangnya dan hampir berdiri pergi. Tapi Si Won berusaha menahannya dengan kata-kata. “Aku akan keluar kota sore ini!”

Hanya sesaat, begitu kata-kata Si Won selesai di ucapkan, Hyo Rim kembali menjauh. Si Won menghela nafas berat dan memandang Halmeoni yang memperhatikan mereka. Halmeoni pasti merasa heran dengan kelakuan mereka beberapa hari ini.

“Kalian bertengkar lagi?”

Si Won mengangguk.

“Ya, masalah di antara kalian, aku tidak akan ikut campur. Tapi tepatilah janjimu untuk tidak menyakitinya. Sekarang susullah dia, Hyo Rim perlu di bujuk. Dia anak pertama jadi sedikit labil dan keras kepala!” Kata-kata Halmeoni menghadirkan kembali semangat Si Won.

Setelah mengucapkan kata permisi Si Won menyusul Hyo Rim kekamar tamu dimana Hyo Rim bersembunyi selama ini, tapi Hyo Rim tidak ada disana, pintu terbuka begitu saja. Hyo Rim pergi lagi? Si Won merasa kalau kaki- kakinya melemah. Hyo Rim sudah marah kepadanya karena Soo Jung dan Si Won menambahnya dengan tamparan itu. Dia maklum jika Hyo Rim tidak bisa memaafkannya begitu saja.

Si Won kembali kekamarnya, ia harus berangkat sore ini juga dan mungkin baru akan kembali besok. Hari tanpa Hyo Rim bertambah, Si Won hampir merasa kalau dirinya akan mati karena ini. Begitu membuka pintu kamar, Si Won hampir terlonjak senang. Hyo Rim ada disana, sedang menyiapkan pakainnya dan melipatnya rapi. Hyo Rim sedang menyiapkan keperluannya untuk berangkat keluar kota, dari mulai sabun mandi, sikat gigi, parfum, jam tangan, ikat pinggang, bahkan dasi merah hati.

Si Won terbelalak. Hyo Rim menyiapkan dasi pemberian Soo Jung bersama pakaiannya? Hyo Rim ingin mengusirnya? Si Won mendekat secepat yang dia bisa lalu mengambil dasi itu dan membuangnya ke tempat sampah.

“Aku tidak mau memakai ini!”

Hyo Rim diam, tidak memandangnya, dengan cekatan ia memasukkan barang-barang milik Si Won kedalam tas. Si Won berusaha membantu tapi Hyo Rim selalu menepis tangannya. Saat Si Won mengambil dasi pemberian Hyo Rim di dalam lemari dan memasukkannya kedalam tas, Hyo Rim bertindak seolah-olah dia tidak perduli. Hyo Rim sudah mulai melunak, tapi dia masih membuat Si Won putus asa.

“Masih marah?” Tanya Si Won.

“Masih!” Wajah Hyo Rim masih tidak memandangnya.

Hyo Rim masuk ke kamar mandi dan keluar membawa handuk baru. “Jangan pakai handuk Hotel. Pakai ini saja!”

“Aku akan kerumah ibuku. Ada acara keluarga. Seharusnya aku mengajakmu…”

“Ajak istrimu saja!” Potong Hyo Rim masih dengan suara datarnya.

“Sampai kapan akan begini? Kau juga Istriku!”

“Aku yang kedua, aku tidak bisa menuntut banyak. Setelah ini kembalilah kerumahmu sehari atau dua hari. Dia sedang hamil besar dan pasti sangat membutuhkanmu!”

Hyo Rim menyelesaikan semua pekerjaannya dan berjalan ke pintu, tapi sebelum membuka pintu ia berhenti dan mengatakan sesuatu. “Kau perlu bekal? Atau makan di jalan saja?”

Si Won terpaku sejenak lalu tersenyum. “Kau akan menyiapkan bekal untukku?”

Hyo Rim tidak menjawab. Ia berjalan kedapur dan Si Won mengikutinya. Wanita itu sibuk membuatkan sesuatu, sejam kemudian sekotak sandwich sudah rapi di bungkus dengan serbet berwarna biru saphire.

Hyo Rim memberikannya kepada Si Won dan mengusahakan sebuah senyum, sangat berat. Si Won tau itu sangat sulit bagi Hyo Rim, dia sedang tidak ingin tersenyum.

“I’ll wait, Choi.”

=Make Me Confused=

Hyo Rim terbangun dan bernafas dengan berat. Ia tertidur pagi ini karena sisa kelelahannya saat menangis di rumah Jae Joong. Saat berusaha bangun, Hyo Rim merasakan lemas yang luar biasa menyerangnya. Ia mengurungkan niatnya untuk bangun dan kembali berbaring dengan tenang, tubuhnya terasa sangat dingin tapi dirinya banyak berkeringat.

Hyo Rim memandang ke meja yang berada di sebelah tempat tidur dan menemukan baskom plastik putih dengan handuk yang sebagiannya keluar dari dalam mangkuk. Apa yang terjadi?

Hyo Rim menyentuh kepalanya yang pusing dan terkejut saat mendengar deritan pintu. Halmeoni masuk dan mendekati Hyo Rim sambil kembali menyelimutinya. Selang beberapa saat kemudian Halmeoni menyentuh kening Hyo Rim.

“Kau sudah mulai membaik. Panas tubuhmu sudah normal.” Ujar Halmeoni penuh kasih.

Hyo Rim memandang Halmeoni secara bergantian. “Aku sakit?”

“Aku menemukanmu pingsan di dalam kamar mandi. Kau kelelahan, Sayang. Tepat saat itu aku sedang membereskan kamar sebelah, jadi aku bisa mendengar bunyi sesuatu jatuh, keras sekali dan setelah ku lihat-lihat ternyata dirimu yang jatuh. Kepalamu sampai terluka.”

Tangan Hyo Rim spontan terangkat berusaha menyentuh kepalanya dan ia mendapati plaster di dahinya. Hyo Rim kembali menurunkan tangannya dan memandangi jam dinding yang berada di atas rak buku di dekat pintu. Jam sepuluh malam.

Ia berusaha mengingat-ingat, Hyo Rim bahkan tidak bisa mengenang kalau dirinya bangun dari tempat tidur dan jatuh di kamar mandi. Kepalanya sangat pusing dan itu cukup untuk membuatnya tidak bisa berfikir apa-apa.

“Halmeoni tidak memberi tahu Si Won, kan?”

“Tentu saja…” kata-kata Halmeoni terpotong oleh bunyi derap langkah yang berhenti di pintu.

Choi Si Won ada disana sambil membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur untuk Hyo Rim. Halmeoni menghela nafas untuk kembali melanjutkan ucapannya.

“Tentu saja aku memberi tahunya.Aku tau kalau kalian sedang punya masalah tapi kalau sampai begini mana mungkin tidak di beri tahu. Sekarang istirahatlah.” Halmeoni berusaha tersenyum lalu keluar kamar meninggalkan Hyo Rim dan Si Won yang masih berdiri di dekat pintu.

Si Won masih ragu untuk mendekat, ia hanya bisa memandangi Hyo Rim yang berusaha untuk tidak memandangnya. Mungkin Si Won akan segera meninggalkannya untuk sementara waktu, mungkin Hyo Rim masih tidak mau berada di dekatnya. Si Won mendekat dan meletakkan bubur di atas meja lalu tersenyum kepada Hyo Rim.

“Makanlah, kau belum makan apa-apa hari ini. aku tidak akan mengganggumu.” Si Won berdiam sejenak, berharap Hyo Rim menahannya.

Tapi ternyata tidak. Hyo Rim hanya diam dan tidak berbicara sepatah katapun.

Putus asa, itu yang Si Won rasakan sekarang. Pagi ini, ia memutuskan untuk segera pulang karena mendapat telpon tentang Hyo Rim yang jatuh dari kamar mandi. Seharian ini Si Won menjaga Hyo Rim berharap saat Hyo Rim bangun dirinya ada disampingnya. Sayangnya Hyo Rim sadar tanpa dirinya karena Si Won sedang menerima telpon penting. Choi Si Won memutuskan untuk berbalik dan pergi.

“Kau tidak ingin menyuapiku? Aku tidak bisa makan sendiri.” Hyo Rim akhirnya bersuara.

Si Won berbalik lagi dan memandang Hyo Rim lekat-lekat. Sebuah senyum lemah hadir di wajah Hyo Rim meskipun hanya sebentar.

“Atau paling tidak, bantulah aku duduk dulu!”

“Aku fikir kau masih marah padaku!” Si Won mendekat dan membantu Hyo Rim duduk lalu memangku nampan yang berisi mangkuk bubur.

Menyuapi Hyo Rim secara perlahan-lahan juga mampu meruntuhkan perasaan kaku di antara mereka. Meskipun tidak banyak bicara lagi Hyo Rim sudah bisa tersenyum kepadanya, dan senyuman itu berhasil membuat Si Won merasa lega.

“Sudah, perutku sudah penuh.” Hyo Rim berkata pelan dengan suaranya yang tidak bertenaga saat Si Won menyodorkan sesendok bubur untuknya.

Si Won mengembalikan sendok kedalam mangkuk dan meletakkan nampan di atas sofa De Blues kesayangan Hyo Rim lalu kembali duduk di dekat Hyo Rim. Cukup lama Si Won memandangi Hyo Rim dengan senyum sampai Hyo Rim mendorong pipinya sehingga Si Won menoleh kearah lain.

“Aku tidak suka di pandangi seperti itu.”

“Aku hanya merindukanmu. Kau marah padaku beberapa hari belakangan ini, itu membuatku frustasi!”

“Kau langsung pulang dari rumah ibumu?”

Si Won mengangguk. “Kau baik-baik saja, kan? Wajahmu tidak dalam keadaan baik-sekali-, sudah punya luka memar, masih bisa-bisanya berfikir untuk jatuh di kamar mandi.”

“Aku hanya sedikit shock dan kelelahan. Kau sangat penuh misteri Sajangnim. Aku tidak pernah bertanya siapa dirimu, tidak tau siapa keluargamu dan juga tidak tau kalau dirimu sudah beristri. Kalau aku sampai merebutmu dari istrimu berarti aku perempuan yang jahat. Makanya aku sempat berfikir…”

“Hyo Rim…”Si Won berujar sambil menutup mulut Hyo Rim dengan telapak tangannya.

Setelah Hyo Rim bungkam, Si Won menurunkan tangannya dan beralih memandang Hyo Rim dengan serius.

“Berhentilah mengatakan kalau dirimu adalah orang jahat. Satu-satunya yang jahat disini adalah aku. Kau tidak pernah merebutku dari Soo Jung.”

“Jangan katakan kalau kau yang mengejarku!”

Si Won tersenyum sejenak. “Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu.”

Hyo Rim memandang Si Won heran. Ekspresi Si Won yang sangat serius membuatnya merasa kalau sesuatu yang akan di sampaikan Si Won bisa jadi melukainya. Ada apa? Apakah Si Won sudah memutuskan untuk meninggalkan Hyo Rim dan kembali ke istrinya? Hyo Rim belum siap dengan ini.

“Hyo Rim,” Si Won menyebut namanya Lagi, membuat Hyo Rim semakin ketakutan.

”Kita sama sekali belum menikah. Aku bukan suamimu seperti yang kau duga selama ini, Semuanya rencanaku dan Halmeoni. Aku minta maaf kepadamu! Maaf atas perlakuanku padamu selama ini.”

Hyo Rim terpaku. Dia belum menikah sama sekali?

Astaga.

“Jangan bercanda,”

“Apa sekarang aku terlihat begitu?” jawab Si Won cepat

“Apa maksudmu?”

Si Won tidak menjawab pertanyaannya barusan. Nafas Hyo Rim mendadak sesak, ia memandangi Si Won lebih dalam berharap kalau semuanya adalah bohong. Tapi kelihatannya Si Won serius tentang apa yang di katakannya.

Si Won bukan suaminya? Berarti Hyo Rim tidak punya hak apa-apa terhadap Si Won? Hatinya sedih, sangat. Kemungkinannya untuk kehilangan Si Won lebih besar sekarang.

Sebulir air mata menetes lagi, Hyo Rim memukul dada Si Won dengan tenaga yang seadanya.

“Jadi apa yang kau maksud dengan semua ini? Jadi semua yang kau katakan itu bohong? Aku menyerahkan diriku kepadamu dan sekarang kau mengatakan kalau kita tidak punya hubungan apa-apa.”

“Aku tidak punya pilihan lain, semua ini cepat atau lambat akan terbongkar dan…” Kali ini Si Won yang terpaku, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Hyo Rim menekap telinganya.

Hyo Rim tidak ingin mendengar apa-apa. Tapi Si Won belum mengatakan semuanya. Semua rahasia ini.

Si Won berusaha membebaskan telinga Hyo Rim dari kungkungan telapak tangannya, meskipun pada awalnya menolak, Hyo Rim tetap membiarkan Si Won menarik tangannya dan sebagai gantinya Hyo Rim tidak ingin membuka mata. Airmatanya masih mengalir dengan sangat lancar dan tanpa henti. Dia terus menangis belakangan ini dan pasti sangat lelah.

Tapi bila hanya tangisan yang bisa membuat Hyo Rim lega Si Won tidak bisa berbuat apa-apa.

“Aku mengerti kalau kau menganggap aku jahat. Aku memang jahat, menikah denganmu karena tujuan buruk. Kau boleh melakukan apa saja padaku. Kalau kau mau mengusirku juga akan aku terima. Tapi dengarkan dulu penjelasanku.”

Hyo Rim membuka matanya perlahan. “Jadi aku benar-benar bukan siapa-siapa? Aku harusnya tau ini, harusnya aku tidak meninggalkan Jae Joong dan menikah denganmu. Tidak. Aku tidak menikah denganmu, berarti tidak juga meninggalkan Jae Joong kan? Jae Joong bilang kalau kau datang kepadanya dan mengatakan bahwa Jung Hyo Rim sudah menikah dengan Choi Si Won. Dia percaya. Kalian jahat! Halmeoni kenapa bisa melakukan ini? Kau jahat !”

“Jangan salahkan Halmeoni, dia bahkan tidak tau kalau aku sudah menikah. Dia benar-benar menginginkan rumah tangga kita ini nyata.”

“Bagaimana denganmu? Kau juga merasakan hal yang sama? Kau Bahkan tidak bisa mengatakan kalau dirimu mencintaiku dengan yakin. Padahal…” Hyo Rim berhenti berkata-kata, isakannya mulai intents dan Hyo Rim mulai kesulitan berbicara.

“Berhentilah menangis, kau sudah menangis terus selama beberapa hari ini.”

“Aku tidak tau lagi harus berbuat apa…Bagaimana ini? Sepertinya aku sudah sangat mencintaimu, tapi kejadiannya malah seperti ini… bagaimana ini…?”

Jantung Si Won berdegup. Untuk pertama kalinya Hyo Rim mengatakan kalau dirinya mencintai Si Won dan kali ini Si Won tidak akan ragu dan terdiam seperti dulu, dia akan mengatakannya dengan yakin.

“Sepertinya aku juga terlanjur mencintaimu.”

Bahu Hyo Rim berguncang, tapi tangisannnya tidak sekencang semula. Perlahan-lahan suara tangis yang keluar dari mulutnya menghalus. Hyo Rim memandang Si Won galau. Tapi Si Won tidak ingin membuat Hyo Rim galau, hubungan tidak normal ini akan di ubah menjadi normal.

Rumah tangga yang tidak nyata akan segera menjadi nyata. Apa yang harus Si Won lakukan? Mengikuti kata hatinya?

Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Hyo Rim dan berubah menjadi panas saat Hyo Rim menolak untuk melepaskannya. Gadis itu menangis lagi.

Si Won bisa merasakan tubuhnya yang bergetar hebat. Tapi di saat Si Won ingin melepaskan cumbuannya Hyo Rim masih menolak, tidak ingin lepas. Ciuman itu semakin panas dan pada Akhirnya Si Won juga menginginkan Hal yang sama dengan Hyo Rim, dia tidak ingin lepas, Jung Hyo Rim tidak boleh lepasa dari dirinya.

“Cukup, Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang lebih besar lagi.” Desis Si Won setelah berhasil menolak hasratnya dan melepaskan dari Hyo Rim.

Sangat berat baginya karena Si Won merindukan Hyo Rim dengan teramat sangat setelah semua pertengkaran ini. Ia ingin melakukan yang lebih dari sekedar berciuman, tapi bagaimana bisa jika Hyo Rim bertindak seolah-olah dirinya sedang menyiksa diri dengan hal ini.

“Kau tidurlah, aku akan tidur di kamar tamu saja.” Si Won lagi-lagi mengusahakan sebuah senyum sebelum ia beranjak pergi.

“Tetap disini!” Suara Hyo Rim yang parau terdengar sangat melegakan hati Si Won. Hyo Rim memintanya untuk tinggal. “Biarkan aku menjadi istrimu lagi malam ini!”

Si Won kembali duduk dan memandangi Hyo Rim yang menghapus airmatanya, dia kelihaan lebih kuat. Saat tangan-tangannya berusaha membuka pakaiannya, Hyo Rim berhasil membuat Si Won menahan nafas.

Tapi Si Won tidak bisa menolak karena ia juga sangat menginginkannya, sangat merindukannya. Sebisa mungkin Si Won membantu Hyo Rim saat ia kesulitan hingga akhirnya Hyo Rim kini di hadapannya tanpa pakaian sama sekali. Si Won hanya memandangi beberapa saat, ia mengagumi Hyo Rim. Baginya Jung Hyo Rim sudah sangat sempurna dan tidak perlu polesan apa-apa lagi untuk membuatnya menggoda, seperti yang pernah Si Won katakan sebelumnya.

Ia tergoda dengan tubuh Hyo Rim sejak pertama kali melihatnya, sejak tanpa sengaja di pagi itu selimut Hyo Rim tersingkap dan Si Won menjadi kehausan. Sekarang bukan hanya tubuh, jiwa raganya juga merasakan hal yang sama.

Hyo Rim mengggenggam tangannya, meletakkannya di dada sejajar dengan jantungnya sehingga Si Won bisa merasakan betapa Jantungnya bergerak dalam ritme luar biasa seakan-akan bisa berhenti kapan saja. Ia menanti dalam ketegangan yang sama.

Si Won mencumbunya lembut, ia sedang melarung dahaga dengan itu, sayangnya sebuah ciuman di bibir belum cukup. Si Won menelusuri semuanya, menjelajahi segalanya, kening, kelopak mata, hidung, sehingga ia kembali ke bibir dan masyuk disana untuk beberapa lama.

Sayangnya itu juga belum cukup. Semakin ia berusaha melepas dahaga maka Si Won semakin merasa kehausan. Ia ingin menyentuh Hyo Rim tanpa satu jengkalpun yang terlewatkan. Dan dengan ciumannya Si Won berhasil membuat Hyo Rim hampir menanjak ke titik pemuasannya.

Tidak bisa. Si Won tidak akan membiarkan Hyo Rim Klimaks tanpa dirinya, ia ingin merasakannya bersama untuk kali ini dan lebih lama.

Mesra dan manis, itu yang Hyo Rim rasakan. Kali ini Si Won sepertinya tidak cukup bernafsu untuk menggebu-gebu dan terburu-buru. Si Won melakukannya dengan sangat perlahan dan mesra, berkali-kali ia menghujani wajah Hyo Rim dengan ciuman dan ia berusaha keras untuk membalasnya dengan yang lebih dan lebih. Perasaannya saat ini benar- benar hanya tertuju pada Si Won dan ingin memiliki Si Won selamanya.

“Bisa kau lakukan lagi?” Ucapan Hyo Rim yang di lontarkan dengan nada suara ragu itu benar- benar bergema dalam kali yang tidak terhingga.

Hyo Rim sepertinya tidak ingin berhenti dan Si Won juga sama. Tidak bisa berhenti hingga pada akhirnya alasan untuk berhenti itu hadir setelah tubuh Hyo Rim mengejang untuk kesekian kalinya, Si Won berusaha untuk lebih intens dan segera meninggalkan ketertinggalannya. Ia berhasil membuat Hyo Rim tidak bisa menahan erangannya selama beberapa menit.

Pada akhirnya mereka masih tidak ingin terlerai, Hyo Rim memejamkan matanya saat kening Si Won bertemu dengan keningnya. Ia sudah tidak bisa bergerak lagi dan hampir mati karena ini.

“Bisa kau lakukan lagi?” Hyo Rim berbisik dengan sangat perlahan.

Si Won terbelalak, Lagi? Hyo Rim sudah sagat kelelahan dan Si Won sangat tau itu. Seandainya bisa ia ingin melakukannya lagi tapi bagaimana dengan Hyo Rim? Dia bahkan sudak tidak memiliki tenanga untuk menggerakkan tangannya

“Aku tidak bisa, Aku sangat lelah, Sayang!” Si Won memeluk Hyo Rim erat, semuanya mulai meregang hanya tersisa desahan nafas yang masih berusaha untuk menenangkan diri.

“Sejujurnya aku juga sangat lelah.” Bisik Hyo Rim lagi. “Tapi kau pernah bilang kalau aku ingin hamil dan sekarang aku baru tau itu bohong. Aku benar-benar menginginkannya sekarang, ingin bisa mengandung anakmu seperti wanita itu, ingin jadi milikmu dan satu- satunya…”

“Hentikan. Jangan mengungkit tentang itu lagi disaat seperti ini! Aku juga menginginkan apapun yang kau inginkan.”

“Jadi usahaku malam ini berhasil?”

Kedua belah alis Si Won menyatu. “Apa yang kau bicarakan?”

“Aku sedang menggodamu. Bukankah seorang suami akan meninggalkan istrinya karena tergoda oleh perempuan lain? Malam ini apakah aku sudah cukup gila? Cukup untuk membuatmu meninggalkan istrimu dan datang kepadaku?”

Si Won tersenyum, lalu mencium bibir Hyo Rim sekali lagi. “Aku akan melakukannya jika kau menginginkannya!”

“Kalau begitu tetaplah memelukku, aku sudah tidak bisa bertahan lagi dan sangat ingin istirahat, aku lelah sekali. Tapi kalau aku tidur, malam ini akan terlewati begitu saja.”

“Kita bisa melakukannya lain kali. Tidurlah. Kau sudah berusaha dengan sangat keras.”

Hyo Rim mengangguk perlahan saat Si Won membelai kepalanya. Dia sangat lelah, teramat sangat. Bukan hanya karena usaha kerasnya untuk bercinta malam ini. Tapi juga untuk semuanya. Hyo Rim sangat lelah untuk semuanya, juga untuk hidupnya.

=Make Me Confused=

Seulas senyum hadir di bibir Si Won, ia mendengarkan suara Hyo Rim mengucapkan kata-kata yang manis itu untuknya sehingga Si Won ingin segera membuka mata dan melihat wajahnya. Tapi begitu matanya terbuka lebar Si Won tidak menemui yang ingin di temuinya, tidak ada Hyo Rim seperti harapannya. Kamar ini kosong, benar-benar kosong dan hanya ada dirinya seorang.

Si Won mengingat- ingat apakah ia bermimpi? Tapi jelas-jelas tadi dirinya mendengar suara Hyo Rim. Si Won memandangi dirinya dari cermin dan berusaha meyakini kalau semua itu bukan hanya khayalannya belaka, Ia dan Hyo Rim semalam sudah bercinta dan begitu pagi Si Won ingin melihat Hyo Rim ada disisinya meskipun pada kenyataannya berbeda.

Sebersit perasaan sedih tertoreh dan Si Won mengerti mengapa pada saat itu Hyo Rim menangis karena ia terbangun tanpa Si Won disisinya. Perasaan yang di rasakannya sangat sakit seolah-olah akan segera menusuk jantung saat itu juga.

Si Won menghela nafas berat saat kembali mengingat kenyataan dan menjauhi mimpi. Bunyi ribut-ribut di luar semakin mempercepat kembalinya Si Won ke dunia nyata dan ia harus shock dengan itu.

Si Won baru saja tersadar dan baru mengerti mengapa Hyo Rim tidak ada di kamarnya. Dia sedang mengamuk di luar sana kepada Halmeoninya dan mempersalahkan wanita tua itu atas segala hal yang terjadi padanya. Si Won mendekat ke pintu dengan gugup karena ini kali pertama dirinya mendengar Hyo Rim lepas kendali. Hyo Rim sangat marah, sangat benci, seolah-olah seluruh dunia sedang memusuhinya.

Si Won terkesiap saat Hyo Rim membuka pintu dan masuk ke kamar sambil menghunuskan sebuah pisau dapur. Beberapa saat mereka saling bertatapan hingga tiba-tiba Hyo Rim segera berlari ke kamar mandi begitu mendengar suara Halmeoni yang menyusulnya, ia melewati Si Won begitu saja tanpa berkata apa-apa.

“Hyo Rim, tolong dengarkan Halmeoni!” Halmeoni terdengar mengiba.

Keduanya bersikap seolah-olah Si Won tidak berada disana dan Si Won hanya bisa mematung tanpa berbuat apa-apa.

Hyo Rim ingin mati, motivasi yang entah karena alasan apa, mata pisau yang tajam itu sudah bersiap menyayat pergelangan tangannya.

Tidak ada gunanya ia hidup, semua yang ada pada dirinya sudah rusak dan ia tidak ingin merusak orang lain karena ini, ini semua salah Halmeoni, salah Choi Siwon. Tidak, semuanya salah Jae Joong.

Tinggal setengah inchi lagi tangan Hyo Rim membeku, ia terlalu takut untuk mati, Hyo Rim seorang pengecut dan ia tidak ingin mati karena ini.

“Kalau begini aku menyesal mengatakannya kepadamu.” Halmeoni masih mengiba. “Aku melakukannya untuk kebaikanmu Hyo Rim. Tidak ada salahnya kalau kau menikah dengan Si Won dalam arti sesungguhnya…”

Hyo Rim membanting pisaunya sehingga menyentuh westafel dan menyebabkan retakan kecil. Tangan-tangannya segera membuka pintu lebar-lebar dan menatap Halmeoninya kaku. Sejenak kemudian tangisnya meledak di iringi teriakan kesalnya. Halmeoni tidak tau kalau Si Won sudah beristri sampai detik ini dia tidak tau.

“Hyo Rim, tenanglah…” Halmeoni masih berusaha membujuknya?

Tidak bisa, Hyo Rim tidak bisa di bujuk lagi.

“Keluarlah!” Teriaknya. “Keluar dari kamarku!”

Halmeoni tidak bisa menahan air matanya untuk tumpah. Perasaan sedih dan sakit mungkin sudah mencabik-cabiknya. Meskipun sedikit tidak rela, Halmeoni masih mengabulkan permintaan Hyo Rim untuk keluar dari kamarnya dan Si Won merasa malang saat wanita itu menutup pintu dan menghilang.

Kali ini Si Won mendekati Hyo Rim yang terpaku, ia bisa melakukan apa? Si Won ingin menenangkannya tapi sepertinya Hyo Rim sangat asing, bukan orang yang di kenalnya selama ini.

“Kau mengusir Halmeoni-mu di rumahnya sendiri. Tidak seharusnya kau melakukan itu.” Desis Si Won.

“Kau tidak perlu ikut campur. Ini urusan keluargaku. Sekarang kembalilah kerumahmu, aku tidak mengenalmu dan kau sangat asing bagiku. Aku tidak suka ada orang asing di kamarku.”

Untuk kata-kata yang satu itu, Si Won benar-benar terperangah.

Hyo Rim mengusirnya? Tapi semalam mereka… Hyo Rim bahkan mengatakan kalau dia sangat mencintai Si Won. Sekarang Hyo Rim bertindak seolah-olah Si Won adalah orang asing?

“Kau tidak akan keluar?” Hyo Rim berteriak lagi.

“Tapi…”

“Baiklah, kalau begitu ini bukan kamarku Lagi!” Hyo Rim pergi menjauh, ia berlari keluar dari rumah degan piamanya. Si Won membeku sejenak melihat kepergian Hyo Rim, saat melihat Hyo Rim keluar pagar melalui jendela kamarnya.

Dia benar-benar pergi! Desis Si Won frustasi.

.

.

.

TBC.

Oke klimaks asle!

Part 6 sudah dalam proses, kemungkinan ending disono jadi sampai jumpa yang ke 6^^^^^^

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Make Me Confused – Part 5

  1. Ping balik: Make Me Confused – Part 6 END | JHR Present!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s