Make Me Confused – Part 4

makemeconfused

1st – Unprediction > 2nd – Respect in Relationship > 3rd – New Challenge

.

Never thinks about the past, it’ll be my regretfull. Really.“ – Shocking News.

.

.

Hyo Rim mungkin bermimpi, tangannya berusaha merayap kesamping mencari belahan hatinya yang bercinta dengannya semalam, tak ada yang bisa di raih. Ia menggapai menjangkau lebih luas lagi, tapi kosong. Tangannya menggenggam seprai putih erat-erat seiring dengan matanya yang terbuka tak rela. Ia tidak mau terbangun tanpa Si Won di sisinya, tapi Hyo Rim benar-benar mendapati ruangan kosong begitu saja. Hanya ada satu manusia, dirinya.

Jadi dirinya benar-benar bermimpi? Tidak. Hyo Rim masih bisa merasakan nyeri di daerah sensitifnya, ada sesuatu yang mengganjal dan masih memenuhinya. Tubuhnya juga hanya terbungkus selimut dan handuk yang di pakainya semalam masih bersanding di bawah kakinya bersama Aloe-voil cream milikknya.

Lalu kemana Si Won? Si Won meninggalkannya? Bagaimana mungkin Si Won bisa setega itu meninggalkannya sendiri sedangkan Si Won baru saja menikmati kesuciannya. Bagaimana bisa Si Won membiarkan Hyo Rim terbangun sendiri dengan perasaan bingung seperti sekarang ini?

Si Won merindukannya, itu yang selalu di katakannya semalam dan beginikah rindu itu? Si Won meninggalkannya setelah hasratnya terpenuhi, Apakah karena Hyo Rim yang memintanya? Hyo Rim menangis dan ia masih berusaha untuk tidak bersuara.

Pintu kamar mandi berderit dan Hyo Rim menoleh. Ia melihat Si Won termangu tanpa bergerak dan memandangi Hyo Rim dengan wajah bingung. Hyo Rim segera menghapus air matanya dan tersenyum. Apa yang bisa Si Won lakukan selain mendekat? Ia segera naik ke atas tempat tidur dan memeluk Hyo Rim erat-erat. Tangis Hyo Rim tumpah lagi.

Apanya yang salah? Bisik Si Won dalam hati. “Kenapa?”

“Aku hanya sedih karena terbangun tanpa Choi Si Won disini, seakan mimpi buruk.”

“Choi Si Won hanya kekamar mandi sebentar. Sudahlah, kalau kau fikir aku meninggalkanmu, itu tidak akan pernah terjadi!” Ujar Si Won yakin.

Hyo Rim menangis hanya karena hal sepele seperti itu? Tidak. Si Won tau kalau ada sesuatu yang lain yang menekan batinnya. Sesuatu yang mungkin Hyo Rim sendiri tidak menyadarinya.

Hyo Rim tertekan karena dirinya sudah menyerahkan diri kepada laki-laki yang tidak ada di hatinya. Tubuh Hyo Rim tiba-tiba berguncang dan terlonjak melepaskan diri dari pelukan Si Won. Ia bertanya sekarang jam berapa, dirinya sedang mengkhawatirkan Joon Myeon.

“Masih jam tiga pagi!” Si Won berusaha menenangkan. Ia menggapai kembali tubuh istrinya dan memeluknya lebih erat. Hyo Rim menyerah, lemah dalam pelukannya.

“Joon Myeon tidak mungkin bangun jam segini.”

“Kalau begitu boleh aku kembali kekamar sekarang? Aku harus ada disana sebelum Joon Myeon bangun.”

“Lalu meninggalkan aku sendirian?” Si Won terdengar kecewa, tapi ia melepaskan pelukannya dan membiarkan Hyo Rim pergi tanpa menjawab apa-apa.

Melepaskan pelukannya berarti merelakannya. Hyo Rim memakai kembali handuknya dan kembali ke kamarnya. Joon Myeon benar-benar masih tidur. Tubuh kecilnya melintang di atas tempat tidur.

Hyo Rim mengambil satu gaun tidurnya di lemari dan memakainya kembali lalu berbaring di sebelah Joon Myeon setelah memperbaiki posisinya yang nyaris jatuh karena terlalu ke pinggir tempat tidur. Hyo Rim benar-benar lelah sehingga dirinya tertidur kembali dan…

“Mommy… Joon Myeon mau ketemu Mommy!”

Hyo Rim membuka matanya perlahan karena rengekan Joon Myeon yang menarik-narik gaun tidurnya. Sangat perlahan hingga bayangan bocah berambut keriting dan bermata biru itu terlihat semakin jelas.

Sudah bisa di duga, Joon Myeon kembali teringat ibunya dan pagi ini Hyo Rim harus mengulangi semuanya dari awal; Membujuk Joon Myeon untuk patuh kepadanya. Tapi dengan apa? Es Krim lagi? Hyo Rim berusaha duduk dan kembali membelai kepala Joon Myeon.

“Sayang, masih sama Imo ya? Mommy Joon Myeon masih ada urusan. Hari ini sama besok Joon Myeon sama Imo, ya?” Terpaksa. Hyo Rim lagi-lagi mengatakan hal yang sama seperti yang di katakannya kemarin dan mungkin akan terus di ulangi besok. Joon Myeon baru dua hari bersamanya dan orang tuanya menitipkan anak itu selama seminggu. Perjuangan Hyo Rim masih panjang.

“Untuk hari ini, Imo yang menggantikan Mommy kamu ya? Hari ini mau sarapan apa? Stickflakes mau?”

Joon Myeon memandangnya kecewa, tapi anak itu masih merespon ucapannya. “Es krim?”

Es Krim lagi? Hyo Rim tidak akan memberikan Es Krim hari ini. Bagaimana kalau Joon Myeon sakit?

“Coklat cake pakai Stickflakes pasti enak. Joon Myeon suka coklat kan? Mau sarapan coklat?” Joon Myeon mengangguk.

Kali ini Hyo Rim bisa bernafas lega. Ia menggapai tubuh kecil Joon Myeon dan menggendongnya menuju ruang makan. Joon Myeon cukup berat, tapi sepertinya Hyo Rim mulai terbiasa.

Kemarin siang dirinya sudah menggendong Joon Myeon hampir seharian. Kali ini Hyo Rim menyiapkan semuanya dengan lebih santai, tidak panik seperti kemarin. Dapur juga lebih rapi dan dirinya tidak memerlukan bantuan Halmeoni untuk menyiapkan sarapan Joon Myeon plus susu-nya.

Seperti biasa Hyo Rim menempatkan Joon Myeon di pangkuannya dan membiarkan Joon Myeon menyendok makanannya sendiri. Meskipun Hyo Rim memanjakan, Joon Myeon tetap harus bisa melakukan semuanya sendiri. Setelah sarapan anak ini harus mandi dan mengenai apa yang harus di lakukan nanti, akan di pikirkan setelahnya.

Baru beberapa hari dan Hyo Rim sudah merasakan kalau Joon Myeon adalah bagian peting dalam hidupnya. Anak itu sudah berhasil menyita sebagian besar perhatian Hyo Rim. Lamunan Hyo Rim terhenti saat merasakan sebuah kecupan mendarat di pipinya.

Si Won sudah duduk di sebelahnya dan menyiapkan sarapan untuknya sendiri lalu mengolesi roti bakar dengan mentega dan menggigitnya dengan hati-hati. Hyo Rim memandang Halmeoni sejenak dan wanita itu hanya tersenyum maklum.

Padahal Hyo Rim sudah lupa, tapi dirinya teringat lagi tentang kejadian semalam. Ia mendesah pelan, berusaha untuk berpura-pura tidak ingat, berusaha untuk berpura-pura lupa dan bersikap biasa.

“Hari ini kau mau kemana?” Akhirnya Si Won bersuara.

Hyo Rim tidak bisa mengelak untuk menoleh dan memandangnya. Pagi ini Choi Si Won terlihat berbeda dari biasa.

“Mungkin ke Supermarket. Aku mau membeli beberapa barang penting.”

“Uang di tabungan masih ada, kan?”

Hyo Rim mengangguk, hanya mengangguk dan Si Won pasti tau kalau dirinya sangat kikuk. Helaan nafas Halmeoni terdengar jelas. Wanita itu memandangi Hyo Rim lekat-lekat dan berujar penuh kasih.

“Ada apa sayang? Kalian berdua habis berkelahi lagi?” Hyo Rim mengangkat wajahnya memandang Si Won sebentar lalu menoleh kepada Halmeoni. Berkelahi? Seingatnya semenjak dirinya terbangun dari tidurnya sebagai istri dari seorang Choi Si Won, dirinya dan Si Won tidak pernah berkelahi. Tapi ia ingat kalau Soo Hwa bilang mereka sering berkelahi sebelum ini.

“Tidak, aku baik-baik saja. Kami baik-baik saja!”

“Hyo Rim cuma kelelahan mengurusi Joon Myeon.” Si Won membela.

Halmeoni mengangguk. “Syukurlah. Aku pergi dulu kalau begitu. Ada acara amal yang harus di hadiri.”

Dan wanita itu pergi meninggalkan Hyo Rim, Si Won bersama si Kecil Joon Myeon yang sibuk menyuap stickflakes dengan tangannya lalu mencelupkannya ke susu. Hyo Rim melihat itu dan mengambil Mangkok di tengah meja. Menuangkan Stickflakes kedalamnya dan membanjirinya dengan susu segar yang melimpah.

Ia mengajarkan Joon Myeon untuk makan dengan hati-hati dan bocah itu melupakan chocolate cakenya berpindah ke stickflakes. Si Won memperhatikannya karena Hyo Rim tidak berbicara sepatah katapun sejak Halmeoni pergi.

“Ada apa?” Tanya Si Won. “Kenapa tidak berbicara padaku?”

Hyo Rim menoleh kepadanya sekilas lalu kembali menunduk. “Aku cuma kikuk.”

 “Karena tadi malam?”

“Ya, aku hanya masih belum terbiasa.”

“Jadi aku perlu menjadikannya kebiasaan?” Si Won berujar dengan nada suara yang misterius. Sebelah tangannya merangkul pinggang Hyo Rim dan itu berhasil membuat Hyo Rim memandangnya.

“Jangan! Ada Joon Myeon!”

Mendengar namanya di sebut-sebut, Joon Myeon berhenti makan dan memandangi Hyo Rim. Hyo Rim berusaha kembali mengalihkan perhatian Joon Myeon dan memutuskan untuk menyuapinya sampai Joon Myeon menolak karena kekenyangan. Tanpa berbicara lagi, Hyo Rim kembali menggendong Joon Myeon dan membawanya kekamar.

Joon Myeon harus mandi dan mereka akan segera berangkat ke Hypermart seperti yang tadi Hyo Rim katakan kepada Si Won. Joon Myeon membawa boneka Spongebob dan Patrick mini miliknya yang terbuat dari karet untuk menemaninya mandi. Hyo Rim sudah menyiapkan air di Bathub, tidak begitu banyak karena Hyo Rim tidak ingin Joon Myeon kedinginan.

Anak itu akan sangat suka bemain air berlama-lama dengan Spongebob dan Patricknya seolah-olah di dalam air itu adalah Bikini Buttom yang sesungguhnya. Karena itu Hyo Rim menyiapkan air hangat dalam jumlah yang tidak banyak, agar Joon Myeon bisa berlama-lama. Hyo Rim tidak akan mengambil resiko untuk melarang Joon Myeon dan membuatnya menangis karena Hyo Rim bukan Ibunya.

Si Won masuk mendekati Hyo Rim yang baru saja memasukkan Joon Myeon kedalam bathub. Air di bathub menenggelamkan sebagian tubuh Joon Myeon, hanya sampai di atas pusarnya. Bocah itu bergumam sendiri meniru Patrick dengan gaya khasnya da Hyo Rim menontonnya sambil tertawa seolah-olah sedang menonton drama komedi. Joon Myeon yang senang dengan respon yang di dapatnya melanjutkan suaranya, ia kemudian meniru suara Spongebob.

“Aku siap…aku siap…”

Dan Hyo Rim tertawa lagi. Tawa yang tulus dan nyata bukan hanya untuk menyenangkan hati Joon Myeon. Hyo Rim sangat menyukai Joon Myeon dan itu sangat nyata terlihat. Tapi Si Won membutuhkan Hyo Rim saat ini. Dia tidak akan bisa bila Hyo Rim tidak berbicara padanya. Sekarang Si Won sedang berusaha memperlihatkan wajahnya sesering mungkin di hadapan Istrinya.

“Tidak berangkat kerja?” Suara Hyo Rim bertanya pelan.

Si Won memandangnya meskipun ia tau Hyo Rim bertanya tanpa menoleh. Pandangannya masih terarah kepada sandiwara Patrick dan Spongebob-nya Joon Myeon. “Aku sudah lembur kemarin. Jadi hari ini terlambat sedikit seharusnya bukan masalah!”

Hyo Rim mengangguk mengerti, ia sedang berusaha bersikap biasa, berusaha untuk tidak kikuk. Melihat itu membuat Si Won semakin menginginkan Hyo Rim. Ia memperhatikan semua gerak-geriknya.

Tawanya, pandangannya, belaian lembutnya pada tubuh Joon Myeon, dan sikapnya membuat Si Won menginginkan Hyo Rim dengan perasaan Lebih untuk pertama kali dan kali ini bukan sandiwara seperti biasa.

Dirinya mengikat Hyo Rim tanpa tanpa cinta, tanpa keinginan dan tau hanya akan menghadapi penderitaan. Tapi semua kebahagiaan yang di rasakannya memberikan harapan baru. Si Won merasa menemukan hidupnya meskipun bukan dari cintanya. Si Won tidak bisa menahannya lagi, ia harus mendekap Hyo Rim saat ini atau dirinya akan mati.

“Joon Myeon, Samchon pinjam Imo-mu sebentar boleh?”

“Apa yang kau katakan?” Desis Hyo Rim tak menyangka.

Ia menyenggol lengan Si Won keras-keras. Tapi sepertinya Si Won tidak perduli.

“Boleh Samchon pinjam Imo-mu? Nanti Samchon belikan Hot choco-pancake. Joon Myeon suka Hot choco-pancake, kan?”

Joon Myeon diam, ia memandangi Hyo Rim seolah-olah sedang meminta persetujuan. Hyo Rim mendesah pelan.

“Joon Myeon mau Hot choco-pancake?”

Joon Myeon masih tidak menjawab, matanya melirik Si Won sejenak lalu kembali memandangi Hyo Rim, ia tengah meminta bantuan. Hyo Rim mengerti dan membelai kepala Joon Myeon lembut.

“Joon Myeon mau Hot choco-pancake?”

Mendengar Hyo Rim bertanya seperti itu, ekspresi bingung di wajahnya langsung sirna. Joon Myeon kembali menoleh kepada Si Won dan menggeleng. Dia tidak menerima penawaran Si Won dan itu berhasil membuat Si Won putus asa.

“Dia sudah makan Hot choco-pancake kemarin!” Hyo Rim berbisik.

“Memangnya kenapa kalau dia mau makan Hot choco-pancake lagi? Kau tidak mengatakan kepadanya kalau tidak boleh makan Hot choco-pancake lagi, kan? Kau curang Hyo Rim.”

French Fries, bisa?” Suara serak Joon Myeon terdengar lagi. Ia membuat Si Won kembali bersemangat.

French Fries? Tentu saja bisa. Kita akan makan bersama-sama. sekarang boleh Samchon pinjam Imo-mu?”

Joon Myeon mengangguk lalu menirukan suara Patrick. “Baiklah!”

Senyum Choi Si Won merekah, ia menarik lengan Hyo Rim secara paksa dan mengunci Joon Myeon di kamar mandi. Upayanya ini berhasil membuat Hyo Rim melotot. Hyo Rim tidak setuju, tentu saja Si Won tidak akan perduli karena ini sudah di rencanakannya meskipun secara mendadak.

“Bagaimana bila terjadi sesuatu padanya di dalam?”

“Dia sudah besar untuk tidak bertindak bodoh!”

Si Won membungkukkan tubuhnya memandangi wajah Hyo Rim semakin dekat. Setiap hembusan nafasnya menyapu wajah Hyo Rim dengan keinginan yang sangat dalam. Meskipun ia berusaha berontak tapi rasa itu masih bisa mempertahankan diri. Si Won tau pada akhirnya ini akan menyakiti Hyo Rim, tapi dirinya sudah di cengkram dan tidak bisa lepas.

Hyo Rim memejamkan mata seakan-akan kembali pasrah pada kuasa Si Won terhadapnya, ia hanya diam saat Si Won menyandarkan tubuhnya ke tembok lalu mencium keningnya, kelopak mata, pipi, telinga, Imor, Si Won kembali menjauhkan wajahnya dan memandangi Hyo Rim lekat-lekat. Hyo Rim membuka mata.

“Kau cantik sekali Hyo Rim!”

Suara Si Won yang berbisik membuat Hyo Rim semakin pasrah. Dan entah siapa yang memulai Imor mereka kembali berpangutan, saling berpadu untuk kesekian kalinya, berlanjut dengan peleburan yang pada akhirnya membuat Hyo Rim menahan teriakannya.

 Sekilas ia memandang ke sebrang ruangan, di kaca yang melapisi lemari pakaian Hyo Rim bisa melihat Si Won merengkuhnya tanpa bergerak seinchipun dari tempat mereka berdiri.

Sakit tapi bahagia, takut tapi larut, Hyo Rim bahkan tidak berani protes saat dirinya mulai kehilangan keseimbangan. Ia melingkarkan lenganya dan bergantung di leher Si Won, ia ingin mendesah tapi tidak boleh, bagaimana bila Joon Myeon mendengarnya?

Di saat seperti ini Hyo Rim bahkan masih memikirkan Joon Myeon. Tapi Joon Myeon tidak cukup bisa menghilangkan kenikmatan yang sedang Si Won berikan. Disana, ada sebuah ranjang kosong yang menanti, tapi Si Won lebih memilih melakukannya disini sambil berdiri. Tidak masalah, karena Si Won kembali mencumbunya, mereka bercinta lagi dengan ciuman yang tanpa akhir.

=Make Me Confused=

“Lihat! Semua orang di kantor memandangimu.” Soo Hwa berbisik dari mejanya. “Kau sudah seminggu tidak datang lagi kemari dan kembali hanya untuk mengunjungi Choi Si Won dengan penampilan glamour dan membawa seorang bocah berusia empat tahun. Kau sangat tau bagaimana caranya menunjukkan kepada semua orang siapa dirmu sesungguhnya. Kau sedang ingin balas dendam?”

Hyo Rim tertawa, membalas dendam apa? Membalas semua ketertindasannya di kantor selama ini?

“Tidak. Aku kesini bukan untuk membalas dendam pada siapa-siapa. Aku kemari karena suamiku memintanya. Dia berjanji pada Joon Myeon untuk mentraktir French fries. Soal penampilan, wanita seperti inilah yang Choi Si Won suka dan aku akan berubah menjadi apapun yang dia inginkan. Lagipula aku tidak keberatan karena sejak dulu aku sangat ingin menjadi seperti ini, kau tau kan? Aku menundanya hanya karena tidak punya banyak uang untuk membeli perhiasan dan pakaian mahal.”

“Kehidupanmu benar-benar menyenangkan. Seandainya aku dan ae Joong bisa seperti itu.”

“Aku rasa bila kau menikah dengan Jae Joong kau tidak akan hidup sepertiku.”

Soo Hwa terdiam mendengar ucapan Hyo Rim barusan. Lembut tapi terdengar menghakimi. Dengan kata lain dirinya sedang mengatakan kalau Jae Joong tidak akan bisa membuat Soo Hwa bahagia. Hyo Rim sendiri tidak mengerti mengapa dia mengatakan hal yang membuat Soo Hwa Down.

Apakah karena dirinya sedang cemburu? Tidak sama sekali. Perasaannya tiba-tiba saja ingin memperingatkan Soo Hwa agar menjaga jarak dari Jae Joong.

“Benarkah? Kau berfikir begitu?”

Hyo Rim mengerjapkan matanya dan terbangun dari lamunannya. Soo Hwa bertanya sambil memandanginya dengan kecewa bercampur penasaran.

Hyo Rim angkat bahu. “Ku kira begitu. Sepertinya Jae Joong tidak sama dengan Choi Si Won. Kalau kau ingin bahagia carilah suami yang bisa memanjakanmu. Bukan dirimu yang harus memanjakannya.”

“Jadi kau fikir Jae Joong begitu?”

“Sudahlah, itu menurutku. Kau boleh mengikuti kata hatimu dan jangan pedulikan kata-kataku!”

“Tidak. Kurasa kau benar. Jae Joong sagat kaku!”

Sebuah senyum getir hadir di sudut bibir Hyo Rim. Ia berusaa menyembunyikannya dengan membantu Joon Myeon yang berada dipangkuannya untuk mengeluarkan coklatnya dari aluminium foil yang menyelubunginya.

Kenapa dirinya mempengaruhi Soo Hwa dengan cara seperti itu? Dia sedang menjelek-jelekkan Jae Joong? Apa salah Jae Joong kepadanya?

“Nyonya Choi,” Seorang wanita mendekat, wanita yang menggedor pintu kamar madi saat itu, Hyo Rim sendiri tidak tau siapa namanya. “Kau benar-benar istri Choi Sajang-nim?”

Hyo Rim mengangguk. “Ada masalah?”

“Tidak. Hanya ingin memastikan saja.” Jawabnya kaku. “Monsieur Choi memanggilmu keruangannya!”

Hyo Rim memandangi jam tangannya. Makan siang masih beberapa menit lagi dan Si Won tidak akan pernah untuk keluar lebih cepat. Dia bisa saja selalu datang terlambat ke kantor tapi tidak pernah keluar dari kantor lebih cepat dari karyawan lain bila bukan karena urusan yang penting dan benar-benar mendesak.

Dengan penuh perhatian Hyo Rim kembali menggendong Joon Myeon dan melangkah menuju ruangan Si Won Choi. Ia mengetuk pintu beberapa kali dan Si Won membukakan pintu untuknya, ini yang pertama kali. Hyo Rim berterima kasih dengan memberikan sebuah senyuman manis dan duduk di sofa lalu menempatkan Joon Myeon di pangkuannya.

“Hari ini makan siang dimana?” Si Won kembali duduk di belakang meja kerjanya dan membaca sesuatu. Dia kembali bekerja dan sepertinya Si Won ingin Hyo Rim dan Joon Myeon menemaninya sampai jam makan siang tiba.

“Terserah, asal restoran itu punya menu French fries Kau harus menepati janji, jangan sampai Joon Myeon tidak menghargaimu karena itu!” Jawab Hyo Rim, kali ini ia memandang Si Won, lebih berani dan sangat lembut.

Si Won mengangguk dan terdiam sebentar. Ia memandang kertas- kertasnya sejenak, lalu pandangannya berpindah ke wajah Hyo Rim. Mereka saling bertatapan lama dan Si Won melihat senyum Hyo Rim untuknya. Hatinya mengembang dan akan segera meledak, ia seperti kembali merasakan cinta pertama.

”Aku bersumpah, Hyo Rim. Aku tidak tau harus mengatakan apa lagi. Melihatmu membuatku kehabisan kata- kata.” Hyo Rim menunduk menyembunyikan tawanya.

Ponsel Si Won berbunyi, alarm makan siang yang sengaja di setel lebih lambat dua menit di bandingkan jam makan siang yang sebenarnya. Sudah berapa lama mereka berpandangan? Tiba-tiba saatnya keluar sudah tiba. Si Won merapikan mejanya lalu kembali memakai jasnya.

Ia mendekati Hyo Rim dan mengambil Alih Joon Myeon dari pangkuannya. Sebelah tangannya yang bebas terulur berharap Hyo Rim menyambut. Hyo Rim meletakkan tangannya untuk di genggam oleh Si Won secara perlahan dan dalam waktu singkat mereka sudah berjalan keluar sambil bergandengan tangan, semua orang melihat dan Hyo Rim sangat bangga dengan ini.

Apakah mereka sudah mewakili gambaran sebuah keluarga bahagia?

Lagi-lagi Si Won yang memilih tempat dimana mereka akan menghabiskan waktu makan siangnya. Bukan sebuah restoran mewah seperti biasa. Hanya sebuah café sederhana di basement salah satu supermarket terkemuka di Seoul. Untuk pertama kalinya juga Si Won meminta pendapat Hyo Rim tentang apa yang akan mereka pesan.

Si Won menyetujui semua Ide Hyo Rim. Termasuk dua porsi French fries untuk Joon Myeon. Tidak ada makanan pembuka dan makanan penutup seperti biasa. Mereka hanya mendapatkan apa yang mereka pesan dan itu cukup untuk membuat perut Hyo Rim cepat penuh. Ia tidak menghabiskan makanannya dan mencari kesibukan dengan menyuapi Joon Myeon beberapa potong kentang goreng.

“Setelah ini aku mau membelikan Joon Myeon mainan.” Hyo Rim bersuara tiba-tiba. Sesaat ia melirik Si Won yang berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Laki-laki itu terpaku. “Mau ikut?”

Si Won menelan makanannya dan meneguk air putih. “Sayang sekali aku tidak bisa. Harus kembali ke kantor.”

Hyo Rim tersenyum kecut. Si Won merasa kalau dirinya sudah mengecewakan istrinya. Otaknya berkerja keras untuk mencari apa yang harus di ucapkannya selanjutnya untuk melenyapkan kekecewaan itu.“Nanti belikan aku dasi baru, bisa? Kau belum pernah memilihkan dasi untukku.”

“Baiklah, tapi aku akan membunuhmu kalau kau tidak mengenakannya.”

Dan sebuah senyum hadir di wajah Hyo Rim, senyum yang menandakan kalau dirinya sudah dalam keadaan baik. Si Won kembali menyantap makanannya dan segera pergi setelah makanannya habis.

Mereka berpisah, Si Won akan segera kembali ke kantor dan Hyo Rim akan pergi berkeliling bersama Joon Myeon. Joon Myeon hari ini sepertinya sedang aktif. Dia tidak suka di gendong dan Hyo Rim membiarkannya berjalan sendiri. Anak itu terus menggenggam ujung gaun Hyo Rim sampai akhirnya sebuah miniature bikini Buttom dalam sebuah bola kaca memenuhi kedua tangannya.

Joon Myeon tidak meminta mainan yang mahal, dia hanya meminta beberapa teman untuk Spongebob dan Patrick plastiknya mandi. Maka Hyo Rim membelikan beberapa tokoh lagi, Eugine Crab, Squidward dan Plankton, semuanya dalam ukuran kecil dan itu cukup untuk membua Joon Myeon berbinar-binar seharian. Joon Myeon mungkin sedang membayangkan sandiwara kamar mandinya dengan tokoh-tokoh baru.

Pukul setengah tiga Hyo Rim pada akhirnya sibuk memilih dasi untuk Si Won. Ia memilih sebuah dasi degan warna cerah dan lembut, blues code yang terang dengan sebuah rajutan berwarna hijau muda.

Sangat elegan dan maskulin. Hyo Rim bisa membayangkan bagaimana Si Won mengenakannya, dengan kemeja yang mana, jas yang mana, bahkan jam tangan yang berwarna apa. Sekilas Hyo Rim sempat melihat Jae Joong saat ia menoleh keluar toko tanpa sengaja. Tapi begitu ia berusaha meyakinkan, Jae Joong tidak ada. Mungkin Hyo Rim hanya berkhayal.

Ia memanggil Joon Myeon yang mulai menjauh darinya dan bocah itu kembali mengikutinya berjalan ke kasir. Hyo Rim membayar dasinya dengan uangnya sendiri, ini hadiah pertama untuk Si Won dan dirinya tidak akan menggunakan uang Si Won seperti biasa.

“Apa kabar, Choi Hyo Rim?” Seorang wanita sedang berdiri di sampingnya yang kelihatannya sedang mengandung dengan perut besarnya. Ia menyodorkan sebuah dasi berwarna merah hati saat Hyo Rim hampir pergi.

Hyo Rim menatap wajah wanita itu lekat-lekat, mereka belum pernah bertemu, siapa dia?

“Kau sedang membeli dasi?” lanjutnya. Ia memandang Joon Myeon sejenak dengan tatapan asing dan memberikan senyuman kepada bocah itu dengan senyuman untuk orang asing. Joon Myeon memeluk pinggang Hyo Rim erat-erat.

“Ya, “ Jawab Hyo Rim sambil membelai kepala Joon Myeon seolah-olah sedang menyiratkan kata ‘tidak apa-apa” kepadanya.

 Joon Myeon selalu begitu saat bertemu dengan orang yang di anggapnya asing. Dulu Joon Myeon memeluk ibunya saat pertama kali Hyo Rim tersenyum kepadanya, begitu juga saat Soo Hwa dan Jae Joong bertemu dengannya untuk pertama kali. Joon Myeon juga memeluk pinggang Hyo Rim seperti yang sekarang sedang di lakukannya. “Kau juga?”

“Ini untuk suamiku.” Jawabnya. “Apa kabar dengan suamiku Hyo Rim?”

Suamimu? Kenapa bertanya padaku? Batin Hyo Rim. Hyo Rim tidak bisa menjawab apa-apa, mungkin wanita itu salah sebut atau…

“Atau lebih tepatnya suami kita, Choi Si Won!”

Si Won? Hyo Rim hampir saja menjatuhkan kantong yang berisi dasi dalam genggamannya. Maksudnya Choi Si Won? Suami kita berarti Hyo Rim bukan satu-satunya?

“Aku terkejut saat mendengat kabar kalau Si Won memiliki istri lain selain aku, tapi aku tau Si Won akan kembali padaku juga akhirnya. Jadi nikmatilah kebersamaanmu.”

Hyo Rim masih tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya masih sangat Shock. Kata-kata itu menyiratkan seolah-olah Hyo Rim sedang merampas suami orang. Sebegitu jahatkah dia? Dirinya semakin tidak mengerti, ia meninggalkan Jae Joong untuk menikah dengan pria yang sudah beristri.

Hyo Rim kecewa, sangat.

Wanita itu menyodorkan dasi yang di belinya kepada Hyo Rim, cukup untuk membuat Hyo Rim terpaku beberapa lama. “Aku titip ini untuknya. Katakan kepadanya untuk pulang, sudah dua minggu ini Si Won tidak pernah kembali kerumah istri pertamanya. Sampai jumpa!”

=Make Me Confused=

Choi Si Won menghela nafas perlahan. Ia sengaja pulang cepat demi bertemu dengan Hyo Rim. Begitu membuka pintu kamar, sebuah suasana yang aneh merebak. Jung Hyo Rim, duduk di atas sofa sambil memandangi dua buah dasi yang masih rapi di dalam kotaknya yang terbuka. Lalu dimana Joon Myeon?

Bocah itu tertidur, dia pasti sangat kelelahan karena mengikuti Hyo Rim pergi seharian ini. Si Won membuka jasnya dan melemparkannya kedalam keranjang pakaian kotor yang ada di kamar mandi lalu mendekati Hyo Rim dan memeluknya. Hyo Rim terasa sangat beku tanpa perlawanan apa-apa.

“Kau membeli dua buah dasi?” Bisik Si Won. “Aku hanya perlu satu!”

“Kalau begitu pakai salah satunya saja. Coba pilih, mana yang sesuai dengan seleramu?”

Si Won melepaskan pelukannya dan mendekati dua buah dasi yang dihadapi Hyo Rim entah sejak kapan. Yang berwarna biru atau merah hati?

Si Won tertarik dengan yang berwarna biru, tapi yang merah hati, sepertinya ia pernah melihatnya. Rasanya Si Won pernah memiliki dasi yang sama. Tangannya berusaha untuk meyakinkan dengan mengambil dasi berwarna merah hati itu dan membukanya dari kotaknya. Si Won yakin kalau ia pernah memiliki dasi yang serupa.

“Jadi itu pilihanmu? Itu dari istrimu!”

Suara Hyo Rim terdengar agak sinis. Si Won memandang wajah Hyo Rim tidak percaya. Istri? Hyo Rim kan? Atau…

“Tadi kami bertemu di toko dasi, dia berpesan agar kau pulang. Tiga bulan tidak pernah pulang, terdengar seperti aku sedang menahanmu disini.”

“Maksudmu, Soo Jung?” desis Si Won, Soo Jung menemui Hyo Rim?

“Jadi Soo Jung namanya. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang pria beristri?” Hyo Rim terdengar menggerutu pelan. Ia mulai terlihat sangat kacau.

Si Won menghela nafas berat. ia mulai merasa bingung dan tidak tau harus berbuat apa, tidak tau harus berkata apa, tidak tau harus membela diri atau memberi penjelasan seperti apa.

Yang di lakukannya hanya meletakkan kembali dasi berwarna merah hati itu dan mengambil yang satunya lagi. Berarti yang berwarna biru adalah pilihan Hyo Rim. Si Won sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Ia mengeluarkan dasi itu dari kotaknya dan melingkarkannya di lehernya.

“Aku suka yang ini.” Si Won berusaha mengeluarkan suara yang riang, ia berusaha untuk tidak menganggap Soo Jung sebagai masalah meskipun ia tau itu adalah masalah bagi Hyo Rim.

“Aku ingin bertanya satu hal kepadamu.” Hyo Rim bersuara lagi.

Ia seolah-olah sedang tidak perduli dengan usaha Si Won untuk mencairkan suasana. “Apakah kau mencintainya? Saat menikah denganku kau mencintainya?”

“Aku tidak akan menikah denganmu jika aku tidak mencintainya!”

Jawaban yang tidak bisa Hyo Rim mengerti tapi dirinya ingin mengetahui hal lain. “Apakah kau mencintaiku? Apakah sama besarnya dengan cintamu kepadanya?”

Si Won terdiam lama, apakah ia mencintainya? Jung Hyo Rim, sejak kapan ada di hatinya? Si Won tertarik kepada Hyo Rim, kepada kelemahan yang di tunjukkannya, kepada caranya tersenyum, caranya bertanya, Si Won tertarik kepada cara Hyo Rim menggodanya, semuanya.

Tapi Selama ini, Hyo Rim tidak pernah membekas di hatinya meskipun Si Won selalu berusaha menunjukkan cinta yang merupakan sandiwara. Apakah ia mencintai Hyo Rim? Sejak kapan? Pagi itu. Pagi itu Si Won jatuh cinta kepada Hyo Rim, saat ia melihat Hyo Rim menangis karena terbangun tanpa Si Won disisinya.

“Ya, aku mencintaimu!”

Hyo Rim tersenyum sinis. “Bohong. Kau terdiam lama!”

“Aku tidak berbohong. Aku…”

“Aku tidak ingin mendengar apa-apa. Besok kita bahas lagi karena sekarang aku ingin istirahat. Kepalaku rasanya mau pecah.”

Hyo Rim beranjak dari sofa dan nyaris berbaring di atas tempat tidur saat mendengar pintu kamar di ketuk. Si Won membuka pintu dan mendapati Si Hoon bersama Soo Hyang disana. Mereka sudah pulang? Secepat ini? Seharusnya masih ada beberapa hari lagi.

“Kami tidak bisa pergi lama-lama karena selalu memikirkan Joon Myeon.”

Si Hoon mengeluarkan kata pertamanya yang menjawab kebingungan semua orang. “Maaf langsung ke kamar kalian, tadi Halmeoni menunjukkan kamar ini karena Joon Myeon tidur bersama kalian.”

Hyo Rim berusaha tersenyum dan menjawab tidak masalah. Lalu Soo Hyang segera bergerak tanpa kata-kata mengumpulkan semua barang- barang Joon Myeon dan menenteng Tasnya, ia mendekati Joon Myeon yang sepertinya terbangun karena kegaduhan itu. Joon Myeon menangis.

“Mommy…Mommy…!” rengeknya.

Soo Hyang segera menggendong anaknya dan berusaha menggoyang- goyangkan tubuh kecil Joon Myeon. Tapi Joon Myeon tidak mau diam. Tangannya menggapai-gapai kearah Hyo Rim sambil terus menjerit memanggil- manggilnya dengan sebutan Mommy. Jadi yang Joon Myeon maksud sebagai Mommy adalah Hyo Rim?

Si Hoon dan Si Won saling pandang. Hyo Rim merasa iba dan mendekat kepada Soo Hyang. “Boleh aku menggendongnya sebentar?” Hyo Rim tidak membutuhkan persetujuan.

Kedua tangannya langsung mengambil Alih Joon Myeon dari ibunya dan menggendongnya penuh kasih sanyang. Hyo Rim membelai punggung Joon Myeon lembut. Ia bisa melihat kecemburuan Soo Hyang karena itu.

“Apa yang aku lakukan pada anakku?” Tanyanya Kasar.

Soo Hyang kembali mengambil alih Joon Myeon dan berkata pada Si Hoon. “Aku tidak suka padanya. Ayo kita pergi!”

Si Hoon mengucapkan kata maaf pada Hyo Rim dan mengikuti Soo Hyang pergi. Sekarang Hyo Rim tau mengapa Soo Hyang sangat membenci Hyo Rim, karena Hyo Rim adalah wanita jahat yang merebut suami orang lain dan sebagai sesama perempuan, Soo Hyang mungkin ikut merasakan penderitaan Soo Jung, iparnya yang lain.

Si Hoon mungkin juga membencinya, hanya Si Hoon tidak menunjukkan itu dan masih bersikap sopan. Hati Hyo Rim didesaki perih yang luar biasa, ia memandangi Joon Myeon yang terus memanggil-manggil Hyo Rim dengan sebutan Mommy sambil terus menggapai-gapai kearahnya.

Hatinya pilu, Jung Hyo Rim adalah Mommy yang merana.

.

.

.

TBC

Apa dayaku yang bisa mlihat Siwon jadi polisi. Niat punya suami polisi pasti terwujud /pengalihan daari ff/

Iklan

3 pemikiran pada “Make Me Confused – Part 4

  1. Ping balik: Make Me Confused – Part 5 | JHR Present!

  2. Ping balik: Make Me Confused – Part 6 END | JHR Present!

  3. jiaahhhh…. kok gini hyo???? siwon udah punya istri dan hyo rim jadi istri ke dua??? bener2 bikin bingung nih cerita mirip judulnya… ok mau cuss baca part yg lain biar tau apa masalah mereka..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s