Make Me Confused – Part 2

makemeconfused

1st – Unprediction

.

“I will show you. All of myself. Just for you.“ – Respect in A Relationship

.

Si Won baru saja keluar dari kamar mandi sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia memandangi Hyo Rim yang sibuk mendengarkan I-pod dengan penuh konsentrasi sambil bersandar di atas tempat tidur. Si Won menaikkan sebelah alisnya karena heran, ini pertama kalinya ia melihat seseorang yang mendengarkan musik dengan ekspresi wajah seperti sedang menghadapi soal ujian.

Si Won mendesah mengingat Hyo Rim yang pergi mencari Jae Joong sore ini. Hyo Rim tidak akan menemukan laki-laki itu karena dia sudah benar-benar menjauh, lalu mengapa harus di cari-cari lagi? Si Won menyesal mengikuti Hyo Rim sore tadi, sekarang dirinya sedang dalam keadaan tidak baik karena mengetahui hal itu.

Si Won melangkah mendekati istrinya di atas ranjang lalu melepaskan headset di salah satu telinga Hyo Rim dan mengenakannya untuk dirinya sendiri. Hyo Rim memandangnya dengan tatapan heran. Sebuah musik yang sering terdengar di beberapa tempat mengalun indah, musik klasik. Si Won tidak begitu suka dengan musik klasik, karena itu meskipun sering mendengarnya, ia sama sekali tidak tahu siapa komposernya.

“Sejak kapan mendengarkan musik klasik? Selama ini kau lebih suka membaca buku di bandingkan mendengarkan musik.” Tanya Si Won.

Hyo Rim melepaskan handset yang masih menggantung di telinganya dan memberikannya kepada Si Won. Ia tahu Si Won tidak suka, karena itulah Si Won menon-aktifkan I-podnya dan menyimpannya di dalam laci meja lampu yang berada di sebelah tempat tidur.

Hyo Rim tidak tertarik, ia  beranjak ke sisi lain tempat tidur dan berbaring membelakangi Si Won. Seharian ini dirinya sudah benar-benar kecewa karena tidak bertemu Jae Joong. Jae Joong menghilang entah kemana, meninggalkan toko buku yang sudah berpindah tangan, rumahnya juga sudah di jual. Hyo Rim benar-benar kehilangan Jae Joong untuk selamanya.

“Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?” Si Won bersuara lagi, ia menaikkan kedua kakinya keatas tempat tidur dan duduk memandangi Hyo Rim yang membelakanginya.

Desah nafas Hyo Rim terdengar samar. “Maaf, suasana hatiku hari ini sedang buruk.”

“Karena tidak berhasil menemukan laki-laki itu? Aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak suka kalau kau dekat dengan laki-laki manapun.”

“Aku juga sudah bilang kalau suasana hatiku sedang buruk dan tidak ingin berdebat saat ini. Tolong biarkan aku istirahat, Kau satu-satunya orang yang tahu masalahku dan ku harap kau bisa mengerti.” Si Won membalik tubuh Hyo Rim dengan paksa sehingga wanita itu sudah menatapnya.

“Aku sedang berusaha mengerti, tapi untuk yang satu ini sangat sulit. Apa kau masih mengharapkannya? Kau yang meninggalkannya Hyo Rim. Kau yang meninggalkan Jae Joong dan menikah denganku, aku tidak suka kau melupakan siapa dirimu sekarang ini!”

“Aku minta maaf, benar-benar minta maaf! Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin memastikan dan sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu marah!” Hyo Rim mengalah. Ia sangat tidak suka berdebat. Apapun alasannya, mendebatkan hal yang membuatnya lelah akan menjadi pilihan terakhir atau bahkan tidak akan pernah jadi pilihan dalam hidupnya. Matanya memandang Si Won dan menemukan keseriusan disana. Si Won kelihatannya benar-benar cemburu.

Hyo Rim berusaha untuk duduk sehingga dirinya berhadapan dengan Si Won sekarang. Laki-laki itu adalah suaminya, lalu mengapa dirinya tidak bisa menempatkan diri sebagai istri? “Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.”

Amarah Si Won mulai mereda mendengar ucapan yang terakhir. Ia menghela nafas dengan lebih ringan dan nyaman. Sebisa mungkin ia memeluk Hyo Rim erat-erat dan tidak memberikan celah untuk Hyo Rim  melepaskan diri.

“Aku tidak suka ada Jae Joong lagi di antara kita. Aku tidak pernah suka karena itu selalu membuat kita bertengkar seperti ini, Kau harus ingat satu hal, Hyo Rim  sudah menikah denganku dan tidak boleh ada orang lain dalam pernikahan kita.”

“Kau sangat mudah emosi,”

“Karena setiap kali kau mengingat Jae Joong, kau selalu menyakitiku.” Hyo Rim mendorong dada Si Won sehingga tubuh mereka memiliki celah, Si Won mengabulkan permintaan verbal Hyo Rim untuk melepaskan pelukannya.

Jadi selama ini Hyo Rim selalu menyakiti Si Won? Satu bulan pernikahan dan tersakiti? Hyo Rim memjamkan matanya dan masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. “Kenapa aku melakukan itu?”

Si Won memandangnya lama lalu angkat bahu. “Karena aku satu-satunya orang yang berharap pada pernikahan ini. Sedangkan kau tidak, menikah denganku hanya untuk pelarian. Karena itu meskipun kita sudah menikah, kau selalu menganggapku seperti orang asing.”

“Kenapa aku dan dirimu bisa menikah? Mengapa kau mau menikah denganku? Kau tidak tahu kalau aku mencintai orang lain?”

Si Won berfikir sejenak lalu tersenyum. “Karena aku berharap pada pernikahan ini, aku sudah bilang tadi.” Kening Hyo Rim berkerut, jawaban Si Won sama sekali bukan jawaban yang Hyo Rim inginkan.

“Sudahlah. Jangan di fikirkan lagi.” Desis Si Won. “Lupakan semuanya, karena jika kau bertanya kepadaku, aku juga tidak bisa menjawab banyak. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu selama ini.”

Hyo Rim berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Boleh aku tanya satu hal lagi?”

“Apa?”

“Apa yang membuatmu yakin untuk menikah denganku?”

“Karena kau memaksaku melakukan ini!” Benarkah? Desis Hyo Rim. Ia yang meminta Si Won menikahinya? Kebingungannya semakin bertambah.

“Baiklah, lalu apa yang membuatmu menerimanya?”

“Karena saat itu kau memperlihatkan betapa lemahnya dirimu dan kau membuatku berfikir hanya aku yang bisa melindungimu. Hanya aku!”

Hyo Rim terperangah. Karena ia lemah? Si Won menikahinya karena mengira bisa melindunginya? Semua hal membingungkan ini sebaiknya di buang jauh-jauh, karena Hyo Rim tidak ingin merasa aneh setiap menghadapi detik-detik selanjutnya dalam hidup. Dia tidak ingin merasa ragu untuk melakukan apapun.

Ia memandang Si Won sekali lagi, sekarang apa yang harus di lakukannya pada Si Won? Tidak ada pilihan lain selain berusaha menjalani pernikahan yang normal. Ia akan berusaha menerima laki-laki itu. Semuanya sudah terlanjur seperti ini, ia sudah terlanjur menjadi istri seseorang dan sudah berpisah dari Jae Joong. Lagi pula apa lagi yang bisa di lakukannya?

Ya, Hyo Rim akan menerima kenyataan ini. Sedang berusaha menerima, karena itu Hyo Rim menerima ciuman Si Won pada bibirnya. Ciuman lembut yang lama kelamaan mulai intens dan liar. Membiarkan tubuhnya berbaring adalah pilihan berat, ia dan Si Won akan segera melakukannya, mereka akan segera bercinta dan Hyo Rim akan membiarkannya.

Akankah? Tidak, Hyo Rim menepis tangan Si Won yang mulai bermain-main di bagian-bagian tubuhnya yang paling sensitif. Si Won melepaskan ciumannya dan memandangi Hyo Rim kecewa.

Hyo Rim menggigit bibirnya dan membuang pandangannya kearah lain. Hatinya terguncang untuk yang satu ini, bahkan Jae Joong saja tidak pernah menyentuh tubuhnya. Mungkin dirinya dan Si Won pernah melakukan ini sebelumnya.

Tapi apapun yang sudah mereka lakukan Hyo Rim tetap merasa tidak bisa melakukan ini sekarang. Ia berusaha kembali menoleh kepada Si Won yang masih memandanginya. Hyo Rim tidak sanggup memandang langsung kemata Si Won dan menunduk memandangi dadanya.

“Maaf,”

“Sudah waktunya makan malam.” Suara Halmeoni yang tiba-tiba saja menyela membuat Si Won dan Hyo Rim memandang kearah pintu serentak. Pintu tertutup rapat namun mereka merasa seperti sedang di pergoki. “Cepatlah keluar!”

“Ya, Halmeoni! Kami segera datang!” jawab Si Won lantang. Suara Halmeoni tidak terdengar lagi. Tapi Si Won masih belum beranjak dan masih berada di atas Hyo Rim. Matanya kembali meneliti inci demi inci wajah istrinya. “Kau tidak sedang menolakku bukan?”

“Tidak!” Jawab Hyo Rim cepat. “Aku hanya belum siap.”

“Baiklah…, tapi lain kali kau harus siap!” Si Won tersenyum. Lalu berbisik. Di telinga Hyo Rim. “karena aku sudah sangat merindukan ini.”

Senyuman itu, meskipun sekilas berhasil membuat Hyo Rim merasa lebih lega. Hyo Rim mendekap dadanya saat melihat Si Won turun dari ranjang dan keluar kamar. Ia menghela nafas sekali lagi, Si Won menyentuhnya lagi dan Hyo Rim tahu dia tidak akan selamat. Lain kali, bisa saja Si Won tidak hanya menyentuhnya, ia bisa saja melakukan hal yang lebih dan lebih. Lebih dari yang tadi.

=Make Me Confused=

Membuka mata dan menemukan dirinya kembali tanpa pakaian. Hyo Rim benar-benar shock, kejadian ini terulang lagi padahal semalam dirinya tidak melakukan apa-apa. Seingatnya, Si Won tidur lebih dulu dan Hyo Rim benar-benar menghabiskan malam dengan membaca buku. Lalu apa kali ini Si Won kembali memindahkannya ketempat tidur dan membuka pakaiannya? Hyo Rim menghela nafas pelan dan berusaha membuka matanya lebih lebar.

Astaga apa yang kulihat? Hyo Rim segera memejamkan matanya. Ia berbalik menuju sisi sebaliknya dari tempat semula dirinya menghadap. Ia melihat Si Won sedang menggenakan pakaiannya, Jantung Hyo Rim tiba-tiba berdetak kencang lagi. Sebaiknya ia pura-pura tidur, itu lebih baik. Hyo Rim bahkan cukup dengan bekal mengantuk semalam untuk kembali tidur dan rencananya untuk pura-pura ternyata membuatnya benar-benar terlelap. Ia kembali terbangun saat merasakan sesuatu yang hangat membelai pipinya diiringi suara Si Won yang memanggil dengan sebutan sayang. Hyo Rim berusaha membuka mata dengan susah payah. Si Won sudah rapi.

“Kau tidur telat semalam. Hari ini tidak usah kekantor saja!” Bisiknya. Bulu kuduk Hyo Rim meremang. Ada sesuatu yang aneh pada perasaannya saat mendengar bisikan Si Won yang sangat dekat dengannya. Hyo Rim berusaha mengangguk, Si Won memberikan senyum terbaiknya.

“Kau yang memindahkanku ke tempat tidur?”

“Ya. Sepertinya kita harus mengembalikan pendingin ruangan ke kamar ini. Kau kepanasan semalam jadi aku membuka pakaianmu.” Wajah Hyo Rim memerah, terlebih saat Si Won menyelimuti tubuhnya, ia tidur dalam keadaan seperti ini semalaman di sebelah Si Won? Si Won sudah puas memandangi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun dan Hyo Rim bersyukur Si Won tidak melakukan apa-apa terhadapnya.

“Kau tidak perlu melakukan itu!”

“Apa? Membuka pakaianmu?”

Hyo Rim menarik selimutnya sehingga setengah wajahnya tertutupi. “Maksudku kalau memasang pendingin ruangan, kau tidak bisa tidur dalam ruangan seperti itu, aku masih bisa tidur tanpa itu meskipun harus tanpa pakaian seperti ini.”

Senyuman Si Won mengiringi tatapannya pada Hyo Rim yang sibuk menutupi wajahnya. Astaga Hyo Rim, mengapa kau bersikap semanis ini? Si Won berujar di dalam hati.

“Apa ini? Kau sedang malu-malu? Kalau begitu, nanti belilah gaun tidur yang nyaman untuk tidak membuatmu kepanasan. Kau sudah menikah, sudah saatnya menggunakan gaun tidur. T-shirt dan piyama tebal nan panjang tidak begitu baik untuk kelangsungan pernikahanmu!”

Si Won tertawa renyah membuat Hyo Rim merasa semakin malu. Hyo Rim menarik selimutnya lebih dalam hingga Si Won hanya bisa melihat matanya saja. Walau bagaimanapun bagi Hyo Rim, Si Won tetaplah orang asing yang mendadak saja bisa menelanjanginya sesuka hati karena status pernikahan.

Meskipun Si Won selalu berusaha untuk menghilangkan batas di antara mereka dan selalu berusaha menunjukkan perhatiannya, Hyo Rim tetap belum bisa memungkiri kenyataan bahwa baginya, saat ini Choi Si Won adalah orang asing.

Si Won mengambil dompetnya dan memberikan salah satu dari koleksi kartu kreditnya kepada Hyo Rim, Si Won benar-benar mengantarkan benda itu kedalam telapak tangan Hyo Rim dan baru yakin untuk melepas benda itu setelah ia yakin Hyo Rim menggenggamnya dengan erat.

“Aku tidak bercanda tentang gaun tidur. Belilah beberapa kalau masih belum merasa nyaman karena aku selalu membuka pakaianmu. Aku bisa batal berangkat kekantor bila setiap pagi melihatmu malumalu seperti ini. Aku tidak akan bisa menahan hasratku lagi!”

Si Won   mengedipkan matanya dan bangkit. Ia sudah berdiri dan mengambil Jasnya yang masih rapi di atas sofa. “Aku mungkin akan pulang malam. Tidurlah lebih awal. Ingat, yakinkan pakaianmu cukup nyaman sehingga kau tidak perlu mengigau memintaku membantumu melepas semua pakaianmu. Sampai jumpa besok pagi!”

Hyo Rim menelan ludahnya setelah Si Won menghilang. Jadi ia yang mengigau meminta Si Won membantunya membuka pakaian? Apakah ia sedang bermimpi? Mengapa harus Si Won? Mengapa bukan Jae Joong? Hyo Rim memukul keningnya. Berhentilah memikirkan Jae Joong, Hyo Rim. Kau sudah bersuami. Batinnya. Lalu apa yang akan dilakukannya sekarang? Hyo Rim sepertinya harus mencari tahu bagaimana ia harus menyikapi semua ini.

=Make Me Confused=

Choi Sajang-nim adalah anugrah untuk kantor ini, Setidaknya semenjak dia menggantikan Park Sajang-nim, Shomedee’Mani menjadi tidak membosankan.

“Yap! Aku jadi semangat setiap kali mau berangkat ke kantor. Tidak sia-sia punya CEO setampan dia! Ngomong-ngomong dia masih lajang atau sudah beristri?”

“Kurasa masih lajang, dia tidak pernah menyinggung soal keluarga, Park Sajang-nim juga tidak pernah mengatakannya sebelumnya. Dia masih muda dan tampan, menikah di saat sekarang adalah pilihan bodoh untuknya.”

“Ku rasa begitu. Kalau begitu dengan senang hati aku akan menggodanya, seandainya aku yang di angkat menjadi sekretarisnya.”

“Benar. Tapi Choi Sajang-nim lebih memilih Soo Hwa.”

“Terserah kalau Choi Sajang-nim memilih Soo Hwa, jika mereka tidak di ruangan yang sama. Soo Hwa tetap bersama gadis Busan itu di ruangan Administrasi. Singkatnya, ada atau tidak sekeretaris tidak membawa pengaruh besar bagi tuan Choi.”

Hyo Rim mendengus mendengar percakapan tentang Si Won di kamar mandi. Tadinya Hyo Rim merasa kesal karena Soo Hwa memasukkan banyak saus dalam pasta pesanannya. Tapi sekarang ia bersyukur karena Soo Hwa melakukan itu. Pasta pedas itu membuatnya punya alasan ke toilet dan mendengarkan gosip bodoh tentang Si Won Choi.

Ternyata sangat banyak yang menggemarinya, ternyata Hyo Rim adalah orang beruntung yang terpilih menjadi istri Si Won Choi dan mengalahkan semua perempuan di kantor yang tidak begitu menanggapi keberadaannya selama ini dan hanya mengenalnya dengan    panggilan “Gadis Busan” itu.

Sekurang-kurangnya ada tiga atau empat orang gadis yang berbicara dengan antusias tanpa menyadari kalau Hyo Rim berada dalam salah satu dari ke empat bilik yang tertutup. Mereka terus memuji Si Won Choi yang sepertinya menjadi topik pembicaraan hangat dan baru keluar mendekati jam makan siang.

Setelah toilet benar-benar sepi Hyo Rim keluar dan merapikan pakaiannya lalu kembali ke ruangan kerjanya. Lagi-lagi yang di lihatnya adalah gadis asli –keturunan- Seoul yang bernama Yoo Soo Hwa tengah memperhatikan catalog-katalognya sambil memakan pasta pedas yang tadinya mereka makan bersama. Hyo Rim mengelus perutnya sambil duduk di bangku kerjanya, masih terasa panas.

“Kenapa lama sekali?” Tanya Soo Hwa, matanya masih tidak berpaling dari katalog-nya. “Aku terjebak para penggosip di kamar mandi. Mereka membicarakan suamiku dengan santainya, mengatakan akan menggodanya tanpa rasa bersalah,”

“Kau kesal? Cemburu?” Soo Hwa memotong. “Ini bukan pertama kalinya. Mereka selalu melakukan itu semenjak Si Won Choi memimpin Shomede’Mani ,menggantikan Tuan Park. Suamimu sangat di gemari para wanita lajang di kantor ini. Jadi kau harusnya merasa beruntung. Dan berhentilah merahasiakan pernikahan kalian.”

“Ya, harusnya begitu. Aku yang terpilih.”

“Benar. Seperti film laga yang sering ku tonton, Kau lah yang terpilih untuk memelihara mutiara kehidupan yang akan membantu nyawa banyak orang!”

Hyo Rim tertawa mendengar kata-kata Soo Hwa tentang film laga. Sejenak Hyo Rim teringat keberadaan Si Won, dia belum kembali ke kantor juga. Padahal Soo Hwa ada disini. Soo Hwa sekertarisnya, Kan? Hyo Rim bahkan tidak bisa mengingat tentang Soo Hwa yang ternyata adalah sekretaris suaminya.

Jika tidak berada di kamar mandi, Hyo Rim tidak akan mengetahuinya, ini juga berkat pasta pedas itu. Tanpa sang pasta, Hyo Rim tidak akan menginjak kamar mandi hari ini. Hyo Rim menarik piring pasta dan merampas garpunya dari Soo Hwa kemudian memakan semuanya dengan lahap. Hyo Rim sukses membuat Soo Hwa terperangah.

“Bukankah kau sedang diet sehat? Kau ingin segera punya anak kan? Kenapa makan terlalu banyak makanan berbahaya seperti ini?” Soo Hwa kembali merampas garpunya.

Hyo Rim mengusap bibirnya yang berminyak dan termenung sekali lagi. Dia sedang diet sehat? Dia memang sedang Diet untuk pernikahannya, tapi apakah masih perlu? Bukankah dia sudah menikah? Dia sudah menjadi istri seorang laki-laki bernama Choi Si Won, laki-laki itu bahkan memerintahkannya untuk membeli gaun tidur. Hyo Rim mendesah, ia akan bolos kerja hari ini untuk membeli gaun tidur.

=Make Me Confused=

Kali ini Hyo Rim bangun lebih dulu di bandingkan dengan Si Won dan masih mengenakan gaun tidur yang di belinya dengan kartu kredit suaminya. Ia tidak bangun dalam keadaan tanpa busana seperti biasa. Mulai sekarang Hyo Rim harus belajar untuk menghabiskan uang suaminya dan itu berhasil membuatnya tersenyum geli.

Hyo Rim sudah memulainya dengan membeli banyak gaun tidur. Semalam sebenarnya Hyo Rim sudah menunggu Si Won untuk pulang. Ingin memulai kehidupan barunya dengan memperlihatkan beberapa gaun tidur yang di belinya di depan Si Won.

Sayangnya ucapan Si Won tentang ‘Sampai jumpa besok pagi’ itu benar-benar terjadi. Si Won bahkan tidak pulang sampai tengah malam hingga akhirnya Hyo Rim lelah menunggu dan tidur lebih dulu. Entah jam berapa Si Won pulang semalam, yang jelas hari ini dia tidak akan kesiangan ke kantor karena ini adalah hari sabtu. Shomede’Manii benarbenar tidak di buka saat libur akhir pekan kecuali percetakannya.

Hyo Rim memandangi Si Won yang menggeliat, ia sudah antusias bila Si Won segera terbangun, tapi nyatanya tidak. Si Won hanya berpindah posisi dan kembali terlelap dengan tenang. Sepertinya harus di bangunkan, Hyo Rim mencari ide bagaimana ia bisa membangunkan Si Won dengan cara yang sopan.

Bagaimana bila menciumnya dan mengatakan ’Selamat pagi sayang’? Tidak, Hyo Rim tidak akan melakukan hal konyol seperti itu. Tapi mengguncang tubuh Si Won dan memintanya bangun juga bukan hal yang berani di lakukannya. Pada akhirnya Hyo Rim hanya memilih untuk mengamati Si Won dengan seksama sambil menunggunya terbangun.

Choi Si Won adalah seorang pria yang berkulit terang dan halus. Hyo Rim tidak menemukan noda apapun di wajahnya, laki-laki itu memiliki alis yang berwarna lebih gelap di bandingkan dengan rambutnya. Bibirnya mungil dan hidungnya mancung. Lehernya jenjang, bahu lebar dan dada bidang, lalu perut enam-kotak yang menggoda, Hyo Rim bisa melihat itu karena Si Won tidur dengan bertelanjang dada, sebagian tubuhnya ada di balik selimut.

Apa yang ada disana? Err.. Hyo Rim menggelengan kepalanya. Apa yang sedang di fikirkannya? Mengapa ia memikirkan hal itu? Hyo Rim sedang berfikir apakah Si Won tidur tanpa pakaian sama sekali seperti sebelum-sebelumnya? Perlahan ia mengangkat selimut dan mengintip kedalam. Si Won mengenakan sebuah celana pendek dari Nylon Spandex yang pas di tubuhnya. Dia tidak telanjang, tidak seperti yang Hyo Rim fikirkan.

“Apa yang sedang kau fikirkan?” Hyo Rim mengerjap. Ia segera menoleh kesumber suara dan melihat Si Won yang sedang memandangnya. Dengan cepat Hyo Rim menarik selimut yang di angkatnya dan berkamuflase seolah-olah ingin menyelimuti Si Won dengan benda itu.

“Ku fikir kau kedinginan. Makanya aku ingin menyelimutimu. Kau sudah bangun?” jelas Hyo Rim. Cukup pintar agar tidak ketahuan. Entah dari mana ide bicara itu.

Si Won bangkit dan duduk dan meminta Hyo Rim untuk bersandar si sebelahnya. Hyo Rim melakukan apa yang di inginkannya, membuat Si Won mendapatkan kebahagiaan pernikahan yang di inginkannya. Sebelah tangannya mendekap bahu Hyo Rim dengan santai “Aku lembur semalam, menyiapkan bahan untuk di cetak akhir pekan ini. Apakah kau menungguku semalam?”

Hyo Rim mengangguk. Ia sedang mencari perhatian, ingin menunjukkan betapa dirinya adalah seorang istri yang baik meskipun tidak mencintai suaminya. “Aku ingin memperlihatkan gaun tidur yang ku beli kemarin.”

“Aku sudah melihatnya satu. Yang kau pakai ini,” Si Won lalu memandangi dan menunjuk pakaian Hyo Rim dengan senyum. Hyo Rim sedang menggunakan gaun tidur yang terbuat dari sutra dan berwarna merah muda dengan bintik-bintik putih.   Motif tutul yang lembut dari perpaduan warna yang juga lembut, baby pink dan putih membuatnya tampak manis. ”Ada kimononya?”

Hyo Rim menggeleng. “Apa tidak berlebihan? Lapisan luar tidak penting. Disamping harganya yang mahal, juga tidak berguna. Aku cukup nyaman memakai yang seperti ini, meskipun bagiku celana lebih baik. Tapi kau bilang aku harus membeli gaun tidur.”

“Semuanya seperti ini?”

“Heum, panjang sekitar diatas setengah pahaku. Memilih warna yang berbeda-beda dan…”

“Jangan diteruskan.” Potong Si Won. “Biar jadi kejutan saja nanti.”

“Kau ingin melihatnya?”

“Aku akan melihatnya setiap kali kita akan tidur, dan ku harap setiap malam aku dapat suasana yang berbeda karena itu. Kau beli berapa banyak?”

“Tujuh, aku akan menggantinya setiap malam dan akan meminta uang kepadamu untuk beli yang baru setiap satu atau dua bulan sekali agar dirimu tidak bosan. Aku juga mau mengganti pakaian dalam dengan yang lebih seksi untuk ku pakai saat tidur!”

Si Won tertawa. “Baju tidur sangat mempengaruhi gairahmu rupanya. Kau tahu? Seharusnya kau tidak memakai apa-apa jika sudah mengenakan gaun tidur. Kalau ingin menggunakan pakaian dalam yang seksi juga percuma. Tanpa itu istriku juga sudah cukup menggoda.”

“Begitu ya? Aku tidak tahu yang satu itu. Selama ini aku mengenakan pakaian dalam saat tidur,” Hyo Rim melirik ke dalam gaun tidurnya. Sukses hal itu membuat Si Won tertawa lagi, Hyo Rim sedang menggodanya dengan cara yang sangat manis. Dia tidak tahu bagaimana cara menggoda laki-laki sesungguhnya.

Tapi seperti yang Si Won bilang, Hyo Rim sudah cukup menggoda tanpa harus melakukan apa-apa. Tentu saja begitu, karena selama ini Si Won hanya bisa memandangi tubuhnya dan menyentuh, membelai, tanpa melakukan hal yang lebih. Si Won hampir gila karena tidak bisa melakukan apa-apa kepada Hyo Rim. Melakukan dalam arti sesungguhnya.

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Si Won sambil menyenggol bahu Hyo Rim dengan lengannya.

“Hanya mencoba untuk menjadi istri yang baik.”

“Benarkah? Dengan cara menggodaku secara innocent? Membicarakan tentang pakaian dalam yang seksi?”

“Katakan padaku, Apa yang kau inginkan untuk aku lakukan hari ini? Apapun itu aku akan melakukannya.” Si Won menaikkan sebelah alisnya.

“Termasuk seks?” Hyo Rim menatap Si Won dalam. Ia tahu Si Won akan mengatakan itu, dan ia sudah menyiapkan kata ‘tentu saja’ sebagai jawaban. Tapi semangatnya kembali hilang, Hyo Rim tidak yakin dia sanggup melakukan itu sekarang.

“Termasuk seks?” Si Won mengulangi pertanyaannya. Tidak ada salahnya mencoba. Hyo Rim membatin. Ia mengangguk dan berusaha tersenyum penuh semangat.

“Tentu saja. Kalau kau menginginkan itu sekarang.”

Ia berusaha membuka gaun tidurnya dan setelah benda itu lepas, Hyo Rim segera melemparnya jauh-jauh. Sebelah tangannya berbelok kebelakang punggung mencari besi-besi mungil yang mengaitkan bra yang sedang di kenakannya.

Hyo Rim lupa kalau pengait itu berada di depan. Dengan susah payah ia berusaha membukanya. Benda itu tersangkut dan tidak mau terbuka secepat biasa. Gerakan Hyo Rim berhenti saat Si Won menggenggam tangannya dan mencium pipinya mesra.

“Hentikan, kau terlihat sangat gugup” Desis Si Won. “Aku tidak suka melakukan hal seperti itu pagi-pagi dan kalaupun itu terjadi aku tidak akan membiarkanmu membuka pakaian sendiri.”

Hyo Rim mengangguk mengerti. “Baiklah. Lalu apa yang kau inginkan hari ini?”

“Besok waktunya Halmeoni belanja bulanan. Kita saja yang pergi belanja dan biarkan Halmeoni beristirahat dirumah.”

“Belanja bulanan?” Hyo Rim sejenak memperlihatkan wajah heran, tapi lagi-lagi ia mengangguk. Sebenarnya Hyo Rim masih malu karena merasa di tolak. Si Won sudah menolaknya meskipun dengan cara yang sangat halus. “Baiklah, Aku juga mau belanja beberapa barang lagi.”

=Make Me Confused=

Tidak seperti dugaan Hyo Rim, ternyata di supermarket mereka tidak berjalan bersama. Hyo Rim benar-benar hanya berbelanja sendiri karena Si Won menemui kliennya di salah satu restoran yang tidak begitu jauh dari supermarket ini. Laki-laki itu tidak mengatakannya sejak awal dan itu membuat Hyo Rim kesal.

Seharusnya ia bisa bersantai di rumah hari ini, tapi sekarang yang di lakukannya adalah mengambil satu persatu barang yang di tentukan oleh daftar belanjaan. Sesekali Hyo Rim mengamati jam tangannya dan ia benar-benar sudah menghabiskan banyak waktu. Dua tahun di Seoul, ia tidak pernah pergi belanja sudah cukup menjadi alasan mengapa Hyo Rim menghabiskan banyak waktu berputar-putar di tempat yang sama demi mencari satu barang. Tepung.

Setelah semuanya terkumpul, dengan putus asa Hyo Rim berjalan ke kasir sambil mendorong troli yang sudah sangat maksimal. Hari ini Hyo Rim banyak berkeringat karena mendorong troli yang penuh dan berat membutuhkan banyak tenaga. Si Won sudah menunggunya di kasir, tentu saja harus begitu karena Hyo Rim tidak memiliki sepeser pun. Si Won yang harus membayar semuanya.

“Kau sudah selesai?” Hyo Rim mencoba-basa-basi meskipun hatinya sangat kesal. Sesekali ia memandangi Si Won yang membantunya mengeluarkan barang-barang belanjaan dari troli.

“Kau marah? Terlalu lama menunggu ya?”

“Tidak!”

Si Won tersenyum kecut. Hyo Rim sedang kesal padanya dan itu kelihatan sekali. Tapi jika Hyo Rim mengatakan tidak, Si Won sama sekali tidak ingin bergumam apa-apa. Ia hanya mencoba memperhatikan Hyo Rim yang berusaha untuk tidak perduli kepadanya dan terus memandangi kegiatan kasir yang ada di hadapannya. Barang-barang belanjaan sangat banyak dan semuanya harus di angkat kembali kedalam troli agar lebih mudah di bawa ke dalam mobil.

Setelah membayar semuanya, Si Won dan Hyo Rim kembali ke rumah. Hyo Rim benar-benar tidak berbicara dan hanya mengatakan dirinya sangat lelah. Begitu sampai dirumah Hyo Rim bahkan langsung masuk ke kamar tanpa membatu Si Won mengangkat barang-barang yang sangat banyak itu ke dapur. Hyo Rim sudah berkeliling mencari barang-barangnya dan sekarang giliran Si Won yang mengangkutnya kedalam rumah.

Sebuah buku menjadi incaran Hyo Rim dan ia ambil dari rak bukunya dengan hati-hati. Sebelum naik ke atas tempat tidur dan bersandar, Hyo Rim menghela nafas lagi. Sekarang apa yang Si Won lakukan? Mengapa belum masuk ke kamarnya juga setelah mengantarkan semua belanjaan kedapur? Padahal Hyo Rim sudah banyak menghabiskan waktu untuk memilih buku yang akan di baca ulang. Akhirnya Hyo Rim mengembalikan bukunya ke rak, ia tidak jadi membaca dan memilih untuk duduk di atas sofa sambil memainkan game di ponselnya.

Selang dua jam kemudian Hyo Rim sudah mulai bosan. Si Won belum masuk juga hingga sekarang. Apa yang di lakukannya? Hyo Rim menyesal mengatakan tidak saat Si Won bertanya apakah Hyo Rim marah pada Si Won. Jika Hyo Rim tidak mengatakan apa-apa Si Won pasti segera menyusulnya ke kamar dan membujuknya. Langit di luar jendela mulai mendung, hari ini akan turun hujan yang lebat karena langit begitu gelap.

Menghela nafas lagi, Hyo Rim sudah bosan menunggu. Mengapa ia hanya menunggu Si Won masuk ke kamar? Ia harus menelponnya, Hyo Rim harus menelpon Si Won . Tapi apa nama Si Won di ponselnya? Hyo Rim memulai dengan kata yeobo dan tidak ada, lalu nae nampyeon dan Hyo Rim tidak menemukannya juga. Ia hampir putus asa lalu mencoba mencari satu persatu dengan lemah. Hyo Rim menemukan namanya.

Sajang-nim? Hyo Rim menyimpan nama Si Won dengan nama itu? Seharusnya ia bisa menduganya, bukankah pernikahan mereka di rahasiakan dari kantor? Jadi seharusnya dia tidak usah marah karena Si Won meninggalkannya untuk urusan kantor. Dirinya bukan sekertaris Si Won sehingga tidak bisa terus terlihat bersama, bahkan Si Won juga gemar meninggalkan sekeretarisnya di kantor. Hyo Rim mendekatkan ponselnya ketelinga dan menunggu Si Won mengangkat telponnya.

“Kau tidak marah lagi?” Kata-pertama yang di ucapkan Si Won saat mengangkat telpon ternyata bukan Hallo. Laki-laki itu menduga kalau Hyo Rim marah kepadanya dan itu memang benar-benar terjadi.

“Kalau kau tahu aku marah kenapa tidak membujukku? Kau tidak mengerti perasaan wanita?”

“Dulu aku selalu melakukannya dan pada akhirnya kau melemparkan semua barang kepadaku. Aku tidak mau hal seperti itu terjadi lagi!”

“Sekarang kau dimana?”

“Aku di halaman belakang.”

Hyo Rim mendekat ke jendela dan melihat Si Won yang berada di atas ayunan di bawah pohon yang sagat besar. Itu pohon Elder yang sengaja di pelihara Halmeoni untuk membuat halaman belakang lebih sejuk. Pohon yang sudah sangat tua. Tiba-tiba hujan deras turun dan Si Won tampak berlarian masuk kembali kerumah, tapi ia belum menutup ponselnya.

“Kau basah?” Tanya Hyo Rim lagi.

“Ya, hujan tiba-tiba dan aku sudah basah. Apa aku sudah boleh masuk?”

“Kenapa masih bertanya? Bukannya kamar ini juga milikmu. Masuklah!”

“Kau sudah tidak marah lagi?”‟

“Masuklah dulu baru kita bicara!”

Entah mengapa Hyo Rim menanti dengan senang hati. Ia kembali meletakkan ponselnya di atas sofa menanti Si Won datang sambil menyiapkan pakaian kering dan handuk. Setelah semuanya siap, Hyo Rim duduk di atas tempat tidur dan memandangi pintu.

Si Won datang, ia mengetuk pintu dan baru masuk setelah Hyo Rim mengizinkannya. Benar sekali kalau Si Won basah, ia masuk ke kamar dengan air yang menyertai jejaknya. Hyo Rim mendekat begitu Si Won hendak berjalan ke kamar mandi, Ia menghentikannya dan Hyo Rim tidak mengerti ada apa dengannya.

 “Kenapa?” tanya Si Won dengan suara parau yang tiba-tiba. Si Won segera berdehem untuk memulihkan suaranya.

“Aku sudah menyiapkan pakaian dan handuk untukmu disini, lalu untuk apa kau ke kamar mandi?” Hyo Rim membuka kancing kemeja Si Won satu persatu dan membuang kegugupannya jauh-jauh. Ia memilih menikah dengan Si Won pasti karena ada alasan yang kuat mendasarinya. Jadi walau bagaimanapun Hyo Rim harus menjaganya dengan baik.

Si Won hanya tertegun tidak menyangka dengan perbuatan Hyo Rim kali ini. Hyo Rim membantunya membuka pakaiannya yang basah lalu mengusap tubuhnya dengan handuk sehingga tubuhnya kering. Si Won bisa melihat kalau wajah Hyo Rim memerah dan wanita itu masih berusaha menahannya.

“Kau baik-baik saja? Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Tidak apa-apa. Biarkan aku melakukannya karena aku istrimu!”

“Kau tidak takut membuka pakaianku? Bagaimana jika aku menyerangmu karena aku hampir kehabisan kesabaran dengan ini. Aku tahu kau belum siap Hyo Rim, jadi berhentilah memaksakan diri seperti ini. Aku tidak ingin menyakitimu.”

Hyo Rim berhenti bergerak lalu menengadah memandang wajah Si Won.

“Ya, Aku memang belum siap. Aku hanya tidak mau membiarkanmu kecewa terus menerus karena pernikahan ini harus di pertahankan. Mengapa kita bisa bersama-sama seperti ini sekarang aku sama sekali tidak mengetahui alasannya. Yang pasti jika sampai ada pernikahan berarti aku bermaksud untuk hidup selamanya bersamamu bukan?”

“Pernikahan ini ada karena dirimu, dan karena ku fikir hanya Jung Hyo Rim yang membuatku hampir gila atau mendatangkan kebahagiaan untukku. Tapi itu semua aku berharap tidak memaksamu dalam hal apapun.”

“Lalu kau akan menahan hasrat itu seumur hidup?”

“Aku bisa mencari wanita lain untuk yang satu itu. Wanita menganggap seks adalah bagian perasaan. Perasaanmu tidak bisa di paksakan karena aku tahu kau masih berharap pada Jae Joong.”

“Soal Jae Joong aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi soal seks, kau boleh melakukannya kapanpun kau mau. Aku istri…”

Kata-kata Hyo Rim tidak keluar lagi karena semuanya sudah di telan oleh cumbuan Si Won. Hyo Rim yang semula kebingungan berusaha menikmatinya meskipun sulit. Dia dan Si Won akan melakukannya sekarang juga dan kali ini Hyo Rim harus menahan diri untuk tidak menolak.

Si Won benar-benar meraba seluruh tubuhnya, perlahan dan pasti membuka seluruh pakaiannya dan membuat Hyo Rim meleleh sehingga ia benar-benar berakhir dalam kepasrahan di atas tempat tidur. Hyo Rim menunggu Si Won melakukan sesuatu yang lebih, ia merasakan saat Si Won menghujani tubuhnya dengan ciuman.

Akhirnya Hyo Rim mengerang, seluruh otot tubuhnya mulai mengejang untuk beberapa waktu hingga semuanya berulang dari awal lagi. Si Won masih belum menyatukan dirinya dan Hyo Rim. Si Won hanya ingin bermain-main dengan tubuhnya, kembali merangkak ke atas tubuhnya dan kembali memberi Hyo Rim ciuman erotis. Hyo Rim menolak, ia memalingkan wajahnya.

“Ini yang kau sebut seks?” Desis Hyo Rim pelan. Ia berusaha untuk menolehkan wajahnya dan kembali menatap Si Won yang terus memandanginya.

Untuk beberapa lama Si Won mematung lalu menjauh dari tubuh istrinya saat ia tersadar. Si Won berbaring di sebelah Hyo Rim dan menyimak helaan nafas Hyo Rim yang terburu-buru. Hyo Rim sudah klimaks hanya dengan permainan seperti ini.

“Hanya ingin bercumbu dengan istriku.”

“Kau membuatku bingung. Jadi selama ini kau hanya ingin bermain-main seperti ini denganku?”

“Ini bukan seks! Aku sudah bilang, Kan? Aku hanya ingin bermesraan saja.”

“Apa ada wanita lain?”

Si Won tersentak. Wanita lain? Dia sedang cemburu? Si Won menoleh kepada Hyo Rim yang memandangi langit-langit kamar. Dia hanya basa-basi, pertanyaannya tentang wanita lain sama sekali tida serius.

“Aku selalu memiliki hasrat kepadamu, tapi tidak cukup untuk yang satu itu. Kalau kau mau marah silahkan saja, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya dengan wanita yang memikirkan orang lain. Maaf tentang kejujuranku yang satu itu.”

Hyo Rim menggigit bibirnya. Si Won secara tidak langsung mengatakan alau ia sedang menunggu Hyo Rim menyerahkan diri secara seluruh kepadanya bukan hanya tubuh, tapi juga hati.

“Seharusnya aku yang meminta maaf tentang itu. Tapi percayalah kalau aku sedang mengusahakan yang terbaik.”

“Lalu?”

“Lalu apa? Aku tidak akan menyudahi semuanya sampai disini saja. Kalau memang hasratmu sebatas bermain-main seperti ini, kau boleh melakukannya setiap kali gairahmu hadir. Meskipun kau sendiri tahu kalau satu-satunya orang yang mendapat kepuasan maksimal dalam permainanmu ini hanya aku. Kita lihat siapa yang menyerah lebih dulu!”

Hyo Rim mendengus, ia menarik selimut dan membungkus tubuhnya lalu berbalik membelakangi Si Won. Si Won menyunggingkan sebuah senyum.

Ya, kita lihat apakah aku akan tahan dengan ini, atau aku akan menyerangmu di saat-saat kau tidak menginginkannya. Bisik Si Won dalam hati.

TBC

Wow rating kkkk menggoda. Jadi pengen>< /abaikan/ /masih kecil/

Iklan

6 pemikiran pada “Make Me Confused – Part 2

  1. Ping balik: Make Me Confused – Part 3 | JHR Present!

  2. Ping balik: Make Me Confused – Part 4 | JHR Present!

  3. hoho…semua masih abu2, apa alasan hyo mintaa siwon untuk menikahi nya, alasan dari di rahasiakannya hubungan jae joong dan hyo dulu, alasan putus nya hubungan mereka, dan kenapa hyo bisa ilang ingatan???

    Suka

  4. Ping balik: MAKE ME CONFUSED – PART 3 | THE SEONSAENGNIM

  5. Ping balik: MAKE ME CONFUSED – PART 4 | THE SEONSAENGNIM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s