All About You – Part 1

wpid-photogrid_1436065526646.jpg

 

Before

“You are my hero.” – Jung Hyo Rim

 

Langit gelap menghiasi kota Seoul sejak aku keluar dari kawasan Café Monster sampai Kyeong-Dong. Sore itu pengunjung daerah Kyeong-Dong sangat ramai. Setelah membeli semua pesanan Ha Na Imo, aku segera pergi menuju Gyesok University.

Hujan yang akhirnya turun dengan deras membuatku berlari dari parkiran ke gedung utama tempat Manisi kami berada. Sabtu memang menjadi jadwal latihan taekwondo. Sebelumnya pun aku telah berjanji dengan Ha Young untuk bertemu dan melatih para sabeum-nim.

Walaupun cuaca sedang tidak baik, niat para sabeum-nim atau aku menyebutnya para Hoobae-ku ini tidak pernah surut. Mungkin mereka berniat latihan dengan serius atau karena ingin melihatku dan Ha Young? Maaf, abaikan rasa percaya diriku ini. Setelah memasuki tempat latihan, mereka dipandu oleh Ha Young sedang melakukan stretching-pemanasan. Sepertinya mereka tidak menyadari kedatanganku. Daripada mengunggu lama, aku harus segera bergabung bukan?

=All About You=

Aku dan Ha Young berencana mengajarkan mereka tehnik Jireugi. Memastikan mereka paham dengan teori yang diberikan oleh kami, segera kami bagi para sabeum-nim secara berpasangan. Dengan tujuan memperhatikan dengan baik serta perlahan  mempraktikannya secara utuh. Aku dan Ha Young memberi contoh kombinasi antara Meomteong-i Jireugi dan Eolgeol Jireugi, dua Jireugi yang sering digunakan.

Aku akui Ha Young merupakan yang paling hebat dalam tehnik ini. Walaupun postur tubuhnya lebih pendek dariku. Aku heran, dengan tubuh yang mungkin orang lihat –masih-seperti enam-belas tahun mudah sekali melakukan bahkan mengecoh lawan dengan jireugi telak. Beberapa kali kami berganti peran, sebagai pemukul atau yang dipukul seperti saat ini.

Tapi, meomtong-i jireugi yang dilakukan Ha Young kali ini harus membuat ku telak!

“Hyo Rim-ah maafkan aku. Apa aku terlalu over?”

“Tidak, aku tidak apa-apa,” Balasku sambil mengibas daerah bokongku yang sedikit sakit akibat terjatuh tadi.

“Benarkah? Jangan bilang kau menahan sakitnya, Hyo.”

“Tidak, astaga, kau terlalu berlebihan. Kurasa pukulan dari tanganmu semakin hebat.” Pujiku dengan satu jempol yang ku acungkan. Ku lirik sejenak dia hanya memutar bola mata.

Latihan kami lanjutkan sepeluh menit kemudian untuk waktu istirahat. Malam itu aku dan Ha Young habis-habisan melatih para hoobae. Entah kenapa dengan melatih rasa puas bias dengan cepat memenuhi tubuhku.

“Ha Young-ah, besok aku akan pergi ke Shanghai dengan Ha Na Imo. Sekitar seminggu mungkin,” ucapku usai latihan dan memberi tahu sabeum-nim untuk pulang

“Apa? Seminggu? Kalau aku jadi kau sepertinya aku akan mengambil waktu dua minggu,”

“Itu kau bukan aku. Lagipula sebenarnya aku tidak ingin pergi bersama Imo. Kau tahu? Aku akan melakukan perjalanan dengan para ahjussi-ahjumma dan paling menyebalkan rasa bosan cepat datang,”

“Beruntung kau sudah diajak, Hyo. Cepat pergi dan lekas kembali.” Dengan santai Ha Young berbicara seperti itu sambil mengibaskan tangan kanannya.

“Kau mengusirku?” aku melotot kepadanya

“Kau seperti tidak tahu aku saja. Yang pasti hanya satu yang mau aku pesan kepadamu,”

“Seorang pria tampan nan kaya yang single untukmu. Apa tidak ada yang lain?”

“Nope. kau memang sahabat terbaikku.”

Aku berpikir keras, “Mungkin salah satu kenalan Imo cocok dengan tipe-mu itu,”

“Yak! Yang seumuran dengan kita,” Ha Young mulai bersedakap tak suka. Hahaha. Ekspresi wajah sangat lucu.

“Akan aku coba. Semoga aku juga bisa bertemu dengan…”

“Jodoh mu?” tebak Ha Young

“Mungkin,”

=All About You=

Lobi tempat keberangkatan Bandara Incheon pukul empat pagi sudah ramai dipenuhi orang yang sedang kesana-kemari dengan barang bawaan masing-masing. Belum masuk ke ruangan, baru di terasnya saja Imo sudah sibuk berbicara dengan para kolega sesama dokter spesialis kulit dan kelamin. Imo bilang kelompok kami akan berjumlah sepuluh orang. Aku tersenyum. Sebagian besar dari mereka adalah dosen pembibingku dulu saat masih kuliah.

“Rim-ah! Ayo kesini sebentar,” panggilan Imo membuyarkan lamunanku

“Ini Jung Hyo Rim, keponakan saya tercantik dan pintar. Sekarang bertugas di Hansok Hospital,” Imo melirikku sebentar, “Tahun depan masuk spesialisasi,”

“Cantik seperti Imo-nya,” puji Jin Hyuk Uisa membuatku terspu malu. Jin Hyuk Uisa lalu mengulurkan tangannya dengan senyum diwajahnya. Kalau sedang santai seperti ini, wajahnya jadi lebih hangat dan bersahabat. Banyak lelucon yang dilontarkan, apalagi jika sudah menyangkut tentang Imo, mereka terlihat ramai dan kompak.

Rumah sakit tempat Ha Na Imo dan Jin Hyuk Uisa berbeda, sehingga mereka jarang bertemu. Mungkin ini yang menyebabkan mereka lebih heboh dan akrab seperti melepaskan rasa rindu. Dan oh! Hanya didepan para kolega Imo aku memanggil Jin Hyuk Uisa, jika hanya dengan Imo aku menyebutnya Jin Hyuk Samchon. Hei, ini adalah perintahnya asal kalian tahu. Dengan fakta aku tidak terlalu akrab dengannya. Dasar aneh.

Tiba-tiba aku merasa asing di tengah kumpulan kami yang rata-rata sudah berumur dan sebagian dari mereka berprofesi sebagai dokter kulit. Aku ini dokter gigi, ingat? Gigi dan kulit, sayangnya tidak ada sangkut-pautnya. Seperti perkiraanku sebelumnya, rasa bosan cepat datang apalagi dengan ahjussi-ahjumma yang jelas tidak sepantaran. Bersikap homat dan santun ala gadis idaman dengan terpaksa aku lakukan.

Sesaat pikiran ku melayang entah kemana, Jin Hyuk Uisa memanggil seseorang yang baru saja datang diantarkan oleh mobil Sowner hitam. Dari jauh aku melihat seorang pria dengan tubuh tegap dan tinggi turun dari mobil lalu menghampiri Jin Hyuk Uisa.

“Won-ah!” panggilnya lalu melambaikan tangan. “Aku juga mengajak keponakanku, Ha Na-ya. Sekarang sedang mencoba spesialisasi anak di paruh tahun kedua. Maka dari itu ku ajak dia ikut rombongan kita,” jelas Jin Hyuk Uisa.

Rombongan kami ingin terbang ke Shanghai untuk menghadiri Asia’s Petriatic of Dermatology. Dan yang pasti seminar tentang kedokteran.

Siluet bayangan tubuh pemuda itu semakin jelas, reflek aku terdiam sambil menahan agar detak jantungku tidak berulah bahkan takut sampai terdengar oleh Ha Na Imo. Pria itu dengan cara berjalan yang sangat aku kenal sampai terlihat sangat dekat. Keringatku mulai keluar dengan deras melihat pria itu dengan dekat.

“Choi Si Won imnida,” mengulurkan tangan kepada Ha Na Imo dengan anggukan hormat, kemudian beralih menatapku sekilas dan menyalamiku dengan sikap yang sama.

“Jung Hyo Rim imnida,” Aku sambut uluran tangannya lalu dengan cepat menunduk dan berusaha tidak memperhatikan. Aku takut semua orang di sekitarku tahu aku sedang salah tingkah! The unknown male yang selama ini kau perhatikan bernama Choi Si Won dan berprofesi sama denganmu –walaupun berbeda bidang- ikut dalam rombongan ini. Aku bisa lebih dekat dengannya!

“Kita pernah bertemu sebelumnya,” tiba-tiba Si Won mengajakku berbicara.

Aku menoleh padanya, “Benarkah? Maaf sebelumnya, aku mempunyai ingatan yang buruk,”

“Beruntung aku masih jelas mengingatnya, di Café Monster kemarin. Benar! Kau gadis yang di café itu,” tuduhnya dengan mata yang berbinar.

“Ya, aku ingat sekarang.” Dengan berusaha tenang mengatur gerak tubuh, “Aku juga baru ingat kemarin belum berterimakasih kepadamu. Kau, menyelamatkanku yang hampir tertabrak,”

Ku lirik sekilas, dia hanya mengangguk lalu tersenyum.

“Kalian sudah saling mengenal?” Tanya Jin Hyuk Uisa menyela pembicaraan kami.

Menggeleng sejenak, “Tidak, Uisa-nim. Hanya kebetulan saja,”

“Apa yang terjadi dengan mu, Rim-ah? Sampai Si Won-ssi harus menolongmu?” Ha Na imo mulai menyerangku dengan tatapan curiganya.

“Tidak, Imo. Kemarin aku hampir tertabrak dan secara kebetulan Si Won-ssi langsung menarik lenganku,”

“Apa ingantanmu yang buruk harus berdampak sampai kau hampir tertabrak? Bagaimana jika Si Won-ssi saat itu tidak ada mungkin kau akan terbaring di ranjang rumah sakit dengan peralatan yang seharusnya kau memakaikan bukan kau yang pakai,” tanpa dosa Imo berbicara seperti itu, berbicara tanpa kenal batas.

“Ha Na-ya, Hyo Rim-ssi sudah besar dan menyandang status dokter. Jangan kau anggap masih seperti anak kecil,” Jin Hyuk Uisa-nim  mengedipkan matanya kepadaku. Aku merasa tersanjung. Sekarang aku bisa menyimpulkan bahwa Jin Hyuk Uisa –samchon- orang yang menyenangkan.

Berdiri berdekatan dengan orang yang kau kagumi tentu akan membuat kita salah tingkah, seperti yang ku lakukan sekarang. Mencuri-curi pandang, lalu memperhatikan wajahnya yang seperti aktor yang mempunyai ketampanan luar biasa. Hidung mancung, jidat yang menggoda, senyum yang membuatmu luluh ditambah dengan adanya lesung pipit bisa membuat kalian meleleh dalam sekejap. Penampilan yang sangat menarik.

Kulirik jam ditanganku, jam lima lebih duapuluh dengan mengingat kami berangkat jam enam tepat. Si Won tampak sibuk mencari suatu dari saku jaketnya, kemudian menyerahkan benda itu kepada Jin Hyuk Uisa. Pamannya itu menerima paspor yang kemudian dijadikan satu dalam satu tas kecil. Saat itu juga aku langsung merogoh tas ku untuk mencari benda yang serupa. Kemana pasporku? Oh tidak, pasporku!

Keringat dingin mulai melanda tanganku. Yang aku ingat, dirumah sebelum keberangkatan ke Bandara Incheon pasporku sempat ku pindahkan ke bagian tas bagian depan agar lebih mudah mencarinya. Tapi sekarang barang itu tidak ku temukan di tiap bagian tas. Sejenak aku ingat, dengan panik mengigiti jari telunjukku. Tadi setelah melangkah dari gerbang, tas terjatuh. Pasti paspornya juga jatuh didepan gerbang. Oh betapa cerobohnya kau, Jung Hyo Rim!

Yang paling mungkin sekarang adalah aku harus mengambil paspor tersebut sebelum terkena hujan menjadi basah, rusak, atau apapun itu aku tak sanggup membayangkannya. Memperkirakan waktu, ini tidak mungkin cukup! Dari Incheon menuju rumah butuh waktu tiga puluh menit. Bagaimana ini?

Perlahan aku mendekati Imo. Kubisikkan apa yang terjadi, sejnak kuperhatikan. Wajahnya yang bahagia akibat lelucan dari serombongannya, langsung berubah drastis. Campuran antara panik, heran, dan kesal. “Astaga, kenapa kau bisa lupa sayang?”

“Maafkan aku, Imo. Sepertinya aku tidak ikut saja. Jika kita mengambilnya sekarang waktunya tidak cukup,” pintaku dengan wajah memelas

Bukan Yoon Ha Na namanya jika tidak punya akal tiada batas! “Hyo Rim-ah! Sekarang kau ambil paspor itu, Imo akan memberitahukan masalahmu, agar mereka bisa menunggumu. Cepat!” teriak Imo keras

“Ada masalah apa ini?” Tanya Jinhyu Uisa kebingungan sambil berusaha menjajarkan dengan Ha Na Imo membawa koper dan bersiap masuk ke boarding room

“Paspor Hyo Rim tertinggal dirumah, Hyuk-ah” jawab Imo dengan nada pasrah

Jin Hyuk Uisa terkejut sejenak, lalu menatapku, “Baiklah. Ayo Ha Na-ya, aku antar kau ke dalam. Hyo Rim-ssi cepat cari taksi. Masih ada waktu untuk mengambilnya, mungkin pesawat bisa di-delay,” usul Jin Hyuk Uisa membuatku sedikit tenang. Ia dan Ha Na Imo masuk keruangan untuk melaporkan masalah ini.

Bingung. Aku tidak tahu harus mencari taksi kemana, sungguh aku tidak cukup tenang untuk berpikir saat ini. Si Won yang mungkin tahu keadaan yang terjadi, langsung menyuruhku dengan agak sedkit bingung, “Ikut aku. Aku harap bisa membantu mu.”

Dalam keadaan seperti ini, aku langsung menuruti perkataannya karena hanya dia yang bisa ku andalkan saat ini. dan ini seperti salah satu peluang. Ya, peluang..

“Temanku masih diparkiran untuk menjemput kakaknya setiba dari Jepang, sama seperti waktu terbang kita.” Si Won menjelaskan sambil kami berdua terus berlari ketempat dimana mobil yang mengatarnya tadi. Mobil hitam yang samar-samar itu langsung Si Won buka pintunya.

“Hyung, ini penting! Aku pinjam mobilmu untuk membawa gadis ini pulang, paspornya tertinggal. Aku yang akan menyetir. Jung Hyo Rim masuklah!” pria itu tampak menurut dan segera duduk di jok belakang. Mesin mobil yang keluaran sepuluh tahun lalu ini –mungkin- terdengar terpasksa untuk melaksanakan impossible mission kami.

“Alamat,”

“Huh?” aku menoleh pada Si Won

“Alamat rumahmu Hyo Rim-ssi,” Tanya Si Won memburu

“Samgeongcheol 102, Cheongdam” jawabku dengan suara bergetar sambil kulirik jam tanganku. Pukul lima dualima, apa mungkin cukup? Oh Tuhan kenapa tubuhku ikut menggigil..

“Sebaiknya tenangkan dirimu. Aku yakin kita bisa sampai kembali lagi ke bandara,” tenang Si Won sambil tersenyum kepadaku.

Aku mencoba mengatur rasa gelisah, “Ya, Si Won-ssi”

“Si Won-ah, sebaiknya setelah pertigaan Kyungdae kau belok kiri. Kita tidak mungkin lurus karna jam seperti ini sudah mulai macet,” saran pria teman Si Won-ssi yang baru aku ketathui bernama Kim Jae Joong.

Aku dan Jae Joong berpegangan erat dibangku kami masing-masing karena mobil ini dibawa oleh Si Won seperti orang mabuk, namun tetap memperhatikan rambu-rambu yang ada. Tapi tetap saja di hari bahkan matahari belum tampil pun aku sangat gelisah. Beruntung jalan ini masih sepi sehingga Si Won bisa memaksimalkan kemampuannya ini.

Ponsel dalam kantong celanaku berbunyi, “Ya, Imo? Aku sudah sampai di perempatan sebelum komplek rumah kita,”

‘Tolong cepatlah, Imo sudah melaporkannya. Mereka bisa menunggu, tapi kalau terlalu lama mereka tidak bertoleransi lagi.’

“Iya, Imo. Aku dan Si Won-ssi sudah cepat sekali membawa mobil ini”

‘Si Won-ssi?’

Klik. Aku putuskan sambungan telepon. Imo akan bertanya yang tidak-tidak, kenapa bisa Si Won-ssi harus bersamaku disaat seperti ini. Imo, ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskannya.

Dua menit kemudian ponsel Si Won yang berbunyi. Si Won mengangkatnya dengan wajah tegang karena harus membagi konsentrasinya yang sedang mengemudi.

“Ya, Samchon? Tidak perlu khawatir, ini sudah hampir sampai dirumah Hyo Rim-ssi. Aku akan berhati-hati, sampai jumpa Samchon,” Jin Hyuk Uisa juga spertinya baru tahu keponakan –tampan-nya ini menghilang dan tidak bilang akan membantu untuk menjalankan misi ini.

Waktu kami semakin sempit, melihat jendela ke arah langit untunglah hari ini tidak mendung. Sekali lagi kuingat, paspor milikku pasti jatuh di depan gerbang. Ya, aku ingat!

“Di depan sana ke kiri lalu belok kanan, langsung berhenti tepat depan gerbang rumah” perintahku pada Si Won beberapa saat kemudian.

Aku turun dari mobil untuk mencari paspor yang aku ingat jatuh depan gerbang. Tapi dimana jatuhnya?!

“Kau yakin jatuh disini? Apa mungkin dir….”

“Tidak! Kali ini ingatanku baik, dan jatuh tepat depan gerbang,” jelasku tidak melihat Si Won yang hanya bisa melihat sekeliling daerah depan gebang rumah ku. Sama-sama mencarinya.

“Ya, Si Won-ah, cepat kau pindahkan mobil ini!” perintah Jae Joong. “Tidak, kau saja Hyung. Kau mempunyai mata rabun dan itu tidak berfungsi saat ini. Kalau kau.. Ha?! Apa jangan-jangan..” aku berjingat kaget tiba-tiba Si Won berteriak

“Dasar keras kepala!” rutuk Jae Joong. Pria bermata tajam ini menatapku, “Hyo Rim-ssi lihat dibawah mobil apa ada paspormu atau tidak? Seharusnya kita memakirkan mobil ini diseberang jalan,” segera aku lihat di bawah mobil setelah Si Won memindahkan mobil

Pasporku! Terimakasih Tuhan, akhirnya..

“Syukurlah kau menemukannya. Ayo kita tidak punya waktu banyak!” Si Won langsung menarik tanganku. Kami bertiga langsung kembali ketempat duduk semula. Saat itu juga Si Won langsung memutar kemudi 360o kembali ke arah Incheon. Ia melakukan dengan gesit, ban mobil kembali berderit-derit lalu memacu gas dengan kecepatan penuh.

“Sekarang jam berapa?” tanyanya sedikit cemas setelah mobil kembali ke jalan Kyeongdong

“Lima lewat empat lima,” jawabku tak kalah cemas. Aku berjengit, Si Won memacu gas lebih ganas, spontan aku langsung memgangi dashbor. Beusaha menetralkan jantung ini. menenangkan pikiranku yang mendadak pusing karena menyalip banyak mobil di depan kami.

Ponselku kembali bordering. Ha Na Imo, ‘Rim-ah, semua penumpang sudah boarding kecuali kami berdua. Bagasi kita dan punya Si Won-ssi sudah dibawa Jin Hyuk untuk masuk ke pesaat. Imo masih di teras keberangkatan bersama kru pesawat untuk menunggu kalian. Lima menit dari sekarang jika kalian belum sampai, terpaksa pesawat meninggalkan kalian. Dimana kalian?!’ jelas Imo dengan penekanan diujungnya.

“Ssamgeorok belok kanan ke Incheon, Imo.”

Si Won semakin kencang membawa mobilnya. Aku berdo’a. jika masih bisa datang tepat waktu adalah sebuah keberuntungan ditmbah keajaiban. Jika tidak, sebenarnya tidak apa-apa juga.

Tapi bagaimana dengan Ha Na Imo? Yang sudah kupastikan saat ini rasa kecewa mendalam dan perjuangan pria tampan disampingku ini menjadi sia-sia.

Bandara Incheon sudah di hadapan kami. Kulirik jam tanganku pukul lima-lima delapan. Mobil ini berhenti menciit tepat di depan Ha Na Imo dan seorang kru perempuan yang memegang handy-talky. Si Won dan aku kelur dari mobil dengan sangat terburu-buru. Hanya sempat melambaikan tangan tanda terimakasih kepada Jae Joong. Sementara Imo hanya bisa berteriak panik memanggil kami.

“Penumpang sudah datang. Masih ada kesempatan? Ganti.” Tanya kru itu berulang kali sambil menggiring kami bertiga berlari sepanjang lorong sampai mendekati pintu detektor. Tidak ada masalah lagi, kami berlari menuju ruang tunggu dengan banyak gate. Kru tadi membawa kami menuju gate dua lalu ke tempat keberangkatan pesawat. Seperti kehabisan oksigen, aku berhenti sejenak mengatur nafas, tetapi sesaat kemudian tangan Si Won menarikku untuk kembali berlari.

“Bagaimana? Harus ditinggal?! Apa pesawat sudah mundur dan siap pacu?” tanya kru tadi sedikit tidak yakin dengan suara yang semakin dikeraskan karena kami sudah berada di tempat terbuka. Sekitar kami banyak bus lalu-lalang mengangkat penumpang dengan kebisingan yang sangat menganggu karena suara pesawat yang menderu-deru.

Jantungku semakin berdebar mendengarnya, padahal aku sudah berlari sekuatnya seperti yang dilakukan oleh Ha Na Imo dan Si Won. Wajah kami bertiga begitu tegang menunggu detik detik keputusan pilot. Aku agak pesimis. Lagipula tidak ada gunanya usaha kami tadi berpacu dengan waku. Rasa tegang bertambah, ketika tangan Si Won mengenggam tanganku erat, mencoba menenangkan diriku.

“Posisi kami sudah sangat dekat dengan pesawat. Bisa ditunggu? Ganti.” Aku masih lemas, tapi kru tadi terus mempersilahkan kami naik mobil mengantar kami ke dekat badan pesawat. Ternyata pesawat masih parkir di tempatnya, tetapi dengan posisi mesin berbunyi sangat keras seperti siap dijalankan menuju landasan pacu.

“Bisa? Baiklah. Kami hampir sampai.”Keputusan pilot yang diulang oleh kru tadi seperti air hujan yang turun ditengah gurun pasir dan nafas ku yang masih tersengal-sengal.

“Syukurlah kalian tepat waktu. Pilot tidak mau menunggu penumpangnya terlambat.” Jelasnya singkat.

Mungkin kami datang benar-benar pada waktu yang tepat sehingga pilot pesawat masih mempertimbangkan untuk menunggu. Aku hanya bisa berucap syukur berkali-kali, rupanya Ha Na Imo juga melakukan hal serupa, lalu dipeluknya bahuku. Aku melirik ke arah Si Won yang tampak sumringah, mungkin lega luar biasa. Kerja kerasnya tidak sia-sia.

Kami berlari menaiki tangga pesawat. Begitu sampai di dalam pesawat, saat itu juga pintu pesawat segera ditutup dan pesawat pun langsung mundur menuju landasan pacu untuk persiapan take off. Tidak berapa lama dua pramugari memulai memperagakan cara menghadapi kedaruratan bilan terjadi sesuatu di dalam pesawat.

Aku masih sempat menyapukan pandanganku pada seluruh wajah penumpang yang sebagian ekspresinya menyiratkan ketidaksukaan, tetapi tidak bagi tujuh penumpang lain yaitu rombongan dokter yang dikaungi oleh Jin Hyuk Uisa. Rupanya cerita tentang pasporku yang tertinggal di rumah sudah menjadi berita terpanas di antara mereka. Kedatangan kami di dalam pesawat pun disambut dengan sukacita dan gelengan kepala. Dalam waktu empat puluh menit saja akhirnya aku bisa terbang ke Shanghai. Hal yang tidak mungkin terjadi, ketika aku memikirkannya empat puluh menit lalu. Kami masih sempat diajak bergurau oleh mereka.

“Hebat!”

“Keren!”

“Misi tak mungkin akhirnya bisa ditaklukan!

“Good job!”

Jin Hyuk Uisa mengacungkan jempol ke arah Si Won. Rupanya dia sangat bangga kepada keponakan tampan nya itu. Aku melirik lagi ke arahnya. Kebetual dia duduk persis di sebelahku dan sedang sibuk mengencangkan sabuk pengaman. Senyum lesung pipitnya tersungging lagi ke arahku. Yang ini lebih manis dari yang sebelumnya.

Aku baru sadar bahwa wajahnya lebih bagus dan lebih indah lagi ketika berada dijarak dekat ini. Dan satu hal, ternyata aku belum sempat berterimakasih kepadanya untuk yang satu ini. Pahlawanku, yang sudah dua kali ini selalu bisa menolongku, dan dua kali pula aku lupa berterimakasih.

“Untuk yang tadi, terima kasih.” Aku menggumam tidak jelas, tak tahu harus bicara apa.

Si Won hanya mengangguk dan tersenyum lagi. Senyum yang tulus. Pikiranku menerawang, membayangkan kejadian barusan seperti dalam mimpi saja. Tapi yang ini nyata, aku mencubit tanganku sendiri untuk memastikan.

Sakit!

Aku sedang tidak bermimpi dan yang duduk di sebelehku adalah salah satu dari tokoh utamanya. Aku kembali meliriknya sekilas. The unknown male ini benar benar berada di sampingku. Dua hari yang lalu aku masih menganggap dia sebagai obsesi semu, tapi sekarang sudah bukan hal semu lagi. Ini semua terlalu nyata.

=All About You=

Pesawat kami mendarat tepat waktu di bandara Internasional Shanghai pada pukul sebelas dua puluh waktu Shanghai. Begitu sampai, kami disubukkan oleh pengurusan bagasi masing-masing lalu dijemput oleh seorang gadis cantik yang akan menjadi tour guide kami selama di sini. Ia menyapa kami ramah sambil membungkukan badan sebagai tanda hormat. Nama gadis itu Xiang dan sangat lancar berbahasa Korea. Padahal ia belum pernah datang ke tempat kami.

Selanjutnya kami dibawa ke hotel tempat kami menginap. Hanya sebentar check-in, kami lanjut jalan-jalan menjelang sore ke pasar kaget Shanghai yang hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu. Ragam barang dagangannya sangat lengkap. Mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai souvenir cantik khas untuk oleh oleh. Xiang selalu mengingatkan kami agar selalu berhati hati saat berbelanja karena disini banyak pencuri yang bisa mengincar turis kapanpun.

Walaupun sedikit kotor, pasar ini sering di datangi oleh turis negara lain. Yang menyenangkan, barangnya bisa ditawar sesuai kepastian dengan si penjual. Pandanganku tertuju pada sebuah kios yang menjual sandal-sandal cantik penuh manik-manik yang motifnya senada dengan tas genggamannya. Aku membeli baju hijau lumut, kesukaan Eomma dan dua pasang sendal merah muda dan kuning untuk adik kembarku, Jung So Yeon dan Jung So Jung. Dan membeli satu set parfum arometerapi, mereka pasti senang.

“Hyo, menurutmu Kim Ahjumma ingin apa? Imo tidak mungkin membawa oleh-oleh koper penuh tapi tidak ada yang cocok dengannya.” Jelas Ha Na Imo kebingungan

Aku yang sedang dilanda lelah hanya bisa menjawab asal, kebetulan mataku sedang memperhatikan komponen alat alat terbuat dari kayu lalu dilukis cantik dengan berbagai warna. “Belikan saja alat masak yang baru dari kayu itu, Imo.”

“Yak! Tiga lemari atas apa tidak cukup untuk memasak makanan kita? Beli yang lain saja!”

“Imo yang meminta pendapatku, kenapa harus marah. Aish!”

Saat memasuki pasar, rombongan kami berpencar sesuai kehendak masing-masing. Dan membuat janji akan berkumpul lagi di pintu pasar jam lima sore. Seperti aku yang mengikuti kemanapun Ha Na Imo pergi, Si Won pun juga sama. Berjalan mengekor Jin Hyuk Uisa lalu entah kemana lagi. Aku merasa tidak waras dan seperti gadis tujuh belas tahun yang mengalami cinta pertama.

Tidak! Bukankah aku sudah punya pacar dan wanita dituntut untuk setia. Tapi, sejak didalam pesawat aku jadi lebih sering meliriknya dan memperhatikannya atau merasakan aura kehadirannya setiap dia dekat disisiku. Ku gelengkan kepalaku, agar aku tersadar kembali. Memikirkan itu semua membuatku tak sadar bahwa sedang tersenyum-senyum sendiri. Sampai kemudian aku merasakan sentuhan ringan di pundakku.

“Jangan tersenyum sendirian!”

Aku terkejut, itu suara Si Won tepat di belakangku. Pasti dia tahu semua yang ku lakukan barusan. Aku berbalik arah menghadapnya, lalu spontan tertawa begitu melihat nasibnya persis sepertiku. Tangan penuh dengan barang belanjaan.

“Ini pesanan Ahjumma di rumahku. Coba kalau dia ikut juga, pasti bawaanku lebih banyak lagi.” Si Won memulai pembicaraan. Aku tersenyum saja menanggapi. Yang dimaksud Ahjumma adalah istri dari Jin Hyuk Uisa.

“Mungkin menyewa porter terlebih dahulu tidak menjadi masa…”

“Tolong! Tolong! Hyo..!”

Aku menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. Imo tampak mempertahankan tasnya mati-matian dari seseorang pemuda lusuh. Itu pencuri! Dengan gerak cepat kulepas semua barang bawaanku untuk menolong Imo.

Tiba-tiba ada tangan yang lebih cepat dari langkahku telah meliukkan tangan pencuri itu, sehingga Imo jatuh. Sedetik kemudian ku lihat tubuh pencuri itu jatuh telungkup dengan sebelah tangan terpelintir kebelakang. Pencuri itu mendesis menahan sakit. Aku melihat sejenak, tampak Si Won merapatkan telapak tangan kirinya pada tangan kanan pencuri yang dipelintir kebelakang. Kaki kirinya ditempatkan di sela leher dan bahu pencuri itu seperti mengait. Tangan kanannya menekan bahu membuat pencuri itu dengan keras sehingga langsung jatuh kebawah, benar benar tidak bisa berkutik lagi. Aku terperangah, terkejut! Si Won melakukan dolryeo jireugi dan dengan tambahan are jireugi dengan sempurna. Si Won seorang sabeum-nim?!

Segera ku ambil tas Imo yang terjatuh tepat dihadapanku lalu berlari ke arah Imo. Langsung ku peluk Imo yang masih gemetaran. Banyak orang yang segera menggerumuni kami. Jin Hyuk Uisa yang baru datang tampak kebingungan dan segera menghampiri Imo. Lalu menepuk punggung Imo.

Beberapa saat kemudian Si Won melonggarkan tangannya pada pencuri itu lalu menyerahkan pada sekuriti pasar. Rupanya mereka cepat tanggap, segera datang begitu ada keributan ditengah pasar. Wajah Imo masih pucat, aku baru sadar sikap Imo tadi sangat pemberani diumurnya itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tas itu tadi akan berpindah tangan. Di dalamnya ada paspor, barang paling berharga saat keluar negeri.

“Terima kasih, Si Won-ssi.” Kata Imo dengan suara bergetar. Aku melirik Si Won yang masih sempat mengamankan belanjaan kami yang tercecer, lalu menyerahkan kembali padaku.

“Syukurlah. Won-ah, tadi pagi kau menolong keponakannya sekarang Imo-nya. Benar-benar hebat.” Gurau Jin Hyuk Uisa yang diikuti derai tawa kami. “Dia telah berlatih taekwondo sejak kecil. Terakhir sudah DAN-IV an sekarang ia menjadi pelatih di daerah Gyeonggi-do.”

“Hebat! Aku tidak tahu kalau kamu juga seorang sabeum-nim. Makanya aku berteriak Hyo Rim bahwa ini adalah makanannya. Hyo Rim juga seorang sabeum-nim, dan pelatih juga dan sekarang sudah DAN-II. Benarkan, Hyo?” Tanya Imo yang tidak yakin dengan jawabannya. Aku hanya mengangguk perlahan, membenarkan jawaban Imo.

Kali ini Si Won dan Jin Hyuk Uisa yang tampak terkesiap lalu melirikku sekejap. Tetapi tatapan mata Si Won lebih lama seperti menghujam. Jantungku dibuat berdetak seperti itu.

Annyeonghaseumnikka,” Si Won berkata dengan kedua tangannya diletakkan depan dada. Kami menyebutnay dengan Junshin yaitu salam hormat sesama sabeum-nim yang telah memberikan keteladanan kepada taekwondoin lain. Aku pun membalasnya dengan lebih hormat. Sedikit senyum pun tersungging di bibirnya. Tidak! Dia semakin tampan. Aku merasa semakin terobsesi dengannya.

Hari ini benar benar terasa istimewa. Sampai di kamar hotel, Imo langsung merebahkan diri ke kasur empuk lalu bergumam tak jelas. Tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Hyo, tadi pagi Si Won-ssi menolongmu, sorenya Imo yang ditolong.”

Aku tersenyum, “That is my hero, Imo.”

 

.

.

TBC

Haiiiii^^ Sepertinya jarak dari prolog ke part perdana waktunya jauuuuuuuuuuh sekali. Maafkan gadis labil ini.

#efeksuamiwamil #efekliburan #efekmau17tahun #curhatanseorangfangirl #suamiultah #HappyVisualAlayDay

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s