Unpredictable – Part 4

PhotoGrid_1436410039386

 

Author           : JHR

Title                : Unpredictable – Part 4

Cast               : Jung Hyorim, Shim Changmin, Kris Wu (Wu Yi Fan), other cast

Genre            : PG15, Romance

 

Part 1 / Part 2 / Part 3

 

Warning! TYPO EVERYWHERE ~~

= Unprecditable =

 

“Hyorim-ah, aku ingin bicara tentang YoungAh tadi..”

Tubuh Hyorim langsung menegang, ia menoleh ke JongWoon. “Waeyo sunbae?”

“Aku mendengar apa yang terjadi tadi di sekolah antara kau dengan YoungAh, dan aku juga tahu semua yang dibicarakan YoungAh padamu serta Sunye tentang diriku,”

“Aaah itu, itu…”

“Apa yang dibicarakan YoungAh, itu benar semua.”

“Hahaha, kau bicara apa sunbae? Sudahlah..” Hyorim tahu pembicaraan ini akan membuat hatinya makin tidak karuan.

“Tentang.. aku menyukaimu.. itu benar,” balas JongWoon menatap dalam mata Hyorim.

“Huh?”

“Ne, semuanya benar. Aku menyukaimu ketika kau sering berlatih basket sendirian. Pada awalnya aku ingin tahu tentang siapa dirimu. Kau mempunyai sesuatu yang lain dari yeoja biasanya, tidak suka berdandan, cuek, tidak mengejar namja-namja seperti yeoja lainnya, aku merasa kau beda dari yang lain. Kau menganggap hanya dunia mu saja yang ingin kau ketahui. Dan beberapa waktu lalu saat aku memintamu menjadi wakil ketua klub sepak bola, diluar prediksiku kau menolaknya. Dibalik itu, aku juga…”

“Juga..?” Hyorim tidak sabar menunggu lanjutan kalimat JongWoon.

“Aku juga mendekati Sunye agar tahu informasi tentang dirimu, keundae..”

“Keundae..?”

“..keundae yang ku lakukan sudah berlalu.”

“Mwo?”

“Kau tahu? Semakin aku dekat dengan Sunye, aku sadar bahwa dialah yeoja yang aku suka. Dia benar-benar sesuai tipe idealku. Mungkin perasaan padamu hanya sebagai fans? Hahaha aku berharap begitu..” tawa JongWoon disela penjelasannya

“Jadi.. kalau begitu.. sunbae?” Hyorim tidak menyembunyikan senyumnya karena mendengar dengan baik perasaan sunbaenya terhadap sahabatnya yang mungkin dirumah masih dibawah selimut. Menangis.

“Aku? Ada apa denganku?” JongWoon tak mengerti ucapan Hyorim

“Mmm maksudku sunbae menyukai Sunye? Jeongmalyo?”

“Apakah aku harus mengulang cerita ku kembali?” JongWoon membalas Hyorim sambil alis bergelombang.

“Ah johta!” reflek Hyorim mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, sunbae?”

“Bagaimana kalau aku menembaknya? Ah maksudku menyatakan rasa cintaku padanya?” JongWoon menatap tangannya, menerawang apakah ia sudah siap atau belum..

“Jinjja?! Lebih cepat lebih baik, dan.. aku berharap kau melakukan itu segera membuat Sunye tidak salah paham lagi denganku,”

“Dia menerimaku atau tidak?” gumam JongWoon

“Pasti!”

“Ye?!” JongWoon kaget dengan sentakan Hyorim yang mendadak-dadak.

“Pasti Sunye akan menerima mu sunbae. Tapi aku harap, kau juga menjelaskan seperti kau menjelaskannya padaku. Dan diakhiri dengan nyatakan perasaanmu itu, otte?” senyum Hyorim semakin mengembang.. aku berharap segera berbaikan dengannya, sunbae.

“Baiklah…”

“Malam ini saja sunbae..”

“Mwoya?”

“Aish, maksudku kau cepat kerumahnya dan menjelaskan apa isi hatimu itu..”

“Apa tidak terlalu malam?” JongWoon ragu akan saran Hyorim

“Aniyo, belum terlalu malam, aku yakin kau bisa sunbae!”

JongWoon beranjak dari tempat duduknya. “Arraseo.. aku akan kesana. Hyorim-ah, gomawo ne?”

“Ne sunbae!” akhirnya aku bisa bernafas lega

 

= Unprecditable =

 

After some days, back to home

Setelah sampai dirumah sehabis pulang sekolah, Hyorim dikejutkan dengan kehadiran kedua orang tuanya yang pulang dari London. Hyorim berfikir setelah pulang sekolah akan langsung mengganti baju dan tidur sepuasnya. Namun tak menyangka orang yang dirindukan nya –sangat- membentang kedua tangan agar Hyorim dapat memeluk, melepas rindu.

“Appa!”

“Annyeong Rim-ah,” sapa Tn. Jung. Hyorim berlari ke dalam rentang tangan ayahnya, dengan cepat Hyorim memeluk sang ayah.

“Kau tidak memeluk ibumu? Hm?” Hyorim menoleh cepat ke wanita paruh baya yang masih cantik baginya

“Eomma! Bogoshipda, jeongmal bogoshipda..” melepas perlahan pelukan sang ayah, beralih ke ibunya. “Ibu baik-baik saja bukan?”

“Eomma-ga gwaenchana.. Neo eotte? Apakah Yunho menjagamu dengan baik?” Ny. Jung mengendurkan pelukannya, mengelus rambut ikat kuda putrid bungsunya tersebut.

“Oppa memang baik menjagaku, tapi dia terkadang… menyebalkan eomma hehehe,” diakhir kalimat Hyorim berbisik agar sang kakak yang ia lirik -sebentar- tadi sedang berdiri.

Seperti disindir, Yunho hanya menatap orang tua dan adiknya lesu, tidak menanggapi apapun

“Oppa, waegeurae?” Hyorim menatap Yunho. Melepas pelukan sang Ibu, berjalan mendekati Yunho.

Dalam jarak dekat, sikap jahil Hyorim pun muncul. Ia berjalan perlahan ke arah sisi kanan Yunho, ketika sudah yakin berada di samping Yunho ia mendorong tubuh Yunho kekanan dengan sengaja, akhirnya Yunho hampir jatuh jika saja keseimbangannya diantisipasi dengan baik.

Hyorim yang langsung tertawa perlahan diam, ia tak mengerti kenapa reaksi jahilnya hanya dibalas diam oleh Yunho.

“Yak! Jung Yunho! Waegeurae? Kau sedang datang bulan eoh? Tersenyum saja tidak, menyebalkan!” tidak peduli ada orang tuanya yang sempat kaget terhadap ketidaksopanan Hyorim kepada Yunho –kakaknya-. Tn. Jung berdeham sejenak.

“Rim-ah, lebih baik kau makan dulu ne? ah sebaiknya kau ganti…”

“Ganti baju? Ne ne ne ne eomma. Tapi setelah ini jangan harap wajah tidak-semangat-hidup Oppa akan bertahan. Memang dia pikir wajah seperti itu tampan huh? ” gerutu Hyorim, berjalan menaiki tangga ke kamarnya.

“I’ll miss you,” ucap Yunho

Dengan telinga yang masih berfungsi dengan sangat jelas, Hyorim berhenti di tengah perjalan naik tangga, lalu berbalik. “Oppa… rindu padaku?” menunjuk dirinya sendiri

Menarik nafas sejenak, dikeluarkan secara perlahan. “Aku.. akan pergi ke LA, Hyo..”

DEG.

“For what?”

“Melanjutkan kuliahku dan…” Yunho ragu melanjutkannya

“And then?” paksa Hyorim

“Bekerja disana,”

“Apa kau pengangguran disini?”

“Aku akan berangkat malam ini, dua jam lagi aku akan take-off,”

“Kau sangat lucu, Jung Yunho,”

“Apa aku sedang bercanda?”

Yunho bingung harus menjelaskan bagaimana ke adik kesayangannya itu. Seolah-olah semua ini hanya candaan Yunho yang membuat Hyorim langsung terburu menuruni tangga, menggapai kedua lengan atas Yunho. Sebisa mungkin mencengkram dengan kuat. Tuan dan Nyonya Jung hanya bisa melihat kedua anaknya dalam diam. Biarkan mereka berbicara sepuasnya.

“Kau jahat! Kau tidak memberitahuku! Apa gunanya memberitahu sekarang? Oppa, hiks..hiks..ka-kajima..” Hyorim mengguncang lengan Yunho, perlahan ia menangis. Yunho tetap diam sambil menatap Hyorim

“Sayang, Yunho tidak tega melihatmu menangis jika kau tau dia akan ke L.A. Oppa-mu hanya menyelesaikan kuliahnya disana dan ju….”

“Dia akan bekerja di L.A? Berapa lama, Eomma? Lalu… hiks.. lalu,..”

“Dengar Hyo.” Yunho menangkup kedua pipi Hyorim. “Tidak peduli apakah aku akan lama atau sebentar disana, yang jelas aku ingin kau bisa mandiri. Bukan aku tidak ingin merahasiakan ini darimu, aku tidak ingin melihat adikku yang biasanya tegar dan pemberani ini tiba-tiba menangis membuang airmata, berbicara tidak tahu aturan kepada yang lebih tua, dan menganggap aku berbohong padamu. It’s not deal.”

“Hiks.. keundae, haruskah mendadak malam ini? Oppa hiks.. kajima-ma..” Yunho tidak tega melihat sang adik menangis terus menerus, langsung memeluknya dengan erat

“Seandainya bisa sayang, tapi Appa telah mendaftarkan Oppamu terlebih dahulu. Dan lusa, Yunho memulai kuliahnya,”

“Andwae.. Eomma, Appa, Oppa harus temani Hyo disini, je-jebal,”

“Mianhaeyo, tetap tidak bisa sayang..” dengan sabar Nyonya Jung memberi penjelasan. Hyorim hanya mampu terdiam, ia tak tahu harus berbicara apalagi.

Drtttt drtttt

Yunho melepaskan pelukannya, kemudian mengambil handphone di kantung celana sebelah kanan. “Yeobseyo? Kau ada di depan? Arraseo..”

“Nugunde?” tanya Tuan Jung

“Changmin, Appa. Dia akan mengantarkan aku ke bandara,”

“Oh keurom, bersiaplah, Hyorim juga akan mengantarkan kita ke bandara,” Tuan Jung beranjak dari tempat duduknya menuju kamar. Disusul Nyonya Jung.

 

= Unprecditable =

 

Setelah berganti pakaian, Hyorim duduk termenung di ruang tamu. Menunggu Tuan dan Nyonya Jung serta Yunho untuk mengantarkan mereka ke bandara bersama Changmin.

Dari samping tangga, tempat kamar Yunho, Changmin keluar. Menatap kedepan, ia melihat Hyorim duduk di ruang tamu sambil melamun. Entah dorongan inisiatif atau simpatif, Changmin menghampiri Hyorim. Ia berfikir mengajak Hyorim mengobrol sebentar bisa membuat mood gadis itu –agak- membaik.

“Hyorim-ah,” panggil Changmin

“……”

“Hyo,” sekali lagi Changmin memanggil Hyorim

“……”

Hah.. begitu berhargakah Yunho baginya? Aish Changmin! Jelas Yunho itu kakaknya, wajar dia seperti ini. Babbo! Perlahan, Changmin mengenggam tangan Hyorim, berusaha agar Hyorim mendengar –ketiga kali- panggilan darinya.

“Hyorim-ah,”

“Ah ne!” Hyorim tersentak, ada yang menggenggam tangannya. “Changmin oppa?”

“Ya ini aku. Kenapa kau melamun terus hm?”

“Aniyo oppa, nan gwaen..gwaenchana,” merasakan tangannya pelan-pelan menghangat, Hyorim melihat tangannya di genggam Changmin. Entah kenapa dia diserang gugup mendadak.

“Aku sudah sepuluh tahun berteman dengan Yunho Hyung. Aku, Junsu Hyung, Jaejoong Hyung, dia, dan Yoochun Hyung bersama seperti saudara. Meskipun dia tertua kedua, dia sangat memperhatikan kami dengan baik layaknya seorang kakak sekaligus leader bagi kami. Diantara J-Y-J Hyung, ak-..”

“JYJ Hyung?” tanya Hyorim tanpa menatap ke arah Changmin

“Jaejoong-Yoochun-Junsu Hyung, aku lebih merasa nyaman bersama Yunho Hyung. Dia adalah orang yang tanpa bertanya akan mengerti keadaan yang sedang terjadi kepada teman atau keluarganya. Aku bingung, dia itu temanku atau ayahku? Hahaha” Changmin bercerita dengan lancar

“…………”

“Dan kau harus tahu, Hyo. Bukan kau saja yang merasakan seperti ini, aku yang –kebetulan- mempunyai waktu untuk mengantar dia ke bandara, JYJ hyung sedang dilanda tugas akhir yang tidak ada habisnya, aku berpikir ’dia bercanda? Meninggalkan grup kami dan memperoleh cita-citanya disana?’ . Tapi jika dipikir ulang, dia memang harusnya disana, aku akan mendukung apapun yang dia lakukan selama dijalan yang baik,”

“Di jalan yang baik? Hmm..” bibir Hyorim naik satu-setengah-sentimeter ke kanan,

“Selain mengantar ke bandara, aku juga ada kewajiban lain disini selama Yunho Hyung di L.A,”

“Mwondeyo oppa?” entah kenapa Hyorim tertarik mendengar tugas wajib Changmin itu.

Oops! Tangan mereka masih menggenggam.

“Kau ingin tahu?” Changmin mendekat ke Hyorim, mengeluarkan senyum separuhnya.

“Ne? Ani..aniyo, kau tidak memberitahupun tidak apa-apa,” melihat senyum Changmin entah kenapa Hyorim merasa pipinya panas.

“Lihat! Pipimu memerah,” Changmin menunjuk tempat yang disebutkannya tadi.

Mengantisipasi pipinya bertambah panas, ah tidak, bertambah merah. Secara spontan Hyorim langsun tertawa pelan..

“Baguslah kau akhirnya tertawa, dari tadi melihat wajahmu seperti dinding putih yang tidak ada hiasan. Ko.song,”

Selagi Changmin bicara yang membuat suasana antara mereka menghangat, sebenarnya Changmin tipe orang yang tidak banyak bicara. Namun berada di dekat Hyorim entah mengapa jiwa bicara dan kata-kata manis langsung terlontar terucap dari bibir plum Changmin. Dan ada alasan lain mengapa Hyorim merasa pipinya sewaktu-waktu merona dan panas..

Tangan mereka –masih- menggenggam satu sama lain.

 

= Unprecditable =

 

Satu jam perjalanan ke Bandara, akhirnya Tuan Jung, Nyonya Jung, dan Yunho harus bertandang ke L.A. Berjalan beriringan dari pintu masuk hingga ke akhir para keluarga harus berhenti.

Yunho dan Hyorim berjalan bersama, dibelakang ada Changmin yang sedari tadi menatap punggung Hyorim yang dirangkul oleh Yunho. Entah apa yang dipikirkannya. Tuan dan Nyonya Jung berhenti sejenak. Oh, saatnya perpisahan.

“Oppa, jagalah dirimu baik-baik di sana,” ujar Hyorim

“Nde, neodo eoh? Jangan menyetel music keras-keras,”

“Na yaksokhae!” Hyorim tersenyum mengangkat ibu jarinya.

“Aku akan selalu menghubungimu, walaupun harus tahan dengan suara keras kelakianmu itu, atau pilihan lain seperti email? Kau harus sering membalasnya!” ucap Yunho diselilingi kekehan yang membuat Hyorim memutar mata. Jengah.

“Terserah apa katamu, yang jelas aku akhir-akhir ini sibuk, jad..

“Changmin-ah!” Yunho sengaja menyela Hyorim bicara

“Yak! Aku belum selesai bicara,” mau pergi saja sudah begini. Dasar oppa menyebalkan.

“Nde Hyung?” Changmin berusaha menahan tawa melihat kakak-adik yang sama anehnya itu.

“Ingat pesanku eoh? Kau yang aku percaya!” Yunho menepuk bahu Changmin. Entah apa yang diwasiatkan-atau- dijanjikan, yang jelas sesuatu seperti ‘titipan’ dari Yunho untuk Changmin.

“Ne arraseo, kau sudah bilang padaku lima kali selama perjalanan Hyung,” di percayakan begitu tapi sering diingat-ingatkan lama kelamaan membuat Changmin kesal juga.

“Pesan-pesan apa? Oppadeul?” Hyorim melihat sekilas Yunho menatap serius Changmin. Dari tatapan balik Changmin, Hyorim bisa men-translatenya. Changmin berkata seolah ‘aku akan selalu ingat’.

“Sudah sudah, Yunho sudah saatnya kita pergi. Changmin-ssi, terimakasih atas waktu luangmu, tidak usah repot-repot mengantarkan kami,” Tuan Jung menyudahi ketiga remaja itu, agar mengingat waktu.

“Gwaenchanhayo Ahjussi, aku tidak keberatan sama sekali,” balas Changmin tersenyum.

“Aah, nae yeodongsaeng, aku akan merindukanmu. Cepat.”

Yunho memeluk Hyorim erat. Hyorim baru menyadari bahwa pelukan sang kakak membuat tubuhnya hangat dan tidak lupa hidungnya mencium wangi ‘real maskulin’ menguar dari tubuh Yunho.

“Ayo sayang, sudah waktunya,” Nyonya Jung memperingatkan Yunho agar segera berjalan, bergegas memasuki pesawat. Sesudah itu, Nyonya Jung menatap Hyorim,

“Oppa, gantian Appa dan Eomma ne?”

“Ne ne ne, arraseo,” Yunho dengan berat hati melepaskan pelukannya. Lalu perlahan mengacak rambut Hyorim.

Setelah itu, Hyorim menyambut pelukan Nyonya Jung. “Eomma akan sering meneleponmu dan Kim Ahjumma. Be carefull wherever you stay, okay?” Hyorim mengangguk dan mencium kedua pipi Ibunya. Beralih ke Tuan Jung. Sama. Memeluk dan mencium kedua pipi Tuan Jung.

Yunho, Tuan Jung, dan Nyonya Jung akhirnya berjalan untuk segera memasuki pesawat. Yunho berbalik sejenak, sempat melambaikan tangan.

 

= Unprecditable =

 

“Changmin Oppa, apa pesan Yunho Oppa padamu?” tanya Hyorim penasaran ketika berada di mobil. Pulang dari bandara.

Changmin tersenyum. “Rahasia lelaki,”

Hyorim mengerutkan kening. “Mwoyaa?”

“Eoh Jung Hyorim penasaran rupanya,”

“Aish menyebalkan!” gerutu Hyorim. Ia langsung menghadap kejendela, sesekali mencebikkan bibir karna tingkat penasaran ditambah tingkat kekesalannya.

“Hei, Hyo, kau kesal padaku?” selagi fokus menyetir, Changmin tidak bisa menahan senyum melihat mulut Hyorim tidak pernah diam

“Kau pelit, Oppa!”

“Sebenarnya Yunho Hyung hanya berpesan padaku. Pesannya agar aku tetap terus men…”

“Mwo? Mwoya?” Hyorim langsung mengalihkan pandangannya kepada Changmin.

“Agar aku terus men..”

“Ne?”

“Menjagamu,”

“Ne?! Tapi, kenapa tatapan Oppa terlihat serius padamu?”

“Jeongmalyo? Hm… mollande..” Changmin berdehem sejenak.

Hyorim hanya membalas sambil menganggukkan kepalanya. Ia sejenak berifikir, dan berkali-kali melirik Changmin.

Haruskah aku menanyakan ini? “Sebenarnya, bukankah kita baru saja saling mengenal? Tapi.. kenapa kau baik sekali padaku, Oppa?”

Ckitt

Changmin berharap salah mendengar, mendadak memberhentikan mobilnya. Ia lalu menghadap Hyorim. “Mworagoyo?”

“Aku bilang, bukankah Oppa dan aku baru saja mengenal. Maksudku baru sekita satu-dua bulan. Tapi kenapa kau baik sekali denganku?” Hyorim mengulangi pertanyaannya.

Bukannya menjawab, Changmin menjawab pertanyaan Hyorim dengan menatap dalam kedua mata coklat gadis itu.

Oh God! Kenapa dia menatapku? Jebal geumahae! Ditatap dengan lelaki tampan jelas membuat Hyorim mendadak mengalihkan pandangan. Salah tingkah!

“Oppa, geuman..geumahae..”

Seakan tersadar belum menjawab Hyorim dengan kata-kata, perlahan Changmin menatap kedepan. Dan beberapa saat kemudian berkata, “Entahlah, aku bingung. Semenjak Yunho Hyung mengenalkanmu kepadaku, ah sebenarnya kepada kami. Aku merasakan seperti..”

“Mengenalkan ku padamu? Jelas-jelas Oppa sibuk bermain gitar saat itu,” Hyorim mengingat dikamar Yunho. Saat itu Changmin bahkan tidak menoleh padanya. Hanya sibuk dengan gitarnya.

“Ani. Aku sempat menatapmu, tapi saat itu kau sedang berkoar-koar bahwa kau sedang lapar tapi Yunho Hyung memakan makanan buatan Kim Ahjumma. Keuronna?”

“Ah.. ah itu..” penjelasan Changmin membuat Hyorim malu seketika. Disaat ia sedang menjadi Hyorim yang tidak ada sifat gadis baik-baik, Changmin malah melihatnya. Aish memalukan.

“Iya, sejak melihat dan Yunho Hyung mengenalkan kau pada kamu, ada perasaan yang aneh dalam diriku. Terutama saat kita bicara berdua atau sekedar berdekatan saja. Aku merasa kita telah berteman lama, atau apapun itu yang membuat aku merasa aneh,”

Dengan yeoja lain pun aku tidak pernah begini. Changmin menambahkan dalam hati.

Hyorim terkejut. Masalah yang sama, ia juga merasakan apa yang Changmin rasakan saat mereka dekat atau bicara.

Dia tidak tahu, aku selalu gugup didekatnya. Apalagi saat dia menggenggam tanganku selama berbicara kemarin. Ah jantungku… “Aku.. aku juga begitu Oppa. Aku nyaman disampingmu, semua itu aku bingung,”

“Jin..jja?” Changmin pun terkejut, kembali menatap Hyorim.

“Keundae molla, aku sadar bahwa kau dan Yunho Oppa mirip,”

“Dalam?”

“Kau ku anggap seperti Oppa-ku sendiri,”

“Ah, geurae?” tanpa berfikir panjang, Changmin kembali menjalankan mobilnya.

 

= Unprecditable =

Day after tomorrow

Dua hari Yunho tidak dirumah, Hyorim mulai rindu pada Yunho. Ia berfikir, apa yang dirindukan dari kakaknya itu,… kejahilannya! Dirumah Hyorim hanya mengobrol atau sesekali menganggu pekerjaan Kim Ahjumma, biasanya ia akan menjahili atau –lebih sering- dijahilli oleh Yunho.

Wajah Hyorim terlihat lesu. Ia sekarang sedang berjalan di koridor untuk ke kantin. Sunye yang melihat Hyorim pun hanya bisa menggeleng. Memutuskan untuk ikut dengan Hyorim.

“Kau rindu Oppamu eoh?” tanya Sunye setelah berada di samping Hyorim

“Ne..”

“Ini baru dua hari Hyo, apalagi dua tahun,” Sunye berdecak. Ia mengerti keadaan ini karna sebagian besar Hyorim tumbuh dan bermain dengan Jung Yunho ‘Oppa’ yang tampan itu. Ah! Hyorim harus tahu ini.

“Igeo,” Sunye berhenti sejenak dan mengarahkan se kota sedang Donat coklat kepada Hyorim.

Hyorim menoleh, dan langsung mengambil kotak itu “Ige mwoya?”

“Cincin raksasa,”

“Ei jangan bercanda. Ini donat coklat..” menatap donat kesukaannya dengan sedikit binar lapar.

“Kau sudah tau ini donat dan masih bertanya? Kemana pikiranmu huh?” Sunye mendadak kesal dengan loading-lama Hyorim.

Hyorim ingin melanjutkan berjalannya. Namun ia kembali berhenti, langsung menatap Sunye. Seakan sadar sesuatu. “Kau tidak marah padaku?”

Mendengar ucapan Hyorim, tiba-tiba Sunye memeluk sahabatnya itu. “Mianhaeyo, aku sudah salah paham denganmu. Dan aku juga ingin berterima kasih padamu,”

Hyorim bingung, berfikir sejenak. Tak lama kemudia ia tersenyum. “Akhirnya, aku bersyukur kau bisa mengerti. Dan aaf aku tidak membalas pelukanmu, tanganku sedang ada donat darimu.” Sunye melepas pelukannya dan keduanya saling memberi senyum.

“Aku paham denganmu yang tidak pernah skinship, benarkan?”

“Hahaha arra, kau juga berterima kasih padaku hm? Untuk apa?”

Sunye diam sejenak, kemudian pipinya berubah merah. “Aku dan Jong Woon sunbae sudah berpa…”

“Jinjjayo?! Kau dengan sunbae itu? Chukkaeyo, Sunye-ah!” Sunye langsung diam menunduk malu karena Hyorim langsung mengerti apa perkataannya.

Sunye juga bingung harus bagaimana lagi. Disaat malam ia menangis, ibunya memanggil bahwa ada kawan namja yang mencarinya. Akhirnya Sunye menemui tamu malamnya itu. Tak disangka, JongWoon datang. Sunye yang sebenarnya ingin sendiri malam itu entah kenapa menurut JongWoon untuk mendengar penjelasannya. Dan akhir malam yang manis, mereka bisa menjalin hubungan.

“Gomawo, Hyo. Sebagai sahabat aku terlalu gegabah percaya dengan orang lain,”

“Sudahlah, yang penting sekarang kau harus pandai membagi waktu antara aku, pacarmu itu, dan waktu belajarmu. Arrachi?” Hyorim menepuk lengan kanan Sunye.

Ia bersyukur dapat mengembalikan sahabatnya. Ia membayangkan, Yunho tidak ada di sampingnya, ditambah Sunye yang masih marah padanya. Entah kepada siapa ia bisa curhat tentang keadaannya.

“Ne algeuseumnida! Hahahahaha,” kedua sahabat itu tertawa. Bisa bersama-sama kembali membuat Hyorim sejenak melupakan ‘rindu’ kepada Yunho.

“Jung Hyorim!” teriak seorang namja dari arah belakang. Hyorim dan Sunye pun langsung menoleh ke arah datangnya suara.

“Insoo-ssi? Waeyo?” tanya Hyorim pada namja itu.

“Sunye-ssi, boleh aku pinjam sahabatmu? Sebentar saja…”

“Yee silahkan..” Sunye langsung meninggalkan Hyorim dengan Insoo.

Insoo menarik tangan Hyorim. “Hyo, tolong aku,” pinta Insoo dengan nada memohon

“Mwoga?”

“Kau ingin membantu atau tidak?” desak Insoo

“Kenapa kau memaksaku? Aku akan membantumu tap..”

“Ttarawa,” tidak memberi kesempatan bertanya lagi, tiba-tiba Insoo sudah menempelkan tubuhnya ke tubuh Hyorim serta melingkarkan tangannya di pinggang Hyorim.

“Apa yang kau lakukan bodoh?! Lepaskan!” umpat Hyorim tertahan

“Kau bersedia membantuku bukan? Tolong ikuti saja. Dan letakkan tanganmu di pundakku. Palli!” balas Insoo berbisik.

Hyorim masih kaget, tidak bisa apa-apa selain menuruti permintaan Insoo. Keanehan dari permintaan Insoo terjawab. Tak lama kemudian, Kris muncul dari ujung koridor.

“Hana dul set!” Insoo menghitung entah apa yang direncanakannya membuat Hyorim bertambah bingung.

“Apa yang kau hitung?” Hyorim bertanya dengan pelan.

“Sssssttt,” Insoo menutup mulutnya dengan jari telunjuk mengisyaratkan agar Hyorim diam sejenak.

Melihat ada yang ingin lewat koridor tersebut, Hyorim pun melihat Kris yang memandang datar ke arah mereka berdua yang seperti berpelukan sambil terus berjalan.

Choi Insoo sialan! Dia ingin membuat Kris mengira aku sedang romantisan dengan Insoo? Eottokhae? Apa….. apa Kris marah? Ya Jung Hyorim! Kenapa kau peduli dengannya, dan kenapa aku..aku berdebar seperti ini. Hyorim berkata dalam hati

Kris melanjutkan berjalannya tanpa memperdulikan adegan –mirip- berpelukan itu. Cuek. Seperti biasanya. Melirik sekilas, lalu terus mengalihkan pandangan kedepan.

Kris tidak melihatnya? Entah sikap cuek Kris mendorong perasaan aneh dan di otaknya muncul banyak pertanyaan.

Meskipun tampak tak peduli, wajah Kris tetap terlihat aneh seperti menutupi sesuatu. Ia berjalan dan berhenti tepat di samping Insoo dan Hyorim. “Bukannya kau bilang akan berlatih basket? Ternyata sedang asik pacaran eoh,”

Hyorim melepas paksa pelukan Insoo. “Bukan urusanmu!” ucap Hyorim galak. Sesaat, Hyorim langsung tersadar. Aaah kau terlihat bodoh, Jung Hyorim

“Sepertinya ada yang sibuk urusan orang lain hm?” Insoo tersenyum palsu, berusaha membantu Hyorim.

Kris menatap Hyorim, melipat tangan didepan dada sambil mengulum permen karet. “Such a cheap girl.”

DEG!

Plak!

Hyorim menampar Kris. “Mulut sialanmu lebih baik diam, Sun-bae-nim!” masih jelas kalimat inggris yang dilontarkan Kris menyakitkan bagi Hyorim untuk didengar dengan jelas.

Setelah berkata seperti itu, Hyorim bergegas lari meninggalkan Kris. Insoo yang melihat itu, menyeringai sejenak dan menepuk pundak Kris lalu pergi menyusul Hyorim.

 

= Unprecditable =

Sepulang sekolah, Hyorim menyempatkan diri latihan basket sendirian di halaman sekolah. Lima belas menit kemudian, Ha Young dan Minah, anggota satu tim basket yeoja meneriaki namanya.

“Jung Hyorim!” Teriak Minah

Hyorim menghentikan dribelan bolanya, menghampiri kedua temannya.

“Ne?” Tanya Hyorim mengambil posisi duduk dengan kaki diluruskan. Ha Young dan Minah juga duduk di sisi kanan dan kiri Hyorim.

“Apa kau tau siapa kapten baru tim basket namja?” Tanya Hayoung

“He? Bukankah tetap Insoo?” Hyorim balik bertanya

“Kau tidak tahu? Kris kapten barunya,”

“Kris?!” Hyorim tersentak kaget

“Keureochi! Itu pilihan yang tepat, dan harusnya Insoo sudah lama diganti. Dia sangat jarang latihan. Kerjaannya hang out sana-sini. Benarkan, Young?” Minah mengedikkan kepalanya kearah Ha Young. Ha Young langsung mengangguk

“Insoo tidak seperti Kris,” Ha Young menimpali

Hyorim hanya terdiam. Ia memilih ‘no-comment’, karena sudah jelas dirinya benci dengan Kris dan yang pasti dalam hatinya tidak senang bahwa kenyataannya Kris menjadi kapten, sejajar dengannya.

“Kenapa tiba-tiba?” Tanya Hyorim sambil membuka tutup botol minumnya.

“Aku dan Minah baru mendengarnya dari Pelatih Kim tadi saat istirahat,” jawab Ha Young

“Jinjjayo? Itu keputusan sepihak!” Entah mengapa suara Hyorim mulai agak keras. Ia mulai protes.

“Aniyo. Setahuku, tim basket namja juga sudah berdiskusi bahwa Insoo sebaiknya diganti. Dan Pelatih Kim menyetujui itu.”

“Tetap saja Insoo seharusnya tau kabar ini,” sela Hyorim. Dengan cepat meneguk air dibotolnya, lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

“Itu urusan tim namja,” ucap Minah

“Asal kau tau saja, Pelatih Kim juga sudah benci dengan Insoo. Tidak sering latihan, bahkan menampakkan batang hidung saat latihan saja tidak, jelas itu sikap tidak bertanggung jawab,” jelas Ha Young menggebu

“Dan yang parahnya, ia ada di daftar blacklist para guru. Berlagak seperti preman, sering bolos, suka berkelahi. Apa itu pantas jadi kapten tim basket namja sekolah kita? Jadi anggota saja tidak pantas!” Jelas Minah menambahkan.

“Hei, aku juga baru dengar kabar terbaru..”

“Kabar apa, Young?” Tanya Hyorim penasaran

“Lima hari yang lalu, Insoo ketahuan sedang menggunakan obat terlarang di toilet namja.”

“Serius?” Koor Minah dan Hyorim bersamaan.

“Wah, kalau sampai ini tersebar. Bisa habis riwayat Insoo di sekolah ini!” Minah terlihat benci setengah-hidup pada Insoo.

“Minah-ya, ayo kita kembali ke loker. Buku pelajaran ku tertinggal.” Ha Young langsung berdiri, bergegas meninggalkan Hyorim. Minah pun langsung pergi mengikuti Ha Young.

Hyorim menatap datar kedua kakinya. Sialan! Kris… kapten basket namja? Jadi anggotanya saja sikapnya sombong sekali. Apalagi jadi kapten? Tapi… saat Insoo dan aku…

Ucapan dalam hati Hyorim terputus ketika tiba-tiba Hyorim mengingat Kris. Semua perlakuan Kris padanya.

Jangan-jangan… omo! Jung Hyorim, sudahlah tidak usah berandai hal mustahil! Sadar, sadar, sadar… Ucap Hyorim pada dirinya sendiri.

Hyorim mengambil tasnya, lalu menyampirkan ke pundak sebelah kanan. Berjalan tertunduk lurus menatap kedua sepatu putih yang dipakainya. Terus berjalan, hingga ia merasa hampir menabrak seseorang.

Hyorim mengangkat kepalanya. Sosok namja yang beberapa saat ia bicarakan, kini berdiri dihadapannya.

“Permisi,” ucap Hyorim. Berharap agar Kris peka terhadap keinginannya bahwa ‘berikan aku jalan, aku ingin lewat’.

Kris tidak bergeser.

“Telingamu masih aktif bukan? Minggir!”

Kris tetap pada posisinya. Hyorim kesal, maka ia mengambil jalan ke sisi lain. Tetapi Kris menghalanginya.

“Permisi, sun.bae.” Hyorim berusaha menekan emosi yang mulai naik.

Kris tetap pendiriannya, akhirnya Hyorim naik pitam nekat menabrak tubuh tegap Kris. Namja itu menarik tangan Hyorim, lalu mencengkram dengan kuat hingga Hyorim merasa kesakitan.

Kris menatap Hyorim tajam-membunuh-. “Kau sudah dengar beritanya bukan? Kita sekarang di posisi yang sama, kapten tim bas.ket.” Kris berucap penuh penekanan.

“So?”

“Tidak usah mengejek atau merendahkan teman kapten mu ini. Apalagi ada acara berpelukan dengan namja di koridor sekolah. Kau ingin dicap ‘Kapten basket yeoja adalah gadis murahan’?”

“Tutup mulutmu brengsek! Who are you? Apa ini juga contoh baik sikap kapten baru kita? Berucap seenak hati tidak tahu aturan?!” Ucap Hyorim sambil mencoba melepaskan cengkraman Kris.

Kris masih memegang tangannya dengan kuat. Akhirnya Kris menghempaskan tangan Hyorim dengan kuat dan membuat Hyorim jatuh. Tanpa membalas Hyorim, Kris langsung melenggang pergi.

Merasa tidak berbuat apa-apa.

“Kasar sekali dia!” Hyorim hanya bisa menggerutu.

 

= Unprecditable =

At Home

Sepulang latihan basket, kebetulan juga Changmin datang untuk berkunjung, Hyorim bercerita semua kisahnya dan Kris hari itu kepada Changmin.

“Mianhaeyo, aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa saat ini Oppa. Tidak ada Yunho Oppa yang biasa mendengarkanku,”

“Aku senang kau bercerita seperti itu. Membuatku merasa kau juga percaya padaku, menyimpan ‘rahasia’ dalam ceritamu itu.” Ucap Changmin dengan senyum mautnya.

“Nde, gomawoyo Oppa…” Hyorim reflek langsung memeluk Changmin.

Wangi tubuhnya…..

“Hyo.. aku simpulkan namja yang bernama ‘Kris’ tidak ada yang bagus dari dia..”

Langsung Hyorim melepas pelukannya. “That’s fact!” jawab Hyorim yakin.

“Ei bagaimana jika kau menyukai dia, Hyo?”

“Oops sorry, masih banyak namja diluar sana Oppa. Lagipula, bagaimana aku bisa menyukai dia? Setiap bertemu, ada saja yang masalah dan berujung membuatku kesal. Setiap bertemu, dia yang senang mencari masalah. Sepertinya melihat orang lain sedih adalah hobinya…” Hyorim meluapkan emosinya.

“Sebagai namja, aku kira dia menyukaimu.”

“Jinjja? Dia fansku!”

“Percaya dirimu terlalu tinggi,” ujar Changmin, menutupi wajah Hyorim dengan bantal kursi. “Keundae.. kau tidak menyukainya bukan?” tanya Changmin

“Aku sangat membenci Kris!” Hyorim berucap yakin sambil mengepalkan tangan kanannya. Sesaat kemudian, tangannya berangsur, “Aku tidak tahu selanjutnya, apa aku menyukai dia atau tidak, Oppa.”

“Apa maksudmu?”

“Kita tidak bisa mengira kapan perasaan seseorang berubah atau tidak. Setiap kami bertemu, disini ada yang lain…” Hyorim meletakkan tangannya di depan dada.

“Wah…”

“Aish molla!” Hyorim menjatuhkan dirinya ke sofa dan menutup kepalanya dengan bantal.

Suasana diam sesaat. Saat itu Hyorim sedang memikirkan sesuatu. Dia menyayangi Hyorim, saat gadis itu menceritakan perlakuan Kris padanya, entah mengapa Changmin kesal sendiri. Tapi dia berusaha mengontrol rasa kesalnya dengan diam.

“Oppa mau pulang?” Tanya Hyorim dari balik bantal.

“Hm?”

“Aku tanya Oppa ingin pulang?”

“Wae? Kau ingin aku menginap disini? ‘Menemani’ mu?” Changmin menyeringai

“Aniyo! Oppa pulang saja,”

“Galak sekali. Just kidding ne? Hehehe.. baiklah aku pulang dulu..” Changmin beranjak hendak meninggalkan Hyorim.

“Namja yang romantis akan mengucapkan ‘selamat tidur’..” Entah Hyorim menyindir Changmin atau bermaksud lain. Ia berucap dengan bantal yang masih menutupi wajahnya.

Berfikir sejenak, kemudian Changmin tersenyum. “Mimpi yang indah, chagiya.”

“Yak! Oppa!”

“Bilang saja kau ingin, tidak perlu menyindirku..”

Tak lama kemudian, deru mobil Changmin meninggalkan rumah Hyorim. Diam-diam Hyorim tersenyum dibalik bantal.

TBC

image

Hai apakabar ya? Sibuk baca ff dimana-mana tapi ff sendiri gak keurus wkwkwk. Maafkan saya.
Untuk lebih cepat selesai ffnya, sepertinya mau fokus ke ff Unpredictable ini dulu. Ditengah suamin /lirik siwon/ lagu sibuk comeback “Setan”, ffnya malah cast selungkuhan duluan /maafkan saya Changmin,Kris/

Bulan puasa memang banyak berkah …
– puasa saya pecah <5hari
– saya diterima disekolah favorit pilihan saya*o*
– super junior comeback 10th Anniversary Special album. Meskipun gak ot13, tapi ot13-2-2 +2 tetep seneng kok:))))
– bisa streaming tanpa gangguan dan kuota tersedia #SS6Encore
– WGM Siwon habis!

Dari point diatas, jujur yg paling seneng point terakhir, kesatu, kedua hehe

Apapun itu, let’s go ELF keep support our oppadeul. And proud to be Kpopers!

Iklan

4 pemikiran pada “Unpredictable – Part 4

  1. Aq tadinya mau komentar ff mu, tp catatan akhir di posting mu kali ini mengalihkan q hyo 😀

    Selamat-selamat u/ semua pencapaianmu!
    Selamat sudah diterima di sekolah favoritmu.
    Selamat penderitaanmu, nonton siwon mesraan dg “istri” berakhir sudah.
    Selamat bisa streaming ss encore!
    Dan selamat u/ yg lain-lainnya 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Wah keduluan Yara eonni.. selamat adikku atas pencapaiannya. Peluk… penuh dengan percakapan. Aku suka. Mmm… satu yang menurutku terlalu cepat. Mm bagian adegan Changmin nyatain perasaan. Untuk adegan dg Kriss bagus, karena masih tersimpan misteri di sana. Poor Hyo di tinggal Yunho dkk. Sunye??? Hahaha dia lucu. Eiich… kau membiat Jongwoon menyukaimu disini. Itu bagus buat Sunye. Penasaran kelanjutannya…. ohya… menyindir? Itu boleh juga… dan Changmin… Owh doa manis sekali.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s